Take My Heart

Take My Heart
OBROLAN ANTAR PRIA


__ADS_3

Daniel akhirnya bisa bernapas lega. Tanpa meminta izin dengan si pemilik rumah, ia menghempaskan pantatnya di bangku, lalu mengelap keringat yang bercucuran di keningnya. Ia tak pernah menyangka akan melakukan hal seperti ini dalam hidupnya. Berjualan yang biasanya hanya ia lihat dari orang-orang, kini ia bisa merasakannya. Dulu ia berpikir kalau melayani para pembeli adalah pekerjaan yang mudah, namun setelah ia merasakannya secara langsung, ia jadi sadar kalau pekerjaan itu tak semudah yang ia kira.


Melayani orang lain dengan ramah bukanlah gayanya. Sedari tadi ia terus menahan emosinya. Bagaimana tidak. Selain harus membantu Khalisha memasukkan kue ke dalam kantong plastik, ia juga harus tersenyum mendengarkan ocehan para pembeli yang kebanyakan adalah ibu-ibu. Beberapa dari mereka bahkan ada yang mencubit pipinya. Ingin rasanya ia marah karena mereka memegang dirinya, namun mengingat dirinya sedang mengejar Khalisha, ia harus menjaga image dirinya.


"Kamu capek? Aku ambilkan minuman dulu, ya," ucap Khalisha membuyarkan lamunan Daniel.


"Nggak kok. Aku nggak capek," balas Daniel membenarkan duduknya.


"Maaf ya, kamu jadi harus membantuku begini," ucap Khalisha merasa bersalah.


"Kenapa kamu minta maaf? Kan aku sendiri yang mau membantumu. Lagi pula ini pengalaman pertamaku. Aku nggak menyangka bisa secapek ini. Padahal cuma memasukkan kue ke dalam plastik," ucap Daniel mengingat bagaimana ributnya para pembeli tadi.


Belum membalas ucapan Daniel, kakek datang menghampiri mereka. Kakek tampak kaget melihat cucunya yang saat ini seharusnya berada di sekolah sedang duduk berduaan di teras dengan Daniel.


"Lis, Nak Daniel, kalian berdua kok ada di sini? Kalian nggak lagi bolos, kan?"


"Di sekolah lagi ada rapat, Kek," jawab Khalisha, lalu berdiri dan menumpuk wadah yang kosong.


"Oh, kirain kalian bolos sekolah," ucap kakek mengerti.


"Kalau soal itu, Kakek tenang aja. Aku juga nggak akan biarin hal itu terjadi," ucap Daniel tersenyum.


"Kakek percaya sama kalian. Kalian kan anak baik," balas kakek tersenyum, "Lis, kamu masuk deh. Buatin minum buat Nak Daniel. Masa tamu dari tadi nggak dikasih minum."


"Nggak usah, Kek, Lis," tolak Daniel buru-buru.


"Jangan begitu, Nak Daniel. Masa tamu nggak disuguhi apa-apa. Cepat masuk, Lis! Buatin minuman," suruh kakek, lalu duduk di samping Daniel.


Khalisha menganggukkan kepalanya. Dengan membawa wadah kosong, ia melangkah masuk ke dalam rumah.


Berdua dengan Khalisha, Daniel masih bisa santai. Namun, berdua dengan kakeknya Khalisha, ia jadi merasa canggung. Walaupun ia tahu kalau kakek Khalisha sangat ramah pada orang lain, tetap saja jantungnya berdetak cepat.


"Kamu udah lama di sini?" tanya kakek tiba-tiba.


Daniel sontak menoleh sampingnya. Dengan gugup, ia berkata, "Lumayan, Kek. Kakek sendiri baru pulang kerja?"


"Iya, Nak Daniel. Nanti habis makan, Kakek kembali kerja lagi," sahut kakek santai.


"Emangnya Kakek kerja apa?" tanya Daniel penasaran.

__ADS_1


"Kakek ini tukang kebun di rumah yang nggak jauh dari sini. Sebenarnya kerjaan Kakek belum selesai, cuman karena ini sudah jamnya istirahat, Kakek pulang dulu. Nanti Kakek bakalan ke sana lagi," jelas kakek.


Daniel tersenyum kecut mendengar perkataan kakek. Mengingat kedua orang tuanya yang selalu sibuk kerja dan jarang pulang ke rumah, ia jadi iri pada kehidupan Khalisha. Sesibuk-sibuknya kakek Khalisha bekerja, kakek Khalisha masih bisa menyempatkan dirinya untuk pulang, walaupun itu hanya sekedar makan bersama.


"Andai saja papa dan mama seperti kakek Khalisha, aku pasti senang banget. Apa mungkin suatu saat nanti papa dan mama berubah?" batinnya.


Kakek menatap lekat Daniel. Ada sesuatu yang selalu ingin kakek tanyakan pada Daniel.


"Nak Daniel, Kakek mau tanya sesuatu."


"Kakek mau tanya apa?" tanya Daniel menatap bingung.


"Hubungan Nak Daniel sama Khalisha sebenarnya seperti apa?" tanya kakek penasaran.


Daniel menatap bingung. "Maksud Kakek apa? Aku nggak ngerti."


Kakek menghela napas. Kakek pikir ucapannya tadi sudah sangat jelas, tapi ternyata Daniel tak mengerti maksud perkataannya.


"Maksud Kakek itu, kamu dan Khalisha itu sudah sejauh mana? Masih teman atau sudah sampai tahap pacaran?" tanya kakek gemas sendiri.


