
Tak biasanya siang ini langit tak cerah seperti biasanya. Sejak tadi kumpulan awan hitam terus memenuhi langit. Namun anehnya, tak setetes air hujan yang turun membasahi tanah. Di dalam kamar yang tak terlalu luas, kakek duduk dengan tenang di kursi goyang kesayangannya. Dari jendela kamar, kedua mata kakek terus mengarah pada langit yang mendung, lalu kembali menatap halaman rumahnya yang sempit. Kakek menghela napas panjang, mengusir segala kegundahan yang terus mengusik pikirannya. Namun pada akhirnya, kakek kembali berakhir pada lamunan panjangnya.
Nenek yang sedang menuju dapur seketika menghentikan langkah kakinya. Kedua matanya lantas memperhatikan kebiasaan aneh suami tercintanya itu. Biasanya bila sedang santai, kakek sangat suka memainkan kursi goyangnya. Namun yang dilihatnya sekarang, kakek sama sekali tak memainkan kursi goyangnya itu. Kakek duduk diam seperti patung. Ada sedikit kecemasan dan juga rasa penasaran akan apa yang mengganggu pikiran kakek. Walau kakek tak pernah menceritakan masalah yang sedang dihadapinya, nenek bisa tahu kalau kakek sedang menghadapi masalah hanya dari tingkahnya saja.
Rasa penasaran tampaknya jauh lebih besar daripada urusan lainnya. Nenek yang sejak tadi memperhatikan kakek di ambang pintu, akhirnya memutuskan untuk menghampiri suaminya itu. Tak ada senyuman yang biasa nenek tampilkan di bibirnya. Akhir-akhir ini, nenek memang selalu merasa ada sesuatu yang sedang disembunyikan oleh kakek. Walau sulit membuat kakek menceritakan masalahnya, ia sebagai seorang istri tak bisa diam saja melihat suaminya gundah.
"Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya nenek menepuk pelan pundak kakek.
Kakek menoleh kaget. Saking asyiknya dengan pikirannya sendiri, kakek sampai tak sadar bila wanita yang selalu ada dalam hidupnya itu tengah berdiri di sampingnya. Kakek tersenyum kecil, berusaha menyembunyikan semua hal yang mengganggu pikirannya itu. Walau nenek adalah istri yang sangat dicintainya, kakek tak ingin memberikan beban lebih yang seharusnya menjadi tanggung jawabnya.
"Apa yang sedang kamu pikirkan? Kalau ada masalah, ceritakan padaku. Aku ini kan istrimu. Kita sudah hidup bersama puluhan tahun. Jadi, bisakah kau sedikit terbuka padaku? Jangan selalu memendam masalahmu sendiri!" ungkap nenek.
Kakek menghela napas panjang. Bila istrinya sudah berkata seperti itu, kakek tak bisa menyangkal bila dirinya memang tak baik-baik saja. Kakek menatap lekat nenek, lalu tersenyum kecut memandang nenek yang terlihat mencemaskan dirinya.
"Bila kamu nggak mau cerita, aku nggak akan memaksamu untuk cerita. Tapi satu hal yang harus kamu ingat. Apa pun yang terjadi, aku akan selalu mendampingimu. Aku akan selalu berada di sisimu hingga maut memisahkan kita," ucap nenek tersenyum kecut.
Walau agak kecewa, nenek tak ingin memaksakan kakek untuk melakukan sesuatu yang tak ingin dilakukannya. Nenek akan setia menunggu hingga kakek sendiri yang mau menceritakan semua hal yang mengganggu pikirannya itu.
__ADS_1
Nenek akhirnya menyerah dan memutuskan untuk meninggalkan kakek sendirian di kamar. Namun, ketika meninggalkan kamar, kakek menggenggam erat tangan nenek. Genggaman tangan kakek sontak membuat nenek mengurungkan niatnya untuk pergi. Entah ini hanyalah perasaannya saja atau bukan, wajah kakek terlihat lemah tak berdaya. Sepertinya, masalah yang dihadapi kakek sangat berat.
"Ada apa? Apa kamu lapar? Lepaskan tanganmu! Akan kumasakkan sesuatu."
"Tidak. Aku tidak lapar." Lagi-lagi kakek tersenyum kecut, lalu kembali berkata namun dengan wajah yang sedih, "maafkan aku. Aku benar-benar minta maaf padamu."
"Kenapa kamu minta maaf? Apa kamu melakukan sesuatu tanpa sepengetahuanku?"
