
"Lis, Nek, kami pulang dulu," ucap Daniel berpamitan.
"Makasih ya sudah Daniel, Nathan. Kalian sudah mengantarku dan nenek pulang," ucap Khalisha tulus.
Daniel tersenyum melihat Khalisha. Entah kenapa, kedua matanya seakan enggan melepaskan pandangannya dari wajah Khalisha. Ia sendiri masih bingung dengan dirinya sendiri. Sejak bertemu dengan Khalisha, wajahnya terus saja mengusik pikirannya. Sering kali ia melamunkan sosoknya, bahkan merindukannya. Padahal, Khalisha bukan cewek dengan polesan make up seperti cewek-cewek yang mengejar-ngejar dirinya. Dia tampil sederhana dengan wajah yang cantik alami, walaupun tak ada senyuman yang tersungging di bibirnya. Namun tetap saja, wajah itulah yang selalu terbayang.
"Yuk, Niel, kita pulang!" ajak Nathan membuyarkan lamunan Daniel. Ia pun melajukan motornya dengan pelan meninggalkan rumah Khalisha.
Motor Nathan yang mulai menjauh membuat pandangannya beralih pada motornya. Dengan berat hati, ia melajukan motornya meninggalkan rumah Khalisha.
"Yuk, Nek, kita masuk!" ajak Khalisha. Rasa lelah membuatnya ingin segera mandi dan mengistirahatkan badannya di kasur.
Nenek pun berbalik dan berjalan memasuki rumah. Keringat yang membasahi tubuhnya membuat nenek ingin segera mandi. Namun, sebelum nenek melangkah masuk ke kamar mandi, nenek teringat pada Daniel.
"Lis, duduk dulu di sini!" pinta nenek menepuk-nepuk pelan kursi di meja makan.
Walau bingung, Khalisha pun menuruti perkataan neneknya. Ia segera duduk di samping nenek.
"Ada apa, Nek?" tanyanya tanpa menatap nenek. Ia lantas mengambil gelas dan menuangkan air di cerek.
"Gimana hubunganmu sama Nak Daniel, Lis?" tanya nenek penasaran.
"Baik-baik aja kok, Nek," jawab Khalisha jujur.
"Apa hubunganmu sama Nak Daniel masih sama, Lis?"
"Ya tentu saja, Nek. Aku kan pembantunya. Emang Nenek maunya hubunganku sama Daniel itu seperti apa?" tanya Khalisha bingung. Tak biasanya nenek ingin tahu hubungannya dengan Daniel.
"Apa kamu nggak ada rasa sama Nak Daniel, Lis? Nenek lihat Nak Daniel itu orangnya baik."
"Maksud, Nenek? Aku sama sekali nggak ngerti," tanya Khalisha masih dalam kebingungan dengan pertanyaan neneknya. Tenggorokannya yang semakin kering membuatnya segera meneguk air yang sudah dituangkannya di gelas.
Nenek menghela napas. "Maksud Nenek itu, kamu suka nggak sama Nak Daniel? Nak Daniel itu cowok baik loh, Lis. Nenek bisa lega kalau kamu pacaran sama dia."
Khalisha sontak terbatuk mendengar perkataan neneknya. Tak pernah sekali pun ia berpikir bila suatu saat nenek akan bertanya hal-hal yang berhubungan dengan perasaannya.
"Kalau minum itu pelan-pelan, Lis. Keselek kan jadinya," ucap nenek sembari menepuk-nepuk punggung Khalisha.
"Nek, gimana aku nggak keselek kalau Nenek nanyanya begitu," sahut Khalisha, lalu kembali minum agar rasa gatal di tenggorokannya hilang.
Nenek menatap dalam cucunya itu, lalu kembali menghela napas. Nenek bisa memaklumi bila Khalisha tak menyadari perhatian yang diberikan Daniel padanya. Selama ini, Khalisha selalu menutup dirinya dari orang lain. Jangankan berpikir untuk punya pacar, sekedar berteman pun, baginya butuh waktu bertahun-tahun.
"Apa kamu nggak lihat sikap Nak Daniel sama kamu, Lis? Nak Daniel itu perhatian banget loh sama kamu. Perhatiannya itu bukan sekedar perhatian antara majikan sama pembantunya. Nenek rasa, Nak Daniel itu suka sama kamu, Lis," terang nenek.
