
Jarum jam telah menunjukkan pukul 9 malam. Merasa bosan sendirian di kamar, Daniel akhirnya memilih untuk pergi ke ruang tengah. Ia lantas menghempaskan tubuhnya di sofa merah yang ada di ruangan tersebut. Tangannya lalu mengambil remote televisi dan terus menekan-nekannya. Namun, kedua matanya sama sekali tak menemukan acara televisi yang menarik perhatiannya.
Ia menghela napas. Rumah terasa sangat sepi. Bi Nani dan Khalisha mungkin sudah tidur di kamar mereka. Rasa bosannya semakin menjadi. Ingin sekali ia mengobrol dengan Khalisha, namun ia takut akan mengganggunya.
Orang yang ingin diajaknya mengobrol tiba-tiba saja datang menghampirinya. Khalisha berjalan dengan masing-masing tangannya membawa sebuah piring. Ia lantas meletakkan piring tersebut di meja depan Daniel.
"Itu untukmu," ucap Khalisha masih berdiri di depan Daniel.
Daniel menatap kaget. Tak ada angin tak ada hujan, Khalisha tiba-tiba saja membuatkan kue untuknya. Selain pada saat ulang tahunnya, tak biasanya Khalisha melakukan hal lain selain hal-hal yang menjadi perintahnya.
"Kok bengong? Makan kuenya!" suruh Khalisha menatap aneh.
"Eh, iya." Ia pun mengambil kue di piring dan memakannya dengan lahap. Dengan mulut yang penuh dengan makanan, ia kembali berkata, "Ini semua kamu yang buat?"
"Kalau bukan aku, emangnya siapa lagi."
"Kamu sendiri yang bikin?! Emangnya Bi Nani nggak bantu kamu?" tanya Daniel mulai kesal dengan Bi Nani yang tak membantu Khalisha.
"Kalau aku bisa melakukannya sendiri, kenapa aku harus meminta bantuan orang lain? Bi Nani sudah lelah kerja seharian, aku nggak enak kalau harus merepotkan Bi Nani untuk urusan kecil seperti ini. Lagi pula, aku sudah terbiasa melakukan apa pun sendiri," tutur Khalisha.
Daniel tampak takjub mendengar penuturan Khalisha. Cewek yang ada di hadapannya itu ternyata sangat mandiri. Badan Khalisha yang kurus bisa melakukan apa pun sendirian dan tak bergantung pada orang lain. Sungguh cewek yang luar biasa.
"Tapi tumben banget kamu buat kue. Ada angin apa? Ulang tahunku kan sudah lewat," tanyanya menyelidik.
"Emangnya kalau aku buat kue untukmu itu harus ada apa-apanya?" tanya Khalisha sedikit tersinggung, "aku bukan orang yang melakukan sesuatu dengan maksud tersembunyi ataupun mengharapkan imbalan darimu. Kalau aku ingin melakukannya, maka aku akan melakukannya. Nggak ada niat apa pun."
"Bukan begitu maksudku. Aku hanya ingin tahu kenapa malam ini kamu membuat kue untukku," jelas Daniel buru-buru. Ia sama sekali tak menyangka kalau pertanyaannya itu akan membuat Khalisha tersinggung.
"Lupakan saja!" sahutnya sembari mengatur napasnya, mencoba meredam amarahnya.
"Aku minta maaf. Aku benar-benar nggak bermaksud seperti itu tadi," sesal Daniel.
"Kubilang lupakan saja!" pinta Khalisha dingin, "kalau nggak ada apa-apa lagi, aku balik ke kamar mau beres-beres."
Khalisha lantas berbalik dan melangkah pergi meninggalkan Daniel. Menurutnya, tak ada lagi yang harus dilakukannya di rumah Daniel. Hari ini ia memang sengaja membuat kue untuk Daniel. Ia ingin berterima kasih pada Daniel yang sudah bersikap baik selama ia menginap di rumahnya. Ia juga ingin berterima kasih atas pekerjaan yang diberikannya.
