
Motor Kawasaki Ninja hitam milik Daniel telah terparkir di parkiran sekolah. Berulang kali ia mengatur napasnya, mencoba mempertahankan hatinya untuk tidak goyah dengan keputusan yang sudah ia ambil. Ya, pagi ini ia sudah membulatkan tekad untuk mengembalikan apa yang seharusnya menjadi milik Khalisha. Kalung dan uang yang ia janjikan sebelumnya pada Khalisha. Rencananya, pagi ini ia akan melakukan hal itu dan melepaskan Khalisha sebagai pembantunya di taman belakang sekolah. Taman belakang sekolah yang sunyi memungkinkan tak ada pengganggu yang akan datang untuk mengganggu rencananya. Ia benar-benar ingin memulai hubungan yang baru dengan Khalisha.
Saran yang diberikan Bi Nani membuat dirinya tak bisa tidur dengan nyenyak. Ada saja ketakutan yang muncul dalam benaknya. Ia takut Khalisha akan menjauh darinya. Tetapi, ia juga tak mau kalau hubungannya dengan Khalisha terus menerus seperti hubungan pembantu dengan majikan. Ia ingin mendekati Khalisha dengan bebas, bukan berpura-pura bertingkah sebagai majikan. Karena itulah, ia pada akhirnya menerima saran dari Bi Nani.
"Daniel! Daniel!" panggil Khalisha pelan.
Yang dipanggil sontak kembali fokus pada Khalisha. "Ya, Lis, kenapa?"
"Seharusnya aku yang nanya begitu sama kamu. Kamu itu kenapa? Dari tadi bengong terus. Kamu sakit? Atau belum makan?" tanya Khalisha bertubi-tubi.
"Aku nggak apa-apa kok, Lis," elaknya.
"Beneran kamu nggak apa-apa?" tanya Khalisha tak percaya.
"Beneran," balasnya meyakinkan, "Lis, temani aku bentar!"
"Kemana?" tanya Khalisha bingung. Sejak tadi wajah Daniel terlihat serius. Gaya bicaranya pun tak terdengar aneh seperti biasanya, membuatnya merasa bila ada sesuatu hal penting yang ingin dibicarakan padanya.
"Taman belakang sekolah."
"Emangnya mau ngapain di sana?" tanya Khalisha semakin bingung.
"Ada yang ingin aku omongin sama kamu, Lis," balasnya dengan wajah yang serius.
"Emangnya kamu mau ngomong apa? Kenapa nggak di sini aja ngomongnya?"
Daniel menghela napas. Bila dijelaskan di parkiran sekolah, takutnya ada yang melihat dan mendengar apa yang ingin disampaikannya.
"Please, Lis... ikut aku ya," ucapnya kali ini dengan wajah yang memelas.
Khalisha pun tak lagi menjawab. Ia menganggukkan kepalanya dengan pelan sebagai petanda setuju. Entah kenapa, ia merasa gugup. Tak biasanya Daniel bersikap seserius itu padanya.
Di sepanjang koridor sekolah, baik Khalisha maupun Daniel sama-sama menutup mulut mereka. Tak ada pembicaraan yang selalu mereka lakukan. Mereka tampak asyik dengan pikiran mereka masing-masing. Saking asyiknya dengan pikiran mereka, mereka sampai tak sadar bila langkah kaki mereka telah sampai di taman belakang sekolah.
Daniel langsung berjalan menuju salah satu pohon besar dan mendaratkan pantatnya di bangku yang ada di bawah pohon tersebut. Dengan bibir yang masih tertutup rapat, Khalisha mengikuti Daniel dan duduk di sampingnya. Namun anehnya, hatinya tak bisa tenang seperti biasanya.
"Apa yang ingin kamu omongin sama aku?" tanya Khalisha tanpa basa-basi. Ia sudah sangat penasaran dengan apa yang ingin dibicarakan Daniel padanya.
__ADS_1
Bukannya langsung menjawab, Daniel malah membuka tasnya. Tangannya lantas mengambil sesuatu dan menyerahkannya pada Khalisha.
Tentu saja Khalisha kaget melihatnya. Kalung kesayangan yang diambil Daniel, kini ada di depan matanya. Ada rasa senang di hatinya saat melihat kalung kesayangannya itu. Jujur saja, ia sangat merindukan kalung yang bertahun-tahun lamanya menemani hari-harinya.
"Apa ini? Apa kamu mau mengembalikan kalungku?" tanyanya tak percaya. Tak ada angin tak ada hujan, tiba-tiba saja Daniel mengembalikan kalung yang menjadi jaminan hutangnya.
Daniel tersenyum melihat ekspresi Khalisha yang baru dilihatnya. Walau tak tersenyum, ia tahu kalau Khalisha sangat senang.
"Kenapa diam? Kamu sudah nggak mau kalungmu lagi?"
Khalisha masih menatap tak percaya. "Kamu beneran mengembalikan ini padaku?"
"Iya," jawab Daniel singkat.
"Tapi kenapa? Bukannya kalung itu sebagai jaminan sampai aku mengganti androidmu yang rusak?"
"Di sini, kamu pernah bilang kalau kamu memberikan aku kesempatan untuk mendapatkan hatimu kan. Jadi, aku mengembalikan ini sebagai langkah awal bagiku. Aku ingin hubungan kita sebagai pembantu dan majikan berakhir pagi ini," jelas Daniel.
