
Daniel duduk sembari mengatur napasnya yang tak beraturan. Pertandingan voli sore ini benar-benar menguras tenaganya. Lawan yang dihadapinya cukup sulit ditaklukkan. Namun, itulah yang diharapkannya. Lawan yang tangguh membuatnya semakin bersemangat untuk mengalahkannya.
Mikha yang setia menonton pertandingan Daniel melangkah menghampirinya. Seperti biasa, ia memasang senyuman semanis mungkin di bibirnya.
"Daniel, minum dulu!" tawarnya sembari menyerahkan botol minuman yang dipegangnya.
Daniel menatap malas Mikha. "Kamu aja minum. Aku nggak haus."
"Tapi Daniel, aku udah capek-capek loh beliin minuman ini untukmu. Masa kamu nggak mau terima," bujuk Mikha.
"Bukannya aku udah pernah bilang ya sama kamu buat nggak ganggu aku," ucap Daniel tegas.
Jantung Mikha seakan mau copot mendengar perkataan yang baru saja keluar dari mulut Daniel. Hatinya begitu sakit seakan-akan tersayat ribuan pisau. Sebegitu tak sukanya Daniel padanya sehingga dia tega berbicara seperti itu pada dirinya.
Nathan dan Bayu berjalan dengan santai menuju ke arah Daniel dan Mikha. Mereka bisa melihat ketegangan di antara mereka. Dilihat dari wajah mereka, Nathan dan Bayu bisa menebak kalau Daniel berbicara kasar pada Mikha.
"Niel, minum dulu!" Nathan langsung memberikan sebotol air mineral pada Daniel.
Daniel langsung mengambil botol tersebut, lalu meneguknya hingga tersisa setengah. Teguk demi teguk air memberikan kesegaran pada tenggorokannya yang kering. Tenaganya pun perlahan-lahan mulai kembali.
"Yuk, pulang!" ajak Daniel pada Nathan dan Bayu. Ia pun segera bangkit dan melangkah meninggalkan Mikha.
"Mikha, kami pulang dulu," ucap Nathan kikuk. Ia pun segera melangkahkan kakinya menyusul Daniel.
Bayu hanya tersenyum kecil menatap Mikha, lalu melangkahkan kakinya. Di dalam hatinya, ia merasa kasihan pada gadis itu. Namun, ia tak bisa berbuat apa-apa. Menghadapi Daniel bukanlah perkara yang mudah. Daniel adalah orang yang susah untuk didekati.
Mikha berdiri mematung menatap kepergian Daniel. Ia tertawa kecil, lebih tepatnya menertawakan kebodohannya sendiri. Seharusnya ia sadar kalau sampai kapan pun Daniel tak akan pernah suka padanya. Namun tetap saja, ia dengan bodohnya mendekati Daniel.
Di dekat pintu gedung, langkah Daniel tiba-tiba berhenti, membuat Nathan dan Bayu seketika menghentikan langkah mereka. Kedua lantas matanya menatap ke arah Nathan dan Bayu.
"Ada apa, Niel? Kok tiba-tiba berhenti?" tanya Nathan menatap bingung.
"Andhika mana? Setelah pertandingan, aku nggak lihat dia," tanya Daniel, lalu melemparkan pandangannya di sekelilingnya. Namun, sosok yang dicarinya tak ketemu.
Mendengar hal itu, Nathan dan Bayu segera mengedarkan pandangannya di seluruh ruangan. Mereka baru menyadari kalau Andhika tak ada di dekat mereka.
"Iya, ya. Kok aku baru sadar, ya. Waktu kami beli minuman, kami juga nggak lihat Andhika," ucap Nathan.
"Apa jangan-jangan dia pulang duluan, ya?" sahut Bayu menebak.
"Mungkin aja. Yuk, kita pulang! Aku capek banget nih. Badanku juga sudah lengket semua. Tuh anak nggak usah dicari. Dia bisa pulang sendiri," ajak Nathan.
"Betul banget tuh. Aku pengen cepat-cepat ke rumah. Mau mandi. Badanku udah bau banget," timpal Bayu.
Daniel, Nathan, dan Bayu akhirnya memutuskan untuk pulang. Rasa lelah membuat mereka untuk tak ambil pusing mencari Andhika. Toh Andhika juga bukan anak kecil lagi yang harus dicari ketika dia menghilang.
