Take My Heart

Take My Heart
KANGEN


__ADS_3

Nenek terus mengaduk-aduk makanannya. Tak sesendok nasi pun nenek masukkan ke dalam mulutnya. Nenek lantas menghembuskan napas dengan berat. Kedua matanya menatap kursi kosong yang ada di depannya. Kesedihan seketika terpancar di matanya.


Ini adalah hari ketiga Khalisha tak ada di rumah. Suasana rumah sungguh terasa berbeda. Walaupun Khalisha jarang bicara, rumah terasa hampa tanpa dirinya. Tak ada yang membantunya melakukan pekerjaan rumah, tak ada yang membantunya jualan kue, tak ada yang melihat sikap mesranya pada kakek, tak ada yang marah ketika dirinya tak sengaja menyebut kata mawar, dan tak ada yang dibawakan bekal makanan. Saat pagi tiba, nenek kadang ke kamar Khalisha untuk menyuruhnya bergegas berangkat ke sekolah. Namun, yang didapatkan nenek hanyalah rasa rindu ketika melihat kamar Khalisha kosong. Nenek sering lupa kalau Khalisha sedang menginap di rumah temannya yang bernama Daniel.


Kakek tiba-tiba menghentikan makannya. Kedua matanya kini tertuju pada istrinya. Kakek tahu kalau istrinya itu sedang merindukan Khalisha. Namun, apa yang bisa kakek lakukan sekarang. Selain karena kakek tak tahu di mana alamat rumah Daniel, kakek juga tak mempunyai telepon untuk menghubungi Daniel dan menanyakan keadaan Khalisha.


"Jangan diaduk-aduk terus makananmu! Makanlah! Aku nggak mau kamu sakit," tegur kakek cemas.


Nenek memaksakan senyumannya di depan kakek. Selera makannya benar-benar hilang. Bagaimana mungkin dirinya bisa makan enak di rumah, sementara cucunya berada di rumah seorang cowok. Nenek sama sekali tak mendapat kabar apa pun mengenai Khalisha. Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang berputar di pikirannya, namun tak ada satu pun jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut. Apakah Khalisha baik-baik saja di sana? Apakah Daniel memperlakukannya dengan baik? Kapan Khalisha akan pulang?


"Kamu nggak usah khawatirkan Lisha. Aku yakin, dia baik-baik saja di sana," ucap kakek berusaha meyakinkan nenek.


"Gimana aku nggak khawatir? Cucu perempuanku nginap di rumah cowok, trus nggak ada kabar lagi. Nggak tau dia di sana baik-baik saja atau nggak," sahut nenek menatap kesal kakek.


"Lisha itu sudah bukan anak kecil lagi. Dia tahu apa yang sedang dilakukannya. Dia pasti bisa menjaga dirinya sendiri," ucap kakek yakin.


"Tapi tetap aja, Khalisha itu perempuan. Nggak baik baginya untuk menginap di rumah seorang cowok. Apalagi, kita belum lama kenal Daniel. Walaupun Khalisha bilang dia kerja di sana, tapi tetap saja aku merasa cemas. Aku takut kalau Daniel macam-macam sama Khalisha," tutur nenek cemas.


"Kamu tenang aja, ya. Aku yakin kok kalau Daniel itu anak yang baik. Dia nggak akan berbuat macam-macam, apalagi sampai membahayakan Khalisha."


"Kenapa kamu bisa seyakin itu? Kamu juga belum lama kenal sama Daniel," tanya nenek tak mengerti dengan jalan pikiran suaminya itu.


"Karena aku percaya pada pilihan Lisha. Aku yakin, Lisha nggak akan sembarangan membuat keputusan. Dia pasti punya alasannya sendiri. Lagi pula, Lisha pasti nggak akan buat keputusan seperti itu kalau dia nggak kenal betul siapa itu Daniel. Walaupun aku belum kenal Daniel sepenuhnya, aku yakin dia itu anak yang baik. Buktinya saja, dia datang ke sini untuk meminta izin sama kita. Kalau dia bukan cowok baik, dia nggak mungkin melakukan itu. Dia mungkin akan menyuruh Lisha untuk meminta izin sama kita," terang kakek.


