Take My Heart

Take My Heart
SIKAP ANEH


__ADS_3

Bel istirahat baru saja berbunyi. Para penghuni kelas tampak bersemangat keluar kelas. Hal itu juga berlaku pada Nathan, Andhika, dan Bayu. Dengan cepat, mereka memasukkan buku-buku ke dalam tas. Mereka takut bila tak segera ke kantin, semua tempat duduk yang disediakan oleh pemilik kantin akan dipenuhi oleh murid-murid yang lain. Sementara itu, Daniel masih duduk santai di kursinya. Dia bahkan belum memasukkan buku-bukunya ke dalam tas.


"Kamu nggak ke kantin?" tanya Nathan pada Daniel.


"Ke kantin kok," jawab Daniel singkat.


"Kalau gitu cepetan masukkin buku-buku kamu ke tas! Kalau kita nggak cepat-cepat ke sana, kita bakalan susah cari tempat duduk."


"Ya, ya," sahut Daniel, lalu memasukkan buku-bukunya ke dalam tas.


Bayu lantas bangkit dari kursinya. Melihat Daniel, mulutnya malah gatal ingin menggodanya. Ia ingin tahu bagaimana reaksi Daniel.


"Oh ya, Niel. Ngomong-ngomong kamu belum cerita ke kita soal cewekmu. Cerita-cerita dong! Jangan bikin orang penasaran," ucapnya dengan senyum mengejek.


Nathan dan Andhika sama-sama kaget mendengar perkataan Bayu. Ada rasa kesal yang mereka rasakan dengan tingkah Bayu sekarang. Bisa-bisanya Bayu berkata seperti itu pada Daniel. Jelas-jelas mereka sudah sepakat untuk merahasiakan apa yang mereka lihat kemarin di kafe dan mencari tahu diam-diam cewek yang ditemui Daniel di luar kafe. Bila bisa diekspresikan, mereka sama-sama menghela napas, menyerah pada kebodohan sahabatnya itu.


Daniel menatap bingung, tak mengerti kenapa Bayu bisa mempunyai pikiran seperti itu tentangnya.


"Cewekku? Sejak kapan aku punya cewek? Kamu dengar dari mana?"


"Niel, nggak usah didengerin omongannya si Bayu! Otaknya lagi eror, jadi omongannya ngawur," sahut Nathan agak panik.


Bayu menatap kesal pada Nathan. Seenaknya saja Nathan bilang kalau otaknya sedang eror. Jelas-jelas dia juga melihat apa yang dilihatnya waktu itu.


"Enak aja kamu bilang otakku eror, Than. Kamu kan juga lihat ceweknya Daniel."


"Yu, tutup mulutmu! Jangan asal ngomong!" bentak Nathan.


"Kamu ini kenapa sih, Than? Emangnya aku salah ngomong apa?" tanya Bayu semakin kesal.


Andhika menepuk pelan pundak Bayu, mencoba meredam kemarahan Bayu. Bila dibiarkan terus berlanjut, ia takut Nathan dan Bayu akan bertengkar di dalam kelas. Tak hanya Daniel saja yang akan mengetahui apa yang ia, Nathan, dan Bayu rahasiakan, namun juga beberapa penghuni kelas yang tertinggal pun juga akan mengetahuinya.


Ia lantas mendekatkan wajahnya ke Bayu, lalu berbisik, "Yu, apa kamu lupa dengan apa yang kita omongin kemarin? Kita sudah sepakat kan untuk merahasiakannya dari Daniel. Kamu lupa, ya?"


Bisikan Andhika membuat Bayu menutup mulutnya rapat-rapat. Ia memejamkan sebentar kedua matanya, menyadari kebodohan yang baru saja ia lakukan. Bisa-bisanya ia bicara seperti itu di depan Daniel. Sekarang, ia bisa mengerti kenapa Nathan marah padanya. Nathan sedang berusaha menutupi rahasia yang hampir saja terbongkar karena ulah isengnya.


"Than, kenapa kamu marah sama Bayu? Emangnya Bayu salah apa?" tanya Daniel menatap bingung.

__ADS_1


"Emm... gini, Niel. Bayu itu—"


"Kami lagi coba candaan yang baru," potong Andhika seadanya. Hanya itu saja yang terpikirkan di dalam otaknya.


"Beneran nih cuman bercanda. Kok candaannya aneh gitu? Kelihatannya hampir berkelahi tadi," tanya Daniel semakin bingung.


"Beneran, Niel. Kami lagi cari candaan baru. Kayak di televisi gitu. Apa ya namanya? Prank atau apa gitu namanya," jelas Andhika gugup.


"Bener tuh kata Andhika. Kami lagi coba-coba buat prank," sambung Nathan meyakinkan.


"Oh... kukira apa tadi. Trus itu ide siapa?"


"Ideku," jawab Nathan tertawa kecil.


"Pantas. Cari aja ide yang lain! Idenya nggak bagus," kritik Daniel. Ia lantas bangkit dari kursinya dan melangkah pergi.


Nathan, Andhika, dan Bayu sama-sama menghela napas lega. Mereka pikir Daniel akan curiga, namun ternyata dia percaya begitu saja. Nathan dan Andhika lantas menatap tajam Bayu, membuat Bayu tanpa sadar melangkah mundur.


"Maaf deh, maaf. Aku tadi benar-benar lupa," ucap Bayu dengan suara pelan. Ia merasa bersalah pada kedua sahabatnya itu.