__ADS_1
"Itu cuman perasaan Nenek aja kali. Mana mungkin Daniel suka sama Lisha. Nenek ada-ada aja," ucap Khalisha tak percaya, "udahlah, Nek. Jangan bahas soal begituan! Lagi pula, Lisha masih ingin fokus belajar. Sebaiknya Nenek mandi duluan. Badan Nenek sudah bau."
Nenek tak bisa berkata apa-apa lagi. Nenek pun bangkit dan segera melangkah menuju kamar mandi. Sebenarnya, nenek sudah bisa menebak bila Khalisha tak akan percaya dengan perkataannya. Tapi entah kenapa, nenek merasa yakin bila Daniel menyukai Khalisha. Dan kalaupun itu benar adanya, nenek pasti akan menjadi orang pertama yang merestui hubungan mereka. Mengingat berkat dia, Khalisha mulai menjadi gadis yang terbuka.
Khalisha masih setia duduk di meja makan. Percakapannya dengan nenek terus terngiang-ngiang di pikirannya. Ia merasa hal itu tak akan mungkin terjadi. Daniel tak akan mungkin menyukai cewek miskin sepertinya. Namun, seperti perkataan neneknya tadi, ia juga merasa bila perhatian yang diberikan Daniel tak terlihat seperti perhatian majikan kepada pembantunya, melainkan seperti seseorang yang dia sukai.
"Apa benar yang dikatakan nenek? Tapi itu nggak mungkin. Masa iya Daniel menyukaiku?" tanyanya dalam hati.
Di sisi lain, Nathan akhirnya menghentikan laju motornya di halaman rumahnya. Tubuhnya yang bau karena keringat membuatnya ingin segera masuk ke dalam rumahnya untuk mandi. Ia lantas melepaskan helm di kepalanya dan turun dari motornya. Namun, sebelum melangkah memasuki rumah, kedua matanya menatap kaget dengan sosok yang ada di belakangnya.
"Daniel?!" serunya kaget.
Daniel pun melepaskan helm di kepalanya. Kedua matanya malah menatap kaget sekelilingnya. Karena tak fokus, ia malah melajukan motornya hingga sampai ke rumah Nathan.
"Ngapain kamu ke sini? Bukannya pulang ke rumah, malah ke rumahku," tanya Nathan.
"Eh, iya ya. Kok aku malah nyampe di sini, ya?" sahut Daniel garuk-garuk kepalanya yang tak gatal.
Nathan menatap aneh dengan tingkah temannya itu. "Kamu itu aneh ya Niel. Kamu yang ke sini, malah kamu yang nanya."
Daniel tersenyum kecil menertawakan kebodohannya sendiri. Belum pernah ia bertingkah konyol seperti ini.
"Kamu mau pulang nggak? Kalau nggak pulang, ayo masuk dulu! Kita ngobrolnya di dalam aja," ajak Nathan.
"Bisa nggak kita ngobrolnya di sini aja?" tanya Daniel ragu. Karena sudah terlanjur berada di rumah Nathan, terlintas di pikirannya untuk mengungkapkan apa saja yang mengganggu pikirannya. Ia berharap cara itu bisa mengurangi beban pikirannya.
"Aku bingung sama diri aku sendiri," ucap Daniel akhirnya.
"Wah, tumben banget Daniel yang masa bodoh bisa bingung dengan dirinya sendiri," canda Nathan, "emangnya kamu bingung kenapa?"
"Kalau aku ngomong, kamu jangan ketawa ya," ucap Daniel ragu.
Nathan tertawa mendengar ucapan Daniel, membuat Daniel bingung. Ini benar-benar pertama kalinya ia melihat sisi lain dari seorang Daniel.
"Apa yang kamu ketawakan?" tanya Daniel kesal.
"Ini benar-benar nggak seperti kamu, Niel. Daniel yang kukenal nggak pernah bingung sampai nyasar ke rumahku. Apalagi curhat sama aku begini, itu nggak mungkin banget," terang Nathan menghentikan tawanya.
"Kamu itu ya, Than. Aku lagi bingung, malah diketawain."
"Kamu mau curhat apa sama aku. Buruan, ya! Aku nggak punya banyak waktu."
"Belum juga curhat, udah main usir aja," ucap Daniel mendengus kesal.
__ADS_1
"Kamu mau curhat apa?" tanya Nathan mulai penasaran. Jarang-jarang ia melihat Daniel berbicara tentang dirinya sendiri.