Walau begitu, nenek tetap saja merasa khawatir. Nenek tak bisa tenang sebelum melihat langsung keadaan Khalisha. Ditambah lagi, ia juga sangat merindukan Khalisha. Walau bagaimanapun juga, dari kecil hingga sekarang, dia tumbuh di rumah ini bersama dengannya. Hampir semuanya nenek tahu tentangnya.


"Apa kamu marah padaku?" tanya kakek merasa tak enak, "aku minta maaf karena aku tak bisa melakukan apa pun untuk cucu kita."


Nenek tersenyum kecut mendengar perkataan suaminya itu, lantas berkata, "Nggak usah minta maaf. Ini semua sudah terjadi. Tapi, aku kangen sama Lisha. Aku ingin ketemu sama dia."


Kakek menatap sedih istrinya itu, lalu menghembuskan napas dengan berat. Kakek bisa mengerti dengan apa yang dirasakan nenek saat ini, karena kakek pun juga merasakan hal yang sama. Dirinya juga sangat merindukan Khalisha, rindu akan sikap dinginnya. Di saat yang genting seperti ini, pikirannya malah terasa buntu. Ia malah bingung harus berbuat apa untuk mengurangi kesedihan istrinya itu.


Suasana di meja makan seketika terasa canggung. Baik kakek maupun nenek sama-sama asyik dalam lamunannya. Sesekali nenek menghela napas, lalu kembali pada lamunannya. Sebuah ide tiba-tiba saja terlintas dalam pikiran kakek. Sebuah ide sederhana yang seharusnya terpikirkan sejak tadi.


"Gimana kalau besok kita datang ke sekolah Lisha? Kita bisa ketemu sama Lisha sekaligus menanyakan alamat rumahnya Daniel. Jadi, kalau kita kangen sama Lisha, kita bisa datang ke rumahnya. Gimana menurutmu?"


"Iya, ya. Kok aku nggak kepikiran ke situ, ya?" ucap nenek senang.


"Berarti kamu setuju, kan?"

__ADS_1


"Ya, aku setuju," jawab nenek bersemangat.


"Kalau gitu, cepat habiskan makananmu!"


"Ya. Aku akan habiskan makananku. Besok kita kan mau ketemu sama Lisha."


Nenek lantas memakan makanannya. Suap demi suap nasi mulai memberi kelegaan pada pencernaannya yang kosong. Hati nenek sangat senang. Nenek sudah tak sabar ingin bertemu dengan Khalisha.


***


Bel sekolah pertanda pulang akhirnya berbunyi dengan nyaring. Semua penghuni kelas bersorak-sorai lantaran pelajaran yang menguras otak mereka akhirnya selesai juga. Mereka buru-buru memasukkan buku-buku mereka ke dalam tas, lalu bergegas keluar kelas. Hal itu ternyata berlaku juga pada Daniel. Tangannya dengan cepat memasukkan buku-bukunya ke dalam tas. Dia sudah tak sabar ingin menghampiri Khalisha di kelasnya.


"Hei, Daniel!" sapa Mikha berdiri di samping Daniel. Tak lupa senyum manis ia pasang di bibirnya.


Daniel sama sekali tak menanggapi sapaan Mikha. Dia hanya diam membisu. Bahkan sekedar menatapnya saja, dia tak melakukannya. Sikap Daniel yang begitu dingin tentu saja membuat Mikha kecewa. Ia tak pernah mengerti kenapa Daniel tak pernah sekalipun bersikap ramah padanya.


"Daniel, kita pulang bareng, yuk!" ajak Mikha dengan jantung yang berdebar-debar. Ia sangat berharap kalau Daniel akan menerima ajakannya itu.


"Kamu pulang aja sendiri," sahut Daniel dingin. Ia lantas bangkit dan pergi begitu saja meninggalkan Mikha.


