Take My Heart

Take My Heart
SOLUSI


__ADS_3

Jam di dinding kamar telah menunjukkan pukul 11 malam lewat. Khalisha yang seharusnya berada di alam mimpi, untuk malam ini kedua matanya masih terbuka lebar. Sudah dua jam ia merebahkan tubuhnya di kasur, bahkan beberapa kali mengganti posisi tidurnya, namun rasa kantuk tak kunjung menyerangnya.


Udara malam setelah hujan memang dua kali lipat lebih dingin dari malam-malam biasanya, membuat Khalisha enggan untuk meninggalkan selimutnya yang hangat. Udara dingin yang seperti ini sudah pasti membuat kakek dan neneknya tertidur pulas di kamar. Buktinya saja, sejak jam 9 malam rumah terasa sepi. Tak terdengar sama sekali suara obrolan seru mereka yang setia mengisi suasana rumah yang sepi. Bila dipikirkan kembali, iri juga rasanya dengan mereka. Apa pun masalah yang mereka hadapi, mereka masih bisa santai dan selalu menghadapinya bersama.


Ia menghela napas panjang, lalu duduk bersandar di kasurnya. Tanpa sadar ia menyentuh dadanya. Lagi-lagi, ia menghela napas. Ia lupa kalau kalung liontin yang selalu ada di lehernya itu kini berada di tangan Daniel. Tiba-tiba saja pikirannya teringat pada kejadian pagi tadi di sekolah. Hari ini adalah hari yang sial baginya. Bagaimana tidak. Bukannya menghindari masalah, ia malah membuat masalah di sekolah. Bisa-bisanya ia membuat android Daniel yang mahal rusak. Sekarang, ia harus mengganti android itu. Alangkah malang nasibnya. Belum juga ia mencari uang untuk membantu kakek dan neneknya memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia malah mempunyai utang besar pada Daniel. Ia sendiri bahkan tak tahu sampai kapan ia bisa mengganti android itu.


Tiba-tiba saja pintu kamar terbuka sedikit. Sosok nenek terlihat berada di balik pintu. Khalisha sontak menatap kaget pada nenek yang sedang berjalan pelan ke arahnya. Tak biasanya nenek masih terjaga dari tidurnya dan masuk ke kamarnya di tengah malam seperti ini.


"Kamu kok belum tidur, Lis? Nenek kira kamu sudah tidur tadi," tanya nenek sembari duduk di pinggir kasur.


"Belum ngantuk, Nek," jawabnya, "trus Nenek sendiri kenapa belum tidur? Aku kira Nenek sudah tidur sama Kakek. Dari tadi nggak ada suaranya."


"Nenek memang sudah tidur tadi sama kakek, tapi terbangun karena haus," sahut nenek, "kamu sendiri kenapa jam segini masih belum tidur? Besok sekolah, loh. Nanti bangunnya kesiangan lagi."


"Besok libur. Tanggal merah," jawabnya singkat.


"Oh, besok tanggal merah. Nenek baru tau. Ya tapi tetap aja, walaupun besok libur sekolah, kamu nggak boleh tidur kemalaman begini. Nggak baik loh kalau kurang tidur. Bisa mengganggu kesehatan," ucap nenek menasehati. Nenek menatap lekat Khalisha. Entah kenapa, nenek merasa ada yang berbeda pada Khalisha saat ini. Nenek lantas kembali berkata, "Apa jangan-jangan kamu lagi ada masalah ya di sekolah? Nggak biasanya sampai tengah malam begini kamu belum tidur."


Khalisha terkejut dibuatnya. Padahal ia tak bicara apa-apa, tapi nenek dengan mudahnya bisa menebak. Melihat nenek sedang menunggu jawabannya, pikirannya menjadi semakin bingung. Antara cerita atau tidak, ia hanya tak ingin menambah beban nenek yang sudah banyak.


Melihat cucu satu-satunya hanya diam saja, nenek merasa yakin bila ada sesuatu yang terjadi pada Khalisha.


"Sepertinya Nenek benar. Kamu lagi ada masalah ya di sekolah. Cerita dong Lis sama Nenek. Siapa tahu Nenek bisa bantu kamu cari solusinya," bujuk nenek.


