
"Ekhmm,"
David berdeham setelah tanpa sengaja membentak Fany. Lalu, ia melanjutkan ucapannya dengan suara yang lebih tenang, "bukan bunda yang menyebabkan ayah dan ibu cerai."
Fany mengerjapkan matanya, "oh, bukan? Beda orang, ya?"
Fany mengira Zara adalah selingkuhan David yang dulu membuat ayahnya itu berpaling dari ibunya.
"Bunda sama ayah kamu menikah 10 tahun yang lalu, saat itu kami sama-sama berstatus janda dan duda," jelas Zara.
"Lah, terus selingkuhan ayah yang dulu kemana?" cecar Fany pada David.
"Bisa nggak kita ngomongin hal lain aja," ucap David tidak nyaman.
"Nggak bisa dong," sahut Fany.
"Wanita itu udah lama meninggal," jawab David, ia benar-benar merasa tidak nyaman saat membicarakan mantan selingkuhannya.
Fany hanya mengangguk paham. Meskipun awalnya ingin mengatai "mampus!" tapi ia memilih untuk tidak melakukannya. Bagaimanapun juga, orang yang sudah meninggal harus dihormati dan tidak boleh diusik lagi.
Entah apakah semua remaja labil memang seperti ini, atau hanya Fany. Beberapa waktu lalu ia sangat emosi dan tidak ingin mendengar semua ucapan David, seolah-olah ayahnya dan keluarga barunya itu harus segera lenyap dari hadapannya. Tapi lihat sekarang, wajah gadis itu menunjukkan raut penasaran yang kentara. Tidak ada lagi sorot mata tajam yang menunjukkan kemarahan, yang ada hanya mata polos yang seolah sedang mencari jawaban lebih.
"Terus, dia...," tunjuk Fany pada Radit, "anak siapa?"
Sebenarnya, mereka cukup bingung dengan perubahan sikap Fany. Tetapi, itu lebih baik daripada Fany terus marah-marah dan tidak memberikan kesempatan kepada orang lain untuk berbicara.
"Abangmu itu anak bunda sama mantan suami bunda," kata Zara.
Fany manggut-manggut, ia agak malu setelah menyadari kebodohannya. Tentu saja Radit adalah anak Zara dengan mantan suaminya, memangnya anak siapa lagi. Kemudian, ia menoleh pada ayahnya.
"Kata ibu, ayah dulu miskin banget," David mulai terbiasa dengan mulut pedas anak gadisnya ini, "kok sekarang jadi kaya? Kaya banget malah. Nyebelin banget sih."
__ADS_1
Radit yang mendengar ucapan konyol Fany hampir saja tertawa sebelum Zara menatapnya dengan tajam. Meskipun Fany sudah berbicara dengan santai, tapi ini bukan saat yang tepat untuk tertawa.
"Ayah sama bunda menjalankan perusahaan di bidang keamanan. Ya..., sekarang udah lumayan besar, lah," jawab David.
"Oh, jadi ayah nikah sama bunda karena mau hartanya aja," celetuk Fany.
David cukup tertohok dengan ucapan Fany. Sepertinya, sampai kapanpun, ia tidak akan pernah terbiasa dengan mulut pedas yang tidak memiliki filter itu.
"Bukan begitu, Fany," kali ini Zara yang berbicara, "memang benar perusahaan itu bunda dan mantan suami bunda yang mendirikan. Dan ayahmu dulu adalah salah satu karyawan bunda. Tapi saat itu, perusahaan bunda masih sangat kecil. Bahkan, setelah mantan suami bunda meninggal, perusaan hampir bangkrut. Lalu, ayahmu menikahi bunda dan kami menyelamatkan perusahaan bersama-sama. Karena kerja keras ayahmu juga, perusahaan bisa tumbuh dengan pesat seperti ini."
"Jadi, jangan berpikiran kalau ayahmu ini hanya mengincar harta bunda, ya," jelas Zara panjang lebar dengan kesabarannya.
Tidak mengherankan jika Fany berpikir ayahnya itu hanya mau mengambil harta bundanya. Di mata Fany, David adalah seorang bajingan, itulah mengapa ia selalu berpikiran buruk terhadap ayahnya. Namun, apa yang dikatakan Zara benar. David memang tulus mencintai Zara, bukan karena hartanya. Harta itu adalah hasil jerih payah mereka berdua.
"Jadi, Fany," panggil David, "kamu mau tinggal di rumah ayah, kan?"