"Kok kamu bisa lupa sih, Yu. Untung aja Daniel percaya omonganku dan Nathan. Kalau nggak, bisa-bisa Daniel marah karena kita melihat kelakuannya di kafe," ucap Andhika juga dengan suara yang pelan.


"Aku benar-benar minta maaf. Nggak tau nih, mulutku benar-benar gatal ingin ngomongin tuh cewek Daniel."


Daniel menghentikan langkahnya. Ia lantas menatap ketiga sahabatnya yang masih berada di kursi mereka.


"Than, Dhik, Yu, kalian jadi ke kantin atau nggak? Tadi nyuruh cepat-cepat, sekarang malah kalian yang lambat-lambat. Perutku sudah lapar, nih," seru Daniel mengomel.


Nathan, Andhika, dan Bayu segera menyudahi pembicaraan mereka. Agar tak menimbulkan kecurigaan, mereka segera melangkahkan kaki menyusul Daniel yang menunggu mereka di depan pintu kelas. Aneh sekali rasanya menyimpan sesuatu dari Daniel. Rasanya seperti maling yang sedang bersembunyi. Jarang-jarang Daniel bisa dekat sama cewek. Karena Daniel tak cerita apa pun, mereka akan diam-diam mencari tahu.


***


"Kalian mau makan apa?" tanya Nathan pada ketiga sahabatnya ketika dapat tempat duduk.


"Aku mau mi ayam. Pesankan ya," sahut Bayu cepat.


"Aku juga deh," ucap Andhika melihat ke arah gerobak bertuliskan mi ayam di sudut kantin.

__ADS_1


"Kalau kamu, Niel?" tanya Nathan pada Daniel.


Tak ada sepatah kata yang keluar dari mulut Daniel. Dia bahkan tak menatap Nathan yang sedang menunggu jawabannya. Kedua matanya terus saja memandang seisi ruangan kantin, terlihat seperti sedang mencari sesuatu atau seseorang.


"Niel, kamu mau makan apa?" tanya Nathan kembali.


Daniel tersadar. Dengan cepat ia mendongak menatap Nathan yang tengah berdiri menunggu jawabannya.


"Samakan aja dengan kalian," jawabnya dingin.


Nathan menghela napas dengan sikap Daniel. Sepertinya, Daniel tak menyadari kalau sejak tadi ia sudah melihat tingkah anehnya itu.


"Ya udah kalau gitu. Oh ya, minumannya kusamakan aja, ya?"


"Ya. Cepetan sana pesan! Udah laper, nih," suruh Daniel.


Nathan mendengus kesal. Seenaknya saja Daniel menyuruhnya seperti itu, bertingkah seperti seorang raja. Kedua matanya lantas mengarah ke gerobak mi ayam. Terlihat beberapa orang sedang menunggu di sana. Daripada yang mengantri semakin banyak, ia pun bergegas pergi ke sana.


Kantin memang menjadi tempat favorit bagi para murid dari berbagai kelas ketika bel istirahat berbunyi. Jadi sangat wajar bila suasana di kantin saat ini sangatlah ramai layaknya berada di pasar. Tak hanya sekedar makan dan minum saja, senda gurau dan obrolan seru pun mereka lakukan untuk melepas penat setelah pelajaran selesai.


Butuh dua menit bagi Nathan untuk kembali ke tempat duduknya. Selain karena harus mengantri, ia juga harus bolak-balik membawa empat mangkuk mi ayam dan empat gelas es teh.


"Kalian ini emang keterlaluan, ya. Masa nggak ada yang mau bantuin aku ngambil mie ayam. Kalian anggap aku ini apa? Pelayan kalian?" omelnya.


"Benar sekali," sahut Bayu tersenyum puas. Ia pun mulai menyuap mi ayam ke mulutnya.


Nathan kembali mendengus kesal, sedangkan Andhika tertawa kecil mendengar perkataan Bayu. Ia pun juga mulai menyuap mi ayam ke mulutnya seperti Bayu. Sambil mengunyah perlahan mi ayam, kedua matanya menatap Daniel yang belum menyentuh mi ayamnya. Sama seperti Nathan, ia sudah melihat tingkah aneh Daniel sejak mereka masuk ke dalam kantin. Terlihat jelas bila dia sedang mencari seseorang.


"Kamu lagi cari siapa, Niel?" tanya Andhika setelah menelan mi ayam di mulutnya.


Pertanyaan Andhika membuat Daniel kembali fokus pada sahabatnya. Tatapan matanya masih saja dingin, terlihat seperti ingin memakan seseorang.


"Kamu lagi cari siapa, Niel?" tanya Andhika lagi.


"Nggak ada," jawabnya singkat.


Untuk mengurangi kekesalannya, Daniel menarik gelas beling berisi es teh manis dan menyeruputnya dengan perlahan. Kecewa juga rasanya melihat orang yang dicarinya tak ada di tempat yang sama dengannya.

__ADS_1


Andhika tak lagi bertanya. Dari gerak-gerik Daniel, ia bisa tahu kalau Daniel sedang mencari cewek yang mengobrol dengannya di luar kafe dua hari yang lalu. Tak hanya Andhika saja yang menyadarinya, Nathan dan Bayu pun juga menyadarinya. Melihat tingkah Daniel, mereka jadi semakin penasaran dengan cewek yang ditemui Daniel waktu itu.


***


__ADS_2