
Tak terasa satu setengah jam telah berlalu. Tak pernah Khalisha sangka bila membuat kue bersama dengan Daniel ternyata sangatlah menyenangkan. Ada saja ulah Daniel yang aneh. Ketika membuat adonan, Daniel terus saja bertanya dan mengomentari apa yang dilakukannya, seolah-olah dirinya sudah biasa membuat kue. Namun, ketika ia menyuruh Daniel melakukan sesuatu, Daniel dengan hebohnya bersorak di saat pekerjaannya selesai dengan benar. Ulah Daniel yang terlihat seperti anak kecil itulah yang tanpa sadar telah membuatnya tertawa. Tertawa, hal yang selama ini tak pernah terlihat di wajahnya, hal yang selalu diharapkan oleh kakek dan neneknya, ternyata dengan mudahnya Daniel mengembalikan senyumnya yang telah lama hilang.
Tanpa Khalisha sadari, Daniel tak henti-hentinya memandangi wajah cantik Khalisha. Ia ikut bahagia melihat cewek yang disukainya itu tertawa bahagia, walaupun ia sendiri tak tahu apa yang terlihat lucu di mata Khalisha.
"Daniel, mana donat yang kamu bentuk? Bawa ke sini! Aku gorengkan sekalian," suruh Khalisha menatap sekilas. Ia tampak sibuk membolak-balik donat di wajan.
Tangan Daniel sontak memegang kain yang menutupi loyang, menahannya agar kain tak lepas. Ia tak ingin Khalisha melihat donat yang telah dibentuknya.
"Aku aja Lis yang goreng. Kamu kerjakan aja yang lain," tolaknya.
Antara percaya dan tidak dengan pendengarannya, Khalisha segera mengangkat donat dari wajan dan meletakkannya di wadah yang besar. Kedua matanya kini fokus pada Daniel yang tengah duduk di meja makan.
"Apa aku nggak salah dengar? Kamu mau menggoreng donat?" tanyanya memastikan.
"Iya. Memangnya kenapa?" tanya Daniel bingung dengan ekspresi Khalisha.
"Kamu bisa masak?"
"Nggak," jawab Daniel santai.
"Lah, kamu aja nggak bisa masak, trus gimana bisa kamu menggoreng donatnya? Nanti malah gosong lagi," balas Khalisha heran.
Daniel mendengus kesal. Sebegitu tak percayanya Khalisha padanya. Memang benar, ini adalah pertama kalinya ia memasak, walaupun itu hanya sekedar menggoreng. Tapi, ia sangat yakin bisa melakukannya. Apalagi ia dari tadi memperhatikan Khalisha menggoreng donat.
"Daniel!" panggil Khalisha pelan.
"Ya, Lis," jawab Daniel spontan.
"Gimana? Jadi goreng donat sendiri atau aku saja yang gorengkan?" tanya Khalisha kembali.
"Aku aja yang goreng, Lis," jawabnya yakin, "kamu tenang aja, Lis. Aku pasti bisa kok. Lagi pula dari tadi kan aku lihatin kamu menggoreng. Kelihatannya juga gampang."
Khalisha akhirnya menyerah. Ia lantas mengambil wadah besar dan berjalan menuju meja makan.
"Aku sudah selesai. Kamu silahkan goreng donat buatanmu itu. Aku tinggal dulu ya, Daniel. Aku mau menyapu dulu."
"Iya, Lis. Kamu tenang aja. Serahkan yang di sini sama aku," balas Daniel senang.
Heran, tentu saja Khalisha merasa heran dengan tingkah Daniel. Daniel sangat kukuh ingin menggoreng sendiri donat buatannya. Daniel bahkan tak membiarkannya membantunya membentuk donat bagiannya.
Sepeninggal Khalisha, Daniel berjalan dengan pelan membawa Loyang mendekati penggorengan. Ia menatap lama wajan yang berisi minyak panas.
"Kayaknya tadi cuman dimasukkan ke sini, trus dibolak-balik sampai warnanya coklat," gumamnya agak ragu.
Satu per satu donat buatannya dimasukkannya dengan pelan ke dalam wajan. Baru saja digoreng, tangannya terus membolak-balik donat. Karena ini adalah pertama kalinya ia menggoreng donat, selain bingung, ia juga kesusahan saat membolak-balik donat.
"Hahhh... kukira gampang, ternyata susah juga," keluhnya dengan suara yang kecil.
Sementara itu, Khalisha tampak sibuk menyapu kamarnya. Namun, pikirannya tertuju pada Daniel. Entah kenapa, ia merasa tak tenang membiarkan Daniel sendirian di dapur.
"Hahhh... kenapa aku jadi nggak tenang begini? Kira-kira Daniel bisa nggak ya goreng donatnya?" gumamnya sembari menyapu.
