Take My Heart

Take My Heart
PESONA DANIEL


__ADS_3

Setelah 15 menit berlalu, motor kesayangan Daniel akhirnya memasuki gang sempit menuju rumah Khalisha. Sebuah senyuman tak henti-hentinya tersungging di bibirnya. Bagaimana ia tidak senang, keusilannya kali ini membuahkan hasil yang menguntungkan baginya. Ketika membonceng Khalisha, ia sengaja melajukan motornya dengan kecepatan yang tinggi. Alhasil, di sepanjang jalan, ia terus dipeluk Khalisha.


Untung saja pulang sekolah ia memilih untuk tidak bersama dengan ketiga sahabatnya. Mungkin kalau mereka ikut dan melihatnya menggunakan cara kuno seperti ini dalam mendekati seorang gadis, mereka pasti akan menertawakan dirinya.


Di halaman yang tidak terlalu luas, Daniel menghentikan laju motornya. Terlihat beberapa orang berdiri menunggu kue yang mereka beli dibungkus. Pemandangan seperti ini sudah biasa di matanya. Sejak pergi dan pulang bareng bersama Khalisha, ia jadi tahu bagaimana susah dan lelahnya mencari uang.


Khalisha segera turun dan melepaskan helm yang menempel di kepalanya, lalu menyerahkannya kepada Daniel. Hampir setiap hari ia berangkat dan pulang bareng sama Daniel, membuatnya mulai terbiasa dengan motor.


"Mampir dulu!" ajak Khalisha.


"Apa boleh?" tanya Daniel ragu. Ia takut kalau kedatangannya mengganggu.


"Tentu saja boleh. Kenapa kamu berpikir kalau aku melarangmu mampir ke rumahku? Bukannya hampir setiap hari ya kamu mampir ke rumahku?" tanya Khalisha heran.


"Tapi kelihatannya nenek kamu sibuk banget. Aku takut kalau kedatanganku akan mengganggu kalian," jawab Daniel merasa tak enak. Kedua matanya melirik ke arah nenek Khalisha yang tampak sibuk melayani pembeli.


"Kalau kamu takut bakal mengganggu, kamu ya tinggal bantuin aja. Beres kan?" ucap Khalisha tak sungguh-sungguh, "kalau gitu, aku masuk dulu."


Khalisha lantas melangkah masuk meninggalkan Daniel. Melihat neneknya kerepotan melayani pembeli, ia tentu tak bisa lama-lama menemani Daniel. Ia harus segera ganti baju dan membantu neneknya.


Lagi-lagi Daniel tersenyum. Setelah dua menit ia memikirkan ucapan Khalisha, ia akhirnya memutuskan untuk mampir ke rumah Khalisha. Sesuai dengan ucapan Khalisha, ia akan membantu nenek Khalisha menjual kue. Hitung-hitung, ini adalah usahanya dalam mendapatkan hati Khalisha. Mungkin saja dengan mendekati nenek Khalisha, itu akan mempermudah jalannya menjadikan Khalisha miliknya.


"Assalamualaikum, Nek," sapa Daniel menghampiri nenek Khalisha.


Nenek kaget mendengar suara Daniel. Nenek pun sontak mengarahkan pandangannya ke arah Daniel. Saking sibuknya melayani pembeli, nenek sampai tak menyadari kedatangan Daniel.


"Waalaikumsalam, Nak Daniel. Loh, Nak Daniel kok ada di sini? Mana Khalisha? Khalisha nggak sama Nak Daniel?" tanya nenek tak mendapati Khalisha di dekat Daniel.


Daniel menatap bingung. "Loh, bukannya Khalisha tadi masuk ke dalam ya, Nek. Nenek nggak lihat?"


"Yang bener kamu, Nak Daniel. Kok bisa Nenek nggak lihat?" tanya nenek heran.


"Ya wajar lah kalau Nenek nggak lihat. Nenek sibuk gitu," balas Daniel tersenyum.