Walaupun nenek bicara seperti itu, Khalisha masih saja dalam aksi diamnya. Pikirannya masih saja dipenuhi kebingungan, tak yakin ingin menceritakan masalah yang tak sengaja dibuatnya di sekolah.


Nenek menghela napas panjang, lalu berkata dengan lembut, "Kamu itu lama-kelamaan mirip sama kakek. Kalau ada masalah, pasti dipendam sendiri. Nggak mau cerita sama Nenek. Padahal Nenek sangat berharap kalau kalian bisa terbuka. Walau Nenek nggak bisa bantu, seenggaknya Nenek bisa kasih masukan sama kalian. Nggak apa-apa kalau kamu nggak mau cerita. Nenek nggak akan paksa. Tapi, kamu harus ingat! Apa pun masalah yang kamu hadapi, kamu nggak sendiri. Kakek dan Nenek akan selalu bersamamu. Kamu harus ingat itu!"


Tak ada lagi yang ingin nenek katakan pada Khalisha. Nenek lantas bangkit dari kasur dan melangkahkan kaki hendak keluar dari kamar. Nenek tak ingin membuat Khalisha semakin pusing. Selama ini, Khalisha tak pernah cerita apa pun mengenai hari-harinya di sekolah. Alhasil, nenek tak pernah tahu kalau Khalisha mempunyai masalah di sekolah. Walau hanya diam, nenek tahu kalau Khalisha tak pernah ingin menyusahkan dirinya dan suaminya.


"Nenek, tunggu!" seru Khalisha setelah sekian lama berpikir.


Seketika itu juga nenek menghentikan langkah kakinya dan berbalik menghadap Khalisha.


"Ada apa, Lis?"


Dengan selimut yang masih membungkus tubuhnya, Khalisha membenarkan posisi duduknya. Ia menghembuskan napas panjang, meyakinkan batinnya.


"Lis, kok kamu diam? Ada apa? Apa kamu butuh sesuatu? Coba bilang sama Nenek! Kamu butuh apa? Biar Nenek ambilkan sekarang."


Khalisha menggeleng pelan, lalu berkata, "Nggak, Nek. Aku nggak butuh apa pun."

__ADS_1


"Loh, trus kenapa kamu panggil Nenek?" tanya nenek bingung.


"Nenek duduk dulu! Ada sesuatu yang ingin aku ceritakan sama Nenek," ucap Khalisha akhirnya.


Kaget sekaligus senang, itulah yang kini dirasakan nenek. Setelah peristiwa itu, Khalisha akhirnya mau membuka diri padanya. Tentu saja nenek tak menyia-nyiakan kesempatan ini. Nenek akhirnya kembali duduk di kasur Khalisha.


"Apa yang ingin kamu ceritakan sama Nenek?"


"Sebenarnya... aku...," ucap Khalisha ragu.


"Sebenarnya aku apa, Lis?" tanya nenek penasaran. Walau penasaran, tapi melihat Khalisha yang ragu, nenek memilih untuk tidak memaksakan keinginannya. Nenek lantas berkata, "Kalau kamu nggak siap cerita, nggak apa-apa. Nggak usah dipaksakan."


Khalisha kembali menghembuskan napas panjang, mengumpulkan keberanian. "Sebenarnya... aku punya utang, Nek."


Lagi-lagi nenek dibuat kaget oleh Khalisha. Namun, yang ini adalah sesuatu yang tak pernah nenek bayangkan sebelumnya.


"Kamu punya utang?! Kok bisa, Lis? Kan Nenek pernah bilang sama kamu, walaupun hidup kita susah, jangan pernah berhutang sama orang lain. Nenek nggak mau, hidup kita yang tenang ini malah kacau gara-gara pusing mikirin utang."


"Aku juga nggak mau berutang dengan orang lain, tapi masalahnya aku nggak sengaja rusakin android Daniel, Nek. Jadi aku harus mengganti androidnya yang rusak," terang Khalisha merasa bersalah.


"Android? Apa itu?" tanya nenek bingung. Baru pertama kali nenek mendengar kata itu. Kemiskinan membuat nenek tak bisa membeli banyak barang. Jangankan android, bisa makan setiap hari saja, nenek sudah sangat bersyukur. Bahkan televisi pun nenek tak punya.