Mendengar kata "beres-beres", Daniel segera bangkit dari sofa dan berjalan cepat menyusul Khalisha. Tangannya lantas meraih tangan Khalisha dan menggenggamnya dengan erat. Tingkah Daniel ini tentu membuat Khalisha menoleh kaget dan segera menghentikan langkah kakinya. Entah kenapa ia mendapat firasat kalau Khalisha akan pergi meninggalkannya.
__ADS_1
"Ada apa? Apa kamu butuh sesuatu?" tanya Khalisha bingung.
Daniel sama sekali tak memperdulikan pertanyaan Khalisha. "Kenapa kamu beres-beres? Bukannya kamarmu selalu rapi?"
"Oh soal itu, hari kan hari terakhir aku menginap di rumahmu. Kamu kan sudah ulangan tadi pagi. Sesuai kesepakatan kita, selesai kamu ulangan, aku akan pulang," terangnya.
Mendengar hal itu, wajah Daniel seketika berubah sedih. Waktu berlalu dengan sangat cepat. Tak terasa sudah seminggu Khalisha menginap di rumahnya. Tanpa ia sadari, kehadiran Khalisha membuat kesepiannya akan suasana rumah sedikit terobati. Walaupun Khalisha lebih banyak diam, namun tanpa adanya dia, rasanya ada sesuatu yang kurang. Berat sekali rasanya membiarkannya pergi. Jika ia bisa menahan kepergiannya, ia pasti akan melakukannya. Namun, apa yang bisa ia lakukan. Ia bukanlah siapa-siapanya Khalisha. Ia bahkan tak memiliki hubungan darah dengannya. Dengan berat hati, ia harus merelakan Khalisha pulang ke rumahnya. Ini adalah pertama kalinya ia tak rela seseorang pergi dari rumahnya.
"Daniel!" panggil Khalisha.
Panggilan Khalisha sontak membuatnya kembali fokus pada Khalisha. Kedua matanya tak sekali pun berkedip memandang wajah cantik Khalisha. Setelah malam ini, ia tak dapat lagi bertemu dengan Khalisha sesuka hatinya.
"Daniel, kamu kenapa? Kamu sakit?" tanya Khalisha cemas. Tak biasanya Daniel melamun ketika mengobrol dengannya. Biasanya, Daniel selalu bersemangat bila diajak mengobrol. Dia bahkan sering memintanya untuk memulai obrolan. Walaupun topik pembicaraan yang sering ia bahas adalah pelajaran, dia tetap bersemangat membahasnya.
"Aku nggak kenapa-napa," jawab Daniel menyembunyikan kesedihanya.
"Beneran kamu nggak sakit?" tanyanya tak percaya. Tangannya lantas memegang kening Daniel untuk memastikan apakah dia demam atau tidak.
Sentuhan tangan Khalisha sontak membuat jantung Daniel berdetak lebih cepat. Aneh sekali. Ini pertama kalinya ia merasakan hal seperti ini. Ia lantas mengambil napas dalam-dalam dan menghembuskannya dengan perlahan, mencoba mengatur debaran jantungnya.
"Nggak panas," ucap Khalisha sembari menurunkan tangannya.
"Trus kenapa kamu panggil aku?" tanya Khalisha bingung, "kamu mau apa? Biar aku ambilkan."
"Nggak. Aku nggak mau apa-apa."
"Ya udah. Kalau kamu nggak mau apa-apa, aku balik dulu ke kamar. Jadi, bisakah kamu lepasin tanganku?" ucap Khalisha melirik tangannya yang digenggam.
Daniel sontak melepaskan genggaman tangannya. "Maaf."
"Nggak apa-apa. Kalau gitu, aku balik ke kamar dulu," ucap Khalisha berbalik. Namun, belum sempat ia melangkah pergi, Daniel kembali menggenggam tangannya.
"Apa kamu harus pulang besok?" tanya Daniel sembari melepaskan genggaman tangannya.
"Tentu saja aku harus pulang. Tugasku kan sudah selesai. Kan kamu sendiri yang bilang, setelah kamu ulangan aku bisa pulang," sahut Khalisha tak mengerti dengan Daniel. Ia merasa kalau malam ini Daniel bersikap aneh.
