Tentang Fany

Tentang Fany
Part 28 : Pertengkaran


__ADS_3

Malam harinya, Fany bersiap untuk pergi ke hotel tempat dimana Roy, suami dari kliennya, akan menginap. Ia mengenakan celana jeans dan coat berwarna hitam. Ngomong-ngomong, Juna belum juga pulang hingga sekarang.


Tidak ingin ambil pusing dengan keberadaan suaminya sendiri, Fany langsung melajukan mobilnya menuju hotel yang tidak terlalu jauh dari apartemennya itu. Sesampainya di sana, ia memarkinkan mobilnya di tempat parkir yang ada di halaman hotel, lalu memeriksa ponselnya untuk melacak lokasi Roy.


"Belum nyampe sini ternyata tuh orang," gumam Fany, "oke, gue masih punya waktu lumayan banyak."


Setelah itu, Fany turun dari mobilnya dan masuk ke dalam hotel. Ia berjalan menuju ke tempat resepsionis.


"Selamat malam, ada yang bisa saya bantu," ucap resepsionis itu kepada Fany.


"Selamat malam. Saya sudah booking kamar sebelumnya, atas nama Fany Zahira Afdanela," jawab Fany.


"Oh baik, biar saya cek dulu."


Fany hanya mengangguk sambil tersenyum.


"Baik, Nyonya Fany, anda sudah memesan suite room yang ada di lantai 8, silahkan ini kuncinya," kata resepsionis itu sambil menyerahkan kunci kamar kepada Fany.


"Baik, terima kasih," Fany langsung pergi menuju kamar yang ia pesan.


'Gapapa buang duit demi booking suite room, yang penting dapet 500 juta,' batin Fany.


Sekedar informasi, klien Fany telah memberi kesepakatan akan membayarnya sebanyak 500 juta jika ia berhasil menemukan bukti tentang perselingkuhan suaminya. Dan sekarang, Fany memesan kamar yang berada tepat di depan kamar yang dipesan oleh Roy.


Ting!


Pintu lift terbuka di lantai 8. Fany memindai lorong di depannya dan memeriksa letak CCTV yang ada di sana. Setelah selesai menghafalkan letak semua CCTV, ia berjalan pelan menuju kamarnya.


Ia tersenyum kecil saat melihat ada pot bunga yang terletak di depan kamarnya. Lalu, diam-diam ia meletakkan hidden camera di pot itu dan menghadapkannya ke arah pintu kamar Roy.


Setelah itu, Fany masuk ke dalam kamar. Ia langsung mengeluarkan laptop untuk memulai pekerjaannya.


"Kalau dari jarak dekat gini kan jadi gampang," gumamnya.


Kemudian, ia mulai meretas CCTV yang berada di lorong lantai tersebut. Hanya membutuhkan waktu 5 menit, di layar laptopnya sudah menampilkan rekaman dari CCTV yang menunjukkan keadaan di lorong lantai 8.


"Dih, hotel elit, CCTV sulit. Yang bener aja dong, masa blur banget kayak gini. Untung aja tadi udah gue pasang hidden cam di depan," cibir Fany.


Cukup lama Fany menunggu Roy dan selingkuhannya yang tidak kunjung menampakkan diri, Fany pun mulai merasa bosan. Lalu, ia memutuskan untuk membuka ponselnya. Dahinya mengernyit ketika melihat ada pesan tak terbaca dari Juna.


Cowok orang

__ADS_1


/Kamu dimana?


/Fany


/Kok gak dibales?


/Fany?!


'Dih, inget pulang juga si Juna,' batin Fany.


^^^Me^^^


^^^Lagi main di luar\^^^


Tiba-tiba, mata Fany menangkap rekaman CCTV itu yang memperlihatkan seorang pria dan wanita yang keluar dari lift. Matanya menyipit agar bisa melihat lebih jelas video di layar laptopnya.


"Mini-dress merah?" gumam Fany, "itu pasti Roy sama selingkuhannya!!"


Dua orang itu sudah sampai di depan pintu kamar yang mereka pesan. Sayangnya, posisi wanita itu membelakangi kamera, sehingga wajahnya tidak terlihat.


"Anjir, gak kelihatan wajahnya," gerutu Fany, "gak bisa dibiarin nih, gue harus berhasil rekam wajah si pelakor buat bukti."


BRAKK!!


Roy dan wanita selingkuhannya yang berada di luar tentu saja terkejut dan refleks menoleh ke arah pintu kamar Fany. Hal itu membuat wajah si pelakor sudah pasti tertangkap oleh kamera.


