
Seperti biasa, setelah mengerjakan tugas sekolah, Khalisha membantu neneknya berkeliling menjajakan kue-kue dagangannya. Masing-masing tangannya membawa sebuah keranjang kecil. Sesekali, ia mengelap keringat yang ada di keningnya dengan lengannya, lalu kembali melangkahkan kakinya mengikuti langkah sang nenek.
Kedua mata nenek menatap Khalisha yang berada di belakangnya, lalu menghela napas. "Kamu capek ya, Lis? Dari tadi kita belum istirahat sama sekali. Kemarikan keranjangnya! Biar Nenek aja yang bawa keranjangnya."
Khalisha menatap datar nenek, lalu berkata, "Nggak usah, Nek. Aku sama sekali nggak capek. Nenek sendiri gimana? Capek nggak?"
"Nenek juga nggak capek," sahut nenek masih semangat, "kalau gitu biar Nenek aja yang bawa keranjangnya ya, Lis. Tangan kamu pasti sudah pegal semua."
"Nenek tenang aja. Aku masih kuat, kok. Lagian juga ini nggak berat," sahutnya beralasan. Ia tak tega melihat neneknya yang sudah berjalan jauh harus membawa keranjang dagangannya.
Bila sudah begitu, nenek tak bisa berkata apa-apa lagi. Nenek hanya bisa menyetujui apa pun yang Khalisha inginkan. Sebenarnya, sudah berkali-kali nenek memaksa Khalisha untuk tidur siang di rumah. Namun sayangnya, Khalisha tak pernah mau mendengarkan perkataannya. Nenek ingin setelah pulang sekolah, Khalisha istirahat di rumah, melepaskan semua penat yang ada karena mengikuti pelajaran di sekolah. Walaupun hanya sejam atau dua jam saja, setidaknya itu lebih baik dari pada tidak sama sekali. Namun, apa dayanya. Sifat Khalisha yang keras kepala itulah yang membuat nenek sering kali mengalah. Khalisha terus saja bersikap seolah-olah dirinya adalah gadis yang tak kenal lelah. Setelah makan siang dan mengerjakan tugas sekolahnya, Khalisha malah membantunya membuat kue dan berjualan di jalan.
Bukannya tak senang karena ada yang membantunya, nenek hanya tak ingin membuat Khalisha sakit. Apalagi, Khalisha adalah cucu satu-satunya. Sudah pasti nenek ingin cucunya itu selalu sehat.
Prittt...
Khalisha sontak menoleh ke asal suara. Suaranya berasal dari gedung olahraga yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri. Tak berapa lama, terdengar suara sorakan dari dalam gedung itu.
"Sepertinya di sana lagi ada pertandingan. Berarti banyak orang dong di sana. Lebih baik aku ajak aja Nenek ke sana. Daripada jalan nggak tentu arah begini. Udah jauh-jauh jalan, nggak ada pembeli lagi. Lebih baik ke sana aja. Siapa tau banyak yang beli," batinnya.
"Lis, kayaknya di sana lagi ada yang bertanding. Kita kesana, yuk! Siapa tahu ada yang mau beli kue kita," ajak nenek. Tanpa menunggu jawaban dari Khalisha, nenek langsung melangkahkan kakinya menuju gedung olahraga tersebut.
Tanpa sepatah kata pun, Khalisha kembali mengikuti langkah sang nenek. Entah kenapa, ia merasa hari ini neneknya hebat sekali. Selain karena nenek sudah berjalan jauh tanpa istirahat sama sekali, nenek juga bisa satu pemikiran dengannya. Biasanya, ia harus rela meninggalkan nenek mencari tempat yang ramai sebelum kembali berjalan. Setidaknya untuk hari ini, ia tak perlu repot-repot melakukannya.
Tak perlu waktu lama bagi nenek dan Khalisha untuk sampai ke gedung olahraga. Beberapa orang terlihat keluar dari dalam gedung. Kesempatan tersebut tentu saja tak disia-siakan oleh nenek. Dengan senyum bahagia, nenek melangkah menghampiri orang-orang tersebut.
