
Semenjak acara makan siang bersama dengan kakek dan nenek Khalisha, Daniel semakin gencar melakukan aksinya untuk mendapatkan hati gadis pujaannya itu. Segala bentuk perhatian selalu dia tunjukkan pada Khalisha. Walau Khalisha sendiri merasa tak nyaman dengan tatapan tak suka dari para cewek yang menyukai Daniel, tak bisa ia sangkal kalau ia sangat menyukai perhatian Daniel. Sikap Daniel sering kali mengingatkannya pada ayahnya yang selalu memperhatikannya dan menjadikannya wanita nomor dua setelah ibunya.
Bel sekolah pertanda pulang sudah berbunyi dengan nyaring. Khalisha yang berada di luar kelasnya memandang sekelilingnya. Ia sama sekali tak mendapati sosok Daniel. Biasanya Daniel menunggunya di depan kelasnya, lalu mengantarkannya pulang. Agak sedih juga rasanya tak mendapati Daniel di depan kelasnya, namun ia hanya bisa memendamnya di dalam hati.
Mayang mengedarkan pandangannya di sekitarnya, mencari sosok yang biasanya ia temui di depan kelasnya.
"Tumben Daniel nggak nongol di sini? Biasanya kita keluar, orangnya sudah ada di sini."
"Nggak tau juga. Tadi sih katanya ada ulangan. Mungkin sekarang di kelasnya lagi ulangan," jawab Khalisha santai.
"Kalau gitu kamu pulang sama aku aja ya," pinta Mayang antusias.
Khalisha menatap bingung. Ia tak tahu lagi alasan apa yang harus ia gunakan untuk menolak ajakan Mayang. Dirinya sudah terlalu sering menolak untuk pulang bersama dengannya. Bukan karena dirinya tak suka pulang bersamanya, tapi karena ada sesuatu yang tak bisa ia ungkapkan pada orang lain.
"Ayolah, Lis. Pulang bareng aku, ya. Kali ini aja. Mumpung nggak ada Daniel. Please," ucap Mayang memohon.
Khalisha hanya diam saja. Ia biarkan dirinya mendengarkan celotehan Mayang. Ia terus berjalan menelusuri lorong panjang itu.
Tak terasa langkahnya telah sampai di halaman sekolah. Dengan antusias, Mayang menarik tangan Khalisha menuju sebuah mobil yang terparkir tak jauh dari tempatnya berada. Ia spontan melambaikan tangannya dengan senyumnya yang ceria.
"Kita pulang sekarang?" tanya pria paruh baya yang tak lain adalah papanya Mayang.
"Iya, Pa. Tapi sebelumnya, kita antar temanku dulu ya, Pa," ucap Mayang, lalu membukakan pintu untuk Khalisha, "yuk, masuk!"
Sementara itu, Daniel buru-buru memasukkan buku-bukunya ke dalam tas. Karena ulangan pada pelajaran terakhir, mau tak mau ia pulang agak telat karena harus fokus pada ulangan hari ini.
Sudah menjadi kegiatan rutin pergi dan pulang bareng dengan Khalisha. Selain bisa berduaan dengan Khalisha, ketika sampai di rumah Khalisha, kakek dan neneknya Khalisha pasti menawarkannya untuk makan siang di rumahnya. Hal itu salah satu yang paling ia sukai ketika mampir ke rumah Khalisha. Bukan karena ia kelaparan, tapi karena kehangatan yang tercipta di sana yang tak didapatkannya di rumahnya.
Dengan tas yang terpasang di salah satu lengannya, ia melangkahkan kaki dengan cepat keluar kelas. Ia berharap kalau Khalisha masih menunggunya di kelasnya. Nathan, Andhika, dan Bayu hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Daniel. Mereka tak lagi heran dengan sikap Daniel yang berlebihan. Sejak bertemu dengan Khalisha, sikap Daniel sangat berbeda dengan yang dulu.
Sesampainya di depan kelas Khalisha, Daniel segera mengedarkan pandangannya. Senyum yang awalnya ada di bibirnya seketika menghilang. Ia merasa kecewa karena tak menemukan sosok yang dirindukannya. Dengan gontai, ia pun melanjutkan langkahnya menuju parkiran sekolah.
Tak terasa langkahnya telah sampai di halaman sekolah. Ia menghela napas dengan berat. Sedih rasanya karena harus pulang sendirian. Saat langkahnya hampir dekat dengan motornya, tiba-tiba saja kedua matanya menangkap sosok yang sedang dicarinya. Namun, ada yang aneh pada Khalisha. Khalisha terus berdiri di depan sebuah mobil. Padahal, pintu mobil telah terbuka lebar. Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat bila teman sebangku Khalisha menyuruhnya untuk masuk. Karena penasaran, ia pun memutuskan untuk menghampiri mereka.
Mayang menatap bingung Khalisha. Pintu mobil sudah ia buka lebar-lebar, namun Khalisha tak kunjung masuk.
__ADS_1
"Lis, kamu kenapa? Ayo, masuk!" suruhnya.
Khalisha hanya diam. Tak sedikit pun ia bergerak untuk masuk ke dalam mobil. Kedua matanya tampak menatap kosong. Bayangan akan masa lalunya mulai memenuhi pikirannya.
Mayang semakin bingung. Ia pun menggoyang-goyangkan dengan pelan bahu Khalisha. Namun, Khalisha sama sekali tak meresponnya.
"Lis, kamu kenapa? Kamu nggak mau ya kuantar pulang?" tanyanya kecewa. Ia memang ingin sekali mengantar Khalisha pulang. Dengan begitu, ia bisa tahu di mana Khalisha tinggal. Selama ini, Khalisha tak pernah memberitahunya alamat rumahnya.
