
"Lis, kita ke kantin, yuk! Bosan nih dari tadi di kelas terus," ajak Mayang.
"Emangnya mau kemana?" tanya Khalisha. Sejujurnya, ia sendiri juga merasa bosan berada di dalam kelas.
"Kemana aja deh. Yang penting nggak di sini," ucap Mayang, "yuk, Lis, kita keluar! Aku benar-benar bosan di sini."
Khalisha menghela napas. Walau belum lama mengenal Mayang, ia perlahan-lahan mulai terbiasa dengan sikap Mayang. Kadang, ia melihat Mayang bersikap dewasa. Namun, ketika ia merasa bosan atau lagi ada maunya, Mayang bisa bersikap kekanak-kanakan. Bagusnya, Mayang tak pernah memaksakan kehendaknya. Dan yang paling ia sukai dari Mayang, Mayang tak pernah sekali pun membedakan dirinya yang miskin dengan teman-temannya yang rata-rata adalah anak orang kaya.
Semenjak berteman dengannya, Mayang sering mendapat ejekan dari Siska dan Dita. Kadang, ia merasa bersalah pada Mayang. Bila Mayang tak berteman dengannya, mungkin saat ini Mayang masih berteman dengan Siska dan Dita. Dia juga tak akan mendapat ejekan dari mereka. Tapi begitulah Mayang. Walau sering diejek oleh Siska dan Dita, Mayang tetap bersikap biasa saja. Tak pernah sekali pun dia terpengaruh pada ejekan mereka, seakan-akan ejekan mereka adalah angin lalu. Melihat sikap Mayang yang selama ini selalu ramah pada padanya, ia sangat bersyukur bisa mengenal dan menjadi salah satu temannya.
"Aku ingin ke perpustakaan. Udah lama aku nggak baca novel. Mungkin aja ada novel baru di sana," ucap Khalisha bersemangat.
"Aku baru tahu kamu suka baca novel," ucap Mayang agak kaget. Satu lagi yang baru ia ketahui dari Khalisha. "Emangnya seru ya baca novel? Aku nggak pernah baca novel. Soalnya tulisan semua. Nggak ada gambarnya."
"Kalau yang ada gambarnya itu namanya komik. Kalau novel ya tulisan semua isinya," sahut Khalisha.
"Iya juga, ya," ucap Mayang tersenyum kecil, "tapi beneran seru nggak baca novel? Aku pernah meminjam novel seseorang. Baru juga lihat halaman pertama sudah malas bacanya. Makanya aku nggak pernah sentuh novel lagi."
"Tergantung kita sih sebenarnya. Nggak semua orang suka baca novel. Karena nggak hobi baca, baru juga halaman pertama, pasti sudah malas bacanya," terangnya, "kalau kamu mau, kamu bisa coba baca dulu sampai habis. Jangan setengah-tengah bacanya. Kalau aku yang sudah biasa sih seru banget. Aku kadang bisa menghayati jalan ceritanya."
"Ya ampun, segitunya. Biasanya butuh berapa hari baca novelnya?" tanya Mayang penasaran.
"Biasanya dua hari dua novel."
"Yah, kupikir dua novel dalam satu hari," sahut Mayang.
"Maunya juga begitu. Tapi mau gimana lagi. Kalau aku baca novel seharian, bisa-bisa nenekku marah-marah karena nggak ingat waktu. Aku kan harus belajar dan bantu nenekku jualan kue," terang Khalisha, "oh ya, mau ikut nggak ke perpus? Mumpung belum masuk kelas."
"Tentu aja aku ikut," jawab Mayang antusias. Ia lantas bangkit, lalu kembali berkata, "Kita ke perpus sekarang, yuk!"
Di luar dugaan, Mayang langsung setuju dengan ajakan Khalisha. Yang ia tahu, Mayang sangat jarang pergi ke perpustakaan. Dia lebih suka menghabiskan waktu istirahatnya di kantin. Ia pun segera bangkit dan melangkah pergi keluar kelas. Namun, ketika berada di ambang pintu kelas, ia berpapasan dengan Siska dan Dita.
"Awas, awas, si kutu buku mau lewat," ejek Siska tersenyum sinis.
"Kasihan ya kamu, May. Selera kamu jadi rendah begini," sambung Dita ikut mengejek.
Mayang menatap tajam pada Siska dan Dita. Ia benar-benar tak suka dengan sifat mereka yang sombong dan suka menghina orang lain. Bila dipikirkan kembali, ia menyesal telah berteman dengan mereka. Tapi untunglah, sifatnya tak berubah seperti mereka.
"Jaga ya omongan kalian!" bentak Mayang menahan emosinya.