Khalisha menghela napas melihat tingkah neneknya. Wajar saja bila nenek bersikap seperti itu. Dari tadi mereka berjalan, namun kue yang laku terjual hanya sedikit. Ia sangat berharap bila orang-orang yang keluar dari gedung itu mau membeli dagangan nenek. Tapi tetap saja, ada sedikit ketakutan bila tak ada seorang pun yang membeli. Ia takut nenek akan kecewa.
"Kue... kue... kuenya, Nak," tawar nenek menatap orang-orang yang keluar.
Khalisha menatap kecewa. Mereka tampak tak tertarik membeli kue nenek. Bahkan sekedar melihat keranjang yang dibawanya saja, mereka terlihat enggan melakukannya.
"Kue... kue... kuenya, Nak," tawar nenek kembali.
"Khalisha!"
Mendengar namanya dipanggil, Khalisha sontak menoleh ke asal suara. Seorang gadis tengah berlari kecil menuju arahnya. Wajahnya terlihat sangat senang. Bukannya ikut terlihat senang, Khalisha malah menatap heran. Ia tak menyangka bisa bertemu dengan Mayang di luar sekolah.
"May, kok kamu ada di sini?" tanyanya agak kaget.
"Aku ke sini buat nonton pertandingan voli sekolah kita. Pertandingannya seru banget loh, Lis. Sekolah kita menang lagi," ucap Mayang antusias.
"Oh. Aku baru tahu kalau ada pertandingan di sini," sahut Khalisha baru tahu, "kamu ke sininya sama siapa? Apa sama papa kamu?"
"Nggak. Aku ke sini bareng teman-temanku. Mereka tuh ngefans banget sama Daniel, Andhika, Nathan, dan Bayu. Yah, daripada bosan di rumah, aku ikutan aja deh ke sini. Lagi pula kamu tahu kan kalau aku suka nonton pertandingan yang berhubungan dengan sekolah kita," jawab Mayang, lalu melambaikan tangannya ke arah teman-temannya yang sedang berkumpul, "trus, kamu sendiri ngapain di sini?"
"Aku lagi jualan kue," ucap Khalisha sedikit mengangkat barang dagangannya.
Mayang sontak melirik dua keranjang kecil. Saking senangnya bertemu dengan Khalisha, ia sampai tak melihat keranjang yang ada di kedua tangan Khalisha.
"Masih banyak jualannya, Lis?"
"Yah, begitulah," jawabnya menghela napas.
Nenek yang sejak tadi memperhatikan, tentu saja tersenyum senang. Bagaimana tidak. Setelah sekian tahun, Khalisha mulai membuka dirinya. Dia mulai bisa berteman dengan orang lain.
"Lis, dia teman kamu?" tanya nenek menghentikan obrolan mereka.
Khalisha sontak menoleh sampingnya. Ia jadi merasa tak enak pada nenek. Bisa-bisanya ia asyik mengobrol dengan Mayang tanpa memperhatikan nenek.
"Namaku Mayang, Nek. Aku teman sekelasnya Khalisha," ucap Mayang memperkenalkan diri.
"Nak Mayang, makasih ya sudah mau jadi temannya Khalisha. Maafin Khalisha bila nggak seperti teman-teman Nak Mayang lainnya," ungkap nenek tulus.
"Ya ampun, Nek. Nenek nggak perlu minta maaf atau berterima kasih padaku. Khalisha itu orangnya baik, Nek. Makanya aku mau berteman dengan dia," ucap Mayang tersenyum.
Siska dan Dita yang baru saja keluar dari gedung seketika menatap sinis. Mereka sama sekali tak menyangka bisa bertemu dengan dua orang gadis yang mereka benci. Siapa lagi kalau bukan Khalisha dan Mayang.
__ADS_1
"Kenapa harus ketemu mereka di sini sih? Males banget," tanya Siska mendengus kesal.
