Take My Heart

Take My Heart
MENOLONG


__ADS_3

"Yang, kamu jadi nggak ke rumahku?" tanya Daniel di seberang telepon.


"Jadi kok," sahut Khalisha di pinggir jalan.


"Trus kamu ada di mana sekarang? Kok lama banget sampainya? Apa perlu kujemput sekarang?" tanya Daniel tak sabaran.


"Nggak usah. Ini juga aku sudah di tengah jalan. Sebentar lagi sampai kok," bujuk Khalisha.


"Tapi kamu lama banget," keluh Daniel.


"Gimana nggak mau lama, sebentar-sebentar kamu nelpon. Aku kan harus stop dulu di pinggir jalan," keluh Khalisha agak kesal.


"Hehehe... maaf ya, Yang. Habisnya kamu nggak mau kujemput sih."


"Aku kan yang mau ke rumah kamu, masa kamu sih yang jemput aku. Kan aneh jadinya. Udah ya. Aku mau lanjut lagi bersepedanya. Biar cepat nih sampai ke rumahmu," bujuk Khalisha.


"Ya udah deh kalau begitu. Aku matiin sekarang telponnya. Kamu hati-hati ya di jalan. Jangan lama-lama! Aku udah kangen banget nih sama kamu," ucap Daniel dengan nada lesu.


"Iya Sayangku yang bawel."


Sayup-sayup terdengar suara tawa dari telepon. Sambungan telepon tiba-tiba terputus. Khalisha menghela napas memandang layar androidnya. Daniel akhirnya mematikan teleponnya. Ia benar-benar membutuhkan banyak kesabaran dalam menghadapi Daniel. Bagaimana ia mau cepat sampai bila setiap 20 menit Daniel selalu meneleponnya.


Semenjak Khalisha punya ponsel, Daniel sering telepon dan video call dirinya. Siang, sore, malam, Daniel pasti ada menghubunginya, walaupun itu cuma sebentar. Kakek dan nenek di rumah sampai bosan dengan tingkah Daniel yang kelewat aneh itu. Baru setengah jam saja Daniel meninggalkan rumahnya, Daniel sudah video call dirinya. Alasannya pasti saja kangen.


Khalisha segera memasukkan androidnya ke saku jaketnya, lalu kembali melajukan sepedanya. Jarak antara dirinya dengan rumah Daniel masih lumayan jauh, membuatnya harus menggunakan tenaga lebih dalam mengayuh sepedanya.


Baru beberapa menit mengayuh sepeda, lagi-lagi ia terpaksa berhenti. Sebuah mobil tiba-tiba saja berhenti tepat di depannya. Untung saja ia segera mengerem sepedanya dan menurunkan kakinya. Jika telat sedikit saja, sudah pasti ia akan menabrak mobil di depannya itu. Seorang pria keluar dari dalam mobil dan berlari menuju sebuah warung. Wajah pria itu tampak panik, seperti terjadi sesuatu yang gawat dan mendesak.


Khalisha pun segera memundurkan sepedanya dan ingin melewati mobil itu. Sepertinya ia harus mengayuh sepedanya dengan kekuatan penuh. Ia sudah sangat telat ke rumah Daniel. Namun, ketika hendak mengayuh sepedanya, pintu belakang mobil itu tiba-tiba saja terbuka, membuatnya kaget dan kembali menghentikan sepedanya.


"Kapan sampainya kalau dari tadi berhenti terus? Daniel pasti ngambek ini. Duh, ngeselin banget sih," keluhnya dalam hati.


Di bangku belakang terlihat seorang seorang pria paruh baya duduk sendirian. Salah satu kakinya keluar, namun gerak-geriknya terlihat aneh. Satu tangannya menyentuh area keningnya.


"Bapak tidak apa-apa?" tanya Khalisha khawatir pada keadaan pria itu.


Pria paruh baya itu tak menjawab pertanyaan Khalisha. Dia terus menyentuh keningnya, seperti merasakan kesakitan.


Khalisha lantas mengambil botol minumnya. Ia memang sengaja membawanya dari rumah. Mengingat rumah Daniel yang jauh, ia tak perlu berhenti mencari warung hanya untuk membeli minum.


"Pak, minum dulu!" ucapnya sembari memberikan botol minumnya.


Pria paruh baya itu tampak sungkan menerima air dari gadis yang tak dikenalnya itu dan meminumnya hingga tersisa setengah. Dirasa sudah cukup, ia mengembalikan botol minuman tersebut.


"Makasih ya Nak minumannya."


"Sama-sama, Pak."


Pria yang pergi ke warung akhirnya kembali ke mobil. Terlihat sekali wajahnya yang tampak kelelahan.


"Maaf Tuan, saya lama. Ini minumannya," ucapnya sembari memberikan plastik yang dibawanya.


"Maaf, Pak. Karena teman Bapak sudah datang, saya pergi dulu," ucap Khalisha pamit. Ia merasa tenang karena pria paruh baya itu sudah ada yang menemani.


