
Daniel menatap malas buku-buku yang tergeletak tak karuan di depannya. Sesekali, ia merebahkan tubuhnya di lantai, lalu kembali menatap bukunya. Bukannya kembali fokus, ia malah menguap.
Sudah sejam lamanya ia berkutik dengan dengan buku. Setelah pulang sekolah, ia langsung masuk ke kamarnya dan meletakkan beberapa buku di meja belajarnya ke lantai. Tinggal empat hari lagi, ia akan menghadapi ulangan harian matematika dan Bahasa Indonesia. Walaupun hanya dua, ia tetap harus mempersiapkan diri dengan belajar. Sayangnya, beberapa materi pelajaran yang dibacanya tak tersimpan di memori otaknya.
Tiba-tiba saja, pintu kamar terbuka. Melihat ada yang masuk, ia segera duduk dan mengambil bukunya secara acak. Bila yang masuk adalah Khalisha, ia tak mau Khalisha mendapati dirinya yang sedang bermalas-malasan.
Tebakan Daniel benar. Khalisha masuk ke kamarnya dengan membawa nampan berisi makanan. Seperti dua hari yang lalu, ia masuk begitu saja ke kamar Daniel. Ia berani berbuat seperti itu juga karena Daniel mengizinkannya masuk begitu saja. Itu pun juga ia lakukan hanya pada siang dan sore hari.
"Daniel, makan dulu!" ucap Khalisha sembari meletakkan nampan, "Bi Nani bilang kamu belum makan. Seharusnya pulang sekolah makan dulu. Kalau telat makan nanti sakit lagi."
Daniel terkejut dibuatnya. Ia tersenyum kecil. Perkataan Khalisha itu terdengar seperti dia sedang mencemaskannya. Sepertinya, membuat Khalisha menginap adalah pilihan yang tepat. Ia bisa merasakan perubahan sikap Khalisha.
"Daniel!" panggil Khalisha bingung.
Daniel tersadar dari lamunannya. "Ya, Lis. Kenapa?"
"Kok bengong? Cepat makan!"
Daniel lantas mengambil makanan di nampan. Suap demi suap nasi mulai terasa memberi kelegaan pada pencernaannya yang belum lama kosong.
"Kalau gitu aku keluar dulu. Kalau sudah selesai, kamu panggil aku." Khalisha lantas bangkit dan hendak melangkah meninggalkan kamar.
"Tunggu!" ucap Daniel memegang tangan Khalisha.
Khalisha menatap bingung. "Bisakah kamu melepaskan tanganmu?"
Sontak saja Daniel melepaskan tangannya. Bukannya bicara, ia malah tersenyum kecil sembari menggaruk-garukkan kepalanya yang tidak gatal.
Lagi-lagi Daniel bertingkah aneh. Entah kenapa, Khalisha mulai terbiasa dengan tingkah anehnya itu. Ia sama sekali tak terganggu seperti dulu.
"Apa ada? Kamu perlu sesuatu?"
"Temani aku belajar, ya," pinta Daniel. Hanya itu saja yang terlintas di pikirannya saat ini.
Pandangan mata Khalisha sontak mengarah pada buku-buku yang berserakan di lantai kamar. Ternyata yang dilakukan Daniel dari tadi di dalam kamarnya adalah belajar. Pantas saja, pulang sekolah dia langsung mengurung diri di kamar. Ia pikir dari tadi Daniel bermain game atau menonton televisi di kamarnya. Ketika pertama kali menginap di rumah Daniel, Bi Nani pernah bilang padanya kalau Daniel jarang tidur siang. Karena itulah, ia bisa berpikir seperti itu.
Bila alasannya belajar, mau tak mau Khalisha kembali duduk. Alasan ia mau menginap di rumah Daniel semata-mata untuk membantu Daniel menghadapi ulangan hariannya.
"Ya, udah. Kalau gitu, cepetan makannya!"
Daniel tersenyum senang. Ia pun melanjutkan makannya. Hanya saja, kali ini ia makan dengan cepat. Ia tak boleh membuat Khalisha menunggu terlalu lama.
"Jangan cepat-cepat makannya! Nanti tersedak," ucap Khalisha mengingatkan.
Lagi-lagi, Daniel menuruti perkataan Khalisha. Ia pun memelankan makannya. Hanya butuh beberapa menit baginya untuk menghabiskan makannya. Perut telah terisi sepenuhnya. Ia kembali siap untuk belajar.
"Oya, Lis, kok kamu yang bawain makanan ke sini? Bi Nani mana? Seharusnya ini kan tugasnya Bi Nani, bukan kamu," tanya Daniel baru ingat.
__ADS_1
"Bi Nani lagi sibuk menyetrika baju. Makanya aku yang bawain makananmu."
"Tapi tetap aja ini tugasnya Bi Nani," ucap Daniel agak kesal. Bisa-bisanya Bi Nani membiarkan Khalisha melakukan tugas yang seharusnya Bi Nani lakukan.