Untuk kesekian kalinya, Mikha menelan kekecewaan. Walaupun ia tahu hasilnya akan seperti itu, ia sama sekali tak kapok berusaha mendekati Daniel. Padahal sampai kapan pun juga, sikap Daniel tak akan pernah berubah padanya. Ia menghela napas. Tak ada gunanya lagi ia berlama-lama berdiri di dekat kursi Daniel. Ia pun akhirnya melangkahkan kakinya dengan pelan meninggalkan ruang kelas.


Daniel kini berdiri di depan kelas Khalisha. Kedua matanya tampak menelusuri ruangan tersebut, mencari-cari sosok Khalisha. Namun sayangnya, sosok yang dicarinya tak kunjung ditemukannya. Hanya ada beberapa siswi yang terus memandanginya di dalam.


Sial sekali. Padahal, ia sudah berjalan dengan cepat untuk sampai ke kelas Khalisha. Biasanya Khalisha pulang paling terakhir, sehingga ia bisa menjemputnya di kelas. Ia menghela napas, kecewa karena orang yang dicarinya sudah tak ada. Daripada berlama-lama dipandang aneh oleh para siswi yang tertinggal di sana, ia pun kembali melangkahkan kakinya dengan cepat menuju parkiran sekolah. Ia sangat berharap Khalisha masih belum meninggalkan halaman sekolah.


Sementara itu, Khalisha berjalan dengan santai menuju gerbang sekolah. Namun kali ini, ia berjalan tak sendirian. Ia bersama dengan Mayang. Karena sudah duduk sebangku dengannya, Mayang memilih pulang bersama dengannya. Mayang sempat bilang padanya kalau dia malas pulang bersama dengan Siska dan Dita. Karena adu mulut yang terjadi saat itu, hubungan antara Mayang, Siska, dan Dita menjadi rusak. Jangankan mengobrol, saling bertegur sapa pun mereka enggan melakukannya.


Kedua mata Mayang tiba-tiba mengarah pada satu mobil sedan hitam yang baru saja berhenti di depan gerbang sekolah. Seorang pria keluar dari dalam mobil. Dia tersenyum menatap ke arah Mayang, lalu melambai-lambaikan tangannya.


"Lis, Papaku sudah jemput. Kamu mau pulang bareng aku nggak?" tanya Mayang.


"Mungkin lain kali aja," sahut Khalisha, "kamu duluan aja."


"Ya udah deh. Kalau begitu aku duluan ya, Lis." Setelah berkata seperti itu, Mayang pergi meninggalkan Khalisha seorang diri.


Kedua mata Khalisha tak lepas menatap Mayang yang menghampiri papanya. Ia bisa melihat dengan jelas kebahagiaan di wajah mereka. Melihat kebersamaan mereka, kenangan-kenangan indah bersama dengan orang tuanya dulu kembali berputar di pikirannya. Betapa bahagianya kehidupan masa kecilnya dulu. Sebuah tangan tiba-tiba saja menepuk pundaknya, membuat pikirannya yang melayang-layang ke masa lalu kembali ke dunia nyata. Sontak saja ia berbalik dan menatap Daniel yang berdiri di belakangnya.


"Kenapa kamu nggak tunggu aku di kelas sih, Lis? Aku cari-cari kamu tadi. Kupikir kamu udah pulang duluan," ucap Daniel kesal.

__ADS_1


"Aku tadi bareng temanku. Nggak enak kalau nolak dia," sahut Khalisha santai.


"Trus, mana temanmu?" tanya Daniel sembari mencari temannya Khalisha.


"Udah pulang. Dia dijemput sama papanya tadi."


"Kalau gitu kita pulang sekarang." Daniel lantas memakaikan helm di kepala Khalisha.


Khalisha diam saja saat Daniel memasangkan helm di kepalanya. Namun, saat ia hendak naik ke motor Daniel, kedua matanya membulat sempurna tatkala melihat dua orang yang baru muncul di depan gerbang sekolah. Tanpa melepas helm dan berkata apa pun pada Daniel, ia berlari kecil menuju gerbang sekolah.