Nenek tersenyum membenarkan ucapan Daniel. "Iya, ya. Oh ya Nak Daniel, Nak Daniel kok jam segini ada di sini? Bukannya seharusnya ada di sekolah ya sama Khalisha."


"Di sekolah lagi ada rapat guru, Nek," balas Daniel.


"Nek, ini siapa? Cucunya ya, Nek. Kok saya baru lihat?" tanya Bu Ningsih saat melihat Daniel.

__ADS_1


"Oh, ini temannya cucu saya," balas nenek ramah.


"Ganteng ya, Nek. Namanya siapa? Sudah punya pacar belum?" tanya Bu Anis. Dia terus menatap dan menampilkan senyumnya pada Daniel.


"Wah, kalau soal pacar, Nenek juga kurang tahu," jawab nenek jujur. Nenek lantas kembali menatap Daniel, lalu berkata, "Nak Daniel kalau mau masuk, masuk aja. Di dalam juga ada kakek kok."


"Iya, Nek," balas Daniel singkat. Melihat ibu-ibu yang terus menatapnya, ia menjadi ragu untuk membantu nenek Khalisha. Jujur saja, ia merasa tak nyaman ditatap seperti itu. Ia malah merasa seperti hewan yang hendak dimangsa.


"Jangan masuk dulu, Nak ganteng. Di sini aja dulu," cegah Bu Ningsih yang disertai dengan anggukan ibu-ibu lainnya.


Daniel hanya tersenyum. Ia tak tahu harus bersikap seperti apa di hadapan ibu-ibu yang membeli kuenya nenek Khalisha. Kalau bukan karena di depannya ada nenek Khalisha, ia pasti akan mengeluarkan kata-kata pedasnya seperti yang biasa ia lakukan pada cewek-cewek yang mendekatinya. Ia tak peduli apakah orang tersebut lebih tua darinya.


Di tengah kebingungannya, Khalisha keluar dengan baju santainya. Tatapan matanya terus mengarah pada Khalisha. Khalisha yang langsung menghampiri neneknya dan membantunya melayani pembeli, membuatnya semakin kagum pada sosok Khalisha.


"Nenek masuk aja ke dalam istirahat. Biar aku yang kerjakan," suruh Khalisha.


"Kalau gitu Nenek masuk dulu ya, Lis. Nenek mau masak," ucap nenek menyerahkan kantong plastik yang masih bersih, "Nak Daniel, ayo masuk! Duduk dulu di dalam."


Daniel yang hendak masuk seketika mengurungkan niatnya itu. Melihat Khalisha sedang melayani pembeli, ia memutuskan untuk kembali pada niat awalnya itu.


"Aku di sini aja, Nek. Aku mau bantuin Khalisha."


Daniel pun menghampiri Khalisha. Bukannya segera membantu, ia malah terlihat bingung. Seumur hidupnya, ia tak pernah melakukan hal yang biasa Khalisha lakukan ini.


"Kamu duduk aja di dalam," suruh Khalisha sembari meletakkan kue yang ditunjuk salah satu pembeli ke dalam plastik.


"Aku mau bantu kamu. Tapi, aku nggak tahu apa yang harus aku lakukan," ucap Daniel bingung.


"Kamu serius mau bantu aku?" tanya Khalisha tak percaya.


"Serius. Bukannya tadi kamu ya yang minta aku bantuin?"


"Aku kan tadi cuman bercanda, nggak serius kok. Kamu masuk aja ke dalam. Nanti capek lagi kalau di sini," ucap Khalisha.


"Lis, jangan disuruh masuk dong teman kamu itu. Kan nggak ada yang enak dipandang lagi," ucap Bu Retno yang baru datang.


"Iya, Lis. Jarang-jarang loh ada cowok ganteng datang ke rumahmu," imbuh Bu Ningsih.


