Take My Heart

Take My Heart
MENCERITAKAN MASA LALU


__ADS_3

30 menit telah berlalu. Suasana sekolah sudah sangat sepi. Hanya ada beberapa guru dan Pak Boni si penjaga sekolah yang masih bertahan di kantor. Pintu UKS masih terbuka lebar. Tampak seorang cowok masih setia menemani seorang cewek yang terbaring di kasur. Ya, siapa lagi kalau bukan Daniel dan Khalisha. Setelah Daniel berhasil membujuk Khalisha yang tak mau ditinggal sendirian, Daniel meminta izin kepada Pak Boni untuk tetap berada di UKS sampai keadaan Khalisha membaik. Para guru yang tak sengaja mendengar pun langsung memberikan izin dan ada juga yang memberikan dua bungkus roti dan air mineral kepada Daniel. Setelah mendapat izin, Daniel segera kembali ke UKS dan menemani Khalisha.


"Lis, makan dulu ya. Kamu pasti lapar," ucap Daniel khawatir dengan keadaan Khalisha.


Khalisha hanya diam menatap Daniel, lalu mencoba untuk bangun. Dengan sigap Daniel membantu Khalish bangun dan menyandarkannya di kasur. Perut Khalisha memang sudah lapar, namun ia sama sekali tak bernafsu untuk makan.


"Makan roti ini dulu, Lis! Lumayan buat ngisi perut sementara. Biar kamu nggak lemas lagi. Ini sudah jam 3. Kantin sudah tutup. Walaupun kamu tadi makan bekal, tapi itu sudah jam berapa. Kalau perut kamu nggak diisi, nanti kamu sakit lagi," bujuk Daniel.


"Kamu juga makan rotinya," balas Khalisha dengan tatapan yang mengarah pada roti di tangan Daniel. Mau tak mau ia mengambil roti dari tangan Daniel. Ia tak tega melihat Daniel yang terus mengkhawatirkan dirinya.


Daniel menatap lega. Khalisha sudah mau makan. Walaupun hanya roti, setidaknya itu cukup untuk membuat tubuh Khalisha bertenaga. Seperti yang diinginkan Khalisha, ia pun memakan roti yang diberikan salah satu guru kepadanya. Tak perlu ditanya lagi. Perutnya juga sangat kelaparan. Apalagi, ia hanya makan saat jam istirahat pertama tiba.


"Daniel, kita pulang, yuk!" ajak Khalisha.


"Kamu sudah baikan? Kalau belum, kita di sini aja dulu. Aku juga sudah minta izin sama Pak Boni."


"Tapi kita udah kelamaan di sini. Nanti kamu dicariin lagi," ucapnya merasa tak enak. Gara-gara dirinya, Daniel yang seharusnya sudah pulang memilih untuk menemaninya di sekolah.


"Kamu nggak usah khawatirkan aku. Aku sudah biasa kok pulang telat. Bi Nani juga sudah tahu kalau aku pulang telat pasti lagi main di rumah Nathan, Andhika, atau Bayu," jelas Daniel.


"Papa dan mama kamu gimana? Apa mereka nggak cariin kamu?"


Daniel menghela napas, lalu berkata, "Mereka nggak bakan cariin aku. Sudah sebulan ini mereka ada di luar kota. Jangankan pulang, sekedar menelepon menanyakan kabar aja nggak."


Mendengar perkataan Daniel, Khalisha merasa bersalah. Tak seharusnya ia bertanya seperti itu pada Daniel. Bila dibandingkan, hidupnya jauh lebih baik dari Daniel. Walau hidupnya serba kekurangan, namun untuk urusan kasih sayang, ia banyak mendapatkan rasa sayang dari kakek dan neneknya.


"Jangan pasang wajah seperti itu! Aku beneran nggak apa-apa. Aku malah senang kok kamu mau bergantung sama aku," ucap Daniel seakan tahu dengan apa yang dipikirkan Khalisha.

__ADS_1


"Maaf." Hanya kata itu yang terlontar dari mulutnya. Walau Daniel berkata seperti itu, tetap saja ia merasa bersalah karena sudah merepotkannya.


"Hei, bukankah sudah kubilang jangan pasang wajah seperti itu. Aku nggak suka," ucap Daniel kembali.


"Iya, maaf."


"Sebenarnya kamu kenapa tadi? Aku lihat kamu ketakutan pas disuruh masuk ke dalam mobil?" tanya Daniel penasaran.


Khalisha diam. Ia tak tahu apakah ia bisa menceritakan masa lalunya yang selalu ingin ia lupakan.


"Kalau kamu nggak mau cerita nggak apa-apa kok," ucap Daniel kecewa. Ia sangat berharap kalau Khalisha bisa sepenuhnya terbuka padanya.


Air mata Khalisha seketika jatuh membasahi pipinya. Sekeras apa pun ia berusaha melupakannya, kenangan yang menyakitkan itu selalu saja menghantui hidupnya.


Daniel menatap kaget Khalisha yang tiba-tiba menangis. Baru kali ini ia melihat Khalisha menangis. Ia merasa bingung. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Khalisha bisa sampai terbaring di UKS. Ia melihat Khalisha berdiri di depan pintu mobil yang terbuka, hal yang menurutnya biasa saja bisa membuat Khalisha ketakutan, bahkan sampai tubuhnya lemas.


