
"Senyumku hilang setelah kejadian itu. Aku takut. Kalau aku tersenyum, aku takut orang-orang yang aku sayang akan pergi seperti ayah dan ibuku."
Ucapan Khalisha tadi siang terus berputar-putar di otaknya. Walau Daniel sendiri senang karena Khalisha mau menceritakan masa lalunya, namun tetap saja rasanya sedih saat melihat wajah Khalisha yang biasanya datar terlihat sedih saat menceritakannya.
Mengingat cerita Khalisha, ia patut bersyukur. Walau jarang mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya, setidaknya papa dan mamanya masih ada di dunia ini dan ia masih bisa bertemu dengan mereka. Ia juga patut bersyukur akan hidup yang ia lalui tanpa adanya kesedihan yang berlarut-larut, berbeda sekali dengan Khalisha yang hidupnya tanpa ada senyum di bibirnya.
Daniel menghela napas. Sudah 30 menit ia merebahkan tubuhnya di kasur, namun rasa kantuk tak kunjung menyerangnya. Pandangan matanya lantas ia arahkan pada jam dinding kamarnya. Ternyata jam sudah menunjukkan pukul 12 malam. Untung saja besok hari minggu, ia tak perlu takut untuk bangun kesiangan. Dengan tangan yang memeluk guling, kedua matanya kembali menatap langit kamarnya yang berwarna biru.
"Apa yang sedang Khalisha lakukan sekarang, ya? Jadi kangen, deh. Sayang banget dia nggak punya handphone. Coba aja punya, sudah ku video call dari tadi," keluhnya dalam hati.
***
Jam masih menunjukkan pukul 8 pagi. Bila biasanya di hari minggu Daniel lebih banyak menghabiskan waktunya dengan bermalas-malasan di rumah atau pergi ke rumah ketiga sahabatnya, manun tidak di minggu ini. Daniel memandangi dirinya bayangan dirinya di cermin. Beberapa kali tangannya menata rambutnya yang sudah terlihat rapi. Sudah puas dengan penampilan dirinya, ia pun mengambil kunci motor dan melangkah pergi keluar dari kamarnya.
"Den Daniel!" sapa Bi Nani berada di depan kamar Daniel.
Daniel sontak menoleh ke belakang. "Ya, Bi. Ada apa?"
"Tumben pagi-pagi begini sudah rapi? Den Daniel mau kemana?" tanya Bi Nani penasaran. Bi Nani yang awalnya ingin membangunkan majikannya itu dibuat kaget saat melihat Daniel keluar dari kamar dengan wangi parfum yang menyengat.
"Mau jalan, Bi," balas Daniel tampak bersemangat.
Melihat wajah Daniel yang tak biasanya, Bi Nani bisa menebak kalau majikannya itu akan pergi menemui Khalisha.
"Den Daniel mau pacaran ya sama Khalisha?" tanya Bi Nani spontan.
Daniel menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. Malu sekali rasanya ketahuan oleh Bi Nani. Padahal, ia sudah bersikap biasa saja di depannya. Namun, Bi Nani bisa menebaknya dengan mudah.
"Bibi sok tahu," elaknya.
"Kok sok tahu sih, Den?" tanya Bi Nani bingung.
"Ya iyalah Bibi sok tahu. Aku kan mau jalan-jalan."
Bi Nani tersenyum. Jarang sekali ia bisa melihat Daniel seperti itu. Malu-malu saat ketahuan, sikap yang sudah lama hilang sejak kedua orang tuanya gila kerja.
"Den Daniel memang mau jalan-jalan, tapi jalan-jalannya ke rumah Khalisha."
"Kok Bibi bisa tahu sih?" tanya Daniel keceplosan. Ia buru-buru menutup mulutnya.
"Nah, ketahuan kan," balas Bi Nani tersenyum senang, "lagi pula gimana Bibi bisa tahu, dandanan Den Daniel kelewatan ganteng begitu. Parfumnya juga udah nyengat banget baunya, kayak mau narik lebah aja. Mantap banget dah. Dijamin Den, Khalisha pasti langsung klepek-klepek sama Den Daniel."
