Take My Heart

Take My Heart
MEMULAI AKSI PENDEKATAN 2


__ADS_3

Bel sekolah pertanda istirahat akhirnya berbunyi dengan nyaring. Setelah guru meninggalkan kelas, para penghuhi kelas yang semula tenang kini berubah menjadi ricuh. Kebanyakan dari mereka bergegas memasukkan buku-buku mereka ke dalam tas, lalu berjalan dengan cepat keluar kelas. Hal serupa ternyata juga terjadi pada Daniel. Dengan cepat ia memasukkan buku-bukunya ke dalam tas, lalu bangkit dari kursinya. Senyum kecil terlihat di bibirnya. Ia sudah tak sabar ingin menghampiri Khalisha di kelasnya.


Dengan santai Nathan memasukkan buku-bukunya ke dalam tas. Perutnya yang tak terlalu lapar membuatnya merasa enggan untuk pergi ke kantin. Kedua matanya lantas melirik ke arah Daniel, lalu menghela napas melihat tingkah aneh sahabatnya itu.


"Kamu mau kemana, Niel?"


"Ke kantin," jawabnya singkat, lalu pergi begitu saja meninggalkan Nathan yang masih menatap kepergiannya.


Pandangan mata Andhika dan Bayu yang semula mengarah pada buku yang ada di meja, sontak beralih pada Nathan.


"Kenapa lagi sama Daniel, Than?" tanya Andhika.


"Biasa," sahut Nathan santai.


"Maksudnya? Yang jelas dong kalau ngomong!" ucap Bayu penasaran.


"Apalagi kalau bukan mau samperin Khalisha," ucap Nathan tersenyum kecil. Rasa penasaran malah mulai muncul. Ia ingin melihat bagaimana Daniel mendekati Khalisha. Pasti akan menjadi tontonan menarik baginya.


"Oh, kukira apa. Tapi, aku jadi penasaran pengen lihat Daniel mendekati Khalisha. Apalagi, Khalisha kan sifatnya sebelas dua belas sama Daniel," ucap Andhika penasaran.


"Iya, Dhik. Aku juga penasaran," ucap Bayu, "ngomong-ngomong, dari mana kamu tahu kalau cewek yang ditaksir Daniel sifatnya sama dengan Daniel? Kita kan jarang banget ketemu sama dia. Kalau dihitung-hitung cuman dua kali aja, kan."


"Aku cuman nebak aja. Aku pernah nggak sengaja ketemu dia di perpus. Kamu tau nggak. Aku ajak dia ngobrol, eh malah nggak ditanggapi sama dia. Sekali ditanggapi, dia nggak menoleh sama sekali sama aku. Nggak sopan, kan? Aku malah berasa ngomong sendiri," terang Andhika mengingat-ingat pertemuannya dengan Khalisha di perpustakaan.


Bayu terkejut, lalu tertawa mendengar perkataan Andhika. Baru kali ini ia mendengar seorang Andhika yang selalu dikagumi para cewek karena sifatnya yang ramah bisa diabaikan oleh seorang cewek.


"Ke kantin, yuk! Laper nih," ajak Bayu, lalu bangkit dari kursinya.


Andhika langsung bangkit. Perutnya sudah tak bisa diajak kompromi lagi untuk tak diisi makanan. Walau tak terlalu lapar, Nathan memilih untuk mengikuti kedua sahabatnya itu. Bosan juga ia duduk sendirian di kelas.


Di sisi lain, Daniel berjalan dengan wajah yang ceria menuju kelas pujaan hatinya. Baru beberapa jam ia berpisah dengan Khalisha, namun rasanya sudah bertahun-tahun ia tak bertemu dengannya. Ia tersenyum geli memikirkan hal itu. Walau terkesan berlebihan, tapi itulah yang dirasakannya saat ini.


***


Dengan lemas Mayang memasukkan buku-bukunya ke dalam tas. Karena ia sarapan sedikit, sekarang perutnya tak bisa diajak kompromi lagi. Ia harus segera ke kantin untuk mengisi perutnya dengan makanan.


"Ke kantin yuk, Lis!" ajak Mayang. Ia tak ingin sendirian makan di kantin.


Khalisha tampak berpikir. Ia malah bingung antara ikut ajakan Mayang ke kantin atau menolaknya. Di satu sisi, ia juga sangat kelaparan. Bekal makanan yang dibawanya sudah habis dimakan Daniel. Namun di sisi lain, ia merasa sayang dengan uang jajannya yang selama dua hari tak kunjung bertambah.


"Temanin aku ya Lis makan di kantin. Kamu makan bekalnya di kantin aja sama aku," bujuk Mayang, "mau ya, Lis. Please...."


"Bekal aku sudah habis," jawab Khalisha jujur.


Mayang agak kaget mendengar jawaban dari Khalisha. Tak biasanya Khalisha memakan bekalnya sebelum istirahat tiba. Biasanya dia makan bekal makanannya pada istirahat kedua. Namun, baru istirahat pertama, bekal makanannya sudah habis duluan.