"Maksud kamu, kamu memecat aku?" tanya Khalisha memastikan.
"Iya, Lis. Aku memecatmu," jawab Daniel menatap lekat Khalisha, "sekarang, kamu nggak lagi bekerja sama aku. Kuharap mulai sekarang, kamu nggak menganggapku sebagai majikan kamu lagi. Aku ingin berteman denganmu, Lis."
Daniel menggenggam tangan Khalisha, lalu meletakkan kalung dan sebuah amplop di tangannya. "Ambil ini! Kamu nggak usah lagi mikirin soal mengganti androidku itu. Aku udah ikhlas. Lagi pula, aku udah punya yang baru. Jadi, kamu nggak usah mengganti androidku itu."
Khalisha ragu menerimanya. Walau ia mengerti dengan apa yang dikatakan Daniel, tetap saja ia tak bisa melepaskan tanggung jawabnya mengganti android yang sudah ia rusak.
"Tapi, Daniel—"
"Nggak ada tapi-tapian," potong Daniel cepat. Ia lantas bangkit dari bangku dan mengambil kalung Khalisha, lalu berjalan dengan pelan ke belakang Khalisha. Dengan senyum yang mengembang, tangannya melingkarkan kalung itu ke leher Khalisha.
Antara ragu dan senang kini dirasakan oleh Khalisha. Ia memang sangat senang mendapatkan kembali kalungnya, namun tetap saja ia merasa tak enak dengan Daniel karena androidnya tak kunjung ia ganti.
"Nah, sekarang sudah lengkap deh cantiknya," puji Daniel, lalu kembali duduk di samping Khalisha.
Wajah Khalisha seketika merah merona. Ia sendiri tak mengerti, tiba-tiba saja hatinya merasa sangat senang hanya karena pujian yang keluar dari mulut Daniel.
"Kalung sudah, sekarang kamu simpan baik-baik amplopnya! Nanti hilang lagi," suruh Daniel.
__ADS_1
Khalisha tak lantas memasukkan amplop tersebut ke dalam tasnya. Ia malah bingung dengan amplop yang ada di tangannya itu.
"Kenapa bengong? Masukkan amplopnya ke dalam tas!" suruh Daniel kembali.
"Ini amplop apa?" tanya Khalisha.
"Itu gaji kamu."
Mendengar hal itu, Khalisha segera mengembalikan amplop tersebut ke Daniel. Rasanya tak pantas bila ia menerimanya. Selama ini, Daniel tak pernah memperlakukannya sebagai pembantu. Pekerjaannya pun terasa sangat mudah. Aneh sekali bila ia menerima begitu saja gaji yang tak sesuai dengan kinerjanya.
"Maaf, Daniel. Kalau kalung, aku bisa menerimanya. Tapi kalau amplop ini, aku benar-benar nggak bisa menerimanya," tolaknya halus.
"Loh, kenapa? Ini kan hak kamu," tanya Daniel bingung.
"Yang pertama, kamu nggak pernah memperlakukan aku sebagai pembantumu. Aku malah merasa seperti nggak kerja sama kamu. Yang kedua, ini belum sebulan aku kerja sama kamu. Jadi, aku nggak bisa menerimanya," jelasnya jujur.
Daniel kembali menyodorkan amplop tersebut. "Terima aja ya, Lis. Anggap saja bayaran atas kue yang kamu berikan padaku."
Khalisha langsung mendorong pelan tangan Daniel. "Maaf Daniel. Aku benar-benar nggak bisa menerimanya. Kamu bisa menganggap itu sebagai cicilan ganti rugi androidmu."
"Tapi, Lis, aku benar-benar sudah ikhas. Kamu nggak usah mengganti androidku itu," balas Daniel kekeh.
"Kumohon Daniel, kamu ambil kembali amplop itu. Aku benar-benar nggak bisa menerimanya." Tanpa sadar, Khalisha memasang wajah yang memelas.
Daniel tak tega melihat wajah Khalisha. Ia menghela napas, lalu berkata, "Baiklah, aku ambil kembali amplop ini. Tapi dengan satu syarat."
Khalisha kaget mendengarnya. "Syarat?! Apa syaratnya?"
"Mulai sekarang kita berteman."
"Loh, bukannya dari dulu kita sudah berteman, ya?" tanya Khalisha bingung.
Daniel kaget sekaligus senang mendengarnya. Ia pikir selama ini Khalisha menganggapnya sebagai majikan, namun ternyata yang dipikirkannya itu salah.
Belum sempat Daniel menjawab, bel sekolah pertanda masuk kelas berbunyi dengan nyaring. Daniel mendengus kesal. Ia masih ingin berbicara dengan Khalisha. Mau tak mau, ia harus menyudahi pembicaraannya dengan Khalisha dan kembali ke kelasnya.
"Daniel, bel sudah berbunyi. Kita ke kelas, yuk! Nanti keburu guru masuk," ajak Khalisha bangkit dari bangku.
__ADS_1
Daniel pun segera memasukkan amplop tersebut ke dalam tas. Ia lantas bangkit dan berjalan dengan agak cepat bersama dengan Khalisha. Ia sangat berharap, ini adalah langkah yang baik dalam hubungannya dengan Khalisha.
***