"Maksud aku hp, Nek," jawabnya singkat. Ia malas bila harus menjelaskan hal yang tak penting, "aku nggak sengaja rusakin hp Daniel tadi."


"Ya, Nek."


"Kok bisa kamu rusakin hp dia?"


"Sebenarnya waktu aku ngobrol sama dia di sekolah, aku merasa ada yang mendorong aku di belakang. Jadinya aku jatuh dan kena dia."


"Ada yang dorong kamu? Kamu tau siapa orangnya?"


"Nggak, Nek. Aku nggak lihat orangnya," jawabnya singkat, "maaf, Nek. Aku buat masalah. Padahal kondisi kita lagi susah begini."


Nenek mengelus lembut rambut Khalisha. Dengan senyum kecil, nenek berkata, "Nggak usah minta maaf sama Nenek, Lis. Selama ini kamu nggak pernah minta apa-apa sama Nenek. Nenek malah merasa gagal menjadi Nenek yang baik untukmu. Udah nggak bisa memberimu uang jajan yang banyak, nggak bisa ngasih apa pun yang kamu mau, Nenek yang seharusnya minta maaf sama kamu."


"Jangan ngomong begitu, Nek! Nenek udah sangat baik padaku. Udah mau merawat dan membesarkanku. Padahal jelas-jelas aku bukan—"


"Jangan lanjutkan! Nenek nggak suka. Bagi Nenek, kamu itu cucu kesayangan Nenek," potong nenek.


"Iya, Nek. Sekali lagi, aku minta maaf. Seharusnya aku membantu mencari uang, tapi aku malah memberi masalah."

__ADS_1


"Jangan ngomong begitu! Tugas kamu itu sekolah dan belajar. Mencari uang itu adalah tugas Nenek sama Kakek sebagai wali kamu. Jadi, kamu nggak usah pikirin cari uang untuk bantu Nenek dan Kakek. Kamu mengerti, kan?"


"Tapi, Nek—"


"Nggak apa-apa. Mengenai utang kamu itu, Nenek masih punya sedikit tabungan. Kamu bisa pakai tabungan itu buat mengganti hp Daniel."


"Jangan, Nek!" sahut Khalisha cepat, "aku sendiri yang akan cari jalan keluarnya. Aku yang merusaknya, maka aku juga yang harus menggantinya."


"Tapi, Lis, dari mana kamu dapat uang buat ganti tu hp? Zaman sekarang itu susah loh cari pekerjaan. Apalagi kamu masih sekolah begini. nenek nggak mau sekolah kamu terganggu gara-gara ini," ucap nenek khawatir.


"Nenek tenang aja. Masalahku ini biar aku aja yang urus. Aku cerita ke Nenek itu hanya untuk menenangkan pikiranku saja, bukan untuk meminta Nenek membantuku mengganti hp Daniel," terang Khalisha.


Walau Khalisha berkata seperti itu, tetap saja kekhawatiran menyelimuti hati nenek. Nenek merasa takut bila hal ini akan mengganggu sekolah cucunya itu. Apalagi, Khalisha sama sekali tak mau menerima bantuannya, membuat nenek kehabisan akal untuk membantunya.


"Ya udah kalau kamu maunya begitu. Nenek ikutin aja apa yang kamu mau. Tapi, kalau ada apa-apa, kamu ngomong ya sama Nenek. Jangan dipendam sendiri."


Khalisha mengangguk pelan. Entah kenapa setelah berbicara dengan nenek, hati dan pikirannya terasa lega, seolah-olah beban yang ada di pundaknya hilang dalam sekejap.


"Kalau gitu sekarang kamu tidur dulu. Ini sudah tengah malam. Besok malah bangun kesiangan lagi. Nenek juga mau tidur. Nenek balik ke kamar, ya." Setelah berkata seperti itu, nenek beranjak dari kasur Khalisha dan melangkah pergi keluar kamar.


