
May, papa minta maaf, ya. Siang ini papa nggak bisa jemput kamu tepat waktu. Ada rapat mendadak di kantor. Papa mungkin akan telat ke sana. Tapi, papa akan usahain buat jemput kamu secepatnya. Sekali lagi, papa minta maaf.
Mayang mendadak lesu membaca pesan WhatsApp yang tertera di layar androidnya. Ia menghela napas. Lagi-lagi ia harus menunggu papa menyelesaikan pekerjaan di kantornya. Beberapa hari ini ia merasa ada banyak sekali pekerjaan yang harus diselesaikan oleh papanya. Papa bahkan sampai pulang larut malam. Walau rasanya berat karena harus menunggu lama, namun setidaknya itu lebih baik daripada tak dijemput papa sama sekali.
Pikirannya perlahan-lahan kembali teringat pada masa lalu, masa-masa dimana papa sering mengabaikannya. Papa lebih sering menghabiskan waktunya dengan bekerja. Karena pekerjaan itulah, papa jadi jarang berada di rumah dan tak pernah menyempatkan dirinya untuk mengantar dan menjemputnya di sekolah. Iri dan sepi sudah tentu dirinya rasakan pada saat itu. Melihat anak-anak lain yang pulang bersama dengan ayah mereka, membuatnya ingin merasakan hal yang sama. Namun, setelah dirinya yang sempat hilang, papa perlahan-lahan mulai berubah. Papa mulai membagi waktunya dengan dirinya. Sesibuk-sibuknya papa bekerja, papa selalu menyempatkan diri bertemu dengannya. Papa juga mau mengantar dan menjemputnya di sekolah. Mayang yang sekarang merasa sangat bahagia. Ia tak lagi kesepian maupun iri pada teman-temannya.
Khalisha berjalan dengan santai menelusuri lorong sekolah yang panjang. Sesekali kedua matanya melirik Mayang. Mayang terlihat aneh. Biasanya, Mayang selalu mengajaknya mengobrol. Namun sepertinya tidak untuk siang ini. Mayang terus saja diam, lebih tepatnya setelah dia membaca sebuah pesan di ponselnya.
"May, kamu nggak apa-apa?" tanyanya agak khawatir.
Mayang sontak menoleh kaget. Ia langsung memamerkan senyumannya sebagai isyarat kalau dirinya baik-baik saja. Karena asyik melamun, ia sampai melupakan keberadaan Khalisha di sampingnya.
"Kamu nggak apa-apa, May?" tanya Khalisha kembali.
"Iya, aku nggak kenapa-napa," sahutnya masih tersenyum. Ia sangat senang karena Khalisha tak lagi sedingin dulu.
"Kamu lagi mikirin apa? Daritadi aku lihat, kamu melamun terus. Biasanya kan kamu cerewet," tanya Khalisha penasaran.
"Nggak lagi mikirin apa-apa, kok."
Tak terasa Khalisha dan Mayang sampai di halaman sekolah. Tanpa sadar Khalisha menatap ke arah gerbang sekolah yang terbuka lebar. Tak terlihat mobil sedan hitam terparkir di luar gerbang seperti hari-hari sebelumnya. Sepertinya, papanya Mayang belum sampai di sekolah.
"Lis, kamu mau ya temani aku sampai papaku datang? Hari ini papaku telat menjemputku. Aku bosan sendirian menunggu. Please," ucap Mayang harap-harap cemas. Ia sangat berharap bila Khalisha mau menemaninya hingga papa datang menjemputnya. Namun, ia juga tahu kalau Khalisha pulang dengan jalan kaki. Tak tega rasanya membuat Khalisha telat untuk sampai ke rumahnya. Bukan tanpa alasan ia membiarkan Khalisha pulang dengan jalan kaki, tiap kali ia menawarkan untuk mengantarnya pulang, Khalisha selalu saja menolaknya. Entah apa alasan Khalisha menolak. Ia juga tak ingin memaksa Khalisha untuk mengikuti kemauannya.
"Baiklah. Aku akan temani kamu menunggu papamu. Lebih baik kita duduk di sana. Di sini sangat panas," ucap Khalisha sembari menunjuk sebuah bangku panjang yang ada di bawah pohon mangga.
Mayang mengangguk pelan menyetujui ajakan Khalisha. Ia lantas mengikuti langkah Khalisha. Melihat Khalisha begitu lama membuat pikirannya beralih pada apa yang dilihatnya di perpustakaan tadi. Rasa penasaran tentu kembali memenuhi otaknya. Ia ingin tahu bagaimana Khalisha bisa mengenal salah satu cowok populer di sekolahnya.
Tak butuh waktu lama, pantatnya akhirnya menempel pada bangku panjang itu. Angin yang berhembus pelan membawa kesejukan pada tubuhnya yang sejak tadi kegerahan. Menunggu papa di sini memang pilihan yang tepat. Selain tak lelah karena harus berdiri lama, ia juga tak perlu berpanas-panasan.
