Tentang Fany

Tentang Fany
Part 41 : Ada Apa Sebenarnya?


__ADS_3

*Ospek adalah Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus. Sekarang disebut PKKMB (Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru)


...----------------...


Hari pertama ospek, Fany mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan lancar. Lancar yang dimaksud adalah tidak mendapat hukuman apapun dari panitia. Jujur saja, ia ingin agar acara ospek ini segera berakhir. Ia memang merasa antusias untuk segera memulai kuliah, tapi ia tidak menyukai kegiatan ramai seperti ini.


Tapi, bagaimanapun juga, ia paham bahwa ospek sangat penting untuk seluruh mahasiswa baru. Ia jadi lebih tahu tentang seluk beluk universitas tempatnya belajar, bahkan ia juga mendapatkan beberapa teman dari berbagai jurusan.


Selesai kegiatan ospek, ia pun berkumpul bersama teman-temannya sesama maba di lokasi penjemputan.


"Kalian pada dijemput semua?" tanya Fany.


Dua orang maba perempuan yang duduk bersamanya mengangguk.


"Iya, gue tinggal di deket sini aja, jadi antar jemput," jawab salah satu maba.


"Kenapa gak naik motor atau mobil sendiri aja?" balas Fany.


"Gue gak bisa naik motor, terus gak mungkin lah gue naik mobil di hari pertama ngampus, bisa-bisa jadi bahan ghibah kating ntar."


Fany hanya manggut-manggut, lalu bertanya kepada temannya yang lain, "kalau lo? Tinggal sekitar sini juga?"


"Iya, gue juga tinggal di sekitar sini. Tapi gue gak bisa naik motor ataupun mobil, jadi harus antar jemput sama sopir."


Fany kembali menganggukkan kepalanya paham. Ia jadi semakin sadar bahwa kampusnya ini adalah kampus para sultan. Kalau gak ngampus naik mobil, ya antar jemput sopir pribadi.


'Untung aja gue udah jadi holkay, bisa minder gue kalau masih miskin terus kuliah di sini,' batin Fany.


"Lo sendiri?" tanya maba itu kepada Fany.


"Gue tinggal di apartemen deket sini sih," jawab Fany.


"Antar jemput sopir juga?"


Baru saja Fany ingin membuka mulutnya untuk menjawab, sudah ada mobil yang sangat familiar berhenti di depannya. Senyum gadis itu pun mengembang melihat 'sopir' pribadinya sudah datang.


"Bukan sopir sih," ucap Fany, lalu memandang kedua temannya sambil berbisik, "tapi suami gue."

__ADS_1


"HAH?!"


Fany terkekeh, lalu berpamitan kepada teman-temannya dan segera masuk ke dalam mobil Juna. Sedangkan kedua temannya masih terkejut dengan pernyataan Fany yang ternyata sudah memiliki suami.


"Lah, emang mahasiswa S1 di sini udah boleh nikah?"


"Gak tau."


...----------------...


"Fyuhh!"


Fany menghela napas lega sambil menyandarkan tubuh di sandaran kursi penumpang. Juna yang melihat istrinya terlihat cukup lelah pun tertawa kecil.


"Gimana hari pertama di kampus impian?" tanya Juna.


"Gila, capek banget sih. Udah tadi disuruh berdiri lama pas upacara penyambutan, diajak keliling kampus lagi. Mana luas banget area kampusnya," gerutu Fany.


Juna masih fokus melihat jalanan, "namanya juga maba, pasti dibuat capek sama panitia. Terus, udah dapet temen belum?"


"Udah. Tadi gue kenalan sama banyak banget maba, hampir semua maba yang ketemu gue ajak kenalan. Yaa... Cuma basa basi doang sih, biar gak gabut. Terus yang tadi nemenin gue nunggu jemputan, namanya Aan sama Tari, mereka sama-sama dari jurusan seni rupa," ucap Fany panjang lebar.


"Udah dapet gebetan belum?" celetuk Juna.


Fany menoleh dengan tatapan kesal, "dih, baru aja masuk sehari udah ngomongin gebetan aja. Lagian ya, gue kuliah tuh buat belajar, bukan buat nyari jodoh."


'Orang jodohnya aja udah ketemu, kenapa harus nyari yang lain lagi?' lanjut Fany dalam hati.


"Yaa... Siapa tau mau memulai kisah romantis di masa-masa kuliah," kata Juna.


