
"Mana nih Daniel? Katanya beli camilan. Kok lama banget gini," omel Nathan mondar-mandir di dekat jendela kaca kamar. Kedua matanya tak lepas menatap jalanan yang sepi.
"Iya, Than. Kok Daniel nggak balik-balik, ya? Ini udah setengah jam loh. Biasanya kan nggak lama kayak gini," sambung Bayu dengan pandangan mata yang tertuju pada acara televisi.
"Sabar dong, Than," sahut Andhika mencoba menenangkan Nathan, "mungkin aja Daniel beli camilannya di tempat yang jauh."
"Jauh dari mana? Memangnya kita ngumpul ke sini sekali dua kali aja? Kita udah puluhan kali ngumpul di sini. Kamu kan tahu sendiri cuman ada satu warung di dekat sini. Paling cuman sepuluh menit buat jalan bolak-balik dari sana ke sini" ucap Nathan menghela napas panjang, berusaha meredam emosinya. Ia lantas duduk di dekat Andhika yang tampak tenang.
Andhika berpikir sesaat. Apa yang dikatakan Nathan memang benar adanya. Seharusnya tak butuh waktu lama bagi Daniel untuk pergi ke warung karena jaraknya yang begitu dekat, apalagi sampai membutuhkan waktu setengah jam. Itu memang tak masuk di akal. Namun, ia tetap harus berpikiran positif.
"Mungkin aja kan warungnya tutup, jadi Daniel harus beli camilan di tempat yang jauh."
"Kayaknya nggak deh, Dhik. Kalau tuh warung tutup, seharusnya Daniel sudah balik ke sini buat ambil motornya. Di sini kan warungnya cuman ada satu. Kalau beli ke tempat lain, berarti harus pergi ke minimarket yang ada di pinggir jalan raya sana. Nggak mungkin kan Daniel ke sana jalan kaki," sahut Bayu tanpa melepaskan pandangannya dari layar televisi.
Nathan dan Andhika saling tatap, tak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan Bayu. Untuk pertama kalinya mereka menganggap ucapan Bayu itu masuk akal. Sering kali Bayu mengacaukan rencana mereka. Namun saat ini, mereka sependapat dengan Bayu.
"Tumben kamu pintar, Yu," ucap Nathan mengolok Bayu.
"Mungkin itu efek dari nonton. Otaknya langsung jadi encer gitu," tambah Andhika ikut mengolok Bayu.
Bayu melepaskan pandangannya dari layar televisi. Ia menatap kesal pada Nathan dan Andhika yang tertawa kecil melihatnya.
"Senang ya kalian. Seenaknya aja kalau ngomong. Otakku ini sebenarnya pintar. Akunya aja yang malas nunjukkin sama kalian," ucap Bayu tak terima.
"Masa? Kok aku nggak percaya ya sama ucapanmu," sahut Nathan masih dengan tawa kecilnya.
"Awas ya kamu, Than," ucap Bayu semakin kesal, "oh ya, ngomong-ngomong Daniel ngapain ya di luar sana? Belum balik-balik lagi. Bosan juga kalau nggak ada dia."
"Benar juga kamu, Yu. Walaupun tuh anak cuman diam aja, tapi kalau nggak ada dia rasanya ada yang kurang," ucap Nathan, "ngapain ya Daniel di luar? Jangan-jangan dia nongkrong lagi."
"Bisa jadi tuh. Wah, kalau gitu curang banget tuh Daniel. Nongkrong kok nggak ngajak-ngajak kita. Kita malah ditinggalin di sini. Emangnya kita penjaga rumahnya."
Andhika menghela napas melihat kelakuan dari kedua sahabatnya itu. Bisa-bisanya mereka bercanda di rumah orang lain. Mereka bahkan terlihat santai tanpa adanya si tuan rumah. Walaupun sering datang ke rumah Daniel, namun tetap saja ia merasa tak nyaman berada di rumah Daniel tanpa adanya sosok Daniel. Serasa menjadi tuan rumah di rumah orang lain.
__ADS_1
"Apa kita nggak sebaiknya telepon Daniel, ya?" tanya Andhika tiba-tiba, "Daniel perginya sudah lama banget loh, masa kita enak-enakkan ngumpul di sini. Ini kan rumahnya Daniel."
Nathan dan Bayu menghentikan obrolan seru mereka. Memang benar yang dikatakan Andhika. Mereka adalah tamu di rumah Daniel, namun bisa-bisanya mereka enak-enakkan di rumahnya tanpa Daniel. Sungguh tamu tak tahu diri.
"Benar juga kamu, Dhik. Coba deh kamu telepon Daniel! Tanya dia lagi ada di mana," ucap Nathan menyuruh Andhika.
Andhika lantas mengambil android dari saku jaketnya dan menyalakannya. Ia geser nomor-nomor yang tertera di layar tipis itu, mencari nomor Daniel. Namun, ketika hendak menekan nomor Daniel, tiba-tiba saja terdengar suara pintu tertutup dan kemudian suara langkah kaki yang mendekat.
"Kenapa, Dhik?" tanya Bayu menatap aneh.
"Kalian dengar nggak? Ada suara langkah kaki. Jangan-jangan itu Daniel lagi," sahut Andhika sembari menajamkan indra pendengarannya.
