Take My Heart

Take My Heart
APA BENAR DANIEL SUKA PADAKU?


__ADS_3

Tak terasa seminggu berlalu dengan cepat. Daniel yang awalnya bersikap biasa saja, semakin lama malah terlihat semakin menempel pada Khalisha. Untuk dua hari, Khalisha merasa aneh dan tak nyaman dengan sikap Daniel. Selain pulang dan pergi ke sekolah bareng dengan Daniel, Daniel juga sering masuk ke kelasnya. Ada saja alasan yang digunakan Daniel, membuatnya tak bisa menolak dengan keinginan Daniel yang semakin aneh. Sebenarnya yang membuat Khalisha merasa tak nyaman bukan hanya sikap Daniel padanya, melainkan pandangan dari teman-teman sekelasnya. Banyak sekali tatapan iri yang mengarah padanya, bahkan ada pula yang mengejeknya, termasuk Siska dan Dita. Bisa dikatakan kalau mereka adalah dalang dari semua ejekan yang dilontarkan kepadanya. Walaupun terasa berat karena hari-harinya tak lagi terasa tenang, ia tetap bersyukur. Ia tak lagi sendirian menghadapinya. Mayang selalu ada untuknya. Menemani dirinya dan membelanya di kala ia diejek.


Seperti hari-hari sebelumnya, Daniel menjemput Khalisha di rumahnya. Bila biasanya ia meminta Khalisha untuk membawakan tasnya, selama seminggu ini ia tak lagi melakukannya. Ia juga jarang menyuruh Khalisha, membuat Khalisha merasa kalau dirinya memakan gaji buta.


"Kamu masuk gih! Udah ditungguin tuh sama teman kamu," ucap Daniel tersenyum kecil. Kedua matanya tak lepas memandang Khalisha.


"Makasih ya sudah nganterin aku," sahut Khalisha, "kamu juga sebaiknya ke kelas sekarang. Teman-teman kamu pasti sudah menunggumu."


"Mereka itu nggak usah dipikirin. Biarin aja mereka menunggu. Paling sekarang mereka lagi bergosip," ucap Daniel tak peduli.


Khalisha menatap tak percaya. "Emangnya teman-teman kamu suka bergosip?"


"Tentu saja. Kalau lagi nggak ada guru, mereka pada ngobrol nggak jelas gitu. Nggak tau deh ngomongin apa. Malas aku mendengarnya."


"Aneh ya," ucap Khalisha terlontar begitu saja dari mulutnya.


"Hah?! Apanya yang aneh?" tanya Daniel bingung.


"Ya aneh aja. Mereka kan cowok. Masa cowok suka sama gosip sih? Kayak cewek aja," ucap Khalisha dengan wajah yang polos.


Daniel tertawa kecil mendengar perkataan yang keluar dari mulut Khalisha. Wajah polosnya malah membuat Khalisha terlihat menggemaskan, membuatnya ingin mencubit pipinya itu.


"Kamu kok ketawa? Ada yang lucu dari ucapanku tadi?" tanya Khalisha bingung.


Daniel menghentikan tawanya. "Nggak. Nggak ada yang lucu dari ucapanmu tadi. Mereka itu memang cowok, tapi mulut mereka mirip cewek. Udah, ah. Ngapain ngomongin mereka. Nggak penting."


"Kalau gitu aku masuk dulu ya. Kamu juga. Mungkin sekarang teman-temanmu sedang bergosip. Nanti kamu ketinggalan lagi gosip mereka."


Daniel malah kaget mendengarnya. Biasanya Khalisha selalu serius menanggapinya, namun yang didengarnya barusan, Khalisha secara tak sadar sedang mengajaknya bercanda.


"Kamu bisa aja. Aku bukan cowok yang suka bergosip," ucapnya tersenyum, "kalau gitu aku ke kelas dulu."

__ADS_1


Daniel melangkah pergi meninggalkan Khalisha yang masih berdiri di depan kelasnya. Kepergian Daniel malah membuat teman-teman sekelasnya kecewa. Mereka tak lagi bisa melihat wajah tampan Daniel di depan kelas mereka, walaupun mereka tahu kalau Daniel akan kembali ke kelas menemui Khalisha.


Khalisha pun melangkah masuk ke kelas. Tak dipedulikannya tatapan iri yang sejak tadi mengarah padanya. Tatapannya hanya tertuju pada Mayang yang tengah duduk di samping kursinya. Bukannya bersikap biasa saja, ia malah menatap aneh pada Mayang yang terus tersenyum menatapnya.


"Kenapa kamu senyum-senyum? Ada yang lucu?" tanyanya sembari duduk.


"Cie... cie... yang diantar sama pacar," goda Mayang.


"Pacar? Pacar siapa?" tanya Khalisha tak mengerti.


"Ya pacar kamu lah, Lis. Emangnya pacar siapa lagi," jawabnya tersenyum kecil.


"Pacar aku?" tanya Khalisha bingung.


Mayang mulai gemas dengan sahabatnya itu. "Ya ampun, Lis. Ya pacar kamu lah. Ngapain aku ngomongin pacar orang lain."


"Kamu ini ada-ada aja. Sejak kapan aku punya pacar? Lagi pula aku pacaran sama siapa? Kan kamu tau sendiri kalau nggak ada yang dekat sama aku selain kamu."


"Tentu saja sama Daniel. Emangnya siapa lagi selain dia?"


"Masa sih? Kayaknya nggak deh," ucap Mayang tak percaya.