Baru menyapu setengah kamar, ia menghentikan aktivitasnya. Jujur saja, ia ingin kembali ke dapur untuk melihat Daniel. Ia penasaran dengan ekspresi Daniel ketika menggoreng donat. Ia pun akhirnya melangkahkan kakinya kembali ke dapur.
Tanpa Daniel sadari, Khalisha berdiri di ambang pintu dapur. Kedua matanya terus memperhatikan tingkah Daniel. Ternyata apa yang dikhawatirkannya sama sekali tak terjadi. Daniel terlihat tenang menggoreng donat. Namun sayangnya, posisinya yang cukup jauh membuatnya tak bisa melihat donat yang digoreng Daniel.
__ADS_1
"Kayaknya kamu pintar masak. Apa jangan-jangan kamu bohong ya nggak bisa masak?" tanyanya penasaran.
Daniel yang lagi asyik membolak-balik donat sontak mengalihkan pandangannya pada ambang pintu dapur. Ia tersenyum menatap Khalisha.
"Loh Lis, kok kamu ada di sini? Katanya tadi mau menyapu."
"Tadinya emang mau menyapu, cuman aku nggak tenang ninggalin kamu sendirian di sini," jawab Khalisha jujur.
"Kamu mengkhawatirkan aku?" tanya Daniel senang.
"Tentu saja. Ini kan pertama kalinya kamu menggoreng. Walau kata kamu gampang, tapi tetap saja aku nggak tenang."
Khalisha lantas melangkahkan kakinya menghampiri Daniel, lalu berkata, "Aku penasaran sama donat buatanmu. Boleh kulihat?"
"Kalau sekarang tentu saja boleh," sahut Daniel, lalu mengambil piring yang berisi donat buatannya dan memperlihatkannya pada Khalisha.
Melihat donat yang digoreng Daniel, Khalisha sontak menutup mulutnya rapat-rapat, berusaha menahan tawanya.
"Hahaha...." Suara tawa Khalisha karena tak bisa lagi menahannya.
"Kenapa kamu tertawa?" tanya Daniel bingung.
"Katanya gampang. Kok donat yang kamu goreng belum matang semua?" sindir Khalisha melihat donat yang digoreng Daniel masih berwarna kuning pucat.
Daniel sontak kaget mendengarnya. "Hah?! Belum matang?!"
"Iya, itu semua belum matang," sahut Khalisha, "tapi ini bentuknya kenapa seperti ini?"
"Memangnya kenapa? Kan sama-sama bolong di tengahnya?"
Daniel menghela napas berat. Wajahnya seketika berubah sedih. Niatnya ingin memberi kejutan buat Khalisha, namun ia tak menyangka bila yang dilakukannya itu tak sesuai bayangannya.
"Ini semua aku buat untukmu, Lis. Rencananya sebagai ungkapan perasaanku selama ini sama kamu. Aku juga ingin kamu tahu kalau aku benar-benar serius sama kamu. Tapi ternyata malah gagal."
Khalisha sangat terharu mendengarnya. Baru kali ini ada orang lain yang memperlakukannya istimewa. Ia sama sekali tak menyangka bila alasan Daniel membuat donat demi dirinya. Padahal dia anak orang kaya. Dia bisa saja membeli donat di toko kue yang mahal.
"Daniel, makasih untuk semuanya," ungkapnya tulus.
"Sebenarnya aku ingin kamu jadi pacar aku. Tapi aku tahu kalau kamu masih nggak ada rasa sama aku," ucap Daniel dengan wajah yang sedih.
Melihat wajah Daniel yang seperti itu, Khalisha jadi tahu kalau Daniel benar-benar tulus padanya. Ia lantas mengambil piring yang dipegang Daniel.
"Tinggal goreng lagi sampai matang. Beres deh," ucapnya melangkah mendekati kompor, "sambil menunggu matang, kamu bisa makan brownis yang kamu mau tadi."
Daniel tersenyum kecut. Ia lantas mendekati meja makan dan mengambil piring yang berisi brownis, lalu duduk di samping Khalisha yang tengah duduk di depan kompor.
"Pada akhirnya kamu juga yang masak. Brownis tadi kamu buat, sekarang donat punyaku juga kamu yang menggorengnya. Aku sama sekali nggak bantu kamu apa-apa," ucapnya lesu.
"Jangan seperti itu! Kan kamu bantuin aku buat adonannya. Yang menakar tepung tadi siapa? Yang mengoles mentega ke loyang siapa? Yang pecahin telur juga siapa? Kamu kan?"
"Tapi kan itu bukan apa-apa bila dibandingkan kamu."
"Jangan membandingkannya! Aku sudah terbiasa membuat kue, sedangkan kamu baru pertama kali. Untuk pemula yang baru memasak, kamu sudah bisa dibilang bagus kok," ucap Khalisha memberi semangat pada Daniel.
