Take My Heart

Take My Heart
NEMPEL TERUS 2


__ADS_3

Sinar matahari perlahan-lahan mulai terasa menyengat. Padahal bel sekolah pertanda istirahat belum berbunyi, namun beruntungnya, Pak Anton selaku guru olahraga menyudahi pembelajarannya.


Tak seperti teman-teman sekelasnya yang mulai membubarkan diri, Daniel, Nathan, Andhika, dan juga Bayu memilih untuk duduk di pinggir lapangan. Mereka sama-sama mengistirahatkan sejenak tubuh mereka yang lelah.


"Minumlah!" ucap seseorang sambil menyerahkan sebotol air mineral kepada Daniel.


Bukannya mengambil, Daniel malah bangkit dan pergi meninggalkan lapangan. Ia sangat malas bila harus berlama-lama dengan orang yang selalu mengganggunya.


Mikha, orang yang telah membawakan minuman untuk Daniel, ia hanya bisa menatap sedih kepergian Daniel. Dengan setengah berlari ia membeli minuman di kantin untuk Daniel dan kembali secepatnya ke lapangan, bahkan ia sendiri tak memperdulikan dirinya sendiri yang kehausan, namun yang dibelikan minuman ternyata menolaknya mentah-mentah.


Nathan yang sedari tadi memperhatikan Mikha hanya bisa merasa kasihan. Sebenarnya tak hanya pada Mikha saja, kadang kala ia juga merasa kasihan pada murid-murid cewek yang mengejar-ngejar Daniel. Mereka terus saja mendapat perlakuan tak menyenangkan dari Daniel. Apalagi sekarang, Daniel sudah mempunyai orang yang spesial di hatinya, ia pasti tak akan membiarkan satu cewek pun ada mendekatinya.


Ia lantas bangkit dan menghampiri Mikha. Walau tak bisa membantu, setidaknya ia bisa member sedikit nasehat pada Mikha.


"Sebaiknya kamu menyerah saja."


Mikha sontak menolehkan pandangannya. "Apa maksudmu?"


"Menyerah saja. Sampai kapan pun, Daniel nggak akan nganggepin kamu."


"Kenapa Daniel selalu seperti itu padaku? Padahal aku sudah lama suka dia," tanya Mikha sedih.


"Itulah perasaan. Perasaan nggak bisa dipaksakan," sahut Nathan, lalu mengelus lembut pundak Mikha, "daripada kamu setiap hari sakit hati, lebih baik kamu menyerah mengejarnya."


Mikha menghembuskan napas berat. Harus diakuinya kalau apa yang dikatakan Nathan memang benar apa adanya. Setiap ia mendekati Daniel, hanya rasa kecewa dan sedih yang ia dapatkan. Sempat ia berpikir untuk membuka hatinya untuk cowok lain, namun lagi-lagi ia kembali mengejar Daniel.


"Maaf, bukannya aku bermaksud untuk mencampuri urusanmu. Aku hanya tak tega melihatmu diperlakukan seperti tadi. Aku tahu ini berat. Tapi kuharap, kamu mencoba membuka hati kamu buat cowok lain," saran Nathan.


"Apa aku bisa?" tanya Mikha ragu.


"Aku yakin kamu bisa. Lagi pula mau sampai kapan kamu mengejar Daniel yang nggak pernah melihat kamu? Daniel bukan satu-satunya cowok. Di luar sana banyak cowok yang lebih baik dari Daniel. Mungkin saja tanpa kamu sadari ada yang sedang menunggumu."


Mikha tersenyum kecut mendengarkan ucapan Nathan. Rasanya sulit sekali menghilangkan perasaan ini.


"Makasih atas sarannya," ucapnya lirih, lalu pergi meninggalkan Nathan.


Nathan menghela napas melihat kepergian Mikha. Sekarang ia hanya bisa berharap bila cewek sebaik Mikha akan secepatnya melupakan Daniel.


"Kamu suka sama tuh cewek, Nat?" tanya Bayu tiba-tiba. Entah sejak kapan Bayu dan Andhika berada di samping Nathan.

__ADS_1


Nathan menatap malas pada Bayu. "Nggak."


"Trus, ngapain kamu ngomong begitu sama dia?"


"Aku cuman kasihan aja sama tuh cewek. Kalian tau sendiri kan kalau tuh cewek mendekati Daniel tapi selalu dicuekin sama tuh anak," jelas Nathan.


Andhika menepuk pelan pundak Nathan. "Yang kamu lakuin itu sudah benar, Than. Aku juga sebenarnya kasihan sama tuh cewek, cuman nggak enak mau nasehati dia. Nanti malah dikira ikut campur urusan pribadi lagi."


"Yah, moga-moga aja tuh cewek bisa lupain Daniel," sahut Bayu, "oh ya, ngomong-ngomong Daniel kemana ya? Main ninggalin aja kita di sini."


"Ngapain nanya ke kita. Sudah jelas jawabannya, Bay. Tuh anak pasti ke kelas pacarnya," sahut Nathan.


"Wah, tuh anak benar-benar ya. Baru sebentar aja pisah, udah disamperin aja. Nempel terus dah pokoknya," ucap Bayu geleng-geleng kepala.


"Yah, namanya juga jatuh cinta. Kayak kamu nggak pernah aja. Bukannya kamu punya pacar ya? Pasti kamu kayak gitu juga kan sama pacarmu?" timpal Andhika.