"Emang rumah ayah dimana?" tanya Fany, "aku gak bisa kalau harus ninggalin sekolah."
David tersenyum, ia berpikir Fany sudah setuju untuk diajak tinggal bersama, "rumah ayah ada di Jakarta. Tapi, itu masalah gampang. Nanti ayah beli rumah di dekat sini biar kita bisa tinggal bersama dan kamu gak kejauhan kalau ke sekolah."
Fany tidak langsung menjawab, ia terlihat sedang berpikir. Meskipun Fany memiliki emosi yang sering tidak terkendali, gadis itu tetap bisa berpikir secara logika dengan baik. Emm, mungkin tidak bisa dibilang 'baik' juga, justru logikanya lebih mengerikan.
Bukankah ini kesempatan yang bagus untuknya. Persetan dengan kebencian maupun dendam. Jika ia tinggal bersama ayahnya yang kaya raya itu, hidupnya akan menjadi lebih mudah. Ia tidak perlu susah-susah bekerja paruh waktu. Ia juga tidak perlu pusing memikirkan caranya membayar biaya kuliah di Universitas Garuda Emas. Lagipula, ia masih bisa membenci ayahnya sambil menikmati kenyamanan yang diberikan orang itu.
"Fany?" panggil ayahnya.
"Hah?" Fany tersadar dari lamunannya.
"Tapi aku masih belum paham," kata Fany, "buat apa ayah ngajakin aku tinggal bareng kalian? Pasti ada maunya, kan?"
David menghela napas lelah, "apa ayah perlu alasan tertentu buat tinggal sama kamu?"
__ADS_1
"Ayah sayang sama kamu, nak," lirih David.
Fany hanya menatap ayahnya datar, "bisa gak sih gausah bawa-bawa kata 'sayang'? Cari alasan yang lain napa."
David bingung harus menjawab apa lagi pertanyaan anaknya. Benar-benar gadis yang keras kepala.
"Pasti ada maunya, kan," lanjut Fany, "ayo dong, terus terang aja, ayah mau apa dari aku?"
David, istri, dan anak laki-lakinya saling bertukar pandang. Gadis ini aneh sekali, pikir mereka. Kenapa sekarang jadi dia yang memaksa.
"Fany, kami beneran tulus pengen kamu ikut ke rumah. Mau ya, Nak?" ucap Zara dengan nada memohon.
"Makanya, kalian mau apa dulu dari aku? Jaman sekarang mana ada sih yang cuma-cuma? Kalian mau bawa aku tinggal bareng, terus ngasih aku kehidupan yang enak. Pasti kalian juga mau dapet keuntungan juga, kan? Jadiin aku babu misal, atau disuruh kerja jadi TKW, atau dijual di pasar gelap," perkataan Fany semakin melantur.
Mereka bertiga rasanya ingin menangis saja menghadapi gadis cantik tapi aneh di depan mereka ini. Fany yang berpikir 'rasional' tidak lebih baik daripada Fany yang suka marah-marah. Entah pikiran 'rasional' seperti apa yang berjalan di otak Fany. Dijual ke pasar gelap? Astaga, imajinasi remaja itu sangat mengerikan.
"Aduh, kok jadi diem semua sih," kesal Fany, "ayo jawab dong!"
"Ayah mau jodohin kamu."
Ucapan David membuat Zara dan Radit melotot. Apa-apaan David ini. Tidak ada rencana seperti itu sebelumnya.
Fany berdecih sambil memutar bola matanya malas, "cih, tuh kan bener, pasti ada maunya."
David pasrah dengan keputusan Fany selanjutnya, apakah ia mau dibawa tinggal di rumahnya atau tidak. Pikirannya sudah buntu. Sebenarnya, David bukan tipe orang yang mudah panik dan bingung. Mengingat ia adalah CEO perusahaan besar yang mengharuskannya untuk selalu berpikir kritis dan cerdik. Namun, entah mengapa ia menjadi kalah telak saat berbicara dengan gadis yang berusia 18 tahun ini, yang sialnya adalah anak kandungnya sendiri.
"Mas, kamu apa-apaan sih," tegur Zara, "kita gak bicarain apa-apa soal perjodohan sebelumnya."
"DEAL!!!"
Seru Fany membuat mereka bertiga menoleh ke arahnya.
__ADS_1
"Hah?"
"Aku mau tinggal bareng kalian."