"Iya nih. Males banget. Perasaan tadi di dalam, aku nggak melihat mereka," sahut Dita dengan wajah yang masam.
"Coba lihat tangan si cewek miskin!" suruh Siska, "kayaknya tuh cewek lagi jualan sama neneknya. Gimana kalau kita samperin mereka?"
"Ngapain ke sana. Kita pulang aja, yuk!" ajak Dita. Ia malas bertemu dengan Mayang dan Khalisha.
"Ya tentu aja mau menghina tuh cewek miskin," ucap Siska tersenyum sinis, "ikut nggak?"
Bila sudah menyangkut menghina Khalisha, tentu saja Dita harus ikut. Sejak Mayang berteman Khalisha, Mayang menjaga jarak bahkan berani membela Khalisha di depannya. Padahal, ia dan Mayang sudah lama bersahabat. Dan persahabatan mereka hancur seketika gara-gara Khalisha.
"Tentu saja. Yuk, ke sana!" sahut Dita bersemangat.
Siska dan Dita pun melangkah menghampiri Mayang dan Khalisha. Mereka sudah tak sabar ingin mempermalukan Khalisha di depan umum.
Mayang benar-benar tak menyangka bisa bertemu dengan Khalisha dan neneknya di gedung olahraga. Ia diam-diam merasa kagum pada gadis yang ada di hadapannya itu. Bagaimana tidak. Bukannya pulang sekolah langsung istirahat atau kumpul bareng bersama teman-teman untuk menghilangkan penat seperti dirinya, Khalisha justru membantu neneknya berjualan. Sungguh hal yang patut untuk ditiru.
"Wah... wah, kalian berdua rupanya ada di sini. Kok nggak kelihatan tadi di dalam?" tanya Siska basa-basi. Ia terus saja melemparkan senyum sinisnya.
Nenek menatap bingung pada dua gadis yang baru saja datang. Dilihat dari wajah mereka, nenek merasa bila kedua gadis itu tak suka pada Khalisha.
"Kuenya, Nak?" tawar nenek tiba-tiba.
"Maaf ya, Nek. Saya itu alergi makan kue murahan kayak itu," sahut Siska dengan angkuhnya.
"Ya, Nek. Kami ini kan orang kaya. Nggak level makan kue murahan yang Nenek jual itu. Lebih baik, Nenek cari tempat lain deh buat jualan. Tentunya yang levelnya sama dengan Nenek dan si cewek miskin itu. Di sini itu kumpulan orang kaya, bukan kumpulan orang miskin," timpal Dita juga dengan angkuhnya.
Mayang yang sejak tadi diam tentu saja dibuat geram dengan tingkah Siska dan Dita. Bisa-bisanya mereka berbicara seperti itu pada nenek Khalisha. Mereka benar-benar tak ada sopan santun kepada orang yang lebih tua.
"Bisa nggak kalian sekali aja nggak menghina orang?" tanya Mayang menahan emosinya.
"Loh, kok kamu yang sewot sih? Apa yang dibilang Dita itu benar, kan. Kenyataannya emang begitu," ucap Siska membela Dita.
Perkataan dua gadis yang baru datang itu seakan menusuk di hati nenek. Sakit hati nenek mendengar mereka. Begitu rendah dan hinanya dirinya dan juga Khalisha di mata mereka.
"Nek, nggak usah dimasukin ke dalam hati ya omongan mereka. Mereka itu otaknya agak gesrek," ucap Mayang khawatir bila nenek Khalisha tersinggung dengan ucapan Siska dan Dita.
"Enak aja kamu bilang otak kami gesrek. Kamu tuh yang otaknya gesrek karena kelamaan temenan sama si cewek miskin," ucap Siska tak terima.
"Ya tuh, May. Kamu itu kan orang kaya, seharusnya cari teman yang selevel sama kamu. Bukannya malah temenan sama si cewek miskin itu," sambung Dita kesal.
