Take My Heart

Take My Heart
HARI PERTAMA KERJA


__ADS_3

Bel sekolah pertanda istirahat telah berbunyi nyaring. Setelah Bu Nina keluar kelas, para penghuni kelas dengan cepat memasukkan buku-buku mereka ke dalam tas, lalu berbondong-bondong keluar kelas. Perut yang keroncongan membuat mereka bergegas untuk pergi ke kantin. Seperti biasa, Khalisha masih duduk dengan tenang di kursinya. Ia sama sekali tak terpengaruh untuk pergi ke kantin seperti yang lainnya. Ia lantas mengeluarkan bekal yang sengaja dibawanya dari dalam tasnya. Perutnya yang mulai keroncongan membuatnya ingin segera memakannya.


Mayang yang baru saja selesai memasukkan buku-bukunya ke dalam tas segera beranjak dari kursinya. Perutnya yang mulai keroncongan membuatnya ingin segera pergi ke kantin. Siska dan Dita yang duduk di belakangnya pun ikut beranjak dan berjalan dengan santai di samping Mayang. Namun, langkah Mayang yang tiba-tiba berhenti, membuat mereka ikut menghentikan langkah mereka. Baik Siska maupun Dita sama-sama menatap kesal. Bisa-bisanya mereka berhenti di meja Khalisha.


"Ke kantin yuk, Lis!" ajak Mayang.


"Kamu aja ke kantin. Aku udah bawa bekal," tolaknya sembari menunjukkan bekal yang dibawanya.


"Sombong banget. Bilang aja kalau kamu nggak ada uang. Pakai alasan bekal segala. Tu bekal pasti isinya makanan nggak enak," ucap Siska ketus.


"Sis, jangan ngomong begitu dong!" tegur Mayang tak suka dengan ucapan Siska.


Siska mendengus kesal. Berani-beraninya Mayang membela Khalisha di depannya. Ketidaksukaannya pada Khalisha semakin menjadi. Berani-beraninya dia menolak ajakan Mayang. Padahal, Khalisha sama sekali tak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan Mayang.


"Kamu udah dengar sendiri kan kalau dia nggak mau. Yuk, kita ke kantin. Nanti susah lagi dapat meja," ajak Siska dengan tatapan tajam yang masih mengarah pada Khalisha.


"Ya udah deh. Kalau begitu aku, Siska, dan Dita ke kantin ya, Lis," ucap Mayang tersenyum kecil. Ia lantas melangkahkan kakinya keluar kelas.


Siska dan Dita pun kembali melangkahkan kaki mereka mengikuti langkah Mayang. Dita lebih memilih untuk mengabaikan Khalisha. Ia malas untuk marah-marah hanya karena Khalisha seorang. Hal yang sama juga dilakukan Siska. Siska membuang muka pada Khalisha. Wajah Khalisha benar-benar membuatnya muak. Ia terus saja merasa kesal bila berada di dekatnya.


Suasana di dalam kelas kini terasa sunyi senyap. Tak ada orang lain lagi yang berada di dalam kelas selain Khalisha. Suasana sepi seperti ini tentu saja membuatnya merasa nyaman. Dengan santainya, ia membuka bekal makannya. Ia ingin menikmati bekal buatannya sebelum para penghuni kelas kembali meramaikan ruang kelas yang sepi ini. Namun, saat ia hendak memasukkan makanan ke dalam mulutnya, ia dikejutkan oleh teriakan histeris dari luar kelas. Ia menghentikan suapannya, lalu menghela napas dengan berat. Belum ada semenit ia merasakan ketenangan, namun suasana yang menyenangkan itu sudah diganggu oleh para murid di luar sana. Entah apa yang membuat mereka berteriak histeris seperti itu. Hanya saja, teriakan mereka berhasil mengganggu selera makannya.


Bukannya penasaran dengan apa yang terjadi di luar kelasnya, Khalisha malah memikirkan tempat di sekolahnya yang jarang dikunjungi oleh para murid. Ia ingin mencari tempat yang tenang selain perpustakaan sekolah. Ia mungkin bisa datang ke sana setiap jam istirahat tiba. Tangannya lantas menutup tempat bekalnya, lalu kembali asyik dengan pikirannya.


