
Daniel berjalan dengan hati yang kesal. Bagaimana dirinya tidak kesal. Mikha yang terus mengganggunya sudah berani mencampuri urusannya. Mikha bahkan berani mengancam cewek yang disukainya. Kalau bukan karena berada di sekolah, ia pasti sudah memukul Mikha. Ia sama sekali tak peduli apakah Mikha itu cewek atau cowok. Kalau ia menganggap orang itu salah, pastinya ia tak akan segan-segan memberinya pelajaran.
Ia terus berjalan menuju tempat favoritnya di sekolah, tempat di mana tak banyak orang melewatinya. Ia menemukan tempat itu secara tak sengaja, lebih tepatnya ketika ia berkeliling seorang diri sebelum latihan voli dimulai.
Khalisha terus mengikuti langkah Daniel. Tak sepatah kata pun berani keluar dari mulutnya. Walau bingung dan penasaran kemana Daniel akan membawanya, tetap saja ia tak berani bertanya. Saat ini Daniel terlihat sangat marah, lebih tepatnya marah pada cewek yang telah menghinanya tadi. Dilihat dari sikap Daniel tadi, ia merasa kalau Daniel membenci cewek itu.
Daniel menghentikan langkah kakinya. Akhirnya ia sampai di tempat favoritnya. Tak ada seorang pun di sana. Sama seperti biasanya, begitu sepi dan tenang. Ada beberapa pohon besar yang tumbuh di sana, menghalau teriknya sinar matahari. Ya, taman belakang sekolah adalah tempat favoritnya. Selain di danau, tempat inilah yang membawa kedamaian ketika dirinya sedang ada masalah.
Ia lantas mendaratkan pantatnya pada bangku kayu yang ada di bawah pohon, lalu menghembuskan napasnya dengan pelan untuk meredam emosinya.
"Duduk, Lis!" suruhnya sembari menepuk-nepuk pelan sampingnya.
"Kalau gitu lepaskan tanganmu," pinta Khalisha melirik tangan Daniel yang masih menggenggam tangannya.
Daniel sontak melepaskan genggaman tangannya. "Maaf."
Khalisha pun duduk di samping Daniel. Kedua matanya memandang sekelilingnya. Sama seperti di danau, taman belakang sekolah juga menyuguhkan ketenangan. Pemandangan nan hijau dan angin yang sepoi-sepoi membuatnya merasa betah. Diam-diam ia merasa kagum pada Daniel. Daniel sangat pintar menemukan tempat yang bagus.
"Kamu udah nggak marah?" tanyanya hati-hati.
"Maaf. Gara-gara aku, kamu jadi berurusan sama dia," ucap Daniel pelan. Ia merasa bersalah karena dirinya adalah penyebab Khalisha diancam oleh Mikha.
"Kenapa kamu minta maaf? Kan bukan kamu yang salah," tanya Khalisha polos. Ia malah bingung dengan Daniel yang tiba-tiba meminta maaf padanya. Padahal, yang salah adalah cewek yang menghadangnya itu, bukan Daniel.
"Tapi tetap aja aku merasa bersalah. Kalau bukan karena aku, kamu nggak akan diancam sama dia," ucapnya lesu.
"Udah, nggak usah pasang wajah begitu! Gantengnya hilang tahu," ucap Khalisha mencoba menghibur. Walaupun ia sendiri tak yakin apakah Daniel akan merasa terhibur.
Daniel sontak terbatuk mendengarnya. Ia tersedak air liurnya sendiri. Kaget dan senang, itulah yang ia rasakan. Bagaimana tidak. Ini adalah pertama kalinya Khalisha memuji dirinya.
Melihat Daniel terbatuk, Khalisha spontan mengusap punggung Daniel. Lagi-lagi ia menatap bingung. Padahal Daniel tak minum sama sekali, tapi Daniel masih saja batuk. Tak mungkin juga Daniel batuk karena udara kotor. Taman belakang sekolah yang ditumbuhi pepohonan membuat hal itu tak mungkin terjadi.
"Kamu nggak apa-apa? Kamu sakit, ya? Batuk kamu nggak berhenti-berhenti," tanyanya khawatir, "gimana kalau aku beli minuman di kantin? Mungkin aja habis minum batukmu langsung hilang."
Ia lantas bangkit. Ia ingin cepat-cepat membeli minuman. Namun, ketika kakinya hendak melangkah, tangannya digenggam oleh Daniel.
"Jangan pergi! Aku nggak apa-apa," ucap Daniel menahan batuknya.
"Beneran nggak apa-apa? Tapi batuk kamu nggak berhenti-berhenti, loh. Jangan-jangan kamu beneran sakit lagi. Apa nggak sebaiknya kamu izin pulang, ya? Biar bisa istirahat di rumah."