Langkah Daniel kembali berhenti. Matanya tampak fokus menatap pada satu arah. Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat Andhika sedang bersama dengan Khalisha, neneknya, dan teman sebangku Khalisha yang ia sendiri tak tahu namanya. Entah kenapa, ia merasa marah. Ia tak suka melihat Andhika berdekatan dengan Khalisha. Walaupun di dekat Khalisha ada neneknya dan temannya, ia tetap tak suka dengan keberadaan Andhika di dekat Khalisha.
"Loh, kok berhenti lagi, Niel?" tanya Bayu kembali menghentikan langkah kakinya.
__ADS_1
Bukannya menjawab, Daniel malah melangkah pergi meninggalkan Nathan dan Bayu. Hatinya benar-benar merasa tak karuan. Ia tak rela membiarkan Khalisha mengobrol dengan Andhika.
Nathan dan Bayu yang ditinggalkan tentu saja dibuat bingung dengan sikap Daniel. Tak biasanya Daniel pergi tanpa penjelasan apa pun pada mereka, kecuali di saat dia sedang marah.
"Kenapa tuh anak?" tanya Bayu yang masih menatap kepergian Daniel.
"Nggak tau," jawab Nathan bingung dengan tingkah Daniel. Kedua matanya terus fokus menatap Daniel. Ia tersenyum kecil melihat Daniel yang berjalan menuju satu tempat.
"Kok kamu senyum-senyum sendiri sih, Nat? Kamu nggak lagi kesambet setan, kan?" tanya Bayu bingung melihat Nathan.
"Nanti kamu juga tahu," jawab Nathan terlihat misterius, "yuk, kita samperin Daniel!"
Dengan raut wajah yang bingung, Bayu pun mengikuti langkah Nathan. Rasa penasaran tentu saja memenuhi pikirannya. Namun, ia malas untuk bertanya pada Nathan karena sepertinya Nathan lagi suka bermain teka-teki padanya.
Sementara itu, nenek merasa sangat senang melihat kue jualannya habis tak tersisa. Tak sia-sia dirinya dan Khalisha berjalan jauh. Rasa lelah yang dirinya dan Khalisha rasakan terbayarkan dengan hasil yang sepadan.
"Alhamdulillah, semua kue kita habis, Lis," ungkap nenek senang.
"Ya, Nek. Kita pulang, yuk!" ajak Khalisha.
"Gimana kalau aku antar," tawar Andhika.
"Emangnya kamu bawa mobil?" tanya Mayang keluar begitu saja.
Andhika tersenyum kecil, lalu menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Aku ke sini naik motor. Gimana, dong?"
"Kalau gitu kamu pulang bareng aku, Lis. Biar Nenek pulang sama Andhika aja," ucap Daniel tiba-tiba. Dengan senyum kecil, ia menghampiri Khalisha dan yang lainnya.
"Dhik, aku cari-cari kamu, nggak tahunya kamu ada di sini," ucap Daniel basa-basi.
Andhika tentu kaget mendengar perkataan yang baru saja keluar dari mulut Daniel. Selama ia menjadi teman Daniel, tak pernah sekali pun ia mendengar Daniel berbicara sok akrab seperti itu.
"Tumben kamu ngomong begitu? Kamu lagi salah makan obat ya, Niel?" tanyanya berbisik.
Daniel sama sekali tak menggubris pertanyaan Andhika. Tatapan matanya malah mengarah pada Khalisha yang membawa dua keranjang kecil.
"Lis, dagangannya habis semua ya?"
"Alhamdulillah. Hari ini laku semua," sahut Khalisha bersyukur.
"Iya, Nak Daniel. Hari ini dagangan Nenek dan Khalisha laku semua," ucap nenek.
"Kalau gitu kalian sekarang mau pulang?"
"Iya, Nak. Nenek dan Khalisha sekarang mau pulang," sahut nenek.
"Kalau gitu, kamu ikut aku aja, Lis. Biar Nenek ikut sama Andhika," tawar Daniel tanpa persetujuan Andhika.
Andhika heran dengan sikap Daniel. Ia diabaikan begitu saja, lalu dengan seenaknya Daniel membuat keputusan tanpa persetujuan darinya.
__ADS_1
"Apa-apaan Daniel. Seenaknya aja suruh aku mengantar Neneknya Khalisha pulang," batinnya.
Khalisha ragu untuk menerima ajakan Daniel. Kedua matanya malah menatap Mayang yang berdiri di samping Andhika. Sejujurnya, ia merasa senang karena mendapat tumpangan gratis. Ia tak perlu berjalan lagi untuk bisa sampai ke rumahnya. Namun, ia merasa tak enak pada Mayang yang harus pulang sendirian karena teman-temannya sudah pulang duluan.