"Apa urusannya sama kalian? Aku mau temenan sama siapa pun, itu urusanku. Dan juga, jangan panggil Khalisha dengan sebutan cewek miskin!" balas Mayang tegas. Semakin lama ia merasa muak dengan sifat Siska dan Dita.
Khalisha mulai bosan melihat adu mulut di antara Mayang, Siska, dan Dita. Daripada menghabiskan waktu hanya untuk melihat pertengkaran mereka, lebih baik pergi menjauh mencari pembeli.
"Nek, kita pergi yuk dari sini! Percuma aja kita di sini. Nggak ada yang beli," ajak Khalisha. Ia juga tak mau neneknya terus mendengarkan hinaan dari Siska dan Dita. Belum tentu neneknya akan tahan seperti dirinya.
Nenek tersenyum kecut menyetujui ajakan Khalisha. Di satu sisi, nenek ingin membalas perkataan kasar kedua gadis sombong itu. Namun di sisi lain, ia juga tak tega membiarkan Khalisha terus mendengarkan hinaan mereka. Sungguh miris sekali. Sampai saat ini, dirinya tak bisa berbuat apa-apa.
Seorang cowok tiba-tiba datang menghampiri. Ia tersenyum menatap Khalisha. Ia tak menyangka bisa bertemu lagi dengan Khalisha.
"Nggak nyangka ya kita bisa ketemu di sini," ucapnya.
Khalisha menatap datar. Dunia seakan kecil karena bertemu lagi dengannya.
"Aku baru tahu kalau kamu jualan. Kamu jualan apa?" tanyanya ramah.
"Kue," jawab Khalisha singkat.
"Kalau gitu, aku mau beli dong. Jarang-jarang bisa lihat kamu jualan," ucapnya tersenyum kecil.
Khalisha pun menurunkan dua keranjang di tangannya, lalu membuka tutupnya. Kue-kue tersusun rapi di dalamnya. Ada beberapa macam yang bisa dipilih di dalamnya.
"Kamu mau beli yang mana?"
"Semuanya kelihatannya enak," sahutnya bingung.
__ADS_1
Mayang, Siska, dan Dita sama-sama kaget melihat cowok yang bernama Andhika itu kebingungan memilih kue dagangan Khalisha. Tentu saja hal ini bisa menjadi gosip terbaru di sekolah. Pasti akan banyak fans cewek Andhika yang berlomba-lomba menarik perhatian Andhika dengan membawa kue seperti kue yang dijual Khalisha.
"Dhik, kamu kok mau sih makan kue begituan? Kalau kamu mau kue, aku bisa kok belikan di toko kue. Kue di sana enak-enak dan higienis," ucap Siska mencoba mencegah Andhika.
"Nggak usah repot-repot. Aku mau kue yang dijual Khalisha," tolak Andhika halus.
"Tapi, Dhik, kue itu kan kue murahan. Nggak cocok dimakan sama kamu. Nanti yang ada kamu sakit lagi," bujuk Siska.
"Sudah cukup! Dari tadi kamu kerjaannya menghina cucuku terus. Kalau kamu nggak mau beli, ya nggak apa-apa. Nenek sama sekali nggak memaksa. Tapi nggak usah pakai menghina juga. Kami tahu kalau kami ini miskin. Tapi bukan berarti kamu bisa seenaknya menghina dan menginjak harga diri kami," ucap nenek geram.
"Udahlah, Nek. Nenek nggak usah marah. Anggap aja ada anjing yang menggonggong. Nggak usah dipikirkan," sahut Khalisha santai.
"Apa kamu bilang?! Kamu mengatai kami anjing?" ucap Siska tak terima.
"Aku nggak mengatai kalian anjing. Kan kamu sendiri yang mengatakannya."
"Dasar kurang ajar! Beraninya kamu melawanku!"
Andhika menoleh ke arah Siska. "Daripada kamu bikin ribut di sini, lebih baik kamu dan temanmu itu pergi dari sini. Aku paling nggak suka dengan cewek sombong kayak kalian."
