
"Memang nya di mana kedua orang tua mu tinggal?"ucap Indri.
"saya hanya memiliki seorang ibu dan adik laki-laki Tante,ayah saya sudah meninggal,ketika adik saya masih kecil"ucap Dara sendu.
"Maafkan Tante sayang,membuat kamu sedih"ucap Indri lembut dan menghampiri nya.
"Ah...tidak apa-apa Tante,itu memang sudah takdir dari Allah,dan mang jalan nya seperti ini,jadi Dara jalani,syukuri,dan nikmati setiap proses nya"ucap Dara menyemangati dirinya.
"Kamu memang anak yang baik"ucap Indri mengelus punggung tangan Dara.
Aryan yang diam-diam mengamati dua perempuan di depan nya merasa ada yang berbeda di dalam hati nya.
"Pak,apakah sudah selesai berkas nya?"tanya Dara
Papa Reino tertawa geli mendengar panggilan 'pak' pada putranya.
"Ya...ya.ya...pak"ucap papa Reino meledek.
Dara yang bingung pun hanya mengerutkan kening nya.
"Papa,apa yang papa tertawaan?"tanya Aryan yang malu,melihat tingkah papa nya.
"Mas,jangan bertingkah konyol?"ucap Indri menatap tajam.
"Maafkan aku sayang,hanya terdengar lucu saja,putraku yang tampan ini di panggil pak"ucap Reino menahan tawa nya.
Dara yang baru saja paham dengan ucapan dari papa atasan nya,dia pun sedikit malu.
__ADS_1
"Memang nya papa mau aku di panggil apa oleh karyawan ku,apa harus di panggil sayang,atau yang lain nya"ucap Aryan berganti menggoda papa nya.
"Itu lebih baik,iya kan sayang?"tanya papa Reino pada mama Indri dan mendapat cubitan di pinggang nya.
"Auw....sakit sayang,kenapa kau mencubit ku?"ucap Reino mengelus pinggang yang di cubit istri nya.
"Mas hentikan,kasihan Dara sudah malu,mendengar ucapan papa"ucap Indri tegas.
"Setelah Dara menfapatkan berkas yang sudah di tanda tangani oleh Aryan,dia pun pamit undur diri.
"Kalau begitu,saya permisi Tante, Om dan Arianna cepat pulih"ucap Dara menyalimi kedua orang tua itu bergantian.
"Assalamualaikum"pamit Dara.
"Wa'alaikum salam, hati-hati nak"ucap Indri.
"Hati-hati kak Dara"ucap Arianna.
"Baik,terima kasih Tante?"ucap nya seraya menghilang di balik pintu.
Aryan yang masih terpaku pada pintu yang tertutup pun terkejut ketika mendapat tepukan di punggung nya oleh papa.
"Apakah,kau tak ingin mengejar nya dan mengantar nya ke kantor?"goda papa Reino.
"Apaan sih pa,dia itu karyawan baru aku,tidak ada yang harus di spesial kan,bukan?"ucap Aryan.
"Jangan menyesal,jika dia bersama laki-laki lain,karna dia gadis baik,siapa yang tidak ingin berdiri di samping nya"ucap papa Reino.
__ADS_1
Aryan mencerna semua omongan papa nya,tapi tak bereaksi apapun.
"Ma,gimana Rafiq dan Rifki?"tanya Arianna.
"Dia baik-baik saja sayang,mungkin nanti pulang sekolah akan mampir kesini?"ucap mama Indri.
"Pa,ma, Aryan kedepan dulu sebentar?"pamit Aryan.
"Mau kemana sayang"tanya Indri.
"Mau kedepan sebentar ma,ingin nyari yang dingin-dingin"ucap Aryan ngasal.
"Pagi-pagi jangan makan atau minum yang dingin-dingin,nggak baik sayang buat kesehatan"ucap mama Indri menasehati..
"Ma,Abang sudah besar,dia bukan anak kecil lagi,yang setiap saat harus di ingatkan"ucap Reino.
"Pergilah bang"ucap Reino.
"Kamu mau nitip apa dek?"tanya Aryan.
"Bawakan aku Kaka ipar saja bang"ucap Arianna menggoda.
"Dasar,papa sama anak sama saja"ucap Aryan melenggang pergi.
Dalam perjalan menuju lobi rumah sakit,tak sengaja melihat Dara sendang bercakap dengan seorang laki-laki seumuran dengan nya.
"Apa yang gadis itu lakukan dengan laki-laki itu,bukan nya dia sebarus nya kembali ke kantor"ucap nya kesal.
__ADS_1
Entah kesal karna melihat Dara yang ngobrol dengan laki-laki lain,atau karna dia belum kembali ke kantor.
"Apa yang kamu lakukan di sini,bukan nya kamu harus nya kembali ke kantor?"ucap Aryan dengan nada dingin.