Bukannya menjawab, Daniel malah tersenyum senang. Ia sama sekali tak menyangka bila Khalisha akan secemas ini padanya.
"Beneran, Lis. Aku nggak apa-apa. Nih, batukku udah hilang," balasnya, "duduk lagi, gih! Temani aku di sini."
Khalisha pun kembali duduk. Ia lantas mengedarkan pandangannya disekelilingnya. Tak ada seorang pun terlihat. Hanya ada dirinya dan Daniel yang mengisi kesunyian taman belakang sekolah.
Suasana di antara mereka seketika menjadi canggung. Daniel diam-diam melirik Khalisha. Ia bingung ingin bicara apa padanya. Begitu pula dengan Khalisha yang juga bingung ingin bicara apa.
__ADS_1
"Emmm... Lis, kamu nggak apa-apa kan aku bawa ke sini?" tanya Daniel mencoba memulai percakapan.
"Nggak apa-apa," balasnya tanpa menoleh ke arah Daniel.
"Syukurlah. Kupikir kamu sibuk tadi. Soalnya kulihat kamu lagi jalan sama teman kamu."
"Tadi emang niatnya aku sama Mayang mau ke perpus."
"Mayang? Teman sebangkumu yang selalu menempel sama kamu itu?" tanya Daniel menebak. Ia ingat saat di sekolah, ada seorang cewek yang selalu menempel pada Khalisha.
"Menempel? Masa sih Mayang selalu nempel sama aku? Perasaan nggak deh," balas Khalisha sembari mengingat-ingat kedekatannya dengan Mayang.
"Maaf. Gara-gara aku, kamu nggak jadi ke perpus sama teman kamu," ucap Daniel merasa bersalah.
"Santai aja. Lain kali kan bisa. Lagi pula aku yakin kalau Mayang akan mengerti," sahut Khalisha yakin. Mengingat hal yang menimpanya tadi, ia yakin kalau Mayang bisa mengerti keadaannya.
"Sekali lagi aku minta maaf sama kamu, Lis," ucap Daniel masih merasa bersalah.
"Bukankah sudah kubilang, kejadian tadi itu bukanlah kesalahanmu, Niel. Jadi, kamu nggak perlu merasa bersalah dan meminta maaf padaku. Karena di sini, bukan kamu yang salah," balas Khalisha tegas, "ngomong-ngomong, cewek tadi itu siapa sih? Kamu kenal sama dia? Apa jangan-jangan dia pacar kamu, ya?"
Daniel kaget mendengarnya. Tak mau Khalisha salah paham dan berpikir yang tidak-tidak tentangnya, ia pun buru-buru menjawab, "Bukan, Lis. Dia bukan pacarku."
"Oh, bukan pacar kamu ya. Kamu kenal sama dia?" tanya Khalisha penasaran.
"Iya, aku kenal sama dia. Memangnya kenapa?" tanya Daniel malas. Sejujurnya, ia tak mau membahas apa pun mengenai Mikha. Namun, karena yang bertanya adalah Khalisha, mau tak mau ia pun harus menjawabnya.
"Sebenarnya dia itu nggak salah apa-apa sama aku, Lis. Dia nggak pernah menghina atau menyinggungku. Cuma masalahnya, dia itu selalu menempel sama aku. Sikapnya itu yang membuatku merasa terganggu. Apalagi tadi, dia sudah berani mengancam kamu. Itu artinya kan dia mencampuri urusanku. Aku malah semakin nggak suka sama dia," jelas Daniel sedikit emosi. Pikirannya kembali mengingat saat Khalisha diancam oleh Mikha.
"Kamu sudah punya pacar?" tanya Khalisha tiba-tiba.
Daniel terperangah mendengarnya. Tanpa sadar, ia menarik-narik telinganya untuk memastikan pendengarannya.
"Daniel, kenapa kamu menarik-narik telinga?" tanya Khalisha bingung.
"Oh, ini telingaku gatal," balas Daniel berbohong, "kamu tadi tanya apa, Lis?"
"Aku tanya, kamu sudah punya pacar atau belum?"
"Emangnya kenapa kamu nanya begitu?" tanya Daniel dengan tatapan menyelidik.
"Aku cuma pengen tahu aja. Kalau kamu sudah punya pacar, aku kan bisa jaga jarak sama kamu. Aku nggak mau pacar kamu salah paham sama aku seperti cewek tadi," jelas Khalisha. Jujur saja, ia tak mau kejadian tadi terulang kembali.
"Aku masih sendiri, nggak punya pacar. Jadi, kamu nggak usah jaga jarak sama aku."