"Tunggu sebentar!" cegah pria paruh baya itu.


"Ya Pak, ada apa?" tanya Khalisha bingung.

__ADS_1


Pria paruh baya itu merogoh saku jasnya dan mengeluarkan dompetnya. Ia lantas mengeluarkan tiga lembar uang seratus ribuan dari dalam dompetnya.


"Ini untukmu, Nak. Anggap aja untuk mengganti minuman kamu yang Bapak minum," ucapnya sembari memberikan uang.


"Nggak usah, Pak. Saya ikhlas membantu," tolak Khalisha, "kalau gitu saya pergi dulu."


Khalisha lantas mengayuh sepedanya dan meninggalkan dua pria itu. Pria paruh baya itu diam-diam merasa kagum pada gadis yang sudah menolongnya itu.


"Soni, kamu masih ingat wajah gadis tadi?" tanyanya pada pria yang bernama Soni.


"Iya, Tuan. Saya masih ingat wajah gadis tadi," sahut Soni.


"Cari tahu identitas gadis itu!"


"Maaf Tuan, kalau saya boleh tanya, kenapa Tuan ingin mencari identitas gadis itu?" tanya Soni bingung dengan perintah tuannya itu.


"Saya baru sadar, wajah gadis itu terlihat mirip sama adik ipar saya," sahut pria paruh baya itu baru sadar kemiripan antara gadis itu dengan adik iparnya.


"Baik, Tuan. Saya akan cari tahu tentang gadis itu," sahut Soni, lalu menyalakan mesin mobil.


Mobil itu akhirnya meninggalkan tempat itu. Di dalam mobil, pria paruh baya itu masih memikirkan pertemuannya dengan gadis yang menolongnya itu. Bodohnya dia, dia lupa menanyakan nama gadis itu. Ia hanya bisa berharap dapat bertemu kembali dengan gadis itu.


***


Daniel terus mondar-mandir di kamarnya. Tangan kanannya terus menggenggam androidnya. Beberapa kali ia melihat layar androidnya, berharap Khalisha menghubunginya.


"Duduk dong, Niel! Nggak capek apa mondar-mandir terus?" ucap Andhika duduk bersandar di dinding.


"Tau nih. Udah kayak setrikaan aja. Santai aja kali, Niel. Ntar juga Khalisha ke sini," sambung Nathan menatap malas sahabatnya itu.


"Tapi ini udah lama banget," keluh Daniel masih mondar-mandir di depan pintu kamarnya.


"Aku benar-benar salut sama Khalisha. Hebat sekali dia bisa merubah sifat kamu, Niel," pujinya.


Daniel sontak menoleh ke arah Nathan. "Apa maksudmu?"


"Aku nggak pernah menyangka kalau Khalisha bisa sehebat itu. Dia bisa menaklukkan makhluk dingin sepertimu menjadi bucin kayak gini. Baru beberapa jam nggak ketemu aja udah uring-uringan begini. Padahal di sekolah juga ketemuan. Belum lagi sekarang Khalisha sudah punya ponsel, trus saja sebentar-bentar hubungin dia terus."


"Makanya cari pacar sana," ucap Daniel ketus.


"Huh, mentang-mentang sekarang sudah punya pacar, gitu banget ngomongnya sama aku. Lihat aja nanti, aku bakal cari pacar yang lebih cantik dari Khalishamu itu," sahut Nathan kesal.


"Jangan mimpi. Nggak ada yang lebih cantik dari Khalishaku," sahut Daniel tak mau kalah.


"Ya, ya, puji aja Khalishamu itu," sahut Nathan akhirnya menyerah, lebih tepatnya malas meladeni Daniel.


Andhika dan Bayu sama-sama tertawa. Tak bisa dipungkiri bila mereka membenarkan perkataan Nathan. Sejak Daniel pacaran dengan Khalisha, mereka bisa melihat perubahan dalam diri Daniel.


Bi Nani akhirnya datang dengan membawa nampan yang berisi minuman dan beberapa camilan. Dari jauh ia sudah melihat tuannya itu terus mondar-mandir di ambang pintu kamar. Bi Nani tersenyum. Ia tahu kalau tuannya itu sedang gelisah menunggu sang pujaan hati. Untuk itu, dirinya datang bersama dengan orang yang ditunggu-tunggu tuannya itu.


"Den Daniel, Den kok mondar-mandir di sini?" tanya Bi Nani pura-pura.


Daniel sontak menghentikan kakinya dan menoleh pada Bi Nani. Ia menatap kesal. Ternyata yang datang bukanlah Khalisha.


"Bibi masuk aja. Taruh minumannya di sana," suruhnya sembari menunjuk di dekat Bayu, lalu menyalakan layar ponselnya.


Bi Nani pun melangkah masuk melewati Daniel. Begitu pula dengan gadis yang di belakangnya. Dia juga melangkah masuk melewati Daniel. Daniel sama sekali tak menyadari kehadiran gadis itu. Pandangan matanya masih fokus pada layar ponselnya.