"Benarkah?" tanya Daniel.
__ADS_1
"Tentu saja," balas Khalisha yang membuat Daniel tersenyum, "makasih ya selama ini kamu sudah baik sama aku. Terima kasih juga untuk perasaan yang kamu berikan padaku. Selama ini aku berpikir kalau hidupku hanya perlu kakek dan nenekku saja, nggak perlu orang lain. Aku nggak pernah kepikiran untuk berteman apalagi menyukai seseorang."
"Kenapa kamu berpikir seperti itu, Lis?" tanya Daniel bingung dan juga penasaran.
Khalisha lantas meniriskan donat yang telah matang seraya berkata, "Kamu ingat kan aku pernah cerita tentang kedua orang tuaku yang meninggal? Karena takut kehilangan itulah yang membuatku lebih baik sendiri."
"Jangan seperti itu, Lis! Semuanya sudah ada yang mengatur. Mungkin Allah lebih sayang sama kedua orang tuamu. Kita harus bisa ikhlas menerimanya. Aku yakin, kalau mereka ada di sini dan melihatmu yang seperti itu, mereka pasti akan sedih," ucap Daniel menasehati.
Khalisha berpikir sesaat, lalu menghela napas dan berkata, "Kau benar, Daniel. Aku memang harus ikhlas. Makasih ya."
"Sama-sama, Lis," balas Daniel tersenyum. Ia lantas mengambil donat yang ia bentuk berbentuk hati. Kedua matanya tampak menatap sendu.
"Kamu kenapa?" tanya Khalisha heran.
"Nggak apa-apa. Aku cuma berharap bila suatu saat nanti kamu bisa membalas perasaanku, Lis. Kuharap kamu bisa menjadi pacarku."
"Daniel, apa kamu mau membantuku?" tanya Khalisha tersenyum.
"Membantumu apa, Lis? Kalau aku bisa, aku pasti bantu kamu," balas Daniel antusias.
"Aku ingin kamu membantuku untuk menyukaimu."
Perkataan itu sontak membuat Daniel kaget sekaligus bahagia. Hal yang selalu dinantikannya akhirnya terjadi juga.
"Kamu beneran, Lis?" tanyanya penasaran.
"Ya. Aku ingin jadi pacar kamu," sahut Khalisha tersenyum.
Saking bahagianya, Daniel langsung memeluk Khalisha. "Makasih, Lis. Makasih karena kamu mau menjadi pacar aku. Aku pasti akan membuatmu bahagia, Lis."
"Jangan lama-lama meluknya!" seru kakek tiba-tiba.
Daniel sontak melepaskan pelukannya. Ia tersenyum malu menatap kakek dan nenek Khalisha yang tengah berdiri di ambang pintu. Begitu pula dengan Khalisha. Khalisha hanya menundukkan kepalanya. Ia sangat malu karena ketahuan oleh kakek dan neneknya.
"Akhirnya cucu kita punya pacar, Kek," ucap nenek senang.
Kakek sama sekali tak menanggapi ucapan istrinya. Kakek malah menatap piring yang dipegang Daniel.
"Nak Daniel, yang kamu pegang itu apa?"
Daniel tersenyum malu menatap kakek, lalu berkata, "Ini donat yang aku bentuk untuk Khalisha, Kek."
Baik kakek maupun nenek sama-sama menahan tawa, membuat Daniel semakin malu. Baru kali ini mereka melihat donat seaneh itu.
"Kayaknya kalian lagi pesta. Banyak banget buat kuenya," ucap nenek menatap brownis dan donat di meja makan.
"Iya, Nek. Kalau kita yang makan, ini semua nggak bakalan habis," sambung kakek ikut memperhatikan meja makan.
"Kakek dan Nenek tenang aja. Nanti ada yang kubawa pulang," sahut Daniel.
"Oh, kalau gitu tunggu apalagi. Yuk, makan!" ucap nenek, lalu duduk. Nenek sudah tak sabar ingin makan.
Kakek, Daniel, dan Khalisha pun ikut duduk. Mereka sama-sama menikmati kebersamaan mereka. Bila dulu hanya ada kakek dan nenek yang bercanda saat di meja makan, kalau sekarang Daniel bahkan Khalisha pun ikut bercanda. Hal yang selama ini ditunggu-tunggu oleh kakek dan nenek akhirnya terjadi juga. Khalisha terlihat sangat bahagia. Ketika mereka berada di dekat dapur, mereka sangat terkejut mendengar tawa Khalisha. Keberadaan Daniel memang membawa perubahan besar pada cucu mereka. Mereka hanya berharap agar kebahagiaan ini tak akan pernah hilang.
***
__ADS_1