Take My Heart

Take My Heart
PERTEMUAN YANG TAK DISENGAJA


__ADS_3

Bel sekolah pertanda istirahat akhirnya berbunyi dengan nyaringnya. Semua penghuni kelas bersorak-sorai karena pelajaran yang telah memeras otak mereka berhenti untuk sementara waktu. Begitu pula yang terjadi di dalam kelas XI IPA 1 sekarang. Para penghuni di kelas itu tampak berdesak-desakan ingin keluar kelas. Entah kemana tujuan mereka. Yang jelas, mereka memiliki satu tujuan yang sama, melepaskan penat yang dirasakan setelah belajar.


Khalisha tampak santai memasukkan buku-bukunya ke dalam tas. Ia sama sekali tak tertarik pergi ke kantin sekolah seperti teman-teman sekelasnya. Ia lantas mengeluarkan roti yang sengaja neneknya beli sebagai bekal makannya hari ini. Seperti hari-hari sebelumnya, uang saku yang ada di kantong seragamnya hanya cukup untuk pulang dan pergi ke sekolah. Walau sebungkus roti itu tak dapat membuatnya kenyang, setidaknya dapat mengganjal perutnya yang mulai keroncongan.


"Hai, Lis!" sapa Mayang menghampiri.


Yang disapa segera mengarahkan pandangan matanya pada tiga orang gadis yang kini berdiri di depannya. Mayang tersenyum menatapnya. Namun sayangnya, dua gadis yang berdiri di belakang Mayang menatapnya dengan wajah yang merengut. Jelas sekali bila mereka tak suka dengan dirinya.


"Ke kantin, yuk!" ajaknya ramah.


Baik Siska maupun Dita sama-sama kaget dengan Mayang. Tak ada angin tak ada hujan, tiba-tiba saja Mayang bersikap akrab pada Khalisha, bahkan mengajaknya ke kantin bersama. Padahal baru kemarin dia menghampiri dan mengobrol dengan Khalisha, tapi sikapnya itu seolah-olah sudah lama mengenal dan berteman dengannya.


"Ngapain kamu ajak dia ke kantin bareng kita? Aku nggak setuju," ucap Siska ketus. Jelas sekali ketidaksukaan yang terlihat di wajahnya.


"Iya, May. Ngapain kamu ajak dia ke kantin bareng kita? Males banget bareng dia. Apa kata teman-teman kita nanti saat melihat kita jalan bareng sama si kutu buku? Yang ada malah bikin malu," lanjut Dita tak kalah ketusnya.


Siska dan Dita dari kelas X memang sudah tak suka dengan Khalisha. Selain terkenal karena pendiamnya, dia juga terkenal sebagai kutu buku. Mereka yang terkenal karena pencitraan mereka yang sebagai siswi kaya dan populer di sekolah, pasti merasa malu bila terlihat bersama dengan Khalisha si kutu buku yang miskin. Namun tak hanya itu saja. Khalisha yang selalu mendapat juara satu, secara tak sadar membuat Siska menjadi iri padanya. Dia yang sudah belajar dengan giat, masih saja kalah dari Khalisha.


Mayang mendengus kesal mendengar ucapan dari kedua temannya itu. Ingin sekali ia menegur mereka akan sikap mereka yang seenaknya itu, namun hal itu terpaksa diurungkannya. Sudah tiga tahun ia berteman dengan Siska dan Dita. Sedikit demi sedikit, ia tahu bagaimana sifat mereka. Walaupun sudah lama berteman, ia tak bisa berkutik bila mereka marah. Bila ia berani menegurnya, takutnya tak hanya dirinya saja yang akan mendapat masalah dengan mereka, melainkan Khalisha yang tak tahu apa-apa pun akan ikut mendapat imbasnya. Mereka pasti akan menganggap Khalisha sebagai sumber dari masalah mereka.


"Gimana, Lis? Kamu mau ke kantin bareng kami nggak?" ajak Mayang kembali dengan canggung.


"Aku nggak ke kantin. Kamu pergi aja sama teman-temanmu itu. Lagi pula aku sudah punya bekal," sahut Khalisha tak tertarik.


Siska mendengus kesal. Baru kali ini ada yang berani menolak ajakan Mayang di depan mata kepalanya sendiri.

__ADS_1


"Belagu banget nih anak. Syukur-syukur ada yang mau ngajakin kamu ke kantin, tapi malah ditolak mentah-mentah. Udah deh, ya. Bilang aja kalau kamu itu nggak punya uang buat jajan di kantin. Iya, kan?"


Khalisha menatap dingin, lalu berkata, "Aku memang nggak punya uang buat jajan di kantin. Lagi pula, bukankah kamu dan temanmu itu nggak suka ya kalau aku bareng kalian ke sana. Jadi lebih baik kalian pergi aja sekarang."


"Kamu—"


"Siska, Dita, sebaiknya kita ke kantin sekarang. Kalau kelamaan, kita malah nggak dapat bangku di sana," potong Mayang cepat. Ia tak mau terjadi pertengkaran antara mereka.


"Iya, Sis. Lebih baik kita ke kantin sekarang. Ngapain kita capek-capek ngomong sama cewek aneh kayak dia," lanjut Dita.