__ADS_1


"Khalisha kok nggak sampai-sampai sih? Nggak ada nelpon lagi. Seharusnya aku ngotot jemput aja tadi," keluhnya dalam hati.


Nathan, Andhika, dan Bayu tertawa kecil melihat Daniel yang masih terus berdiri di ambang pintu. Bi Nani yang sudah menyelesaikan tugasnya langsung pamit pada teman-teman tuannya dan meninggalkan kamar Daniel untuk menyelesaikan tugasnya yang lain.


"Tadi aja uring-uringan nungguin, eh sekarang pas orangnya sudah datang malah dicuekin," sindir Nathan dengan suara yang nyaring.


Daniel yang kaget langsung menoleh pada Nathan. Ia melotot melihat siapa yang duduk di samping Andhika.


"Lis, kamu kok sudah ada di sini? Kapan sampainya? Kok aku nggak lihat kamu masuk?" tanyanya bingung. Ia langsung melangkahkan kakinya menghampiri Khalisha.


"Gimana mau lihat? Mata kamu natap ponsel terus." Bukannya Khalisha yang menjawab, melainkan Nathan yang menjawabnya dengan sindiran.


"Dhik, minggir-minggir sana!" usir Daniel sambil menggeser Andhika dan duduk di sebelah Khalisha.


Andhika pun berpindah duduk di samping Nathan. Daripada ia berdebat dengan Daniel, dan tentunya akan memakan waktu yang lama, lebih baik ia mengalah.


"Kamu kenapa lama banget datangnya?" tanya Daniel sedikit kesal.


"Maaf ya nunggunya lama. Kan kamu tahu sendiri aku naik sepeda," sahut Khalisha.


Daniel menghela napas. Melihat wajah Khalisha yang berkeringat, ia langsung mengambil tisu dan mengelapnya.


"Tadi aku tawarin kamu jemput, kamunya nggak mau. Kalau tadi aku jemput kamu, kan kamu nggak bakalan capek begini jadinya."


"Nggak apa-apa kali. Lagi pula aku juga udah biasa kemana-mana jalan kaki atau naik sepeda," sahut Khalisha, lalu meletakkan plastik di samping minuman yang di bawa Bi Nani.


"Kamu bawa apa, Lis?" tanya Bayu tertarik dengan yang dibawa Khalisha.


"Aku lagi coba resep baru. Aku ingin dengar komentar dari kalian."


"Beneran nih. Kalau gitu aku nggak akan sungkan," ucap Bayu dengan mata yang berbinar. Tanpa ragu, ia langsung mengambil kue yang dibawa Khalisha.


Daniel mendengus kesal. Bukannya menenangkan dirinya, Khalisha malah tak memperdulikan dirinya.


"Kamu kenapa?" tanya Khalisha saat menatap Daniel, "kamu masih marah yak arena aku telat datang ke sini?"


"Nggak. Aku nggak marah," elaknya.


"Ih, bohong banget," sahut Nathan tiba-tiba, "dari tadi tuh anak mondar-mandir kayak setrikaan di depan pintu nungguin kamu, Lis."


Mendengar perkataan Nathan membuat Khalisha merasa bersalah pada Daniel. "Maaf ya."


Melihat wajah Khalisha yang sedih membuat Daniel tak tega. "Kenapa minta maaf? Kamu nggak salah kok. Jangan dengerin omongan Nathan!"


"Tapi kamu nunggunya kelamaan. Seharusnya tadi aku ngebut aja naik sepedanya," sesal Khalisha.


"Jangan sekali-kali kamu ngebut di jalan! Aku nggak mau kamu sampai kenapa-napa di jalan. Lagian juga aku nunggu kamunya di rumah, bukan di jalan. Jadi kamu nggak usah merasa bersalah," ucap Daniel menenangkah Khalisha, "nah, sekarang senyum dong! Jelek tau mukanya seperti itu."


"Lis, kue buatanmu enak banget," ucap Bayu dengan mulut yang masih mengunyah kue.


"Iya, Lis. Kue barumu benar-benar enak," sahut Nathan dan Andhika bersamaan.


"Hey kalian, jangan dihabiskan kuenya! Aku belum cobain," ucap Daniel langsung mengambil kue Khalisha.


"Salah sendiri. Siapa suruh lama," sahut Bayu kembali mengambil kue, namun tangannya langsung ditepis Daniel.


Khalisha merasa sedikit lega mendengar perkataan Daniel. Ia pikir Daniel akan marah padanya. Namun untungnya, semua itu tak terjadi. Sesekali ia tersenyum melihat tingkah konyol antara keempat sahabat itu. Hari ini memang sedikit melelahkan baginya. Namun, saat melihat canda tawa di kamar Daniel, semua lelahnya terasa terbayarkan.

__ADS_1


***


__ADS_2