
Seperti yang telah diputuskan sebelumnya, pernikahan Juna dan Fany akan diselenggarakan satu bulan setelah ujian kelulusan Fany. Kini semua orang sibuk mengurus segala keperluan pernikahan. Bahkan Juna, yang pada dasarnya tidak ingin menikah, ia juga turun tangan mengurusi pernikahannya. Meskipun bukan dengan perempuan yang ia cintai, ia tetap ingin agar acara pernikahannya berjalan lancar.
Untuk katering, tentu saja Diana dan Zara yang mengaturnya. Hampir setiap hari mereka bertemu dengan vendor katering yang berbeda-beda hingga akhirnya bisa menemukan yang sesuai. Sedangkan Fany, gadis itu enggan terlibat dalam proses persiapan. Ia hanya datang saat diminta untuk fitting baju pengantin. Ia malah menghabiskan waktu senggangnya untuk kursus menyetir mobil.
Ceklek
Pintu kamar Fany dibuka oleh sang bunda.
"Sayang, kamu jadinya mau undang siapa aja? Bunda mau kirim list undangan ke vendor, soalnya besok udah harus disebar."
Fany yang sedang tiduran sambil bermain ponsel langsung duduk, "emm... aku mau undang Berly, Rangga, orang tua mereka, wali kelas, sama beberapa temen kelas."
"Cuma itu aja?" tanya Zara yang hanya dibalas anggukan oleh Fany.
"Kok dikit banget sih, Nak. Ayah sama bunda aja punya 600 tamu undangan, belum lagi dari calon mertua kamu," imbuh Zara sembari berjalan menuju ranjang anaknya.
"Hah? Banyak banget, Bun. Katanya dulu mau undang orang terdekat aja," keluh Fany.
"Ya mau gimana lagi? Rekan bisnis ayahmu emang sebanyak itu, gak bisa kalau gak ngundang mereka," jawab Zara, "yakin gak mau nambah? Perasaan temenmu banyak deh," imbuh Zara.
Fany mendengus malas, "temen aku emang banyak, tapi bukan berarti mereka semua deket sama aku. Lagian aku juga sebenernya masih malu kalau ada yang tahu aku nikah muda."
Zara menghela napas panjang, "ya udah deh, terserah kamu aja. Abis ini kirim nama lengkap mereka ke bunda ya."
Fany hanya mengangguk dan tersenyum, kemudian Zara mengulurkan tangan untuk mengelus pucuk kepala Fany.
"Kamu besok beneran gak mau lihat progress pembuatan gaun pengantin?" tanya Zara
Fany menggeleng, "besok aku ada tes nyetir."
"Huh... Kamu ini ada-ada aja, udah mau nikah malah sibuk ambil tes SIM," cibir Zara.
Fany pun terkekeh, "biar nanti kalau kemana-mana bisa pergi sendiri, gak harus dianter sama sopir terus."
"Ya minta suami kamu buat nyetirin lah," sahut Zara.
__ADS_1
Fany tertawa remeh, "orang kayak gitu mana bisa diandelin, pasti lebih milih urusan kantor."
"Haha, bener banget. Sama kayak ayah kamu, jarang mau kalau bunda suruh anterin kemana-mana, alasannya pasti sibuk di kantor," ujar Zara, "ya udah, bunda ke kamar dulu ya, kamu jangan begadang lho."
"Siap, Bunda."
Akhirnya, Zara keluar dari kamar Fany. Setelah pintu kamarnya tertutup, Fany segera mengirimkan list nama undangan kepada bundanya. Setelah itu, ia kembali bermain ponsel lagi hingga larut malam, melupakan nasihat bundanya untuk tidak begadang.
...----------------...
Hari pernikahan Juna dan Fany pun tiba. Fany baru menyadari bahwa pernikahannya adalah definisi dari 'dream comes true'. Benar-benar gambaran pernikahan impian para perempuan. Bahkan, ini melebihi ekspektasi pernikahan impiannya.