Lagi-lagi Daniel menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia benar-benar dibuat malu oleh Bi Nani. Pembantunya itu telah mengurusnya sejak kecil, jadi wajar saja bila Daniel tak pernah tersinggung dengan ucapan Bi Nani yang terkesan ceplas-ceplos.
"Ngomong-ngomong, Den Daniel sudah dapat restu belum dari calon mertua?" tanya Bi Nani membuat Daniel kaget.
"Bibiii...!" seru Daniel semakin malu, "Bibi apa-apaan sih. Pacaran aja belum, masa sudah main calon mertua aja."
"Ya nggak apa-apalah, Den. Anggap aja doa. Siapa tahu beneran jodoh," balas Bi Nani dengan entengnya.
"Udah ah, Bi. Jangan godain aku terus. Aku mau jalan." Daniel lantas meraih tangan Bi Nani dan mencium punggung tangannya.
"Tunggu dulu, Den," cegah Bi Nani.
Daniel menatap malas. Ia ingin segera pergi ke rumah Khalisha, namun tak jadi-jadi karena Bi Nani terus berbicara padanya.
"Apa lagi, Bi?"
"Den Daniel ini gimana, sih. Masa ke rumah calon mertua nggak bawa apa-apa," ucap Bi Nani melihat kedua tangan Daniel yang kosong.
"Emangnya harus ya, Bi?" tanya Daniel polos.
"Nggak harus juga tiap kali ke sana bawa sesuatu, Den. Tapi sekali-kali kan nggak apa-pa. Yah hitung-hitung buat ambil hati mereka," saran Bi Nani.
__ADS_1
Daniel tampak memikirkan saran Bi Nani. Memang benar. Selama ia datang ke rumah Khalisha, ia memang tak pernah membawa sesuatu untuk kakek dan nenek Khalisha.
"Trus aku mesti beli apa, Bi?" tanyanya bingung.
"Terserah Den Daniel aja. Yang penting ada yang dibawa ke sana."
"Ya udah deh, Bi. Kalau gitu, aku jalan dulu." Daniel kembali mencium punggung tangan Bi Nani, lalu melangkah pergi.
Bi Nani menatap kepergian Daniel dengan hati yang bahagia. Sejak mengenal Khalisha, sikap Daniel berubah. Di dalam hatinya, Bi Nani selalu berdoa agar Daniel selalu diberi kebahagiaan. Dan sekarang, Bi Nani bisa melihat kebahagiaan itu perlahan-lahan datang menghampirinya.
***
"Ini Bu pesanannya," ucap Khalisha sembari menyerahkan dua kantong plastik berukuran besar pada seorang ibu.
Ibu itu lantas mengambil kantong plastik dari tangan Khalisha dan berjalan begitu saja masuk ke dalam rumah, membuat Khalisha mau tak mau berpanas-panasan berdiri di depan pagar rumahnya. Tak lama kemudian, ibu itu berjalan dengan cepat kembali keluar dengan sebuah dompet di genggaman tangannya.
"Maaf ya Lis menunggu," ucapnya merasa tak enak.
"Nggak apa-apa, Bu."
Dengan senyum di wajahnya, ibu itu menyerahkan amplop yang diambilnya dari dalam dompet. "Ini Lis sisa bayarannya. Terima kasih ya, Lis. Nanti kalau Ibu ada acara lagi, Ibu pasti pesan kue sama kamu."
"Sekali lagi makasih ya, Bu. Kalau begitu, aku pulang dulu," ucap Khalisha pamit.
Dengan hati yang bahagia, Khalisha melangkah pergi meninggalkan rumah itu. Tak lupa ia simpan amplop itu di saku celana depannya. Ia memang sengaja mengenakan celana dengan kantong yang seharusnya berada di belakang menjadi di depan. Hal itu bukan tanpa alasan ia melakukannya. Itu semua gara-gara dirinya dulu yang pernah kehilangan uang hasil jualannya. Agar tidak malu karena ia memakai celana terbalik, ia pun mengenakan baju yang lumayan panjang untuk menutupi kantong celananya.
"Akhirnya selesai juga," ucapnya sembari mengelap keringat di keningnya.