Daniel tersenyum kecil, malu karena ia tak mengerti pertanyaan kakek. "Maunya sih pacaran, Kek. Tapi ini lagi diusahain."


"Kamu serius suka sama cucu Kakek? Kalau nggak serius, lebih baik kamu jauh-jauh dari Khalisha. Kakek nggak mau cucu Kakek satu-satunya itu terluka," ucap kakek serius. Bila menyangkut istri dan cucunya, kakek tak bisa bersikap biasa saja.


Ia menghirup udara dalam-dalam, lalu menghembuskannya dengan perlahan, berusaha menenangkan dirinya dan mengumpulkan kembali keberaniannya.


"Tentu saja aku serius, Kek. Kalau aku nggak serius ngejar Khalisha, mana mungkin aku bisa sejauh ini," ucapnya serius. Ia tak mau kalau kakek Khalisha berpikir dirinya hanya mempermainkan Khalisha.


"Apa yang kamu suka dari Khalisha? Dengan wajahmu itu, Kakek yakin kalau banyak yang suka sama kamu," tanya kakek dengan tatapan menyelidik.


Daniel tampak berpikir. "Apa ya, Kek. Aku juga bingung. Tapi ada satu hal yang pasti. Khalisha itu berbeda dari cewek-cewek lainnya. Dia itu apa adanya. Nggak pernah berpura-pura manis di depanku. Aku merasa nyaman di dekatnya, bahkan kadang aku nggak mau jauh-jauh dari dia."


Mendengar perkataan Daniel, kakek menjadi yakin kalau Daniel benar-benar menyukai Khalisha. Kakek sangat yakin kalau Daniel adalah anak yang baik. Karena itulah, kakek membiarkan Khalisha berdekatan dengan Daniel.


"Kalau kamu beneran suka sama Khalisha, Kakek nggak akan melarang kamu mendekati Khalisha."


Daniel kaget mendengarnya. Ia bahkan tak mempercayai pendengarannya sendiri. Sebegitu mudahnya dirinya mendapatkan restu dari kakek Khalisha. Ia pikir dirinya akan sulit mendapatkan restu untuk mendekati Khalisha.


"Daniel!" panggil kakek pelan.

__ADS_1


"Ya, Kek," sahut Daniel cepat.


"Kakek harap kamu nggak sakitin Khalisha. Khalisha itu nggak sekuat yang terlihat. Sudah cukup di masa lalu Khalisha menderita, Kakek nggak mau sekarang dan kedepannya, Khalisha kembali menderita," ucap kakek mencurahkan isi hatinya.


"Maksud Kakek? Emangnya di masa lalu Khalisha kenapa?" tanya Daniel kaget dan juga penasaran. Selama ini, Khalisha tak pernah bercerita apa pun tentang dirinya.


Kakek kembali menghela napas. Kakek sebenarnya tak mau menceritakan masa lalu Khalisha, namun melihat Daniel yang serius mendekati cucunya, kakek merasa kalau Daniel berhak tahu bagaimana kehidupan Khalisha dulu.


"Kamu pernah nggak melihat Khalisha tersenyum?"


Daniel menggelengkan kepalanya dengan pelan. Memang selama ini, ia tak pernah melihat Khalisha tersenyum, pada dirinya ataupun pada orang lain.


"Masa lalunya lah yang membuat Khalisha nggak pernah tersenyum sampai sekarang. Khalisha itu sebenarnya anak yang ceria dan mudah berteman dengan siapa saja. Tapi, setelah orang tuanya kecelakaan—"


"Kakek, Daniel, ayo masuk! Makanan sudah siap. Kita makan sama-sama," potong Khalisha tiba-tiba.


Kakek dan Daniel sama-sama menoleh ke arah Khalisha. saking asyiknya mengobrol, mereka sampai tak menyadari kedatangan Khalisha.


Kakek lantas bangkit dari bangku. "Nak Daniel, yuk masuk! Kita makan bareng."


"Tapi, Kek—"


"Nggak ada tapi-tapian. Ini sudah tengah hari. Perutmu pasti lapar. Apalagi tadi kamu nemani Khalisha jualan," potong kakek tak terima penolakan.


"Kakek hebat ya bisa tahu kalau Daniel bantuin aku jualan tadi," puji Khalisha.


"Tentu aja Kakekmu ini tau. Kan dari tadi dia di situ nemenin kamu."


"Tapi gara-gara Daniel loh Kek kue kita bisa ludes," puji Khalisha menatap Daniel.


"Kok bisa gara-gara Nak Daniel?" tanya kakek heran.


"Soalnya ibu-ibu di sini pada mau lihatin wajahnya Daniel yang ganteng. Beli kuenya cuman alasan mereka aja ke sini," sahut Khalisha menyindir.


Daniel menunduk malu. Tapi, ia juga senang karena tak lagi sedingin dulu dengannya.


Kekek tertawa mendengarnya. "Sudah ah. Yuk, kita masuk! Kakek sudah lapar."


Kakek lantas melangkah masuk ke dalam. Khalisha yang melihat Daniel masih tak bergerak, ia lantas menggenggam tangan Daniel dan menariknya memasuki rumah.

__ADS_1


Tak hanya kaget, hati Daniel rasanya berbunga-bunga. Biasanya dirinya yang lebih dulu menggenggam tangan Khalisha, namun saat ini malah kebalikannya. Walau begitu, ia masih penasaran dengan masa lalu Khalisha. Ia ingin tahu kenapa Khalisha tak pernah tersenyum. Ia ingin menjadi obat bagi luka Khalisha.


***


__ADS_2