"Lis, aku boleh tanya nggak?" tanyanya menatap Khalisha.
"Tanya apa?"
"Tapi kamu jangan marah ya," ucapnya hati-hati.
"Kenapa aku harus marah?" tanya Khalisha menatap aneh Mayang.
"Aku takut kamu tersinggung nanti," sahut Mayang cemas. Ia benar-benar takut kalau pertanyaannya itu akan membuat Khalisha tersinggung.
"Ngomong aja. Aku nggak akan marah."
"Kamu kenal sama Andhika?"
"Andhika?" tanya Khalisha agak kaget.
__ADS_1
"Itu loh yang ngobrol sama kamu di perpustakaan tadi," sahut Mayang mengingatkan.
"Oh, orang itu," ucap Khalisha santai. Ia baru ingat cowok yang tadi banyak bertanya bernama Andhika.
"Iya. Kamu kenal sama dia? Ada hubungan apa kamu sama dia?" tanya Mayang penasaran.
"Aku nggak ada hubungan apa pun sama dia. Aku juga nggak terlalu kenal dia. Cuma pernah ketemu aja."
"Kamu pernah ketemu Andhika?! Di mana kamu ketemu dia? Kapan?" tanya Mayang antusias, "kalau kamu mau ketemu Andhika, ajakin aku juga dong. Aku kan juga mau ketemu sama cowok populer di sekolah ini."
"Di rumah Daniel."
Mayang sontak kaget mendengarnya. Dewi keberuntungan benar-benar berpihak pada temannya itu. Bagaimana tidak. Dia tak hanya bertemu dengan Andhika si cowok populer yang terkenal karena keramahannya, namun juga dengan Daniel si cowok populer yang dingin. Dia bahkan pernah ke rumahnya. Ia jadi merasa iri dengan keberuntungan Khalisha.
"Kamu pernah ke rumah Daniel?" tanyanya semakin penasaran.
"Iya, aku pernah ke rumah Daniel," jawab Khalisha jujur.
"Hebat banget kamu, Lis. Kamu bisa bertemu sama Daniel, bahkan sampai datang ke rumahnya. Jarang loh Daniel mau mengajak seseorang ke rumahnya. Yang aku dengar, Daniel itu susah berteman. Cuma Andhika, Nathan, dan Bayu doang yang sahabatan sama dia. Mungkin juga cuma mereka bertiga aja yang diperbolehkan datang ke rumahnya. Kamu benar-benar hebat, Lis," terang Mayang memuji, "ngomong-ngomong, ngapain kamu ke rumah Daniel? Kamu sudah kenal dia lama, ya?"
"Nggak juga. Aku ke rumah Daniel itu buat bantuin dia belajar. Karena dia ada ulangan, jadi aku bantuin dia."
"Masa sih Daniel minta bantuan kamu buat belajar?" tanyanya tak percaya, "dengar ya, Lis. Dari yang kudengar, Daniel itu cowok pintar. Lagi pula, Andhika itu juara satu di kelasnya. Masa dia minta tolong sama kamu yang beda kelas? Dia kan bisa minta tolong sama Andhika. Mereka kan satu kelas."
"Yang benar kamu, May?" tanya Khalisha memastikan. Ia tak mau berpikiran buruk tentang Daniel.
"Beneran, Lis. Masa aku bohong. Aku kan dengarnya dari temanku yang ngefans banget sama Andhika," sahut Mayang meyakinkan.
"Aku cuman kaget aja. Daniel minta aku ajarin dia. Katanya ada ulangan. Trus, pake acara nginap segala lagi di rumahnya. Kalau tau dia itu pintar dan bisa minta tolong Andhika, aku nggak akan pernah setuju buat nginap di rumahnya," ucap Khalisha kesal. Ia merasa telah dibohongi Daniel.
"Kamu nginap di rumah Daniel?!" tanya Mayang kaget, "ya ampun, Lis. Mimpi apa kamu sampai bisa nginap di rumah cowok keren? Kamu kok beruntung banget."
"Aku itu nginap di sana karena Daniel minta bantuanku buat ngajarin dia. Lagi pula aku di sana kerja, kok. Nggak ngapa-ngapain," jelas Khalisha.
"Hah?! Kerja katamu?!" Lagi-lagi Mayang dibuat kaget oleh perkataan Khalisha.
"Iya. Aku kerja sama Daniel," jawabnya santai.
"Kamu kerja apa sama Daniel?"
"Aku kerja jadi pembantunya."
"Ya ampun, Lis. Kok bisa kamu jadi pembantu Daniel?" tanya Mayang tak percaya. Ia tak menyangka bila temannya itu bekerja untuk Daniel. Sepertinya, kondisi keuangan Khalisha tak baik.
Khalisha menghela napas. Ia sebenarnya tak ingin banyak cerita tentang masalahnya. Namun, semakin lama keberadaan Mayang di sisinya membuatnya semakin nyaman. Tak bisa ia sangkal bila dirinya mulai menganggap Mayang sebagai temannya.