Para pembeli yang semuanya ibu-ibu mulai ribut memperhatikan Daniel. Mereka semua sama-sama memuji ketampanan Daniel. Entah kenapa, mendengar mereka memuji Daniel, Khalisha menjadi kesal. Berulang kali ia mengatur napasnya, berusaha bersikap biasa saja di depan semua pembelinya, terutama di depan Daniel.

__ADS_1


"Kenapa aku jadi kesal begini?" batinnya bingung dengan dirinya sendiri.


"Lis, dia beneran temanmu?" tanya Anin yang berdiri di depan Khalisha.


Khalisha menatap bingung. "Memangnya kenapa, Bu?"


"Saya pikir dia pacarmu. Kalau teman, saya mau menjodohkan temanmu itu sama anak saya," ucap Bu Anin percaya diri.


Daniel yang mendengar itu mendengus kesal. Dengan tegas, ia berkata, "Maaf ya, Bu. Saya menolak dijodohkan sama anak Ibu."


Mendengar Daniel menolak, Bu Anin tak terima. "Kenapa nggak mau? Anak saya cantik loh, Nak. Pintar lagi."


Ibu-ibu yang lain tertawa kecil mendengar penolakan langsung dari Daniel, membuat Bu Anin merasa malu.


"Maaf, Bu. Secantik-cantiknya anak Ibu, saya tetap nggak bisa terima anak Ibu. Yang saya sukai bukanlah anak Ibu," jelas Daniel.


"Bu, jangan dipaksa kalau anaknya nggak mau. Lagian Ibu ini gimana sih. Lihat cowok ganteng dikit aja sudah main jodoh-jodohan segala. Ibu kan belum kenal dan tahu gimana kelakuannya," ucap salah Bu Retno menasehati.


Ibu-ibu lainnya yang sejak tadi menjadi penonton pun mengangguk pelan, seakan membenarkan perkataan Bu Retno.


Bu Anin menghela napas. Kecewa sudah pasti dirasakannya, tapi ia tak bisa memaksa kehendaknya pada orang lain. Apalagi, apa yang dikatakan oleh Bu Retno benar adanya. Dirinya baru saja melihatnya dan tak tahu asal usul dari teman Khalisha.


"Sekali lagi saya minta maaf, Bu," ucap Daniel merasa sedikit bersalah.


"Nggak apa-apa, Nak," balas Bu Anin tersenyum kecut.


"Cowok ganteng kayak kamu pasti sudah punya pacar," tebak Bu Ningsih.


Daniel tersenyum, lalu melirik ke arah Khalisha yang kini juga menatapnya. "Saya belum punya pacar, Bu. Tapi sebentar lagi saya bakalan punya pacar. Saat ini, saya lagi berusaha mendapatkan cintanya Khalisha."


Ibu-ibu tersebut sontak berteriak histeris. Mereka menganggap Khalisha sangat beruntung. Selama ini, mereka tak pernah melihat temannya Khalisha datang ke rumahnya. Tapi sekali Khalisha membawa seseorang, orang tersebut justru suka dengan Khalisha.


"Lis, kamu beruntung banget. Terima aja Lis jadi pacar kamu. Jangan sampai keduluan sama cewek lain. Sayang loh Lis kalau kamu menolak si ganteng," ucap Bu Ningsih antusias, "Ibu-ibu, kalian sudah dapat kuenya kan? Yuk, kita pulang! Kita udah kelamaan ngumpul di sini."


"Iya nih. Kita pulang, yuk! Kita biarin si ganteng mendekati Khalisha," balas Bu Anin.


"Ganteng, jangan nyerah ya mendekati Khalisha. Khalisha itu emang tertutup orangnya, tapi dia baik banget," ucap Bu Retno menyemangati Daniel.


Kumpulan ibu-ibu tersebut akhirnya pulang, menyisakan Khalisha dan Daniel berdua di teras rumahnya. Hening. Tak ada percakapan di antara mereka. Daniel bingung ingin bicara apa, sedangkan Khalisha malu mendengar ucapan ibu-ibu tersebut.

__ADS_1


***


__ADS_2