Daniel yang semakin mendekat ke arah Khalisha sontak kaget saat melihat dengan jelas wajah Khalisha yang tampak pucat. Ia pun menarik tangan Khalisha. Benar saja. Khalisha jatuh di pelukannya. Tubuhnya tampak lemas.
Melihat hal itu, Mayang seketika menatap kaget. Ia sama sekali tak memperhatikan Khalisha. Setahunya saat di kelas tadi, Khalisha tampak baik-baik saja.
"Lis, kamu kenapa?" tanyanya panik.
"Sebaiknya masukkan teman kamu ke mobil. Kita bawa ke rumah sakit sekarang," saran papa Mayang mendekati Khalisha.
"Benar kata Papaku. Masukkan Khalisha ke dalam mobil!" suruh Mayang.
Khalisha yang mendengar itu sontak memegang tangan Daniel. Tangannya gemetaran. Kedua matanya pun berkaca-kaca menahan air matanya agar tak jatuh.
Daniel tak mengerti dengan apa yang dikatakan Khalisha. Namun dari perkataan dan kondisinya saat ini, ia bisa menyimpulkan bila Khalisha memiliki trauma yang berkaitan dengan mobil. Melihat kondisi Khalisha, ia merasa tak tega bila memaksakan Khalisha yang ketakutan untuk masuk ke dalam mobil.
Tatapannya lantas beralih pada Mayang. "Kamu sebaiknya pulang. Biar Khalisha aku yang urus."
"Tapi, Daniel—"
"Biar Khalisha aku yang jaga. Apa kamu nggak lihat dia ketakutan saat kamu suruh dia masuk ke dalam mobil kamu?" potong Daniel cepat.
"Apa yang dia katakan benar, May. Kita sebaiknya pulang. Teman kamu kayaknya takut masuk ke dalam mobil kita. Teman kamu biar sama pacarnya dulu," ucap papa Mayang memberikan pengertian pada putrinya. Ia juga khawatir melihat kondisi Khalisha.
Mayang juga tak tega melihat kondisi Khalisha. Tangan Khalisha terus gemetaran memegang tangan Daniel. Daripada Khalisha semakin parah, lebih baik ia membiarkan Khalisha bersama dengan Daniel.
"Ya udah deh, Pa. Yuk, kita pulang!" ucap Mayang akhirnya, "Lis, aku pulang dulu, ya. Daniel, tolong jagain Khalisha."
"Kamu tenang aja. Aku pasti jagain Khalisha," balas Daniel.
__ADS_1
Dengan berat hati, Mayang masuk ke dalam mobil. Ia menghela napas dengan berat. Di saat seperti ini, ia tak bisa berbuat apa-apa. Ia juga menyesal karena dirinya sudah memaksa Khalisha.
Daniel menatap Khalisha dengan tatapan yang sedih. Bila ia memilih, ia lebih suka Khalisha yang diam dengan wajah datarnya dibandingkan dengan Khalisha yang terus memegangnya dengan wajah yang ketakutan.
"Lis, ayo bangun! Teman kamu Mayang sudah pergi," ucapnya mencoba membangunkan Khalisha.
"Daniel, jangan biarkan ayah dan ibuku masuk ke dalam mobil! Suruh mereka keluar," ucap Khalisha meracau. Pikirannya terus teringat pada masa lalunya.
"Sadar, Lis! Di sini nggak ada ayah dan ibumu."
Khalisha akhirnya tak bisa mendung air matanya. Dengan tangan yang masih memegang tangan Daniel, Khalisha menangis sejadi-jadinya. Ia sama sekali tak peduli dengan tatapan para murid yang mulai menatapnya.
Tanpa persetujuan Khalisha, Daniel menggendong Khalisha menuju ruang UKS. Selain tak mau menjadi tontonan, ia juga ingin menenangkan Khalisha. Baru kali ini ia melihat Khalisha selemah ini.
"Eh, tunggu! Jangan ditutup dulu!" serunya mencegah seorang siswa yang hendak menutup pintu UKS.
Siswa itu sontak mengalihkan pandangannya pada Daniel. "Tapi ini sudah waktunya pulang."
"Kalau kamu mau pulang, pulang aja. Berikan kuncinya! Nanti aku yang mengunci pintunya. Besok kukembalikan kuncinya sama kamu di sini," ucap Daniel tegas.
"Tapi—"
"Kamu nggak lihat? Dia seperti ini dan butuh menenangkan diri di sini. Cepat berikan kuncinya!" ucap Daniel kesal. Ia menatap tajam siswa itu.
Dengan takut, siswa tersebut memberikan kunci UKS pada Daniel. Ia pun berjalan agak cepat menjauhi Daniel.
Daniel segera masuk dan membaringkan tubuh Khalisha ke kasur. Ia menatap sekelilingnya. Tak ada minuman yang tertinggal. Ia pun langsung membuka tas Khalisha. Sama seperti di dalam tasnya, di dalam tas Khalisha pun tak terdapat minuman sama sekali.
"Lis, aku beli minuman dulu sebentar."
Khalisha sontak memegang erat tangan Daniel. "Jangan pergi! Kumohon, jangan pergi!"
Daniel tak tega melihat Khalisha. Ia pun mengurungkan niatnya membeli minuman untuknya. Ia lantas duduk dan diam menatap Khalisha, membiarkan Khalisha menenangkan dirinya.
"Kamu ini sebenarnya kenapa, Lis? Apa kamu pernah mengalami kejadian buruk yang berkaitan dengan mobil? Apakah kamu bisa cerita sama aku, Lis?" tanyanya dalam hati.
__ADS_1
***