"Astaga! Apa itu?!" ucap wanita itu terkejut.


"Huh... Bikin kaget aja. Sudah, jangan dihiraukan, ayo cepat kita masuk ke dalam," balas pria itu.


Fany tersenyum saat mengetahui rencananya berhasil. Kemudian, ia perlahan membuka pintu kamarnya dan mengambil hidden camera itu untuk diperiksa. Ia masuk kembali ke dalam kamarnya, lalu mengambil micro SD card di dalam kamera tersebut dan memasukkannya ke dalam ponsel untuk melihat rekamannya.


"Bentar lagi lo bakal ketahuan, dasar pelakor," gumam Fany.


Ia pun mulai memutar video rekaman itu. Lalu, tiba-tiba matanya membola dan ia refleks menutup mulutnya. Ia sangat terkejut dengan apa yang ia lihat sekarang.


"I-itu kan... Kak Aliesha," ucap Fany yang masih terkejut, "jadi selama ini dia jadi selingkuhannya pegawai pajak, wah parah sih ini."


Fany menggeleng-gelengkan kepalanya heran, "gila tuh cewek. Apa sih kurangnya si Juna sampai dia harus jadi simpenan om-om? Padahal kalau butuh duit, tinggal minta ke Juna, pasti langsung dikasih.


Kemudian, Fany mengedikkan bahunya, "bodo amat lah, bukan urusan gue juga."

__ADS_1


Akhirnya, Fany mengirimkan semua rekaman yang telah ia dapatkan hari ini beserta identitas Aliesha kepada istri sah Roy. Tidak lama kemudian, ia menerima notifikasi dari bank bahwa uang sejumlah 500 juta rupiah telah masuk ke dalam rekeningnya.


Fany yang melihat saldo rekeningnya pun tersenyum puas, "tugas gue udah selesai. Maaf ya Kak Aliesha, ini udah jadi pekerjaan gue. Salah lo sendiri sih main-main sama suami orang."


Kemudian, Fany mengemasi barang-barangnya dan pergi dari hotel itu. Ia memang tidak berencana menginap di sana. Lagipula, pekerjaannya sudah selesai. Sekarang ia tidak peduli apa yang akan terjadi kepada Roy dan Aliesha. Biar kliennya sendiri yang memutuskan apa yang selanjutnya akan ia lakukan.


...----------------...


Cklek


Fany masuk ke dalam apartemen. Ngomong-ngomong, sekarang sudah jam 11 malam. Ia benar-benar lelah dan ingin segera merebahkan tubuhnya di ranjang.


"Dari mana aja kamu?"


Suara dingin Juna membuatnya menoleh. Suaminya itu sedang duduk di depan TV.


"Dari luar," jawab Fany acuh, lalu berniat untuk pergi ke kamarnya.


"Kalau ditanya suami tuh jawab yang bener!!!"


Fany tersentak karena bentakan dari Juna. Ia menoleh ke arah suaminya itu yang sudah terlihat marah.


"Lo barusan bentak gue?" ucap Fany tidak percaya.


"Jawab pertanyaanku, kamu abis dari mana?" tanya Juna dengan suara pelan namun tajam.


"Harusnya gue yang tanya gitu sama lo!!! Kemana aja lo dari kemarin gak pulang?!" giliran Fany yang meninggikan suaranya.


"Aku udah bilang kan kemarin sama kamu kalau aku lagi ada urusan," jawab Juna sambil menahan emosinya.


Fany berdecih, "cih, urusan kata lo?! Urusan sama Aliesha, kan? Lo kemarin bilang sendiri kalau mau ketemu pacar lo itu, ngapain sekarang jadi sok-sokan ngatur gue?!"


"Jangan bawa-bawa Aliesha di sini," tegas Juna, "ini tentang kamu. Emang pantes seorang istri keliaran di luar sampai tengah malam?!"


Fany tertawa remeh, "sumpah ya, gue gak paham sama cara kerja otak lo itu. Bisa-bisanya lo ngomong kayak gitu ke gue. Sekarang gue tanya, emang pantes seorang suami ninggalin istrinya dan nginep di rumah perempuan lain?! Hah?! Pantes gak?!!"


Juna terdiam. Walaupun ia sama sekali tidak merasa bersalah, tetapi apa yang dikatakan oleh Fany itu benar.


"Cih, gak heran lo bisa pacaran sama cewek kayak Aliesha. Emang cocok kalian berdua, sama-sama gak bener," gumam Fany.


Kemudian, Fany berlalu menuju kamarnya, meninggalkan Juna yang masih terdiam dan menatapnya dengan marah.

__ADS_1


__ADS_2