Daniel menatap aneh kepergian Khalisha yang tiba-tiba. Ia pun menyalakan motornya dan melaju dengan pelan menyusul Khalisha.


Sesampainya di depan gerbang sekolah, Khalisha berdiri mematung. Ia masih tak percaya bila kakek dan neneknya saat ini berada di sekolahnya. Jarang sekali mereka mau datang ke sekolahnya. Alasannya hanya satu. Mereka tak mau membuat dirinya malu di depan teman-teman sekolahnya, walaupun ia sama sekali tak peduli akan hal itu.


Tanpa berkata apa pun, nenek langsung memeluk Khalisha. Rasa rindu yang menyiksa batinnya seketika hilang tanpa bekas. Air matanya pun tanpa sadar mengalir membasahi kedua pipinya.


"Lisha, Nenek kangen sama kamu," ucap nenek, lalu melepaskan pelukannya.


"Aku juga kangen sama Nenek. Kakek dan Nenek baik-baik saja, kan? Kok kalian datang ke sini?" tanya Khalisha menatap bingung.


"Nenekmu ini udah kangen berat sama kamu, Lis. Karena kami nggak tau di mana rumah Daniel, makanya kami datang ke sini," sahut kakek tersenyum, "kamu sendiri gimana? Kamu baik-baik saja kan di sana? Apa Daniel bersikap baik padamu?"


"Kakek dan Nenek nggak usah khawatirkan aku. Aku di sana baik-baik saja. Daniel juga memperlakukanku dengan baik."


"Syukurlah kalau begitu. Kakek lega mendengarnya," ucap kakek lega. Kakek lantas menatap ke arah istrinya, lalu berkata, "Nenek udah dengar sendiri kan perkataan Khalisha? Nenek nggak usah lagi berpikir yang tidak-tidak, apalagi tentang Daniel."


Nenek mendengus kesal. "Mau gimana lagi. Aku kan khawatir sama Lisha. Seumur-umur, Lisha nggak pernah pergi lama dari rumah, apalagi nginap di rumah orang lain. Tentu saja Nenek takut kalau Daniel berbuat macam-macam sama Lisha. Apalagi, Daniel kan laki-laki. Nggak ada yang tahu pikiran laki-laki itu seperti apa."


"Tapi Nenek sudah lihat sendiri kan Lisha baik-baik aja."


"Memang benar sih Lisha baik-baik aja," ucap nenek sembari menatap Khalisha dari ujung kepala hingga ujung kaki, "tapi tetap aja Nenek merasa khawatir."


"Pokoknya Nenek nggak usah khawatirkan aku. Aku bisa jaga diri, kok. Aku pasti akan baik-baik saja," sahut Khalisha berusaha menenangkan neneknya.


Nenek kembali memeluk Khalisha. Khalisha pun membalas pelukan nenek, meluapkan rasa rindu yang selama empat hari ini menjerat batinnya. Rasanya sulit sekali melepas pelukan ini. Mungkin untuk tiga hari ke depan, ia tak akan bertemu dengan kakek dan neneknya.


Daniel menghentikan laju motornya tak jauh dari tempat Khalisha berada. Kedua matanya sama sekali tak lepas dari sosok Khalisha yang sedang bersama dengan kakek dan neneknya. Sekarang, ia bisa mengerti kenapa Khalisha tiba-tiba saja pergi darinya. Dia pasti merindukan kakek dan neneknya. Melihat keakraban mereka, ia jadi tak tega menghampiri Khalisha. Ia takut, kehadirannya justru akan mengganggu mereka. Rasa iri seketika hinggap di hatinya, iri pada Khalisha yang begitu disayang oleh kakek dan neneknya. Baru hari keempat Khalisha menginap di rumahnya, kakek dan neneknya rela datang ke sekolah hanya untuk menemui Khalisha. Andai saja hal itu terjadi padanya. Andai saja papa dan mamanya seperti kakek dan neneknya Khalisha, pasti lengkap sudah kebahagiaan yang ia rasakan.


***

__ADS_1


__ADS_2