"Iya juga, sih." Daniel tersenyum kecut. Ia bingung bagaimana mengatakan apa yang ada di dalam pikirannya kepada Khalisha. Ia malah takut terlihat aneh di mata Khalisha.
__ADS_1
Sikap Daniel yang aneh membuat Khalisha semakin yakin bila Daniel sedang ada masalah. Dia mungkin membutuhkan teman cerita, namun dia tak bisa mengungkapkannya. Hanya saja, ia bukanlah orang yang sabar. Ia tak suka menunggu lama, mungkin lebih tepatnya tak suka membuang-buang waktunya untuk hal-hal yang tak penting.
"Sebenarnya kamu ini kenapa sih, Niel? Kalau mau ngomong sesuatu, cepat ngomong! Aku mau beres-beresin bajuku di kamar," ucap Khalisha tak sabar. Ia mulai kesal karena Daniel terus saja menahannya.
"Emmm... Lis, bisakah kamu tetap tinggal di sini?" tanya Daniel pelan.
Khalisha kaget mendengarnya. "Maksudmu tinggal di sini?"
"Maksudku itu ya kamu tinggal di rumahku ini. Di sini aku kesepian. Nggak ada teman yang bisa diajak ngobrol," sahut Daniel beralasan.
"Kalau kamu butuh teman ngobrol, kamu kan bisa minta teman-teman kamu buat nginap di sini," usul Khalisha.
"Aku nggak biasa undang teman-temanku buat nginap di sini. Mereka terlalu berisik."
"Ya udah kalau kamu nggak mau. Kalau gitu kamu ngobrol aja sama Bi Nani," ucap Khalisha.
"Malas ah kalau ngomong sama Bi Nani. Bi Nani nggak ngerti apa-apa."
"Tapi tetap aja aku nggak bisa tinggal di sini. Aku ini kan bukan saudaramu. Kita nggak ada hubungan darah sama sekali. Mana boleh aku berlama-lama nginap di sini. Apa kata orang nanti kalau lihat aku terus-terusan nginap di sini? Lagi pula, kalau bukan karena kamu memintaku mengajarimu sebelum ulangan, aku juga nggak mau menginap di sini. Aku takut orang-orang yang lihat akan salah paham sama kita," terang Khalisha.
Daniel semakin sedih dan kecewa. Ia sudah menebak kalau Khalisha akan menjawab seperti itu. Namun tetap saja, ia bertanya dan bahkan berharap bila Khalisha akan tinggal bersamanya.
"Ya udah kalau begitu. Besok aku akan mengantarmu pulang," ucap Daniel menyerah.
"Kalau gitu, aku balik dulu ke kamar beres-beres baju. Jadi, besok tinggal pulang aja," ucap Khalisha bersemangat. Ia sudah tak sabar ingin bertemu dengan kakek dan neneknya di rumah.
"Kamu beres-beresnya besok aja, ya. Temani aku nonton," pinta Daniel.
"Tapi—"
"Nggak ada tapi-tapian. Malam ini kamu harus temani aku. Besok kan kamu mau pulang. Lagian juga besok hari minggu. Beres-beresnya kan bisa pagi. Please, temani aku nonton," potong Daniel memasang wajah memelas.
Khalisha menghela napas. Tak tega juga rasanya melihat Daniel memasang wajah memelas seperti itu. Apalagi, ini adalah malam terakhirnya di rumah Daniel. Tak enak juga rasanya menolak ajakan si tuan rumah.
"Ya udah, deh. Aku temani kamu," sahut Khalisha akhirnya.
Daniel tersenyum senang. Walau terdengar memaksa, Khalisha akhirnya mau menonton dengannya. Baginya, ini adalah malam yang berat. Malam ini adalah malam terakhir Khalisha menginap di rumahnya. Seminggu ini, ia bisa merasakan suasana di rumahnya terasa berbeda dari biasanya. Namun setelah malam ini, suasana di rumahnya akan kembali lagi seperti semula, terasa sangat sunyi. Untuk itulah, ia harus menikmati waktu yang tersisa bersama dengan Khalisha. Ia tak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ada
__ADS_1
***