Take My Heart

Take My Heart
BEKAL


__ADS_3

"Daniel, ini untukmu," ucap Khalisha sembari memberikan wadah kecil, "cuman itu yang bisa kubuat. Anggap saja itu sebagai hadiah ulang tahun dariku. Memang agak telat karena seharusnya aku memberikan itu malam tadi. Tapi, kuharap kamu suka."


Perkataan Khalisha pagi tadi masih saja menempel di pikirannya. Gara-gara itu pula, sepanjang pelajaran Pak Rendra, Daniel sama sekali tak bisa fokus. Ia terus saja menahan senyumnya. Hari ini, hatinya terasa berbunga-bunga saking bahagianya.


Bel sekolah pertanda istirahat akhirnya berbunyi dengan nyaring. Pak Rendra pun sontak menghentikan pembelajarannya. Setelah memberi tugas yang harus dikerjakan oleh murid-muridnya, Pak Rendra mengambil tas dan beberapa buku di atas meja guru, lalu pergi meninggalkan ruang kelas.


Tak seperti teman-teman sekelasnya yang berbondong-bondong menuju kantin, Daniel masih duduk dengan tenang di kursinya. Ia sama sekali tak terpengaruh untuk pergi ke kantin seperti yang lainnya. Ia masih saja asyik dengan lamunannya.


Mikha melangkah dengan pelan menghampiri Daniel. Tak terhitung jumlahnya ia dibuat kecewa oleh Daniel. Namun anehnya, bukannya menjauh dari Daniel, ia sama sekali tak kapok untuk mendekati cowok yang jelas-jelas tak pernah menganggap keberadaannya.


"Daniel, kita ke kantin bareng, yuk!" ajak Mikha.


Tak terdengar jawaban dari mulut Daniel. Daniel masih saja mengabaikannya, membuat hatinya kembali terluka. Banyak fans cewek Daniel yang berpindah haluan karena tak tahan dengan sifatnya yang dingin, namun berbeda dengan Mikha. Ia masih saja bertahan berada di sisi Daniel walau terus-menerus diabaikan.


"Daniel, kita ke kantin bareng, yuk!" ajaknya lagi.


Daniel akhirnya menatap Mikha. Namun, tatapan matanya begitu dingin. Ia tampak tak suka dengan keberadaan Mikha.


"Bisa nggak kamu nggak ganggu-ganggu aku? Kalau kamu mau ke kantin, ke kantin aja sendiri. Nggak usah ajak-ajak aku," ucap Daniel kesal.


"Kok kamu begitu sih sama aku, Niel? Kenapa kamu selalu menolak ajakanku?" tanya Mikha kecewa.


"Karena aku nggak suka kamu. Jadi please, jangan ganggu aku!" sahut Daniel tanpa basa-basi.


Sakit sekali rasanya mendengar perkataan Daniel. Kedua matanya tampak berkaca-kaca menahan air matanya. Ia tak pernah menyangka kalau selama ini Daniel menganggapnya sebagai pengganggu. Selama ini, ia tulus menyukai Daniel. Namun ternyata, rasa sukanya itu bertepuk sebelah tangan.


"Kenapa kamu nggak suka sama aku? Apa yang harus kulakukan agar kamu suka sama aku?"

__ADS_1


"Alasan, ya? Aku nggak punya alasannya. Aku memang nggak suka sama kamu. Kamu juga nggak perlu melakukan apa pun untuk membuatku suka sama kamu. Kamu hanya akan membuatku risi," sahut Daniel dingin, "oh ya, bilang juga sama teman-temanmu yang lain, jangan dekati aku lagi. Aku nggak suka."


Mikha tak dapat lagi membendung air matanya. Sulit sekali rasanya menerima kenyataannya. Tanpa berkata apa pun lagi, ia melangkah pergi meninggalkan kelas.


Nathan menghela napas melihat pemandangan yang tak mengenakkan itu. Ingin sekali ia menasehati Daniel atas sikapnya yang kasar itu. Walau bagaimanapun juga, Mikha adalah gadis yang baik. Dia bahkan rela menonton tiap kali Daniel bertanding. Tak sepantasnya dia menerima perlakuan seperti itu dari Daniel. Namun sayangnya, selama ini tak satu pun nasehat darinya yang didengar oleh Daniel. Daniel tetap saja bersikap dingin dengan omongan yang kadang menyakitkan hati.


"Wah, parah kamu, Niel. Pedes banget omonganmu tadi. Anak orang tuh kamu bikin nangis," celetuk Bayu tiba-tiba.


"Iya, Niel. Omonganmu tadi memang sudah keterlaluan sama Mikha. Mikha kan baik-baik ngajak kamu, seenggaknya kamu tolaknya baik-baik lah. Nggak usah kasar gitu," ucap Andhika mencoba menasehati, "lebih baik kamu samperin dia, trus minta maaf."