"Sebenarnya aku bingung, kenapa aku terus terbayang-bayang wajah dia? Nggak di rumah, nggak di sekolah, wajahnya selalu ada di mana-mana. Kalau jauh dari dia, rasanya ada yang hilang. Aku nggak tau apa yang terjadi sama aku. Rasanya, aku pengen nempel terus sama dia," ungkap Daniel menghela napas.
Bukannya memberikan tanggapan, Nathan justru kembali tertawa mendengar perkataan Daniel. Ia jadi semakin yakin bila Daniel sedang jatuh cinta pada seseorang.
Daniel mendengus kesal melihat Nathan. Bukannya memberikan solusi akan masalahnya, dia malah menertawakan dirinya.
Melihat ekspresi Daniel yang mulai marah padanya, Nathan seketika menghentikan tawanya. "Daniel, Daniel, kupikir kamu mau curhat apa. Ternyata itu, ya. Kamu itu sudah jatuh cinta sama pembantu kamu si Khalisha"
Daniel kaget mendengarnya. Selama ini ia tak pernah cerita apa pun pada Nathan dan juga dengan yang lainnya, tapi Nathan bisa menebak orang yang ia maksud.
"Jatuh cinta?" tanya Daniel bingung.
"Iya, Niel. Kurasa, kamu itu sudah jatuh cinta sama Khalisha."
Daniel terdiam. Ia tampak memikirkan perkataan Nathan. Jatuh cinta, mungkin dua kata itu memang tepat untuk menggambarkan perasaannya saat ini. Apalagi, ia belum pernah jatuh cinta pada cewek mana pun. Dan baru kali ini, ia merasakan perasaan aneh pada seseorang.
"Kamu deketin aja Khalisha. Buat dia suka sama kamu," saran Nathan.
"Deketin dia? Gimana caranya?" tanyanya bingung.
Nathan menghela napas panjang. Susah juga bicara pada orang yang baru pertama kali jatuh cinta. Sepertinya, ia harus memberi banyak saran pada Daniel, terutama pada sifatnya.
"Apa, kek. Pikir aja sendiri! Dia kan pembantu kamu, jadi banyak cara dong buat deketin dia," ucap Nathan sekenanya. Bukannya tak mau memberi ide pada Daniel, untuk saat ini ia sangat malas berpikir, apalagi memikirkan percintaan orang lain. Ia sendiri saja masih belum punya pasangan.
Daniel menghela napas. Apa yang dikatakan Nathan memang benar. Ia sudah menjadikan Khalisha sebagai pembantunya, hal itu pasti memudahkan dirinya untuk mendekati Khalisha.
"Tapi, dari mana kamu tahu kalau cewek yang kusukai itu Khalisha? Aku kan nggak pernah ngomong sama kamu," tanya Daniel penasaran.
"Yaelah, Niel. Tanpa kamu ngomong, dari kelakuan kamu aja, aku, Andhika, sama Bayu udah bisa nebak kalau kamu itu suka sama Khalisha."
Daniel merasa malu mendengarnya. Ia sama sekali tak menyangka sikapnya pada Khalisha bisa membuat sahabatnya tahu tentang perasaannya. Bahkan dirinya sendiri pun telat untuk mengetahuinya.
"Ada lagi nggak yang mau diomongin?" tanya Nathan sembari mengelap keringat yang kembali mengalir di keningnya, "kalau nggak ada, pulang deh sana! Aku mau mandi, nih. Badanku udah bau dan lengket semua."
"Kamu usir aku?"
"Ya, aku usir kamu. Kupikir ada apa, ternyata mau curhat," ucap Nathan agak mengejek.
"Ya, ya, aku pulang sekarang. Makasih ya udah mau dengerin curhatanku," ucap Daniel, lalu memakai helmnya dan menyalakan mesin motornya.
"Lain kali kalau kamu mau curhat, cari waktu senggang. Jangan habis tanding begini. Aku kan capek. Mana bisa mikir buat bantuin kamu," ucap Nathan merajuk.
__ADS_1
Daniel tersenyum kecil. Ia lantas melajukan motornya meninggalkan rumah Nathan. Ada kelegaan yang ia rasakan setelah mengeluarkan perasaan yang ia pendam selama ini. Pikirannya pun menjadi kosong tanpa beban. Mungkin yang harus ia pikirkan sekarang adalah cara untuk mendapatkan hati Khalisha. Mengingat Khalisha bukanlah cewek yang terbuka, pasti akan sulit baginya untuk menaklukan hatinya.
***