"Emangnya kenapa kalau ini tugasnya Bi Nani? Apa aku nggak boleh membantu Bi Nani?" tanya Khalisha mulai bingung.
"Tentu saja nggak boleh," sahut Daniel cepat.
"Kenapa nggak boleh?"
"Karena kamu itu beda," jawab Daniel spontan.
Khalisha semakin bingung dibuatnya. Ia tak mengerti kenapa Daniel tak memperbolehkannya membantu pekerjaan Bi Nani.
"Apanya yang beda? Aku dan Bi Nani kan sama-sama pembantu."
Daniel sendiri bingung bagaimana menjelaskannya pada Khalisha. Tak mungkin ia mengatakan alasan yang sebenarnya. Sebenarnya, ia tak pernah menganggap Khalisha sebagai pembantunya. Pembantu, itu hanyalah alasan untuk bisa dekat dengannya.
Bi Nani tiba-tiba muncul di depan pintu kamarnya yang terbuka lebar. Melihat Bi Nani, Daniel menghela napas lega. Bi Nani datang di saat yang tepat. Kehadiran Bi Nani sekarang bisa ia manfaatkan untuk mengalihkan perhatian Khalisha agar tidak bertanya lagi.
"Ada apa, Bi?"
"Di luar ada Den Nathan, Den Andhika, sama Den Bayu," jawab Bi Nani.
"Antar mereka ke sini!" suruh Daniel tak suka. Jujur saja, ia tak mau Nathan, Andhika, dan Bayu bertemu dengan Khalisha. Mereka pasti akan mendekatinya.
"Kalau gitu, Bibi permisi dulu," ucap Bi Nani hendak meninggalkan kamar Daniel.
Bi Nani menatap bingung majikannya itu. Tak biasanya Daniel mencegahnya melaksanakan tugasnya.
"Iya, Den. Ada apa?"
"Bi, lain kali Bibi jangan suruh Khalisha melakukan pekerjaan Bibi. Mengantar makananku itu tugasnya Bibi, bukan tugasnya Khalisha," ucap Daniel mengingatkan.
Bi Nani tampak kaget dibuatnya. Baru kali ini ia melihat Daniel berbicara seperti itu padanya. Sudah puluhan tahun ia bekerja pada keluarga Daniel. Ia juga yang membantu ayah dan ibunya Daniel merawat dan membesarkan Daniel. Sudah pasti ia hapal bagaimana sifat Daniel. Walaupun sikap Daniel dingin dan terkesan menutup dirinya pada orang lain, selama ini Daniel selalu berbicara baik padanya.
Melihat Khalisha berada di kamar Daniel, membuatnya teringat pada dua hari yang lalu, tepatnya ketika Khalisha datang dan mengaku sebagai pembantu. Ia bisa melihat sikap Daniel pada Khalisha sangatlah berbeda. Walaupun Daniel suka menyuruh Khalisha melakukan sesuatu, tapi Daniel tak pernah menyuruh Khalisha melakukan pekerjaan yang sama dengan dirinya. Bi Nani tersenyum kecil, senang karena akhirnya anak majikannya itu memiliki teman lain selain Nathan, Andhika, dan Bayu. Dari yang dilihatnya, sepertinya Khalisha adalah pembantu spesial bagi Daniel.
"Kamu kok ngomongnya begitu sama Bi Nani? Bi Nani nggak pernah suruh aku apa-apa. Akunya aja yang mau membantu. Jangan salahkan Bi Nani. Kalau mau disalahkan, salahkan saja aku," ucap Khalisha tak terima. Padahal ia sendiri yang berinisiatif membantu Bi Nani. Tapi, ia malah membuat Bi Nani dimarahi oleh Daniel.
"Nggak apa-apa, Lis. Ini memang salahnya Bibi," ucap Bi Nani tersenyum, "kalau nggak ada apa-apa lagi, Bibi ke depan dulu bukain pintu."
Bi Nani lantas pergi meninggalkan Daniel dan Khalisha berdua di kamar. Kelakuan anak muda sekarang memang aneh, berbeda sekali dengan zamannya dulu yang menyatakan perasaannya secara langsung. Namun, anak majikannya itu malah menjadikan gadis yang disukainya sebagai pembantu. Bi Nani benar-benar tak mengerti dengan jalan pikiran Daniel.
Daniel menatap aneh Khalisha. Sepertinya, Khalisha sedang marah padanya.
"Kenapa kamu lihatin aku begitu?"
__ADS_1
"Seharusnya kamu nggak ngomong begitu sama Bi Nani. Aku nggak enak sama Bibi. Padahal aku sendiri yang mau membantu, tapi kamu malah ngomong begitu," ucap Khalisha merasa bersalah.
Daniel menghela napas, lalu tersenyum kecil. Ia lantas berkata, "Mau bagaimana lagi. Kamu itu pembantuku, bukan pembantu di rumah ini. Selain aku, siapa pun nggak ada yang boleh menyuruh kamu. Ngerti?"