"Tumben banget. Emangnya kamu nggak sarapan pagi tadi?"

__ADS_1


"Bekalku dimakan Daniel tadi," sahut Khalisha.


Mayang menatap tak percaya. "Serius kamu, Lis? Daniel makan bekal makananmu?"


"Iya. Dia kelaparan gara-gara nggak sarapan," jawab Khalisha menahan laparnya.


"Oh," jawab Mayang singkat. Ia tampak tak tertarik lagi untuk membahas Daniel lebih lanjut. Perutnya sudah sangat kelaparan. "Kita ke kantin, yuk! Aku traktir kamu deh makan."


Khalisha menghela napas. Tak enak juga rasanya menolak ajakan Mayang. Apalagi, Mayang sampai ingin mentraktirnya hanya untuk menemaninya makan di kantin. Pasti Mayang sudah sangat kelaparan, namun dia tak ingin makan sendirian di sana.


"Ya udah, aku temani kamu makan. Tapi, kamu nggak usah traktir aku. Aku masih punya uang kok buat jajan di kantin."


"Yes. Makasih ya, Lis. Kamu memang sahabatku yang terbaik," ucap Mayang tersenyum senang, "yuk, jalan!"


Baik Mayang maupun Khalisha pun sama-sama melangkah pergi menuju pintu kelas yang terbuka lebar. Namun, baru saja mereka melewati pintu kelas, kedua mata mereka terbelalak melihat sosok yang berdiri tak jauh dari kelas mereka.


"Hai, Lis!" sapa Daniel tersenyum.


"Kok kamu ada di sini? Ada apa? Apa kamu perlu sesuatu?" tanya Khalisha bingung dengan kehadiran Daniel di luar kelasnya.


"Aku ke sini mau ngajakin kamu ke kantin. Bekal kamu kan sudah habis kumakan tadi. Kamu pasti lapar," ajaknya.


"Wah, kebetulan sekali. Kami juga mau ke kantin," ucap Mayang tiba-tiba. Ia agak bersemangat karena ia akan makan bersama dengan salah satu cowok populer di sekolahnya.


Daniel sama sekali tak menggubris ucapan Mayang. Kedua matanya menatap Mayang sekilas, lalu kembali fokus pada Khalisha. Hatinya merasa kesal pada Mayang. Niatnya ingin berduaan dengan Khalisha, namun terganggu karena temannya Khalisha ikut bersama Khalisha.


Merasa diabaikan, Mayang mendengus kesal. Bukannya Mayang iri atau tak suka bila Daniel hanya memperhatikan Khalisha saja, ia hanya tak suka diabaikan ketika dirinya sedang bicara. Setidaknya diajak mengobrol, walaupun itu sekedar basa basi saja.


"Kalau gitu, kita sama-sama aja ke sana. Yuk, jalan!" ajak Khalisha, lalu melangkah menuju ke kantin.


Tanpa berkata apa pun lagi, Daniel melangkahkan kakinya seirama dengan Khalisha. Kedua matanya sesekali melirik ke arah Khalisha, lalu tersenyum kecil. Ingin sekali ia memegang tangan Khalisha, namun hal itu tentu saja tak boleh dilakukannya. Hubungannya dengan Khalisha masih sebatas majikan dan pembantu, bukan pacar apalagi teman.


Mayang yang terus memperhatikan sikap Daniel mulai merasa curiga. Ia merasa kalau Daniel yang ia dengar sangat dingin, sepertinya suka dengan temannya itu. Tapi kalau Daniel memang seperti yang dipikirkannya, pastinya ia merasa senang dan akan membantunya mendapatkan Khalisha. Khalisha adalah cewek yang baik. Sudah sepantasnya dia mendapatkan yang terbaik. Dan ia juga tahu dari teman-temannya, walaupun Daniel sifatnya dingin dan susah untuk di dekati, Daniel adalah cowok yang baik. Dia juga tak pernah terlihat bersama dengan cewek lain. Semoga saja apa yang dipikirkannya akan segera terwujud. Semakin lama ia melihat mereka berjalan berdampingan, ia merasa mereka terlihat seperti pasangan kekasih.


***


Semua mata yang ada di kantin kini tertuju pada satu arah. Ya, kedatangan Daniel bersama dengan Khalisha dan Mayang menjadi tontonan tersendiri bagi orang-orang yang ada di kantin, terutama bagi para cewek. Daniel dan Mayang bersikap biasa saja, namun tidak dengan Khalisha. Khalisha merasa tak nyaman dengan keadaan ini. Walau tatapan mereka bukan tertuju padanya, tetap saja ia merasa risih dengan mereka.


"Kamu tunggu di sini! Aku beli makanan dulu," perintah Daniel.


"Belikan aku bakso ya, Daniel," pinta Mayang memamerkan senyumnya. Ia lantas duduk di samping Khalisha.