Benar saja. Si tuan rumah yang ditunggu-tunggu dan dibicarakan dari tadi akhirnya muncul juga di depan pintu kamar yang terbuka lebar. Dengan dua kantong plastik di tangannya, ia melangkahkan kakinya memasuki kamar.
"Nah, ini dia orang yang ditunggu-tunggu. Dari mana aja kamu, Niel?" tanya Nathan antusias.
"Beli camilan," jawab Daniel singkat. Ia segera duduk dan meletakkan dua buah kantong plastik di depan Nathan, Andhika, dan Bayu. Ia lantas mengatur napasnya dan mengelap keringat yang mengalir deras di keningnya.
"Nggak kok. Warungnya buka. Itu aku beli di sana," jawab Daniel tenang.
Tatapan mata Bayu seketika mengarah pada kantong plastik kecil berwarna putih. Tangannya lantas mengambilnya dan membukanya.
"Tumben kamu beli kue beginian. Kamu beli ini di warung juga?" tanya Bayu penasaran.
Melihat Bayu memegang kue basah pemberian nenek Khalisha, Daniel sontak merebutnya. Ia tak mau orang lain memakan kue yang khusus diberikan kepadanya, walaupun itu kepada sahabatnya sendiri.
Tak hanya Bayu saja yang kaget dengan tingkah Daniel barusan, Nathan dan Andhika pun ikut menatap kaget. Ini pertama kalinya mereka melihat Daniel tak mau berbagi makanan dengan mereka, apalagi kue basah seperti itu. Dia bahkan sampai merebutnya dari tangan Bayu. Mereka sama sekali tak tahu kalau Daniel suka makan kue seperti itu.
"Niel, bagi-bagi dong kuenya. Pelit amat," ucap Bayu dengan tatapan yang masih tertuju pada kantong plastik putih.
Daniel lantas menyodorkan makanan ringan yang dibelinya di warung tadi.
"Kalian makan yang ini aja! Aku udah capek-capek beli tuh camilan buat kalian."
__ADS_1
"Tapi aku belum pernah makan kue seperti itu. Bagi dong, Niel. Aku juga mau merasakan kue itu," ucap Bayu hendak mengambil kembali kantong plastik yang berisi kue basah itu.
Daniel segera menepis tangan Bayu. Dengan tegas, ia berkata, "Kue ini diberikan padaku. Hanya aku yang boleh memakannya."
"Huh, dasar pelit," ucap Bayu sebal.
Nathan dan Andhika benar-benar penasaran dengan sikap Daniel. Sepulang dari warung, sikap Daniel menjadi aneh. Sepertinya, ada sesuatu yang terjadi saat dia membeli camilan tadi. Mungkin, itulah yang menyebabkan Daniel pulangnya lama. Dan sayangnya, tak satu pun dari mereka yang bersamanya saat di luar tadi.
"Emangnya tuh kue dikasih sama siapa? Kayaknya penting banget," tanya Nathan dengan tatapan yang menyelidik.
"Dari neneknya Khalisha," jawabnya dengan wajah yang dibuat setenang mungkin. Jujur saja, hanya melihat kue itu saja, hatinya sudah merasa senang. Ia sudah tak sabar untuk bertemu dengan Khalisha di sekolah.
"Nenek Khalisha? Siapa dia? Perasaan kamu nggak pernah cerita apa pun soal tuh nenek."
Melihat ketiga sahabatnya yang sangat penasaran, Daniel tak punya pilihan lain selain menceritakan semuanya. Ia tahu akan sifat ketiga sahabatnya itu. Kalau dia tak cerita apa pun, ia yakin ketiga sahabatnya itu akan diam-diam mencari tahu.
Daniel menghembuskan napas panjang. Ia pun memulai ceritanya. Dari pertama bertemu dengan Khalisha, hingga perasaan aneh yang ia rasakan saat bertemu dengannya, semua itu ia ceritakan secara detail. Namun, setelah ia selesai cerita, respon yang didapatnya malah membuatnya kesal. Nathan, Andhika, dan Bayu terlihat menahan tawa. Padahal ia menceritakannya dengan serius, namun bagi mereka sepertinya cerita itu adalah cerita yang lucu.
"Sepertinya kamu suka sama cewek yang bernama Khalisha itu. Aku jadi penasaran seperti apa orangnya. Wajahnya cantik nggak?" ucap Nathan sembari membayangkan sosok cewek yang disukai oleh sahabatnya itu.
"Apa kamu tahu dia di kelas mana?" tanya Andhika tertarik dengan cerita Daniel.
"Ya, aku tahu dia ada di kelas mana," jawabnya singkat.
"Kamu tenang aja, Niel. Kami siap bantuin kamu buat deketin tuh cewek," ucap Nathan bersemangat.
"Iya, Niel. Kami bakal bantuin kamu," sambung Bayu.
"Kalian semua apa-apaan, sih. Siapa juga yang suka sama tuh cewek. Aku itu cuman penasaran aja sama dia. Nggak lebih dari itu," elak Daniel malu.
Nathan, Andhika, dan Bayu tertawa kecil melihat ekspresi Daniel yang malu. Momen ini sangat jarang terjadi pada sahabatnya yang dingin itu. Akhirnya, ada seseorang yang bisa meluluhkan hatinya. Tentu saja, mereka semakin penasaran dengan cewek yang berhasil mendapatkan hati Daniel. Mereka tak sabar ingin bertemu dengan cewek itu.
***
__ADS_1