Tanpa Khalisha sadari, banyak sekali tatapan mata yang mengarah pada kelasnya. Tiba-tiba saja, seorang cowok berjalan memasuki kelasnya. Ia mengerjap-ngerjapkan kedua matanya, tak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang.


"Kenapa kamu ada di sini?" tanyanya bingung.


"Tentu saja untuk menemui kamu. Emangnya apa lagi," sahut Daniel berdiri di depan Khalisha.


"Dari mana kamu tahu kelasku?"


"Aku tadi nggak sengaja lewat sini, trus lihat kamu," jawab Daniel berbohong. Tak mungkin ia bilang kalau ia sudah lama mengetahui kelas Khalisha.


"Oh. Trus, ngapain kamu datang ke sini?"


"Ngajakin kamu ke kantin," jawabnya tersenyum kecil, "yuk, ke kantin! Aku sudah lapar nih."


"Kamu sendiri aja yang ke kantin. Aku udah bawa bekal dari rumah."


Daniel lantas melirik bekal Khalisha. Tanpa persetujuan Khalisha, ia mengambil bekal itu dan membukanya. Kaget sekaligus tak percaya pada isi bekal Khalisha. Isi bekal yang dibawanya hanyalah sedikit sambal goreng tempe dan tahu, oseng kangkung, dan nasi yang hampir memenuhi wadah bekalnya. Bekal yang Khalisha bawa malah terlihat seperti makanan sisa baginya. Bisa-bisanya Khalisha makan dengan lauk yang sangat sedikit ini. Lauk yang ada di dalam bekalnya sama sekali tak cukup untuk menghabiskan semua nasinya.


Khalisha menatap dingin, tak suka dengan sikap Daniel yang seenaknya merebut bekal makanannya. Ia lantas berkata, "Kembalikan bekalku!"


"Bekalmu cuma ini aja?"


"Ya," jawabnya singkat.

__ADS_1


"Lauknya kok dikit amat, Lis? Ini sih nggak cukup buat menghabiskan nasinya. Ini sama saja dengan makan nasi doang. Emangnya di rumah kamu masaknya cuma sedikit? Bawa bekal kok nasinya aja yang banyak," ucap Daniel sembari menutup bekal makanan Khalisha.


"Adanya memang cuma sedikit."


"Kok bisa sedikit? Emangnya di rumah kamu nggak ada yang belanja?"


"Ada, kok. Lagi pula itu juga sudah banyak. Biasanya lebih sedikit dari itu." jawabnya spontan.


Daniel tertegun mendengarnya. Hidup Khalisha benar-benar berbeda dengannya. Ia tak pernah makan dengan lauk yang sedikit. Bila hendak makan, Bi Nani akan menyiapkan makanan yang banyak untuknya. Tak peduli apakah makanan yang tersisa itu akan disimpan atau dibuang ke tempat sampah, yang terpenting makanan harus tersedia di atas meja makan.


"Kamu udah lihat kan bekalku. Tolong kembalikan padaku. Aku mau makan," pinta Khalisha.


Tak tega rasanya melihat Khalisha makan makanan seperti itu. Dengan senyum yang penuh arti, ia berkata, "Bekalmu bakal kukembalikan setelah kita sampai di kantin. Sepertinya ku harus ingatkan kamu lagi. Aku ini sudah menjadi majikan kamu. Ini adalah hari pertama kamu kerja. Jadi, kamu harus bekerja dengan baik. Jangan buat aku marah. Aku bisa kapan saja potong gaji kamu."


Setelah berkata seperti itu, Daniel berbalik dan melangkah dengan santai keluar kelas. Tangannya masih memegang bekal makanan Khalisha. Ia tersenyum puas. Sementara itu, Khalisha menatap kesal pada Daniel. Mau makan saja, ia sudah diganggu olehnya. Sepertinya ke depannya, hidupnya tak akan sama lagi dengan sebelumnya. Ia segera bangkit dari kursinya dan melangkah dengan cepat mengikuti Daniel. Ia ingin segera sampai ke kantin agar bisa menikmati bekal yang dibawanya itu.


***


Suasana kantin ketika jam istirahat tiba memang tak pernah berubah, selalu penuh dan ramai. Para murid dari berbagai kelas berbondong-bondong datang memenuhi kursi yang tersedia di kantin sekolah. Namun, suasana itu seketika terasa berbeda saat Daniel dan Khalisha tiba di kantin. Diantara serunya obrolan mereka, banyak sekali tatapan mata yang mengarah pada mereka.