Fany berdecak kesal, "tck, udah deh, jangan bahas gituan, gue tuh anti-romantic."


'Tapi kalau sama lo beda lagi,' lagi-lagi Fany hanya berani membatin.


"Oh iya, kita mampir dulu ke kantor aku ya, aku masih ada urusan," kata Juna.


Fany hanya mengangguk, lalu ia mengalihkan pandangannya keluar jendela. Ia merasa sangat mengantuk karena kemarin malam begadang untuk mengerjakan pekerjaan yang diminta kliennya.

__ADS_1


Merusak sistem keamanan yang tidak ia ketahui milik instansi mana bukanlah hal yang mudah. Bukan karena ia tidak mengetahui instansi apa itu, tapi karena sistemnya yang memiliki keamanan tingkat tinggi. Lagipula, tidak ada bedanya mengetahui ataupun tidak mengetahui instansi tersebut, yang perlu ia lakukan hanya merusak sistem, sudah itu saja.


Karena tidak kuat menahan kantuk, akhirnya ia pun tertidur. Juna yang melihat Fany ketiduran pun hanya membiarkan saja. Nanti kalau sudah sampai di kantor, ia akan membangunkan istrinya itu.


...----------------...


Sesampainya di kantor, Fany ikut masuk bersama Juna. Para karyawan di sana melihat Fany dengan perasaan gemas. Bagaimana tidak? Gadis itu memakai pakaian hitam putih khas mahasiswa baru, ditambah wajahnya yang bisa dibilang imut. Iya, imut jika diam. Kalau sudah mencak-mencak, tidak ada yang berani menyebutnya imut.


"Selamat datang, Tuan Juna dan Nona Fany," sapa sekretaris pribadi Juna di depan ruangan Juna.


Kemudian, Juna dan Fany masuk ke ruangan, diikuti oleh sekretaris tersebut.


"Kamu duduk aja di sofa," kata Juna kepada Fany.


Fany hanya mengangguk, kemudian gadis itu menghempaskan tubuhnya di sofa yang ada di ruangan itu. Sedangkan Juna dan sekretarisnya sudah membicarakan urusan perusahaan di meja kerja.


Merasa bosan, Fany pun membuka ipad miliknya. Ia memutuskan untuk melanjutkan pembobolannya terhadap sistem keamanan targetnya sembari menunggu Juna selesai bekerja.


Meskipun saat ini pergerakannya cukup terbatas karena hanya bermodalkan ipad, tapi hal itu tidak membuat Fany menyerah. Ia sudah memiliki sistem yang ia kembangkan sendiri untuk membantu pekerjaannya sebagai hacker, sehingga ia bisa meretas di perangkat manapun.


Beberapa kali ia mencoba merakit virus untuk menyerang sistem itu, tapi selalu gagal. Ia terus memutar otak untuk membuat virus yang lebih kuat untuk menyerang sistem itu. Matanya terlihat fokus kepada layar ipad, sementara tangannya terus menari di sana mencari cara untuk membuat virus yang ampuh.


Beberapa saat kemudian, senyum kecil tersungging di bibirnya saat melihat virus yang baru saja ia buat berhasil menembus keamanan tingkat pertama sistem tersebut.


"Hmm... Keamanan ganda," gumam Fany.


Ia belum mengetahui secara pasti, ada berapa banyak rangkaian keamanan yang harus ia tembus untuk benar-benar merusak sistem itu. Tapi setidaknya, rangkaian pertama sudah berhasil ia rusak.


Brak!


Fany menoleh ke arah Juna yang bangkit dari kursinya secara tiba-tiba dan menimbulkan suara kencang. Rahang pria itu terlihat mengeras. Setelah berbicara sebentar dengan sekretarisnya, Juna berjalan tergesa-gesa menghampiri Fany.


"Kenapa?" tanya Fany.


"Aku harus pergi ke perusahaan Permana, ada urusan penting sama ayah," ucap Juna, "kamu mau ikut apa di rumah aja?"


"Gue ikut aja deh," balas Fany.

__ADS_1


Juna hanya mengangguk. Kemudian, pria itu melangkahkan kakinya keluar ruangan diikuti oleh Fany. Gadis itu hanya bisa mengernyitkan dahinya bingung sepanjang perjalanan. Sebenarnya ada urusan apa Juna dengan ayahnya sehingga suaminya itu berjalan dengan tergesa-gesa, apalagi dengan wajah yang terlihat tegang seperti itu.


__ADS_2