"Tidak. Bukan itu." Kakek menghela napas berat, "maafkan aku. Selama ini aku belum bisa membahagiakanmu. Aku masih belum bisa memberikan kehidupan yang lebih baik dari ini. Maafkan aku, istriku. Selama ini aku masih belum bisa menjadi suami yang bisa kau andalkan. Aku merasa gagal menjadi suami dan juga kepala keluarga. Aku hanya bisa menyusahkanmu dan juga cucu kita."
Nenek terkejut mendengarnya. Bahagia tentu saja nenek rasakan lantaran kakek sudah mau membuka diri padanya.
"Walaupun kamu bilang begitu, tetap saja aku merasa gagal. Sebagai suami, aku membiarkanmu mencari uang. Aku membiarkanmu membantuku memenuhi kebutuhan keluarga kita. Ini seharusnya menjadi tanggung jawabku, bukan kamu."
Rasa bersalah semakin menyeruak di hati kakek. Tanpa sadar, air matanya mengalir membasahi pipinya.
"Kamu masih ingat apa yang aku katakan dulu padamu sebelum kita menikah?"
__ADS_1
Kakek menatap bingung, mencoba mengingat kembali perkataan yang pernah istrinya katakan dulu padanya sebelum menikah dengannya. Semakin lama memikirkanya, kakek malah tak dapat menemukan jawabannya. Mungkin karena faktor umur, sehingga ingatannya tak sebaik waktu muda dulu.
"Sepertinya kamu lupa," tebak nenek agak kecewa.
"Maaf," ucap kakek merasa bersalah.
Nenek tersenyum kecil, lalu berkata, "Tak usah merasa bersalah. Wajar saja kamu lupa. Itu kan sudah lama banget. Dulu aku pernah bilang padamu kalau aku menerimamu apa adanya. Tak peduli apakah kamu kaya atau miskin, aku akan selalu bersamamu. Selama ini, aku tak pernah menganggap keadaan kita ini sebagai masalah. Aku malah merasa senang karena bisa membantumu. Jadi, kamu tak perlu merasa bersalah seperti itu. Aku dan cucu kita bisa memaklumi keadaan kita ini."
"Aku benar-benar bersyukur, Allah telah mempertemukanku denganmu dan menjadikanmu sebagai istriku. Kau dan Khalisha adalah orang yang paling berharga dalam hidupku ini," ungkap kakek tersenyum. Ada perasaan lega yang dirasakan kakek setelah mengungkapkan isi hatinya.
Wajah nenek seketika memerah saking malunya mendengar ucapan kakek. Seumur hidup, baru kali ini nenek mendengar kakek mengucapkan kata-kata seromantis itu padanya.
"Jadi, jangan pernah lagi kamu berpikir kalau kamu adalah suami yang buruk dan juga gagal! Aku benar-benar tak suka mendengarnya. Apalagi memasang wajah sedih seperti itu, itu benar-benar tak terlihat seperti kamu. Suamiku yang kunikahi adalah orang yang tegar dan tak gampang menyerah. Mau bekerja keras demiku dan juga cucu kita satu-satunya."
Semua kegundahan yang selama ini mengganggu pikiran kakek seketika hilang begitu saja. Kakek merasa menjadi pria yang paling beruntung di dunia ini. Memiliki seorang istri dan cucu yang baik hati adalah sebuah anugerah. Walaupun kondisi keuangan keluarganya serba kekurangan, nenek dan Khalisha tak pernah sedikit pun mengeluh apalagi berpikir untuk meninggalkannya. Mereka berdua terus mendukung apa pun keputusannya. Di dalam hati yang terdalam, kakek sangat bersyukur. Demi mereka, tekad kakek semakin kuat. Sebisa mungkin, kakek akan berusaha lebih giat lagi untuk memberikan kehidupan yang layak untuk istri dan juga cucunya.
Tanpa mereka sadari, ada sepasang mata yang terus memperhatikan mereka. Semua percakapan yang terjadi di dalam kamar, semuanya dia dengar tanpa ada satu pun yang tertinggal. Ya, sejak tadi Khalisha berdiri mematung di ambang pintu kamar kakek. Kedua matanya mengintip dari celah kecil pintu kamar yang terbuka. Ia merasa rapat sekolah hari ini adalah sebuah keberuntungan. Bila ia tak pulang lebih awal, ia tak akan bisa mendengar semua percakapan nenek dan kakeknya. Percakapan mereka membuatnya bertekad. Ia akan melakukan apa pun untuk membahagiakan dua orang yang sangat berjasa di dalam hidupnya itu. Ia harus mencari pekerjaan untuk meringankan beban kakek dan neneknya. Tak peduli seberapa capeknya nanti, hal itu sepadan dengan pengorbanan kakek dan neneknya dalam membesarkannya.
__ADS_1
***