Di tengah perjalanan, sebuah motor tiba-tiba berhenti tepat di sampingnya. Khalisha pun terpaksa menghentikan langkah kakinya. Ia menatap heran.
"Khalisha!" panggil si pengendara motor ketika membuka kaca helmnya.
"Daniel," sahut Khalisha kaget. Pantas saja ia merasa tak asing dengan motor itu.
"Aku habis mengantarkan pesanan kue. Ini mau pulang."
"Ayo, naik! Aku juga mau ke rumah kamu," perintah Daniel sembari menyerahkan helmya.
Tanpa berkata apa pun, Khalisha segera duduk di belakang Daniel. Daniel datang di saat yang tepat. Ia tak perlu lagi capek-capek berjalan menuju rumah.
Tak perlu waktu lama bagi Daniel, motor yang dikendarainya sudah sampai di depan rumah Khalisha. Khalisha lantas turun dan menyerahkan helm kepada Daniel.
"Ngomong-ngomong kamu mau ngapain ke rumahku?" tanyanya penasaran.
Daniel menatap bingung. Ia tak mungkin bilang kalau dirinya kangen sama gadis di depannya itu. Tiba-tiba saja pandangan matanya mengarah pada satu kantong plastik besar di motornya.
"Ah... aku mau bikin kue," jawabnya asal.
"Hah, bikin kue?" tanya Khalisha kaget, "kamu bisa bikin kue?"
"Nggak," sahutnya dengan senyuman penuh arti, "karna itu aku ke sini. Ajarin aku buat kue, ya."
"Oh... tapi tumben banget kamu minta diajarin bikin kue? Dalam rangka apa?"
"Ada deh," jawab Daniel yang membuat Khalisha semakin penasaran.
Khalisha tak mau pusing memikirkan Daniel yang tiba-tiba ingin membuat kue di rumah.
"Yuk, masuk!" ajaknya akhirnya.
Daniel segera mengambil kantong plastik besar dan melangkah masuk bersama dengan Khalisha. Kedua matanya tampak menelusuri seisi rumah. Rumah Khalisha terlihat sepi. Biasanya ada kakek atau nenek Khalisha yang menyambut kedatangannya dan menyuruhnya untuk duduk di ruang tamu. Namun sekarang, baik kakek maupun nenek sama sekali tak terlihat batang hidungnya.
"Kakek dan nenekmu mana, Lis? Dari tadi nggak kelihatan."
__ADS_1
"Kakekku lagi kerja, sedangkan nenekku ikut sama kakek. Dua hari ini pinggang kakek agak sakit, jadi nenek ikut buat bantuin kerjaan kakek biar cepat kelar," jawab Khalisha jujur.
"Oh... kalau gitu kita cuman berdua aja dong di sini?"
"Iya," sahut Khalisha spontan.
Tanpa Khalisha sadari, sebuah senyuman terpampang jelas di bibir Daniel. Ia merasa hari ini adalah hari keberuntungannya. Bagaimana tidak. Tanpa ia harapkan, ia bisa berduaan dengan Khalisha.
Sesampainya di dapur, Khalisha meminta Daniel untuk mengeluarkan isi kantong plastik ke meja. Daniel pun dengan pelan mengeluarkan apa saja yang ia beli di minimarket yang ia temui saat perjalanan ke rumah Khalisha. Sedangkan Khalisha, ia tampak sibuk mengambil semua wadah yang dibutuhkan dalam membuat adonan kue. Tak lupa panggangan kue ia letakkan tak jauh dari kompor agar tak perlu lagi bolak-balik mengambilnya.
Khalisha menatap tak percaya ketika melihat semua bahan yang ada di meja. Banyak sekali yang dibeli Daniel. Dari bahan-bahan yang ada, ia bisa membuat beberapa kue yang berbeda.
"Kamu mau bikin kue apa?" tanyanya sembari meletakkan wadah terakhir di meja.
"Brownis kayaknya enak," jawab Daniel dengan entengnya.
Khalisha kaget mendengarnya. "Cuma brownis? Apa ada kue lain yang ingin kamu bikin?"