Daniel menatap kesal Mayang. Bisa-bisanya teman Khalisha yang ia sendiri tak tahu namanya itu menyuruhnya untuk membelikan makanan untuknya. Ia lantas menghembuskan napasnya dengan berat, mencoba mengatur emosinya. Ia tak ingin marah-marah ataupun berbicara kasar pada temannya Khalisha, lebih tepatnya tak ingin terlihat buruk di depan Khalisha. Untung saja dia teman Khalisha. Jika bukan temannya, sudah pasti ia tak akan mau jalan bareng dengannya.


Belum juga ia pergi, Nathan, Andhika, dan Bayu tiba-tiba datang menghampirinya. Ia mendengus kesal. Selain teman Khalisha, ada lagi yang mengganggunya berduaan dengan Khalisha.


"Kebetulan banget. Niel, kamu mau beli makanan kan? Sekalian belikan aku bakso ya," suruh Nathan sembari duduk.

__ADS_1


"Aku juga ya, Niel," ucap Bayu ikut duduk.


"Aku juga deh, Niel. Belikan aku air mineral sekalian," imbuh Andhika tersenyum.


Daniel semakin kesal dibuatnya. Baru juga datang ke kantin, mereka berani-beraninya menyuruhnya untuk membelikan makanan. Bukannya makan berduaan dengan Khalisha, ini malah makan ramai-ramai.


"Sialan! Ganggu aja. Aku kan pengennya berduaan dengan Khalisha. Kenapa mereka malah ikut nimbrung, sih. Pake acara nyuruh-nyuruh segala lagi," batinnya kesal.


Rasanya aneh duduk ramai-ramai seperti ini. Khalisha yang biasanya duduk seorang diri di kelas, kini duduk bersama dengan Mayang, Daniel, dan juga ketiga teman Daniel.


Melihat Daniel yang mendapat banyak pesanan, ia pun bangkit. Tak enak rasanya bila ia membiarkan Daniel melakukannya seorang diri, apalagi ia bekerja pada Daniel. Tak mungkin ia yang bekerja sebagai seorang pembantu membiarkan majikannya membeli makanan untuk teman-temannya seorang diri.


"Kamu mau kemana, Lis?" tanya Daniel spontan.


"Aku mau bantuin kamu," jawabnya, lalu mendekat ke arah Daniel.


"Kamu duduk aja di situ sama mereka. Biar aku aja yang beli makanannya."


Nathan tersenyum kecil melihat Daniel. "Niel, jangan gitu dong. Khalisha kan niatnya baik ingin bantuin kamu. Nggak baik loh nolak bantuan orang. Udah, Lis. Nggak usah dengerin Daniel. Sana bantuin dia beli pesanan kami. Aku dan yang lainnya udah lapar nih."


"Sialan kamu, Than," gerutu Daniel.


Lagi-lagi Nathan tersenyum melihat sahabatnya itu kesal. Ia lantas bangkit, lalu menarik tangan Daniel hingga Daniel berdiri sangat dekat dengan Nathan.


"Nggak usah bawel! Kamu nikmati aja. Kamu kan bisa berduaan sebentar sama Khalisha. Udah sana pergi!" bisiknya.


Mendengar hal itu, Daniel seketika menjadi senang. Yang dikatakan Nathan memang benar. Setidaknya ia bisa berduaan dengan Khalisha sembari menunggu pesanan siap. Daniel segera melepaskan tangan Nathan dan menghampiri Khalisha.


"Yuk, Lis! Nanti antriannya semakin banyak," ucap Daniel, lalu melangkahkan kaki menjauhi mereka yang terus menatapnya.


Khalisha pun melangkahkan kakinya seirama dengan Daniel. Ia juga tak ingin terlalu lama menunggu makanan dimasak. Perutnya sudah sabar minta diisi makanan.


"Lis, kamu mau makan apa?" tanya Daniel tiba-tiba.


"Samakan saja dengan yang lainnya."


"Kamu nggak mau makan yang lain? Apa makanan favoritmu?" tanya Daniel penasaran. Ia ingin tahu lebih banyak tentang Khalisha. Hal itu sudah pasti akan berguna baginya dalam mendekati Khalisha.


Khalisha tampak berpikir. "Hmm... aku nggak tahu. Biasanya semua makanan yang ada di meja makan aku makan semua."


"Oh, gitu ya," sahut Daniel sekenanya, "kalau bakso, kamu pernah makan sebelumnya?"


"Pernah."


"Kapan? Kamu suka nggak sama rasanya?"


"Waktu kamu bagi bakso kamu sama aku. Itu pertama kalinya aku makan bakso. Aku suka kok rasanya. Rasanya enak banget," jawab Khalisha jujur.

__ADS_1


Daniel agak kaget mendengarnya. Ia baru tahu kalau dirinyalah orang pertama yang membuat Khalisha bisa merasakan makanan yang belum pernah dia makan. Walau bukan hal yang penting, entah kenapa ia merasa senang mendengarnya. Mungkin ke depannya, ia akan melakukan hal-hal yang belum pernah Khalisha rasakan sebelumnya.


***


__ADS_2