
Fany memilih untuk langsung merapikan barang-barangnya agar nanti ia bisa beristirahat tanpa ada beban. Ia kembali terkagum-kagum saat menyadari bahwa tempat ia menyusun pakaian bukan lagi di almari, tapi walk-in closet. Hanya saja, pakaiannya terlalu sedikit untuk disusun di sana. Sangat tidak estetik, pikirnya.
Semua sudah beres. Dan yang terakhir, ia meletakkan pigura kecil berisi foto mendiang ibunya di nakas sebelah tempat tidurnya.
"Ibu, maafin Fany," perlahan air matanya menetes, "Fany ngerasa kalau Fany udah berkhianat sama ibu dengan tinggal sama ayah dan keluarganya. Fany bener-bener minta maaf, Bu."
Air matanya semakin deras, "tapi Fany gak bisa bohong kalau Fany juga capek hidup susah sendirian. Fany mau ngelanjutin kuliah di universitas impian Fany dengan tenang, tanpa harus pusing mikirin biaya."
"Jadi, tolong jangan marah sama Fany ya, Bu," ucap Fany sambil tersenyum kepada potret ibunya.
Lalu, ia menuju ke kamar mandi yang ada di dalam kamarnya untuk mencuci muka. Setelah itu, ia langsung turun ke bawah untuk makan siang.
"Eh Fany," sapa Zara saat melihat Fany turun dari tangga, "ayo sini, duduk dulu."
Fany menghampiri Zara yang sedang menata meja makan.
"Ada yang bisa aku bantu gak?" cicit Fany.
Zara menoleh, lalu tersenyum, "udah selesai kok. Kamu duduk aja, tunggu yang lain turun, baru kita makan."
Fany hanya mengangguk, lalu duduk di salah satu kursi. Ia melihat banyak sekali jenis masakan yang dihidangkan. Namun, ia tidak melihat satu pun pembantu di sini. Apakah Zara menyiapkan semua ini sendirian? Fany tidak tahu jika bundanya serajin ini.
"Fany," suara David membuatnya menoleh, "udah selesai beres-beres kamar?"
Fany hanya mengangguk. David yang melihatnya hanya tersenyum maklum. Anaknya ini masih enggan untuk berbicara secara akrab dengannya.
"Wah, udah pada ngumpul, nih," seru Radit yang langsung menempati kursi di sebelah Fany.
"Kalau begitu, ayo makan sekarang, keburu dingin makanannya," kata Zara.
Setelah itu, Zara mengambilkan nasi untuk suaminya. Fany melihatnya dengan tatapan sendu.
'Harusnya ibu yang ada di posisi itu,' batinnya.
Namun, segera ia tepis pemikirannya itu. Ia tidak ingin kelepasan menangis di hadapan mereka jika terus memikirkan ibunya.
"Eh, aku bisa ambil sendiri," seru Fany saat Zara juga mengambilkan nasi untuknya.
Zara tersenyum, "gak apa-apa, Sayang."
Fany merasa canggung ketika diperlakukan seperti ini. Akhirnya, ia melanjutkan makan siangnya dengan diam. Tidak peduli dengan semua orang yang sesekali bicara di tengah acara makan siang itu. Pikirannya masih kesal, bagaimana bisa ayahnya mendapatkan keluarga harmonis seperti ini, bahkan sangat baik kepadanya.
"Oh iya, sebentar lagi kamu ujian ya, Fany?" tanya David.
Fany menoleh dan hanya menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Gimana kalau kamu ikut bimbel?" lanjut David.
"Gak perlu," jawab Fany singkat.
"Kenapa? Kamu gak usah khawatir masalah biaya, jangan sungkan sama ayah," ujar David.
"Aku masih bisa belajar sendiri, gak perlu bimbel," balas Fany.
"Kamu yakin gak mau ikut bimbel? Meskipun kamu pintar, tapi lebih efektif lagi kalau kamu belajar sama tutor," kata Zara.
Fany menggeleng, "gak usah. Aku gak mau terlalu capek, lagian mulai minggu depan udah ada bimbel dari sekolah."
"Ya udah, kalau itu mau kamu. Tapi nanti kalau kamu ada kesulitan, jangan sungkan ngomong ke ayah, ya," ucap David.
Fany hanya mengangguk.
...----------------...
Kriing... Kriing...