Daniel akhirnya bisa duduk dengan tenang. Sepertinya, keberuntungan masih mau berpihak padanya. Hanya menunggu sebentar saja, ia sudah mendapatkan meja yang kosong. Apalagi, ia duduk ditemani oleh seorang cewek yang membuatnya melakukan hal-hal yang belum pernah ia lakukan sebelumnya.


"Kita sudah sampai di kantin, kan. Sekarang tolong kembalikan bekalku," pinta Khalisha dingin. Ia duduk berhadapan dengan Daniel.


"Iya, iya. Bakal kukembalikan, kok. Tenang aja," sahutnya santai. Ia lantas mengeluarkan uang dari kantong bajunya dan menyerahkannya pada Khalisha.


"Apa ini? Aku kan minta bekalku. Kenapa kamu memberiku uang?" tanya Khalisha bingung.


Khalisha menghela napas dengan berat. Tanpa bicara apa pun lagi, ia mengambil uang Daniel dan melangkah pergi menuju gerobak bakso. Untung saja yang mengantri hanya tiga orang. Ia sangat bersyukur karena tak perlu menunggu lama hanya untuk mendapatkan semangkuk bakso.


Sambil menunggu antrian, Khalisha memandang sekelilingnya. Rasanya aneh sekali. Entah kenapa, ia merasa para murid yang ada di kantin sedang menatap aneh padanya, terutama para murid cewek. Sesekali mereka berbisik, namun tetap saja tatapan mereka mengarah padanya.


Khalisha lantas mengalihkan pandangannya. Murid terakhir yang mengantri telah pergi. Ia pun segera maju dan memesan bakso pesanan Daniel. Tangan si penjual bakso bergerak dengan cepat. Tak butuh waktu lama, ia sudah mendapatkan semangkuk bakso dan es teh manis. Tanpa bicara apa pun, ia menyerahkan uang yang diberikan Daniel. Setelah mengambil uang kembaliannya, ia melangkah pergi menuju tempat Daniel berada.


"Ini bakso dan es teh manisnya." Khalisha meletakkan bakso dan es teh manis di depan Daniel, lalu duduk di depannya.


"Baksonya kok cuma satu aja. Aku kan beri uangnya banyak ke kamu."


"Mana kutahu kamu mau pesan berapa mangkok. Kamu kan nggak bilang apa-apa," sahut Khalisha. Ia lantas mengeluarkan beberapa lembar uang dari kantong bajunya. "Ini uang kembaliannya."


Daniel menghela napas. Khalisha memang berbeda. Padahal, ia sengaja memberikan uang lebih agar Khalisha sendiri bisa memesannya. Namun, dia sama sekali tak melakukannya. Dia malah mengembalikan uang kembaliannya tanpa kurang sedikit pun.


"Daniel, aku sudah melakukan apa yang kamu mau. Jadi sekarang, tolong kembalikan bekalku. Aku udah lapar," pinta Khalisha tak lagi bisa menahan perutnya yang keroncongan.


Mendengar hal itu, Daniel segera mengembalikan bekal Khalisha. Tentu saja Khalisha segera mengambil bekal makanannya dan membuka tutupnya. Belum juga ia memasukkan sesuap nasi ke dalam mulutnya, ia menatap kaget. Tiba-tiba saja, Daniel meletakkan beberapa butir bakso dan sedikit mie di mangkoknya ke dalam wadah bekalnya.


"Kenapa kamu meletakkan baksomu ke sini?" tanyanya bingung.

__ADS_1


"Baksonya kebanyakan. Nanti nggak habis," jawab Daniel berbohong. Ia sendiri tak tahu kenapa dirinya berbohong pada Khalisha. Mungkin karena ia tahu kalau nantinya Khalisha akan menolak pemberiannya itu, atau mungkin karena ada hal lain yang ia sendiri tak menyadarinya. Entahlah. Ia malas untuk memikirkannya.


Tak ada lagi alasan untuk menolaknya. Daniel sudah telanjur memasukkan sedikit baksonya di bekal makanannya. Diam-diam Khalisha melirik pada Daniel. Daniel terlihat biasa saja. Dia bahkan menyantap baksonya dengan santai. Khalisha kembali menatap bekal makannya. Isi bekalnya kini terlihat tak karuan. Sambal goreng tempe dan tahu dicampur dengan oseng kangkung dan bakso. Entah seperti apa rasanya nanti.


