
"Maaf ya, Dek. Ibu nggak bisa terima kamu kerja di sini. Ini hanya warung kecil. Ibu nggak bisa gaji kamu. Lagian juga Ibu sudah punya orang buat bantu-bantu di sini."
Begitulah jawaban yang Khalisha terima dari beberapa pemilik warung yang ia lamar. Ia menghela napas. Mencari pekerjaan ternyata tak semudah yang ia bayangkan. Ditambah lagi, statusnya yang masih seorang pelajar membuat lamaran pekerjaannya ditolak mentah-mentah.
Sinar matahari terasa menyengat di kulit. Khalisha terus saja melangkahkan kakinya di sepanjang jalan. Sesekali ia mengelap keringatnya yang bercucuran membasahi keningnya, lalu kembali memperhatikan toko-toko di pinggir jalan. Namun sayangnya, apa yang ia cari tak kunjung didapatkannya. Walau begitu, wajahnya tetap saja tak menunjukkan ekspresi apa pun. Ekspresi wajahnya yang selalu datar, tentu membuat tak ada seorang pun yang tahu bagaimana perasaannya yang sesungguhnya.
Daniel menghentikan laju motornya di depan sebuah kafe. Melihat Daniel menghentikan laju motornya, Nathan, Andhika, dan Bayu pun ikut menghentikan motor mereka.
"Jadi, kita bakalan nongkrong di sini nih?" tanya Nathan menatap jendela kaca kafe.
Tak terdengar jawaban dari mulut Daniel. Ia masih dengan posisinya duduk di motor dengan tangan yang masih memegang helm. Kedua matanya sama sekali tak melihat ke arah kafe, melainkan pada seorang gadis yang berjalan dengan santainya.
"Niel! Daniel!" panggil Nathan menepuk pundak Daniel.
Daniel menoleh kaget. Dengan sebal, ia berkata, "Apa-apaan sih kamu, Than? Ngagetin orang aja. Kalau jantungku copot gimana? Emang kamu mau tanggung jawab?"
"Ya elah, Niel. Gitu aja ngambek. Kayak cewek aja," sahut Nathan, "lagian kamu juga yang aneh. Bukannya ajak kita masuk ke dalam, ini malah panas-panasan di sini."
"Kalau kalian mau masuk, ya masuk aja duluan. Nggak usah pakai acara nunggu aku," ucap Daniel tanpa menatap Nathan.
"Loh, kan kamu yang ngajakin kita ke sini. Masa kita masuk duluan nggak bareng kamu? Kita datang ke sininya kan bareng-bareng."
"Udah ngomongnya? Nggak usah bawel! Kalian masuk aja sana," ucap Daniel ketus.
Andhika tiba-tiba menepuk pundak Nathan, lalu berkata, "Udah, Than. Kita masuk aja duluan. Nanti juga Daniel nyusul kita. Kita nggak usah ribut-ribut di sini."
"Iya. Than. Yuk, masuk! Kita udah kelamaan berdiri di sini. Aku nggak mau loh kulitku jadi hitam lagi gara-gara kelamaan berjemur di sini," sambung Bayu sembari mengipas-ngipas wajahnya dengan topi.
__ADS_1
"Ya udah kalau kalian maunya begitu," ucap Nathan pasrah. "Niel, kami masuk dulu. Ingat! Jangan kelamaan di sini!"
Daniel sama sekali tak menanggapi perkataan ketiga temannya itu. Kedua matanya tak sedetik pun lepas dari segala gerak-gerik gadis yang menjadi incarannya itu. Berbeda dari Daniel, Nathan, Andhika, dan Bayu akhirnya melangkahkan kaki memasuki kafe. Walau bingung dengan sikap Daniel, mereka tak mau berlama-lama berada di luar kafe yang hawanya terasa sangat panas.
Langkah kaki Khalisha berhenti tepat di depan sebuah kafe. Dari jendela kaca depan kafe, ia bisa melihat ramainya pengunjung yang datang memenuhi meja yang tersedia. Walau cuaca sangat terik di luar, namun sepertinya hal tersebut tak menghalangi niat pengunjung untuk datang ke kafe. Entah kenapa, ada keraguan yang dirasakannya ketika hendak memasuki kafe. Mengingat beberapa lamaran pekerjaannya yang ditolak dan statusnya sekarang yang masih seorang pelajar, ia tak yakin bila dirinya akan diterima bekerja di sana.
"Hai, cewek aneh. Akhirnya kita ketemu lagi," sapa Daniel mendekat.
Khalisha sama sekali tak menggubris sapaan Daniel. Ia menatap datar, mungkin lebih tepatnya malas bertemu kembali dengan cowok menyebalkan yang pernah menabraknya itu. Daripada mengurusi hal yang tak penting, ia memilih untuk bergegas melamar pekerjaan agar bisa membantu kakek dan neneknya di rumah. Tanpa berkata apa pun, ia melangkahkan kakinya melewati Daniel. Namun, baru beberapa langkah menuju pintu kafe, langkahnya terhenti karena Daniel menghalangi jalannya.