"Apanya yang nggak?"


"Kulihat sikap Daniel ke kamu itu nggak biasa, Lis. Daniel yang kutahu itu sangat dingin. Jangankan cewek, cowok aja susah jadi temannya. Kamu lihat sendiri kan yang ada di sisinya itu cuman Andhika, Nathan, dan Bayu. Dia nggak pernah kelihatan mengobrol dengan yang lain selain mereka. Tapi dengan kamu, sikapnya itu berbeda. Kelihatan banget kalau dia itu lagi mendekati kamu."


"Masa sih? Kamu kok kayaknya tahu banyak ya tentang Daniel. Jangan-jangan kamu lagi yang suka sama dia," ucap Khalisha selidik.


Mayang malah tertawa mendengarnya, membuat Khalisha lagi-lagi bingung dibuatnya. Ia tahu kalau selama ini Khalisha tak pernah berteman dengan siapa pun. Jangankan cowok, dengan cewek saja dia tak pernah mengobrol. Khalisha itu adalah orang yang sangat tertutup. Sangat susah bagi orang lain untuk berdekatan dengannya. Jadi wajar saja kalau dia tak tahu menahu mengenai orang yang menyukainya.


"Aku suka sama Daniel? Ya nggak mungkin lah. Daniel itu bukan tipe cowok idamanku. Lagian kalau aku sampe suka sama dia, yang ada aku makan hati terus sama dia. Pasti dibuat kesel terus karena sikapnya. Aku tahu sikap Daniel itu dari gosip teman-temanku. Aku juga beberapa kali lihat sikapnya Daniel sama orang lain," terangnya.

__ADS_1


"Oh. Kupikir kamu suka sama Daniel. Soalnya kamu tahu banyak tentang dia."


"Emangnya kenapa kalau aku suka sama Daniel? Jangan bilang kalau kamu cemburu," goda Mayang.


"Nggak," jawab Khalisha spontan.


"Jangan gitu lah, Lis. Kamu itu harus terbuka sama Daniel. Kurasa Daniel itu suka loh sama kamu. Daniel itu sangat perhatian sama kamu, Lis. Sikapnya sama kamu itu sama sekali nggak terlihat seperti majikan. Masa kamu nggak lihat sikap Daniel yang berbeda sama kamu, Lis?"


Khalisha tak tahu harus menjawab apa. Memang benar apa yang dikatakan Mayang. Ia juga merasa kalau sikap Daniel tak terlihat seperti majikan kepada pembantunya. Perintah Daniel kepadanya juga sangat aneh. Setiap istirahat tiba, Daniel pasti menghampirinya di kelas dan memintanya untuk makan bersama. Tak hanya itu saja. Dia juga pernah memintanya untuk membawakan kue buatannya. Bila dipikirkan kembali, selama ia menjadi pembantunya, Daniel tak pernah memberikan pekerjaan berat padanya.


"Apa benar Daniel suka padaku? Tapi mana mungkin. Aku kan pembantunya. Masa ia sih majikan suka sama pembantunya," batinnya.


"Lis!" panggil Mayang pelan.


Khalisha sontak tersadar dari lamunanya. Ia kembali fokus pada Mayang yang menatap aneh padanya.


"Kamu kenapa, Lis? Kok bengong?" tanya Mayang aneh.


"Aku nggak kenapa-napa kok," jawabnya sekenanya.


"Ucapanku tadi jangan terlalu dipikirkan! Biarkan saja semuanya terjadi. Kalau Daniel benar-benar suka sama kamu, kuharap kamu mau membuka hati kamu, Lis. Walau nggak kenal langsung sama dia, aku yakin kalau Daniel itu cowok baik. Sebagai sahabat kamu, aku hanya ingin yang terbaik untukmu, Lis. Kamu itu orang baik. Sangat pantas bagimu untuk mendapatkan yang terbaik."


Khalisha terharu mendengarnya. Ia tak menyangka kata-kata itu keluar dari mulut Mayang.


"Makasih ya, May. Kamu memang sahabatku yang terbaik. Aku beruntung bisa mempunyai sahabat kayak kamu," ucapnya tulus. Ia sangat bersyukur bisa mendapat sahabat seperti Mayang.


Kaget sekaligus senang, itulah yang dirasakan Mayang saat ini. Ia tak menyangka kalau Khalisha akan benar-benar menganggapnya sebagai sahabat.


"Makasih ya, Lis. Aku senang banget karena kamu sudah menganggapku sebagai sahabat."


"Seharusnya aku yang ngomong begitu. Terima kasih karena kamu mau bersahabat sama kutu buku yang miskin ini."

__ADS_1


Bel sekolah pertanda masuk kelas berbunyi dengan nyaringnya. Murid-murid dari berbagai kelas berbondong-bondong memasuki kelas mereka masing-masing. Begitu pula di kelas Khalisha. Kursi yang awalnya hanya ditempati beberapa orang, kini telah terisi semua. Mayang dan Khalisha pun menghentikan obrolan mereka. Sambil menunggu kedatangan guru, mereka sama-sama memilih untuk mengeluarkan buku mereka dan membacanya. Pengaruh positif pada diri Khalisha menular begitu cepat pada Mayang. Mayang yang dulunya sangat susah membaca buku, kini dengan mudahnya membaca buku. Mayang sangat senang bisa bersahabat dengan Khalisha. Ia berharap kalau dirinya bisa bersahabat dengan Khalisha selamanya.


***


__ADS_2