"Emang begitu kok kenyataannya. Semenjak kamu berteman sama si kutu buku ini, kamu itu jadi berubah. Kamu nggak suka lagi nongkrong sama kita. Apa sih hebatnya dia? Kalau kurangnya sih banyak banget," ucap Siska tak terima dibentak.
Mendengar perkataan Siska, Mayang tersenyum sinis. "Khalisha itu orang yang hebat. Dia baik, rajin, dan pekerja keras. Nggak seperti kalian yang manja dan sombong. Tanpa kedua orang tua kalian, kalian bukanlah apa-apa. Kalian itu hanya anak mama dan papa yang kerjaannya meminta-minta uang."
"Keterlaluan kamu, May. Bisa-bisanya kamu ngomong begitu sama kami," ucap Siska merasa terhina.
__ADS_1
"Aku bingung deh sama kamu, Sis. Setahuku, Khalisha nggak pernah cari masalah sama kamu. Tapi, kenapa ya kamu nggak suka banget sama dia?" Mayang tampak memikirkan sesuatu. Namun, tiba-tiba saja ia tersenyum mengejek. "Ah, jangan-jangan kamu iri ya sama Khalisha?"
"Iri katamu? Aku iri sama si kutu buku? Ngapain aku iri sama dia," ucap Siska mengelak.
"Khalisha kan pintar. Dia selalu juara satu di kelas."
Orang yang sedang dibicarakan malah tampak bosan mendengar obrolan mereka. "Sudah cukup belum ngobrolnya? Aku ingin ke perpus. Kamu jadi ikut atau nggak, May? Kalau nggak, aku pergi sekarang."
"Tunggu, aku ikut." Mayang lantas melangkah pergi bersama dengan Khalisha, meninggalkan Siska dan Dita yang masih berdiri di ambang pintu kelas. Jujur saja, ia malas bila berlama-lama dengan mereka. Hawanya selalu saja panas. Tiap kali bertemu, kerjaannya pasti selalu ribut.
Semakin lama, Mayang semakin yakin kalau Siska sebenarnya iri pada Khalisha. Entah apa yang membuat seorang Siska yang populer di sekolah bisa iri pada Khalisha. Entahlah. Untuk saat ini, ia malas memikirkannya.
***
Bel sekolah pertanda masuk kelas masih belum berbunyi. Khalisha dan Mayang berjalan dengan santai menuju perpustakaan. Kedua mata Khalisha sesekali melirik ke arah Mayang. Ia masih tak percaya bila ada seseorang yang berada di sampingnya. Tak pernah ada di dalam pikirannya bila suatu saat akan ada hari di mana dirinya tak lagi sendirian di sekolah. Baginya, melewati hari-harinya di sekolah tanpa adanya masalah hingga lulus nanti adalah hal yang penting. Sebisa mungkin dirinya menaati peraturan di sekolah agar terhindar dari masalah. Ia tak peduli bila dirinya akan sendirian tanpa seorang pun teman di sisinya. Namun, hal yang selama ini ia yakini seakan terpatahkan akan sikap Mayang yang tak menyerah untuk berteman dengannya. Walau ekspresi wajahnya selalu datar, namun di dalam hatinya, ia sangat senang dan bersyukur karena bisa bertemu dengan orang sebaik Mayang.
Sesampainya di perpustakaan, Khalisha langsung menuju rak panjang yang berisi deretan novel-novel. Mayang pun mengikuti Khalisha dan memandangnya lekat. Terlihat sekali bila Khalisha sangat suka membaca novel. Buktinya saja, ketika dia sampai di rak buku yang berisi novel, Khalisha langsung fokus memilih-milih novel yang ingin dibacanya.
Kedua mata Mayang tampak takjub melihat deretan novel yang banyaknya sama dengan buku-buku pelajaran. Ia baru tahu kalau novel itu ternyata memiliki banyak genre.
"Kamu mau baca yang mana?" tanyanya bingung.
Khalisha lantas mengambil salah satu novel, lalu menunjukkannya pada Mayang. "Aku mau baca yang ini."
"Akhir-akhir ini aku lagi suka baca yang ini," ucap Khalisha tak sabar ingin membacanya, "kamu sendiri mau baca yang mana?"
Mayang menatap novel-novel yang ada. Ia tampak bingung ingin membaca yang mana. Daripada pusing memilih yang mana, ia pun mengambilnya secara sembarangan.
Melihat Mayang sudah mengambil novel, Khalisha pun duduk di kursi yang dekat dengan jendela kaca perpustakaan. Tanpa banyak bicara, Mayang pun duduk di samping Khalisha. Ia pun mulai membaca halaman pertama novel yang dipilihnya.