"Lis, sudah ya. Jangan menangis! Kalau kamu nggak mau cerita, nggak apa-apa. Aku benar-benar nggak maksa kamu, Lis. Jangan nangis lagi ya, Lis," bujuknya kebingungan menenangkan Khalisha.


Daniel tak tega melihat Khalisha yang terus menangis. Tangannya spontan mengusap pundak Khalisha.


"Jika bukan karena aku, ayah dan ibuku nggak mungkin datang ke rumah orang itu. Mereka pasti nggak akan kecelakaan. Mobil kami nggak akan menabrak truk," ucap Khalisha kembali.


"Itu bukan salahmu, Lis," ucap Daniel berusaha menenangkan Khalisha.


"Nggak. Itu semua salahku. Kalau aku nggak merengek sama ayah dan ibu, meminta mereka menemaniku merayakan ulang tahun orang itu, kecelakaan itu nggak akan terjadi. Jelas-jelas orang itu nggak suka sama kami, tapi aku masih saja ngotot ingin merayakan ulang tahunnya. Aku menyesal, Daniel. Aku menyesal. Jika saat itu aku nggak memaksa mereka, mungkin saat ini kami pasti bahagia bersama. Aku nggak akan kehilangan mereka," terang Khalisha.


"Jangan menangis, Lis! Itu semua bukan salahmu. Itu semua adalah takdir." Tanpa persetujuan, ia memeluk Khalisha. Rasanya sangat sakit melihatnya seperti ini.

__ADS_1


"Tapi jika bukan karena aku, mereka nggak akan meninggal. Mereka nggak akan ninggalin aku. Mereka meninggal karena aku. Aku pembunuh, Daniel. Aku pembunuh! Aku benci diriku sendiri. Aku benci! Aku sudah membunuh mereka," sahut Khalisha masih menyalahkan dirinya sendiri.


"Bukan. Kamu bukan pembunuh," balas Daniel berusaha menenangkan Khalisha, "semua adalah kehendak Allah. Jangan menentang takdir Allah. Walaupun kamu mencegah mereka, mereka akan tetap pergi karena itu sudah menjadi takdir mereka. Jangan menyalahkan dirimu sendiri, Lis. Ikhlaskan kepergian mereka."


Khalisha menangis sejadi-jadinya di pelukan Daniel. Apa yang dikatakan Daniel memang benar, namun sampai saat ini ia masih menyalahkan dirinya sendiri. Berat sekali rasanya merelakan kepergian mereka.


Daniel tak pernah menyangka kalau dibalik wajah datarnya, Khalisha menyimpan banyak luka di hatinya. Walau ia tak mengalaminya, ia bisa merasakan sakit dan menderitanya Khalisha menahan kesedihannya seorang diri.


"Apakah karena itu, kamu jadi takut masuk ke dalam mobil?" tanyanya teringat saat Khalisha berdiri di depan pintu mobil Mayang.


Khalisha mengangguk pelan membenarkan pertanyaan Daniel. "Sejak saat itu, tiap kali aku hendak masuk ke dalam mobil, aku teringat kejadian itu. Aku tak bisa lupa ayah dan ibuku yang meninggal tepat di hadapanku."


"Kapan kejadian itu terjadi?" tanya Daniel penasaran.


"Ketika aku berusia 6 tahun."


Daniel kini mengerti. Kejadian itu sudah membuat Khalisha trauma. Untuk anak berusia 6 tahun, ia pasti sangat ketakutan dan terus terbayang-bayang kejadian yang mengerikan itu.


"Apakah karena itu juga kamu nggak pernah tersenyum?" tanyanya spontan. Ia juga tak tahu kenapa dirinya bisa menghubungkan kejadian itu dengan Khalisha yang tak pernah tersenyum.


Khalisha kembali mengangguk. "Senyumku hilang setelah kejadian itu. Aku takut. Kalau aku tersenyum, aku takut orang-orang yang aku sayang akan pergi seperti ayah dan ibuku."


Daniel melepaskan pelukannya, lalu mengusap air mata Khalisha. "Jangan takut tersenyum! Tersenyum nggak akan membuat orang-orang yang kita sayangi pergi. Kamu harus hidup dengan bahagia. Kalau ayah dan ibumu melihat kamu seperti ini, mereka pasti akan merasa sedih."


Khalisha terdiam. Ia merenungkan apa yang dikatakan Daniel. Ia tak tahu apakah ia bisa hidup bahagia seperti yang dikatakan Daniel atau tidak.


"Aku tahu ini berat. Tapi kamu harus mencobanya," ucap Daniel tersenyum, "sebaiknya kita pulang sekarang. Kamu butuh istirahat di rumah."

__ADS_1


Khalisha lantas bangkit, dan lagi-lagi Daniel membantunya. Ia juga membiarkan Daniel memapahnya. Tubuhnya masih lemas, hatinya pun sangat lelah. Mengingat masa lalu yang mengerikan, bukanlah hal yang mudah baginya. Namun, ada sedikit kelegaan yang dirasakannya setelah menceritakannya pada Daniel. Ia merasa beban yang ada di hatinya sedikit menghilang.


***


__ADS_2