"Oh ya, Lis. Aku dengar kamu pintar. Seminggu lagi aku ada ulangan matematika. Aku mau kamu ajari aku," ucap Daniel tiba-tiba.


"Baiklah," jawab Khalisha singkat, lalu memasukkan makanan di bekalnya ke dalam mulut. Suap demi suap nasi mulai memberi kelegaan pada perutnya yang kosong. Seperti dugaannya, rasa makanan di bekalnya menjadi tak karuan. Walaupun begitu, ia tetap bersyukur. Kalau bukan karena Daniel, seumur hidupnya ia tak akan pernah merasakan bakso.


"Bagus. Kalau begitu, nanti aku ke rumah kamu," ucap Daniel bersemangat.


"Nggak usah. Biar aku aja yang ke rumah kamu."


"Kenapa kamu nggak mau aku datang ke rumah kamu?" tanya Daniel bingung. Mungkin kalau para cewek yang sering mendekatinya akan senang bila dirinya datang ke rumah mereka, namun Khalisha malah tak suka dengan kedatangannya.


"Aku nggak terbiasa aja kedatangan tamu."


Daniel terkejut mendengar jawaban Khalisha. Cewek yang ada dihadapannya itu sepertinya selalu sendiri. Ia bahkan mendapati Khalisha duduk sendirian di kelasnya. Sebuah ide tiba-tiba saja terlintas di pikirannya.


"Karena kamu nggak mengizinkan aku datang ke rumahmu, kalau begitu kamu menginap saja di rumahku," ucapnya tersenyum kecil.


Khalisha terbatuk mendengarnya. Dengan cepat ia mengambil air mineral yang dibawanya dan meneguknya hingga tersisa setengah botol.


"Aku nggak salah dengar, kan? Kamu minta aku nginap di rumah kamu?!"


"Iya, kamu nggak salah dengar."


"Yang benar aja, Daniel. Masa aku nginap di rumah kamu."


"Mau gimana lagi. Rumahmu kan lumayan jauh dari rumahku. Kamu juga pasti jalan kaki kan ke rumahku. Daripada capek-capek jalan jauh sana-sini, lebih baik kamu nginap aja di rumahku. Lagi pula, aku mudah cari kamu kalau ada apa-apa," jelas Daniel.


Khalisha ragu untuk berkata iya. Pikirannya sangat kacau. Di sisi lain, ia bisa memahami maksud dari perkataan Daniel. Memang benar, ia tak perlu bolak-balik dan berjalan jauh. Namun tetap saja, ia tak bisa menginap begitu saja di rumah orang lain, apalagi di rumah seorang cowok. Apa yang akan dikatakan oleh kakek dan neneknya nanti saat mereka mengetahui hal ini.


Lagi-lagi Daniel tersenyum kecil memandang Khalisha. Ia sudah bisa menebak akan seperti apa ekspresi Khalisha. Walaupun diam, ia bisa melihat kebingungan di wajahnya.


Dia menghela napas, lalu berkata, "Soal kakek dan nenekmu, kamu tenang aja. Aku yang akan bicara sama mereka. Lagi pula, kamu itu kan pembantuku. Di rumahku nanti, kamu nggak cuma ngajarin aku matematika aja."


"Aku mengerti. Tapi kalau kakek dan nenekku nggak setuju, aku nggak bisa nginap di rumah kamu."


"Kamu tenang aja," sahutnya tersenyum senang, "kamu makannya sudah?"


"Sudah." Khalisha menutup wadah bekalnya.


"Hari ini aku sangat senang. Kamu sudah melakukan tugas pertamamu dengan baik."


"Tugas pertama?" tanya Khalisha bingung.


"Iya. Tugas pertamamu adalah nemenin aku makan di sini."

__ADS_1


Khalisha terperangah mendengarnya. Ia benar-benar tak habis pikir dengan jalan pikiran Daniel. Ada saja tingkahnya yang membuatnya bingung. Entahlah. Seperti apa pun sifat Daniel, ia sudah menjadi pembantunya. Mau tak mau, ia harus menuruti perintah dari majikannya itu.


***


__ADS_2