"Biarin aja. Kalau nggak begitu, dia bakalan terus nempel-nempel aku," sahut Daniel tak peduli.


"Emangnya kamu nggak merasa bersalah sama sekali?" tanya Andhika penasaran.


"Nggak," jawab Daniel spontan.


Bila sudah begini, Andhika dan Bayu tak bisa berkata apa-apa lagi. Daniel memang keras kepala. Sangat susah untuk di kasih tahu.


"Niel!" panggil Nathan sembari menepuk pelan pundak Daniel.


Daniel sontak menoleh kaget ke arah Nathan. Pikirannya yang melayang-layang entah kemana dengan terpaksa kembali ke dunia nyata. Ia menatap kesal pada Nathan yang sudah mengganggu lamunan indahnya.


"Niel, kamu kok nggak masukkin buku-buku kamu ke tas? Emangnya kamu nggak ke kantin?" tanya Nathan penasaran.


Andhika dan Bayu kini berdiri di samping Nathan. Tinggal menunggu Daniel saja, mereka akan pergi ke kantin.


"Kalian berdua ngapain ngobrol? Yuk, ke kantin! Aku udah lapar," ajak Bayu.

__ADS_1


"Kalian pergi aja ke kantin. Aku nggak ikut," sahut Daniel santai. Tangannya mulai memasukkan buku-bukunya ke dalam tas.


"Tumben banget kamu nggak ikut ke kantin? Kamu nggak lapar? Perutku aja udah keroncongan dari tadi," tanya Bayu.


"Aku bawa bekal. Jadi kalau kalian pengen ke kantin, kalian ke kantin aja. Aku nggak ikut."


Baik Nathan, Andhika, dan Bayu sama-sama kaget dengan apa yang baru saja mereka dengar. Mereka tak percaya bila Daniel yang anti membawa bekal makanan karena menganggap hal itu memalukan, hari ini membawa bekal makanan.


"Kamu bohong, kan? Daniel yang kukenal nggak pernah bawa-bawa bekal makanan. Kan kamu sendiri yang bilang kalau itu memalukan," ucap Nathan tak percaya.


"Iya, Niel. Kamu nggak mungkin bawa bekal, kan?" tanya Andhika juga tak percaya.


"Halah... itu pasti akal-akalan kamu aja kan, Niel? Bilang aja kalau kamu nggak mau ngumpul bareng kita di kantin. Bilang aja langsung. Nggak usah pakai alasan bawa bekal segala," sambung Bayu menebak.


Daniel menghela napas. Melihat ketiga temannya yang tak percaya padanya, Daniel pun akhirnya mengeluarkan sebuah wadah kecil dari dalam tasnya. Sebenarnya, ia tak mau memperlihatkan bekal buatan Khalisha di depan ketiga sahabatnya itu. Ia ingin menikmati sendiri kue yang dibuat Khalisha untuknya. Namun, daripada membuat Nathan, Andhika, dan Bayu salah paham, mau tak mau ia memperlihatkannya.


"Kalian sudah lihat sendiri, kan? Pergi sana!" sahut Daniel mengusir.


Baik Nathan, Andhika, dan Bayu sama-sama menatap malas. Kini mereka mengerti kenapa Daniel menolak ajakan mereka. Bekal yang dibawa oleh Daniel pastilah berasal dari Khalisha. Jika bukan, dia tak akan mau membawa bekal makanan ke sekolah.


"Kayaknya tuh kue enak, Niel. Bagi-bagi dong. Aku mau coba," ucap Bayu iseng. Seperti sebelumnya, ia tahu kalau Daniel tak akan pernah membiarkannya mencicipinya, walau hanya satu kue.


"Beli aja di kantin sana! Ini punyaku," sahut Daniel dingin.


"Nggak usah pasang wajah begitu. Aku kan cuman bercanda. Aku tahu, buatan Khalisha itu cuman kamu yang boleh makan," ucap Bayu menyudahi keisengannya, "kalau gitu kita ke kantin dulu."


Nathan, Andhika, dan Bayu akhirnya pergi meninggalkan ruang kelas. Mereka tak lagi menganggu Daniel. Semakin lama, mereka bisa melihat perubahan sikap Daniel. Khalisha memang gadis yang hebat. Ia bisa membuat orang sedingin Daniel berubah.

__ADS_1


Melihat ketiga sahabatnya sudah pergi, Daniel membuka bekal makannya. Satu per satu kue ia makan dengan lahap. Ia tak pernah membayangkan akan mendapat hadiah ulang tahun. Kue buatan Khalisha adalah hadiah pertama yang diterimanya setelah sekian tahun. Walau tak terlihat seperti kue mahal, hatinya sangat senang lantaran orang yang membuatnya adalah Khalisha.


***


__ADS_2