Tak sepatah kata pun Khalisha keluarkan dari mulutnya. Ia masih belum bisa memahami perkataan Daniel. Jalan pikiran anak orang kaya seperti Daniel memang aneh. Sampai sekarang saja, ia tak bisa menebak dengan jalan pikirannya itu.
Nathan, Andhika, Bayu, dan Bi Nani kini berada di depan kamar Daniel. Nathan, Andhika, dan Bayu sama-sama menatap kaget dengan apa yang ada di dalam kamar. Cewek yang mereka lihat di luar kafe dan juga yang membawa tas Daniel, saat ini tengah berada di kamar Daniel. Baru pertama kali mereka melihat ada orang lain yang masuk ke kamar Daniel selain mereka dan Bi Nani pembantunya.
"Den Daniel, Den Nathan, Den Andhika, Den Bayu, Khalisha, Bibi permisi dulu," ucap Bi Nani, lalu pergi meninggalkan kamar.
Nathan, Andhika, dan Bayu bergegas masuk ke kamar Daniel. Tentu saja mereka ingin berkenalan dengan cewek yang berhasil merebut hati temannya yang dingin itu. Tak tanggung-tanggung, mereka duduk mengelilingi Khalisha. Namun, mereka segera bergeser menjauh dari Khalisha lantaran Daniel menatap tajam pada mereka.
Melihat teman-teman Daniel, Khalisha langsung mengambil nampan yang berisi piring dan gelas kotor. Ia harus segera keluar agar tak mengganggu mereka.
"Siapa kamu? Kenapa kamu ada di sini?" tanya Nathan penasaran.
"Namaku Khalisha. Aku pembantunya Daniel," jawab Khalisha, "kalau nggak ada apa-apa lagi, aku keluar dulu."
"Kok buru-buru keluar? Di sini aja dulu. Kita ngobrol-ngobrol dulu," ucap Nathan mencegah.
"Iya, nih. Kita kan belum kenalan. Duduk aja dulu di sini. Jarang-jarang loh Daniel membiarkan orang lain masuk ke sini," sambung Andhika.
Daniel menatap kesal. Ia tak suka melihat Nathan dan Andhika mengobrol dengan Khalisha.
"Lis, bawa piring kotor itu ke dapur! Cuci yang bersih!"
Khalisha lantas bangkit, lalu berkata, "Kalau gitu aku permisi dulu."
"Oya, sekalian bawain camilan ya ke sini!" pinta Bayu tersenyum.
"Jangan suruh-suruh dia! Kamu ambil aja sendiri sana di kulkas," seru Daniel ketus, "Lis, cepat cuci tuh piring! Kamarku nanti bau gara-gara tuh piring. Cepat ke dapur sana!"
Seperti perkataan Daniel, Khalisha melangkahkan kakinya keluar dari kamar Daniel. Lagi-lagi ia tak mengerti dengan perkataan Daniel. Bagaimana mungkin satu piring kotor bisa membuat kamar Daniel yang luas menjadi bau. Sungguh pemikiran yang aneh.
Nathan, Andhika, dan Bayu tak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya. Dari bicaranya Daniel, mereka bisa tahu kalau Daniel tak suka Khalisha bicara dengan mereka. Sepertinya, Daniel benar-benar suka sama Khalisha.
"Keterlaluan kamu, Niel. Aku kan minta bawain camilan, masa aku ambil sendiri. Walau bagaimanapun, ini kan rumah kamu. Masa tamu sesuka hati di rumah orang," omel Bayu.
Daniel menatap dingin Bayu, lalu berkata, "Khalisha itu pembantuku, bukan pembantumu. Hanya aku yang boleh menyuruhnya."
"Lebih tepatnya pembantu spesial," imbuh Nathan menggoda.
"Apaan, sih. Nggak jelas," sahut Daniel malu, "kalian ke sini mau ngapain? Kalau mau ngajakin jalan, aku nggak bisa. Aku lagi sibuk belajar."
"Alah... sok-sokan belajar. Bilang aja, kamu mau berduaan sama si Khalisha itu kan," sahut Bayu.
"Terserah," ucap Daniel dingin. Ia lantas mengambil salah satu buku di lantai dan mulai membacanya.
__ADS_1
Daripada bengong dan tak ada kerjaan, Nathan, Andhika, dan Bayu pun ikut mengambil buku. Sebenarnya tujuan mereka datang ke rumah Daniel adalah untuk mengajaknya jalan keluar, namun malah berakhir dengan membaca buku. Memang susah menghadapi orang yang sedang jatuh cinta, apalagi yang baru pertama kalinya. Ada saja tingkahnya yang aneh. Daniel bahkan menjadikan cewek yang disukainya itu sebagai pembantu. Mengetahui ini adalah pertama kalinya Daniel menyukai seseorang, mereka tak sabar ingin mengetahui bagaimana Daniel mendapatkan hati Khalisha, apalagi Khalisha juga terlihat sama dinginnya seperti Daniel.
***