Khalisha kembali merebahkan tubuhnya. Yang dikatakan nenek memang benar. Ia harus segera tidur agar besok ia bisa bangun pagi. Mungkin saja, besok akan menjadi hari yang melelahkan baginya. Untuk mengganti android Daniel, ia harus kembali mencari pekerjaan. Dan untuk itu, ia membutuhkan banyak tenaga untuk bisa melewatinya.


***


Kedua mata Daniel masih setia memandang kalung perak yang ia mainkan di tangannya. Melihat kalung itu, membuatnya teringat pada pembicaraannya dengan Khalisha pagi tadi di sekolah. semakin lama memikirkannya, membuatnya semakin merasa bersalah. Ia merasa apa yang dilakukannya itu sangat keterlaluan. Padahal ia sendiri tahu kalau Khalisha bukanlah anak orang kaya seperti teman-temannya. Mungkin saat ini, dia sedang kebingungan mencari uang untuk mengganti androidnya. Padahal ia melihat dengan jelas kejadian itu. Ada seseorang yang mendorong Khalisha hingga membuatnya menjatuhkan androidnya. Seharusnya, ia membuat orang itu bertanggung jawab atas kerusakan androidnya, bukan Khalisha. Namun, yang ia lakukan malah sebaliknya. Ia malah membuat Khalisha bertanggung jawab atas kesengajaan orang lain dan membiarkan pelakunya hidup tenang.


"Sebenarnya apa yang aku lakukan? Kenapa aku malah melakukan hal seperti itu pada Khalisha? Apa aku batalin aja, ya? Jadi, Khalisha nggak usah pusing mengganti androidku ini," tanyanya dalam hati.


Pikirannya semakin bingung. Membatalkan atau tidak, pilihan itu terus saja terngiang-ngiang di otaknya. Di satu sisi ia ingin Khalisha tak usah bertanggung jawab pada androidnya yang rusak, namun di sisi lain, ia tak punya alasan lain untuk membuat Khalisha berada di sisinya.


Bila dipikirkan kembali, ia tak mengerti dengan jalan pikirannya sendiri. Entah kenapa dirinya bisa begitu tertarik pada Khalisha, bahkan sampai melakukan hal seperti itu padanya hanya untuk bisa berada di sisinya. Padahal Khalisha hanyalah cewek biasa. Wajahnya pun tak cantik dan menarik, bahkan juga bukan orang kaya, tapi ia sangat ingin dekat dengannya. Jangan-jangan, apa yang dikatakan Nathan saat itu benar. Ia menyukai Khalisha. Tapi, bagaimana mungkin itu terjadi. Ia baru beberapa kali bertemu dengan Khalisha, bahkan belum tahu apa-apa tentangnya.


"Sepertinya liontin ini sangat penting baginya. Aku belum pernah melihatnya memohon dengan nada yang menyedihkan begitu," ungkapnya kembali masih dengan pandangan mata yang tertuju pada liontin Khalisha.


Setelah diperhatikan dengan saksama, liontin itu ternyata bisa dibuka. Daniel pun lantas membukanya. Dua buah foto kecil terpampang jelas di dalam liontin itu, seorang pria dan seorang wanita. Entah apa hubungan kedua orang di foto itu dengan Khalisha. Mengingat ekspresi Khalisha saat ia merebut liontinnya, ia merasa yakin kalau kedua orang itu sangat penting baginya.


Semakin lama memandang liontin itu, rasa bersalahnya semakin menjadi. Ia merasa menjadi orang yang tak punya perasaan. Dengan teganya ia membuat Khalisha menanggung kesalahan orang lain sendirian, dan ia juga tega merebut liontin berharganya dari tangannya. Namun, apa yang bisa ia lakukan. Semua itu sudah terjadi. Ia tak mungkin mengakuinya begitu saja. Khalisha pasti marah dan tak ingin bertemu lagi dengannya.


Ia lantas bangkit dari kasurnya dan beranjak menuju meja belajarnya. Tangannya membuka laci meja, lalu meletakkan liontin itu ke dalam kotak kecil. Khalisha memintanya untuk menjaga liontin itu, maka yang bisa ia lakukan untuk mengurangi rasa bersalahnya adalah menjaga dengan baik liontinnya itu.


"Khalisha, kamu itu sebenarnya orang yang seperti apa?" gumam Daniel penasaran.

__ADS_1


***


__ADS_2