Siska tak percaya melihat Andhika mengusirnya. Andhika yang ia tahu adalah sosok yang ramah pada semua orang. Namun, hanya karena Khalisha, dia tega mengusirnya.
"Kamu ngusir aku?"
"Iya. Cepat pergi!" usir Andhika geram.
Dita yang sejak tadi diam langsung menarik tangan Siska dan membawanya pergi. Bila dibiarkan, keadaan akan semakin kacau. Ia juga tak ingin dicap buruk oleh Andhika.
"Nek, Lis, maafkan mereka. Mulut mereka memang seperti itu," ucap Mayang merasa bersalah karena tak bisa berbuat banyak untuk Khalisha dan juga neneknya.
"Nggak apa-apa. Nak Mayang nggak usah minta maaf. Nak Mayang kan nggak salah. Nenek yang seharusnya berterima kasih karena Nak Mayang sudah membela kami. Nenek cuma kesal aja karena sikap mereka. Untung aja mereka bukan cucu Nenek. Kalau mereka cucu Nenek, bisa-bisa jantung Nenek copot gara-gara mereka," ucap nenek mengelus dada melihat sikap tak sopan dari dua gadis itu.
"Saya harap Nenek dan Khalisha jangan dimasukin hati omongan mereka," ucap Andhika sopan.
"Nggak apa-apa. Lagi pula aku juga sudah biasa sama sikap mereka di kelas," sahut Khalisha santai.
Nenek terkejut mendengarnya. Nenek sendiri baru tahu kalau Khalisha sering dihina di sekolah. Selama ini, Khalisha tak pernah cerita apa pun tentang hari-harinya di sekolah.
"Kamu sering di hina mereka?! Kok kamu nggak cerita sama Nenek, Lis?" tanya nenek sakit hati. Nenek tak suka cucu kesayangannya itu menjadi bahan hinaan orang.
"Nggak usah dipikirkan, Nek! Selama ini aku menganggap ocehan mereka sebagai gonggongan anjing," jawab Khalisha.
Andhika terkejut dan juga kagum dengan Khalisha. Dia bisa bersikap biasa saja setelah mendapat hinaan dari orang lain.
"Dhik, kamu jadi beli kue nggak?" tanya Khalisha memastikan.
"Tentu saja jadi," jawab Andhika kembali melirik ke arah kue dagangan Khalisha. Ia lantas menunjuk beberapa kue yang menurutnya menarik.
Khalisha pun mengambil kue-kue yang ditunjuk Andhika dan memasukkannya ke dalam kantong plastik, lalu memberikannya pada Andhika.
Andhika langsung merogoh saku celananya. Dengan senyuman, ia memberikan selembar uang seratus ribuan kepada Khalisha.
"Aku nggak punya kembaliannya. Kamu tunggu di sini. Aku tukar uang dulu." Khalisha lantas melangkahkan kaki mencari warung terdekat. Namun, langkah kakinya dicegah oleh Andhika.
"Nggak usah tukar uang! Ambil aja kembaliannya!"
"Tapi—"
"Nggak ada tapi-tapian. Anggap aja uang itu sebagai penglaris kuemu," potong Andhika cepat.
Sejujurnya, Khalisha merasa tak enak pada Andhika. Uang yang diberi Andhika terlalu banyak. Namun, apa dayanya. Andhika menolak uang kembaliannya. Tak mungkin ia terus menolak kebaikannya. Takutnya, Andhika akan merasa tersinggung.
"Makasih banyak ya, Nak," ucap nenek tulus.
"Sama-sama, Nek."
Setelah obrolan yang menjengkelkan tadi dengan Siska dan Dita, Mayang, Khalisha, nenek, dan Andhika akhirnya bisa mengobrol dengan tenang. Kehadiran Andhika tentu saja mengundang para cewek untuk datang mendekat. Mereka berbondong-bondong membeli kue dagangan nenek dan Khalisha untuk mencari muka di depan Andhika sang idola.
__ADS_1
***