Ketika mereka asyik membaca novel, seseorang tiba-tiba saja duduk di samping mereka. Kedua matanya terus menatap ke arah mereka.
Mayang yang mulai kelelahan membaca, mengistirahatkan matanya dengan menatap sekelilingnya. Saat melihat Khalisha, ia melihat seorang cowok terus menatap ke arah Khalisha.
"Kenapa kamu lihatin Khalisha terus?" tegur Mayang.
Khalisha yang asyik membaca novel pun sontak kaget mendengar suara Mayang. Ia lantas menoleh ke Mayang.
"Ada apa, May?"
"Itu Lis, cowok yang duduk di sampingmu itu dari tadi lihatin kamu terus," sahut Mayang.
Khalisha pun menoleh ke arah cowok yang dimaksud Mayang. Wajahnya terlihat tak asing. Sepertinya, ia pernah bertemu dengannya.
"Kau Khalisha, kan?"
__ADS_1
"Iya. Kau?" tanya Khalisha mengingat-ingat.
"Ini aku Andhika, temannya Daniel. Kita pernah ketemu di rumah Daniel. Kamu ingat, kan?" ucap Andhika senang. Ia tak menyangka akan bertemu dengan cewek yang disukai Daniel di perpustakaan.
"Aku ingat," jawab Khalisha singkat, lalu kembali pada novelnya.
Andhika tak percaya melihat sikap Khalisha padanya. Ia seperti melihat Daniel dalam sosok cewek. Dia terlihat dingin dan tak peduli pada orang lain. Pantas saja Daniel bisa suka pada cewek yang duduk di sampingnya itu. Ternyata, mereka berdua memiliki sifat yang hampir sama.
"Kudengar kamu nggak nginap lagi di rumah Daniel?" tanya Andhika basa-basi.
"Ya," jawab Khalisha tanpa mengalihkan pandangannya.
Andhika tersenyum kikuk. "Kalau boleh tahu, kamu itu ada hubungan apa sama Daniel? Apa kamu pacarnya Daniel?"
"Bukan. Aku pembantunya."
"Oh. Kenapa kamu mau jadi pembantunya Daniel?" tanya Andhika mencoba mencari informasi.
"Aku nggak sengaja merusak androidnya. Makanya, aku terima tawarannya. Selain untuk mengganti androidnya, aku juga butuh uang."
Diam-diam Andhika menatap kagum Khalisha. Jarang sekali ada cewek yang mau bekerja sambil sekolah. Ia juga berani bertanggung jawab akan perbuatannya. Khalisha memang berbeda dari cewek-cewek yang mendekatinya.
"Menurut kamu, Daniel itu orangnya seperti apa?" tanya Andhika penasaran. Ia ingin mendengar pendapat Khalisha mengenai Daniel.
"Baik." Hanya itu saja kata yang keluar dari mulut Khalisha.
Andhika agak kesal dibuatnya. Khalisha benar-benar pelit mengeluarkan kata-kata. Khalisha bahkan tak menatap dirinya yang sedang mengajaknya mengobrol. Ia benar-benar merasa berhadapan dengan Daniel.
"Apa kamu punya perasaan sama Daniel?"
Mendengar pertanyaan itu, Khalisha menutup novel yang sedang dibacanya. Ia menatap dingin Andhika. Sepertinya, ia mulai terganggu dengan keberadaan Andhika.
Andhika yang mendapat tatapan itu menjadi merinding. Baru kali ini ia merasa takut oleh seorang cewek. Namun anehnya, ia merasa tatapan mata Khalisha mirip dengan tatapan seseorang. Hanya saja, ia tak tahu mirip dengan tatapan mata siapa.
"Apa maksudmu tanya seperti itu?" tanya Khalisha dingin.
"Aku cuman pengen tahu aja. Soalnya, Daniel nggak pernah dekat sama cewek mana pun selain kamu," jawab Andhika beralasan.
"Oh. Biasa aja," jawab Khalisha sekenanya.
Andhika sudah kehabisan pertanyaan. Berhadapan dengan Khalisha benar-benar membuat otaknya menjadi buntu. Khalisha benar-benar cewek spesial. Dia tak seperti para fansnya yang mudah didekati. Sepertinya, butuh usaha keras bagi Daniel untuk meluluhkan hati Khalisha.
Mayang hanya menjadi penonton di antara Khalisha dan Andhika. Ia tak berani mengganggu pembicaraan mereka. Tapi tetap saja, rasa penasaran menghantui pikirannya. Ia tak mengira bila Khalisha berteman dengan salah satu cowok populer di sekolahnya itu. Temannya yang satu ini benar-benar cewek yang beruntung.
***
__ADS_1