"Nggak ada."
Khalisha menghela napas. Hanya untuk sebuah brownis, Daniel menghabiskan banyak uang untuk membeli bahan-bahan yang kebanyakan bukan bahan untuk membuat brownis.
"Kamu nggak salah mau bikin brownis dengan bahan begitu banyak? Ini nggak cuma bisa bikin brownis aja loh Daniel, tapi juga bisa bikin kue-kue yang lain."
"Kalau gitu sisanya buat kamu bikin kue aja buat jualan. Beres, kan," sahut Daniel dengan entengnya, "Ngomong-ngomong kamu bisa bikinnya?"
"Bisa kok," jawabnya yakin.
Khalisha dan Daniel pun mulai membuat brownis. Satu per satu bahan Khalisha takar, lalu dimasukkannya ke dalam sebuah mangkuk besar. Sedangkan yang dilakukan Daniel, ia henti-hentinya menatap Khalisha.
"Khalisha ternyata cantik juga kalau lagi serius begini," pujinya dalam hati.
Kedua mata Khalisha tak sengaja menatap Daniel. Ia merasa aneh dengan tatapan Daniel. Apalagi, Daniel terus tersenyum. Padahal dari tadi tak ada hal lucu yang terjadi.
"Daniel, daripada kamu terus lihatin aku, lebih baik kamu pecahin itu telur," suruhnya cepat.
Suara Khalisha membuat Daniel tersadar dari lamunannya. "Kamu suruh aku pecahin telur?"
"Iya," jawabnya sembari mengambil beberapa telur, "kamu pecahin ini semua, ya. Bahan begini banyak sayang kalau cuman bikin brownis. Aku bikin kue yang lain juga, ya."
"Iya," sahut Daniel bingung. Seumur hidup, ia belum pernah memecahkan telur.
Khalisha tampak fokus membuat adonan brownis, sedangkan Daniel tampak kacau memecahkan telur. Baru memecahkan lima telur, hanya ada tiga telur yang berhasil masuk ke dalam mangkuk, sedangkan dua lainnya tak sengaja jatuh ke meja. Itu pun ada kulit telur yang masuk ke dalam mangkuk.
"Ya ampun, Daniel! Kok berantakan begini? Itu telurnya kenapa bisa jatuh? Kan sayang itu nggak bisa dipakai," ucap Khalisha agak kesal saat melihat meja penuh dengan telur. Bukan karena kotor, namun karena sayang kedua telur itu harus terbuang sia-sia.
"Maaf, Lis. Ini pertama kalinya aku pecahin telur," ucap Daniel merasa bersalah.
Khalisha menghela napas, menghilangkan kekesalannya. "Yah, mau gimana lagi. Mana telurnya? Aku ajarin kamu biar telurnya bersih saat masuk ke mangkuk. Trus nggak ada lagi yang jatuh ke meja seperti ini."
Daniel menyerahkan telur yang dipegangnya pada Khalisha. Dengan sabar, Khalisha mengajarkan Daniel. Daniel sama sekali tak fokus. Ia terus memandang Khalisha.
Dirasa sudah cukup, Khalisha menyerahkan sebutir telur pada Daniel. Daniel pun langsung memecahkan telur seperti yang diajarkan Khalisha.
"Lis, lihat! Aku berhasil," teriak Daniel heboh. Ia tersenyum bahagia saat melihat telur yang berhasil dipecahkannya.
Khalisha merasa lucu dengan tingkah Daniel. Tingkahnya terlihat seperti anak kecil yang memenangkan sebuah perlombaan. Hanya memecahkan telur dengan benar saja, Daniel sudah merasa senang. Sebuah senyum tanpa sadar terukir di bibirnya.
Daniel terpana melihat Khalisha. Ini pertama kalinya ia melihat Khalisha tersenyum.
"Kamu ternyata cantik banget Lis kalau lagi tersenyum. Aku janji sama kamu, Lis. Aku akan selalu membuatmu tersenyum. Aku akan berusaha membahagiakan kamu dan membuatmu melupakan masa lalumu yang menyakitkan," janjinya di dalam hati.
***
__ADS_1