__ADS_1
"Lis!" panggil Mayang pelan.
"Aku bisa jadi pembantu Daniel karena aku nggak sengaja merusak androidnya. Jadi, untuk mengganti rugi androidnya, aku mau menjadi pembantunya," ucap Khalisha kembali teringat di saat ia merusak androidnya Daniel.
"Lis, kok kamu nggak cerita ke aku? Kalau aku tahu, aku kan bisa bantu kamu," ucap Mayang prihatin.
"Nggak usah, May. Ini kan masalahku. Aku bisa mnyelesaikannya sendiri," ucap Khalisha tersentuh. Ia tak menyangka Mayang akan sebaik ini padanya.
"Kamu ini gimana sih, Lis. Aku ini kan temanmu. Kamu nggak sendirian di sini. Jadi kalau ada masalah, kamu harus cerita ke aku. Jangan menanggungnya sendirian," ucap Mayang tegas, "selama kamu di rumah Daniel, Daniel nggak macam-macam kan sama kamu?"
"Tentu saja nggak. Dia baik banget malah sama aku. Selama aku nginap di sana, dia nggak pernah memperlakukan aku sebagai pembantunya. Aku malah sering merasa bersalah sama Bi Nani pembantunya. Aku dan Bi Nani kan sama-sama pembantunya Daniel, tapi Daniel malah memperlakukanku beda dengan Bi Nani."
Mayang berpikir sesaat. Dari cerita Khalisha, ia merasa ada yang aneh. Daniel yang sering digosipkan oleh teman-temannya sangat berbeda dengan yang diceritakan Khalisha. Setahunya, Daniel adalah cowok yang dingin dan tak peduli dengan orang di sekitarnya. Dia juga tak terlalu suka berbicara dengan orang yang tak dikenalnya. Bisa-bisanya ia bersikap baik kepada Khalisha.
"Apa mungkin Daniel suka sama Khalisha? Tapi nggak mungkin, ah. Mereka kan baru ketemu. Masa Daniel bisa suka sama Khalisha," batinnya.
Pandangan mata Khalisha tiba-tiba mengarah pada sebuah mobil sedan yang baru terparkir di luar gerbang sekolah. Mobil itu terlihat seperti mobil yang sering menjemput Mayang pulang.
"May, kayaknya papa kamu udah datang."
Mayang lantas mengedarkan pandangannya ke arah gerbang sekolah. Sebuah senyuman seketika terukir di bibirnya. Papa akhirnya datang menjemputnya. Biasanya, ia merasa bosan menunggu papa sendirian. Siska dan Dita tak pernah mau menemaninya menunggu papanya. Namun kali ini, Mayang merasa tak bosan menunggu. Ada teman yang bisa diajak mengobrol, membuatnya merasa waktu begitu singkat.
"Kita ke sana, yuk! Kasihan papamu kalau nunggu kita lama," ajak Khalisha, lalu bangkit dari bangku panjang itu. Ia lantas melangkahkan kakinya dengan pelan menuju gerbang sekolah.
Mayang pun segera bangkit. Ia lantas melangkahkan kakinya menuju gerbang sekolah. Ia juga tak mau membuat papa menunggunya. Namun, ketika sedang menuju gerbang sekolah, langkah Mayang terhenti. Sebuah motor tiba-tiba saja berhenti tepat di samping Khalisha.
Sama seperti Mayang, langkah Khalisha pun terhenti karena motor yang tiba-tiba berhenti tepat di sampingnya.
"Lis, cepat naik! Aku antar kamu pulang," suruh Daniel membuka kaca helmnya. Tangannya lantas memasangkan helmnya di kepala Khalisha.
"Tapi—"
"Nggak ada tapi-tapian. Cepat naik!" potong Daniel memaksa.
Mau tak mau Khalisha menuruti perkataan Daniel. Ia pun segera naik dan duduk di motor Daniel.
"May, aku pulang duluan, ya," pamit Khalisha merasa tak enak pada Mayang.
Dirasa Khalisha sudah duduk di belakangnya, Daniel langsung menutup kaca helmnya. Tanpa menoleh dan bicara pada Mayang, Daniel langsung melajukan motornya meninggalkan halaman sekolah.
Mayang menatap kepergian mereka dengan penuh tanda tanya. Ia masih tak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya. Jelas-jelas Daniel memaksa Khalisha untuk pulang bersamanya. Padahal selama ini yang ia lihat, Daniel tak pernah membiarkan siapa pun naik ke motornya, bahkan termasuk ketiga sahabatnya. Dan yang lebih anehnya lagi, Khalisha terima begitu saja diantar pulang oleh Daniel. Padahal, ia selalu saja menolak ajakannya untuk diantar pulang.
"Sepertinya hubungan mereka lebih dari sekedar majikan dan pembantu," batinnya.
***
__ADS_1