"Gimana, Lis?" tanya Daniel berharap kalau Khalisha akan setuju pulang dengannya. Ia benar-benar tak mau membiarkan Khalisha pulang dengan Andhika.
"Aku pulang jalan kaki aja sama Nenek," tolak Khalisha halus.
"Iya, Nak Daniel. Nenek dan Khalisha pulangnya jalan aja," ucap nenek merasa tak enak pada Daniel dan Andhika.
"Loh, kenapa? Dari sini sampai ke rumah kamu itu jauh loh, Lis, Nek. Kalian berdua nanti malah kecapekan lagi."
"Tapi, gimana sama Mayang? Masa Mayang pulang sendirian," ucap Khalisha merasa tak enak.
Mayang yang sejak tadi diam tersenyum mendengarnya. "Ya ampun, Lis. Aku ini bukan anak kecil lagi yang takut kalau pulang sendirian. Kamu nggak usah mencemaskan aku. Aku nggak apa-apa kok pulang sendirian. Kamu dan Nenek pulang aja bareng Daniel dan Andhika."
Walau Mayang bicara seperti itu, tetap saja Khalisha merasa tak enak. Ia dan nenek enak-enakkan pulang bareng sama Daniel dan Andhika. Namun Mayang harus cari taksi untuk pulang ke rumahnya.
Daniel menengok ke arah Mayang. Sejak tadi ia lupa dengan keberadaan temannya Khalisha. Ia bisa mengerti alasan Khalisha menolak ajakannya. Ia juga bingung karena dirinya dan Andhika sama-sama membawa motor.
"Wah... wah... kalian pada ngumpul kok nggak ajak kita," ucap Nathan berdiri di samping Daniel, "keterlaluan kamu, Niel, Dhik. Main tinggalin kita."
"Tahu, nih. Hari ini kalian berdua hobinya hilang," gerutu Bayu.
Melihat kedatangan Nathan dan Bayu, Daniel tersenyum penuh arti. Ia lantas merangkul Nathan.
"Gini aja. Kamu pulangnya bareng aku, Lis. Teman kamu itu biar sama Andhika. Sedangkan Nenek biar sama Nathan aja," ucap Daniel memberikan solusi.
"Nah, itu ide bagus, Niel. Aku setuju," ucap Andhika tampak senang karena tak harus berboncengan dengan nenek-nenek.
"Apa nggak merepotkan kalian bertiga? Kalian kan habis bertanding. Kalian pasti capek. Aku nggak enak harus merepotkan kalian bertiga," ucap Khalisha masih merasa tak enak.
"Kamu tenang aja. Aku, Andhika, dan Nathan sama sekali nggak kerepotan kok. Iya kan, Than? Kamu nggak apa-apa kan mengantar Nenek Khalisha pulang?" tanya Daniel sembari mengeratkan rangkulannya.
Nathan menjadi sesak dibuatnya. Ia menepuk-nepuk tangan Daniel agar melepas rangkulannya.
"Aku nggak apa-apa mengantar Nenek Khalisha pulang," ucapnya terpaksa.
Daniel akhirnya melepaskan tangannya, membuat Nathan bernapas lega. Ia mendengus kesal pada Daniel. Bisa-bisanya Daniel memaksanya mengantar seorang nenek pulang ke rumahnya.
"Gimana, Lis? Kamu mau kan kuantar pulang?" tanya Daniel kembali.
Khalisha mengangguk kecil sebagai pertanda kalau ia setuju dengan ajakan Daniel. Senang rasanya ia tak perlu capek-capek lagi berjalan jauh.
Baik Daniel dan Andhika tersenyum senang mendapati dua orang gadis cantik berada satu motor dengan mereka. Bayu yang sendirian pun ikut merasakan senangnya. Hanya Nathan saja yang tersenyum kecut karena dirinya buka satu motor dengan gadis cantik, melainkan dengan nenek Khalisha. Sayangnya, ia hanya bisa pasrah menerimanya.
"Dasar, Daniel. Kalau cemburu, ya cemburu aja. Jangan aku yang dijadikan korban. Dia enak-enakkan berboncengan sama Khalisha. Lah, aku. Nasib... nasib," gerutunya di dalam hati.
Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang terus mengawasi gerak-gerik mereka. Ia mendengus kesal, tak suka dengan Khalisha yang dibonceng oleh Daniel.
__ADS_1
"Awas aja kamu. Kalau aku nggak bisa dapetin Daniel, jangan harap kamu ataupun cewek lainnya bisa dapetin Daniel," batinnya.
***