Bayu tertawa kecil mendengar perkataan Andhika. Ia lupa kalau dirinya juga tak bisa jauh-jauh dari sang kekasih.


"Yuk, ke kantin! Haus nih," ajaknya mengalihkan topik pembicaraan.


Tanpa berkata apa pun, Nathan dan Andhika berjalan meninggalkan Bayu. Bayu mendengus kesal pada dua sahabatnya itu. Dengan setengah berlari, ia menyusul Nathan dan Andhika.


"Pacarku ternyata imut juga kalau lagi serius," pujinya dalam hati.


Bel sekolah pertanda istirahat akhirnya berbunyi. Semua murid di dalam kelas mulai membereskan bukunya. Setelah sang guru keluar, satu per satu dari mereka mulai keluar kelas. Namun, saat mereka berada di luar kelas, langkah mereka langsung terhenti. Mata mereka sama-sama menatap sosok yang berdiri di depan pintu kelas mereka.


Tak perlu menunggu lama, Daniel masuk begitu saja ke dalam kelas Khalisha. Melihat bangku di depan Khalisha kosong, ia segera duduk.


"Daniel, kok kamu ada di sini?" tanya Khalisha kaget.


"Aku kangen sama kamu," balas Daniel.


Khalisha lantas memperhatikan Daniel. Daniel masih memakai baju olahraganya. Keringat pun terlihat membasahi keningnya. Tangannya lantas mengambil botol minumannya dan menyerahkannya pada Daniel.


"Minumlah! Kamu pasti haus."


"Kamu tau aja aku lagi haus," sahut Daniel tersenyum senang. Ia lantas mengambil minuman Khalisha dan meneguknya hingga setengah. Karena buru-buru ingin melihat Khalisha, ia sampai lupa kalau tenggorokannya terasa kering saking hausnya.


"Kalian kalau pacaran jangan di depanku yang jomblo ini dong," keluh Mayang melihat kemesraan mereka.

__ADS_1


"Salah sendiri. Kenapa kamu masih di sini. keluar sana," usir Daniel menatap datar Mayang.


"Ya elah. Gitu amat sih. Sama Khalisha aja dimanis-manisin ngomongnya," sahut Mayang kesal dengan Daniel, "ya udah deh, aku ngalah. Lis, aku ke kantin dulu."


"Ya, May. Maaf ya nggak nemenin kamu ke kantin," balas Khalisha tak enak.


"Nggak apa-apa kok. Aku ngerti. Kalian kan baru jadian, ya pastinya pacar kamu tuh pasti ingin nempel terus sama kamu. Aku pergi dulu ya. Takut ganggu." Setelah berkata seperti itu, Mayang segera melangkahkan kakinya keluar kelas.


Khalisha menunduk malu mendengar ucapan dari sahabatnya itu. Di tambah lagi tatapan dari teman-teman sekelasnya, membuatnya merasa semakin malu. Sedangkan Daniel, ia sama sekali tak terpengaruh dengan sekitarnya. Di matanya hanya ada Khalisha yang terlihat manis saat dia malu.


"Kita ke kantin juga yuk! Aku lapar," ajak Daniel, lalu bangkit dari kursi.


"Tunggu!" cegahnya.


"Apa?"


"Aku bawa bekal untukmu," ucap Khalisha malu-malu. Ia lantas mengambil bekal makanan di dalam tasnya dan menyerahkan satu di depan Daniel.


Lagi-lagi Daniel dibuat senang. Ia sama sekali tak menyangka kalau Khalisha akan membuatkan bekal untuknya. Ia lantas duduk kembali dan membuka bekal di depannya.


"Ini kamu sendiri yang buat?"


"Iya. Aku nggak tau kamu suka atau nggak? Kata nenek sebagai pacar, aku harus membuatkan bekal untukmu. Jadi aku masak aja apa yang ada. Maaf ya kalau masakanku nggak sesuai dengan seleramu," ucap Khalisha cemas.


"Jadi, nenek yang suruh kamu buat bekal ini untukku?" tanya Daniel agak kecewa. Ia pikir Khalisha bernisiatif membuatkan bekal untuknya.


"Iya. Karena ini pertama kalinya aku pacaran, jadi aku nggak tahu apa yang harus aku lakukan sebagai pacarmu. Nenek cerita sama aku waktu nenek pacaran dulu sama kakek, nenek selalu membuatkan bekal untuk kakek. Jadi, nenek suruh aku juga membuatkan bekal untukmu," jelas Khalisha.


Lagi-lagi Daniel tersenyum melihat Khalisha. Rasa kecewa seketika menghilang. Ia sadar. Dirinya dan Khalisha sama. Mereka sama-sama baru merasakan yang namanya pacaran.


"Makasih ya sudah dibuatin bekal."


"Sama-sama. Maaf ya kalau nggak sesuai selera kamu," ucap Khalisha tersenyum.


"Nggak kok. Apa pun yang kamu masak, aku bakalan makan," balas Daniel tak henti-hentinya tersenyum.


Baik Daniel maupun Khalisha sama-sama menikmati bekal mereka. Daniel sangat menikmati bekal buatan pacarnya itu. Selain Bi Nani, Khalisha adalah wanita kedua yang membuatkan makanan untuknya. Walau agak risih dengan tatapan teman-teman sekelasnya, hatinya sangat senang melihat Daniel makan bekal buatannya dengan lahap.


***

__ADS_1


__ADS_2