Bel istirahat berbunyi, Fany segera bangkit dari tempat duduknya dan menuju ke kantin. Namun, baru sampai di depan pintu kelasnya, ternyata sudah ada Berly yang menunggunya.
"Eh, nungguin gue?" tanya Fany.
Berly mengangguk sambil tersenyum manis, "bareng, yuk."
"Jadi, gimana rasanya tinggal sama ayah lo?" tanya Berly membuka pembicaraan.
"Lumayan," jawab Fany sambil terus memakan baksonya, "sejauh ini aman sih. Mereka gak nunjukkin sifat buruk ke gue, atau belum."
"Syukur deh kalau mereka gak jahat sama lo," balas Berly.
Kemudian, mereka kembali memakan makanan dengan tenang.
"DOR!!"
"Aaaaaa!!"
Fany dan Berly melotot pada Rangga yang tiba-tiba muncul dan mengejutkan mereka. Cowok itu benar-benar membuat mereka hampir jantungan.
"Bosen hidup lo?!" teriak Fany sambil memukuli lengan Rangga brutal.
"Aduh! Iya-iya, ampun ampun," kata Rangga. Jangan lupa pukulan Fany itu walaupun sedang main-main, tapi tetap menyakitkan.
Lalu, ia duduk di sebelah Berly dan mencomot bakso milik Berly.
"Apa-apaan sih lo?! Beli sendiri sana!" sungut Berly yang tidak terima satu pentol miliknya dicuri oleh Rangga.
__ADS_1
"Dih, pelit amat sih jadi cewek," cibir Rangga.
Berly mendelik kesal, "duit segebok, masih aja suka malak, huuu."
Rangga hanya menyengir kuda, sedangkan Fany sudah tertawa terbahak-bahak. Ia suka melihat teman-temannya tidak akur.
"Udah resmi jadi anggota keluarga Tuan David nih," goda Rangga pada Fany.
Fany tersenyum miring, "iya dong, dompet aman nih boss, hidup gue jadi makmur sejahtera."
Mereka bertiga tertawa bersama.
"Termasuk urusan asmara juga, kan?" celetuk Rangga.
Fany pun terdiam. Kedua temannya yang melihat hal itu juga ikut menghentikan tawa mereka.
"Kenapa, Fan?" tanya Berly.
"Jangan-jangan lo beneran dijodohin sama kakek buncit, ya?!" seru Rangga dengan suara kencang membuat beberapa siswa menoleh.
Plakk
"Gausah teriak juga, bisa gak sih?!"
Rangga memegangi pipinya yang agak panas setelah mendapat tamparan dari Berly.
"Gue lupa," gumam Fany.
Rangga dan Berly menatap Fany, "hah?"
"Gue lupa kalau gue mau dijodohin," lirih Fany dengan suara cemas, "gimana nih?"
"Tuh kan, nyesel kan lo sekarang," kata Rangga, "gak dipikir mateng-mateng dulu, sih."
"Emang ayah lo belum ngomongin masalah perjodohan itu?" tanya Berly.
Fany menggeleng, "gue aja baru 2 hari tinggal bareng dia. Pasti bentar lagi juga bakal bahas hal itu sama gue."
"Udahlah Fan, batalin aja kesepakatan lo itu. Lo aja baru 18 tahun ini, masa udah mau nikah aja sih," ucap Rangga.
"Gak bisa gitu, dong. Dari awal kan kesepakatannya kalau gue tinggal bareng ayah, gue bakal dijodohin. Kalau gue gak mau dijodohin, artinya gue harus keluar dari rumah itu," balas Fany.
Padahal tidak. Toh, kalau Fany tidak mau dijodohkan, David juga tidak akan mempermasalahkan hal itu. Memang Fany saja yang suka memiliki asumsi liar.
"Yaudah lah, terima nasib, lama-lama gue ikutan bingung juga," kata Rangga sambil menghela nafas lelah.
"Iya, ikuti alur aja dulu, siapa tahu aja yang dijodohin sama lo nanti cowok ganteng, pinter, kaya, yang idaman lo banget," ucap Berly mencoba menghibur Fany.
__ADS_1
Dia tidak suka melihat Fany yang pesimis seperti ini. Meskipun Fany yang terlalu optimis dan berpikiran aneh cukup menyebalkan, hal itu lebih baik daripada sahabatnya itu murung seperti orang yang tidak punya gairah hidup.