Khalisha merasa lega. Ia tak perlu menjaga sikapnya dengan Daniel. Namun, ada yang aneh pada dirinya. Entah kenapa, Khalisha merasa senang saat mendengar Daniel tak punya pacar. Padahal, hal itu sama sekali bukan urusannya.
"Lis!" panggil Daniel pelan.
__ADS_1
"Ya," sahut Khalisha kaget.
"Kamu lagi mikirin apa?" tanya Daniel penasaran.
"Nggak ada. Aku cuma lagi menikmati pemandangan di sini," sahut Khalisha berbohong. Ia tak mau Daniel sampai tahu kalau dirinya sedang memikirkannya.
Daniel mengatur napasnya yang tak beraturan. Jantungnya terus saja berdetak cepat. Semakin lama bersama dengan Khalisha, dirinya semakin tak bisa mengendalikan perasaannya. Ia tak bisa terus menerus seperti ini. Ia memang harus mengutarakan perasaannya pada Khalisha. Dan sepertinya, inilah saat yang tepat baginya untuk mengutarakan perasaannya.
"Lis, aku mau ngomong sesuatu sama kamu," ucapnya akhirnya.
"Dari tadi kan kamu sudah ngomong. Emangnya kamu mau ngomong apa?"
"Lis, sebenarnya... sebenarnya aku..." ucapnya berkeringat dingin. Ia bingung. Hanya mengucapkan kata "suka" saja, ia sudah kesusahan.
"Sebenarnya aku apa, Niel?" tanya Khalisha penasaran.
Daniel kembali mengatur napasnya, mencoba mengumpulkan keberaniannya. "Sebenarnya aku suka sama kamu, Lis. Kamu mau nggak jadi pacarku?"
Tentu saja Khalisha kaget mendengarnya. Kedua matanya terus menatap Daniel. Ia masih tak percaya dengan pendengarannya sendiri. Bagaimana mungkin Daniel suka padanya. Banyak cewek yang mungkin suka padanya, cewek kaya dan cantik yang selalu berada di sisinya seperti cewek yang menghina dan mengancamnya tadi. Tapi, Daniel malah bilang suka padanya, cewek miskin yang selalu menjadi bahan ejekan orang.
"Lis!" panggil Daniel pelan.
"Niel, apa aku nggak salah dengar? Kamu tadi bilang kalau kamu suka sama aku?" tanya Khalisha tak percaya.
"Ya, Lis. Kamu nggak salah dengar. Aku memang suka sama kamu."
"Kok bisa?" tanyanya keluar begitu saja.
"Tentu saja bisa. Aku suka sama kamu sejak kita pertama kali bertemu. Awalnya aku cuma penasaran sama kamu, tapi lama kelamaan, aku mulai memiliki perasaan berbeda sama kamu, Lis," terang Daniel lega. Akhirnya, perasaan yang ia pendam selama ini keluar juga pada orang yang tepat.
Khalisha terdiam. Ia bingung harus menjawab apa pada Daniel. Ia sendiri masih tak tahu perasaannya yang sebenarnya pada Daniel.
Daniel tersenyum memandang Khalisha. "Kamu nggak perlu jawab sekarang. Aku tahu kalau kamu masih belum memiliki perasaan apa pun sama aku. Tapi, kuharap kamu mau mengizinkanku untuk mendapatkan hatimu, Lis."
"Jujur saja, aku bingung harus menjawab apa. Aku berterima kasih sama kamu karena kamu sudi menyukaiku yang miskin ini," balas Khalisha bingung.
"Jangan ngomong begitu, Lis! Aku nggak pernah peduli pada harta seseorang. Yang penting bagiku adalah sifat dari orang tersebut," jelasnya meyakinkan, "aku tahu, kamu pasti kaget dan nggak percaya dengan apa yang kukatakan tadi. Aku cuma ingin kamu memberiku kesempatan untuk membuktikannya."
Khalisha menghela napas panjang. Ia mencoba meyakinkan dirinya sendiri bila apa yang akan dikatakannya adalah sesuatu yang tepat.
"Kalau itu maumu, aku nggak bisa melarang. Aku akan memberimu kesempatan," ucap Khalisha akhirnya.
Daniel sangat senang mendengarnya. Ia sontak memeluk Khalisha. Khalisha yang mendapat pelukan dari Daniel tentu saja kaget. Ia langsung mendorong tubuh Daniel. Rona merah di pipinya jelas terlihat.
"Maaf, Lis. Kelepasan," ucap Daniel tersenyum.
Walau belum bisa mendapatkan hati Khalisha, setidaknya Khalisha sudah memberinya lampu hijau untuk mendekatinya. Tentu saja ia tak boleh menyia-nyiakan kesempatan yang Khalisha beri padanya. Ia pasti akan berusaha membuat Khalisha jatuh cinta padanya.
__ADS_1
***