Mayang segera menarik tangan Siska dan membawanya keluar kelas. Walau kesal dengan Khalisha, mau tak mau Siska melangkahkan kakinya mengikuti Mayang. Dita pun otomatis melangkahkan kakinya mengekori mereka meninggalkan Khalisha. Namun tetap saja, dia meninggalkan tatapan tajam pada Khalisha, seolah-olah ingin memberi pelajaran padanya.


Kelas benar-benar sepi. Tak ada orang lain selain Khalisha di sana. Dimakannya roti yang menjadi bekal makannya siang ini. Belum juga habis roti di mulutnya, ia mengeluarkan tiga buah buku dan beranjak dari bangkunya. Ia lantas melangkahkan kakinya menuju perpustakaan. Daripada ke kantin ia hanya duduk melihat orang makan, lebih baik ia menghabiskan waktu istirahatnya di perpustakaan sekolah.


***


Koridor sekolah memang terlihat ramai pada saat istirahat tiba. Banyak sekali murid-murid dari berbagai kelas berkerumun dan bergosip di sana. Di antara banyaknya murid, Khalisha lebih memilih berjalan sendirian. Tak terasa langkah kakinya semakin dekat dengan perpustakaan. Tinggal melewati tiga kelas lagi, ia sudah bisa membaca buku di sana.


BRUK!


Khalisha jatuh terduduk. Namun anehya, tak ada ekspresi kesakitan di wajahnya. Tatapan matanya malah terlihat datar ke arah cowok yang juga terduduk seperti dirinya. Cowok itu lantas bangkit dengan wajah yang meringis kesakitan. Tangannya pun spontan memegang pantatnya yang sakit. Bukannya membantu Khalisha berdiri, dia malah menatap tajam pada Khalisha.


"Punya mata nggak sih? Gara-gara kamu nih aku jatuh," omel cowok itu.


Khalisha sama sekali tak menggubris perkataan cowok itu, lebih tepatnya malas untuk berurusan dengannya. Ia lantas mengambil tiga buah buku yang tergeletak di lantai, lalu bangkit dan melangkah pergi menjauhi cowok itu. Namun, baru dua langkah, tangannya tiba-tiba ditarik oleh cowok itu. Tarikan tangannya yang kuat sontak saja membuat Khalisha kehilangan keseimbangan dan akhirnya menubruk cowok itu. Melihat Khalisha berada sangat dekat dengannya, cowok itu buru-buru mendorong Khalisha.

__ADS_1


"Kamu sengaja, ya? Kamu lagi cari kesempatan buat dekat-dekat sama aku, kan? Aku tahu kalau aku ini cowok populer di sini. Banyak cewek yang cari-cari kesempatan buat dekat-dekat sama aku. Tapi maaf, ya. Cara kamu ini sangat mudah ditebak. Nggak akan mempan sama aku," cerocosnya membanggakan diri.


Khalisha menatapnya dingin, lalu berkata, "Aku sama sekali nggak ada niatan dan kepikiran buat mendekati kamu. Lagi pula kalau kamu tadi nggak narik tanganku, aku juga nggak akan mungkin menabrakmu. Dan yang harus kamu ingat, yang membuat kamu jatuh tadi adalah diri kamu sendiri. Kamu yang lari sembarangan dan nggak memperhatikan jalan."


Cowok itu terdiam. Setelah dipikirkan kembali, apa yang baru saja didengarnya memang benar adanya. Dialah penyebab dirinya sendiri jatuh. Namun tetap saja, dia tak bisa mengakui kesalahannya itu. Malu rasanya bila dirinya harus minta maaf sama cewek aneh di hadapannya itu.


"Aku anggap ini selesai. Aku pergi dulu," ucap Khalisha ingin segera pergi menjauh.


Cowok itu tersadar dari lamunannya. Dia mengatur napasnya, berusaha menyembunyikan rasa malu akan sikapnya.


"Siapa yang suruh kamu pergi? Urusan kita belum selesai."


"Di sini, aku sama sekali nggak salah. Jadi, urusan kita sudah selesai," sahut Khalisha tak peduli.


"Kamu—"


"Aku pergi dulu. Aku malas ngomong sama kamu." Setelah berkata seperti itu, Khalisha pergi menjauh meninggalkan cowok itu.


"Beraninya kamu mengabaikanku?!" teriak cowok itu marah.


Cowok itu segera mengatur napasnya, berusaha mengendalikan emosinya. Ia sedikit tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi padanya. Baru kali ini ia dibuat marah oleh seorang cewek, cewek pertama yang berani mengabaikannya. Walaupun pertemuan dengannya hanya sebentar, ia bisa melihat bila cewek itu berbeda dengan cewek-cewek yang selalu mengelilinginya. Tak terlihat sedikit pun ketertarikan di wajahnya. Walau dibuat kesal olehnya, tak bisa disangkal bila cewek itu berhasil menarik perhatiannya. Ia bahkan terus menatap sosoknya yang pergi menjauh.


"Cewek aneh, beraninya kamu ngomong begitu sama aku. Belum pernah aku menemukan cewek sepertimu. Selama kamu sekolah di sini, aku pasti akan segera menemukanmu. Kamu tenang aja. Aku pasti akan kasih kamu pelajaran," gumam cowok itu tersenyum aneh, senyuman yang menyimpan arti.


***

__ADS_1


__ADS_2