"Kau mau nongkrong di sini?" tanya Daniel penasaran.
"Bukan urusanmu."
"Hei, jangan jutek gitu dong. Aku kan nanyanya baik-baik. Namaku Daniel. Siapa namamu?"
"Hei, siapa namamu?" tanyanya kembali. Ia sedikit kesal. Cewek itu tampak tak tertarik berkenalan dengannya.
"Khalisha," jawabnya singkat. Walaupun ekspresinya datar, namun sorot matanya menunjukkan ketidaksukaan dengan kehadiran Daniel. "Sudah, kan? Minggir! Aku mau lewat."
Daniel menatap tak percaya. Khalisha, cewek aneh yang saat ini ada di hadapannya itu memang berbeda dengan cewek-cewek yang selama ini ia kenal. Dia sama sekali tak basa-basi saat bicara denganya, sama seperti saat pertama kali bertemu. Alih-alih marah dengan sikap cewek itu, ia malah semakin tertantang ingin mengenal Khalisha.
Melihat Daniel hanya diam menatapnya, Khalisha kembali melangkahkan kakinya melewati Daniel. Ia tak ingin membuang waktu berharganya hanya untuk meladeni Daniel. Ia hanya ingin cepat-cepat melamar pekerjaan di kafe. Bila lamarannya ditolak lagi, ia bisa segera pulang ke rumah agar nenek dan kakeknya tidak curiga. Khalisha memang sengaja merahasiakan hal itu pada kakek dan neneknya. Bila ia bicara, sudah bisa dipastikan bila kakek dan neneknya tidak akan mengizinkannya untuk bekerja.
Pergerakan Khalisha membuat Daniel tersadar dari lamunannya. Ia kembali melangkahkan kakinya menghalangi Khalisha masuk ke dalam kafe.
"Minggir!" Khalisha menatap bingung, tak mengerti jalan pikiran Daniel.
__ADS_1
"Buru-buru banget. Kamu beneran mau nongkrong di dalam?"
"Itu bukan urusanmu. Minggir! Aku mau masuk."
"Kalau gitu, gimana kalau kamu nongkrong bareng aku aja? Kamu tenang aja. Aku yang traktir," bujuk Daniel percaya diri. Ia yakin kalau Khalisha akan menerima ajakannya itu.
"Terima kasih. Tapi maaf, aku datang ke sini bukan untuk nongkrong. Kalau begitu aku permisi dulu," ucap Khalisha tak jadi masuk ke dalam kafe.
Dengan berat hati, Khalisha harus segera pulang ke rumah. Ia sudah terlalu lama pergi. Takutnya, kakek dan neneknya akan pergi mencari dirinya. Semua ini gara-gara Daniel. Dia benar-benar menyebalkan. Kalau bukan karenanya, ia bisa mencoba memasukkan lamaran pekerjaan di kafe.
"Hei, kau mau kemana? Kamu nggak jadi masuk ke dalam?" tanya Daniel mengikuti Khalisha.
Khalisha sama sekali tak menanggapi Daniel. Ia terus saja berjalan meninggalkan Daniel yang terus mengikutinya di belakang. Sementara itu, Nathan, Andhika, dan Bayu menatap tak percaya dengan apa yang baru saja mereka saksikan. Sejak masuk ke kafe, kedua mata mereka asyik menonton Daniel yang terlihat di jendela kaca kafe. Mereka sama-sama terkejut dengan sikap Daniel pada seorang cewek. Baru kali ini, Daniel terlihat bicara panjang lebar, bahkan sampai mengikutinya.
"Aku nggak nyangka Daniel bisa seperti itu sama cewek. Kalian kenal nggak sama tuh cewek?" tanya Andhika pada dua sahabatnya.
"Nggak," jawab Bayu, "kalau kamu, Than? Kamu kan paling dekat sama Daniel."
"Aku juga nggak kenal. Malah aku baru kali ini lihat tuh cewek," jawab Nathan menyeruput es jeruknya.
"Kok bisa kamu nggak tahu. Emangnya Daniel nggak ada cerita sama kamu," tanya Bayu agak kaget.
"Daniel sama sekali nggak cerita apa pun. Tapi hebat juga tuh cewek. Baru kali ini aku lihat Daniel kayak gitu."
"Kayaknya kita harus cari tahu tuh cewek. Hitung-hitung bantuin Daniel," usul Andhika tiba-tiba. Ia masih tersenyum geli melihat sikap Daniel.
Baik Nathan maupun Bayu sama-sama setuju dengan usul Andhika. Jarang sekali bagi mereka untuk melihat secara langsung sahabatnya yang selalu dingin dengan orang lain bisa tertarik dengan seorang cewek. Tak peduli secantik apa pun wajahnya, Daniel tetap saja bersikap dingin dan mengabaikan mereka. Mereka bahkan sempat menyerah karena sifat Daniel. Namun kali ini, pemandangan yang mereka lihat sangatlah berbeda dari biasanya. Cewek itu sungguh hebat. Dia bisa membuat seorang Daniel mengikutinya.
__ADS_1
***