Ia sekarang duduk di kursi pelaminan bersama dengan pria yang tadi pagi sudah mengucap akad dengannya. Tidak ada orang yang akan mengira bahwa kedua mempelai tersebut menikah tanpa didasari cinta. Mungkin memang pada dasarnya Juna memiliki ekspresi dingin, tetapi lihat wajah Fany sekarang. Senyumnya begitu lebar seakan-akan ia adalah pengantin paling bahagia di dunia.
Apakah itu hanya senyum palsu? Tentu saja tidak. Siapa yang tidak bahagia jika acara pernikahannya sangat mewah dan dihadiri oleh orang-orang kalangan atas? Selain itu, Fany juga sangat senang saat memakai gaun pengantin yang sangat indah serta riasan yang membuat wajahnya menjadi semakin cantik bak Dewi Yunani. Apalagi gedung tempat pernikahannya berlangsung adalah Hotel Royal Lavender. Satu fakta yang baru ia ketahui adalah hotel mewah itu ternyata milik keluarga Bagaskara.
Gadis itu selalu mendambakan kehidupan seperti ini. Sejak ia memasuki usia remaja, ia memiliki impian untuk hidup dalam kemewahan. Dan sekarang, ia mendapatkan itu semua dalam sekejap. Tidak heran ia tampak begitu bahagia di hari pernikahannya. Lagipula, suaminya itu juga sangat tampan. Tidak buruk juga, walaupun Fany tidak mencintainya.
"Cieee pengantin baru... Sumringah amat sih mukanya," goda Rangga yang datang bersama Berly.
Fany dan Juna langsung bangkit dari tempat duduk untuk menyambut mereka.
Fany membalas pelukan Berly, "iya nih, gue juga gak paham, kok gue bisa secantik ini, ya?."
"Eh, mak lampir! Bisa gak sih kalau dipuji tuh sok-sokan malu-malu gitu," cibir Rangga, "lah ini malah malu-maluin."
"Dih apaan sih, Gerandong?! Komen aja lo," balas Fany tak kalah sinis.
"Ekhmm."
Suara dehaman pria membuat mereka bertiga menoleh.
"Eh, Kak Juna, hehe...," Rangga bergeser ke depan Juna, lalu menyalami tangannya, "selamat ya kak, atas pernikahannya."
Juna membalasnya sambil tersenyum, "iya, terima kasih."
__ADS_1
"Selamat ya, Kak," giliran Berly yang menyalami Juna, "yang sabar ya, Kak, dapet istri yang otaknya geser kayak Fany."
Fany langsung memukul lengan Berly sambil melotot, "maksud lo apa hah?!"
Berly menyengir, lalu kembali berbicara kepada Juna, "tuh, Kak Juna lihat sendiri, kan? Emang kayak mak lampir dia, dikit-dikit mode senggol bacok."
Rangga dan Juna hanya tertawa melihatnya. Mungkin ini pertama kalinya Juna merasa terhibur di pesta pernikahannya sendiri. Sejak pagi, ia hanya memasang senyum palsu saat menyambut para tamu.
"Gila lo, Ber. Temennya nikah bukannya didoain yang baik-baik, malah dijelek-jelekin. Huuu, yang bener aja dong," gerutu Fany.
"Haha, ngambekan lo," ejek Rangga, "udah nikah dikurangin dong ngambeknya, kasihan tuh Kak Juna."
"Nyenyenyenye... Bacot!" balas Fany.
"Heh! Astaga mulutnya," tegur Juna.
"Hahaha mampus, kena marah suami gak tuh," ejek Berly.
"Hahaha udah yuk, Ber. Kita pergi aja, laper nih, belum makan gue," ajak Rangga.
Grep!
"Heh, ikut!" Fany menahan lengan Berly yang akan pergi.
"Lah, gimana ceritanya lo mau ikut kita?" heran Berly, "lo itu pengantin, Fan. Udah, duduk manis aja di sini."
"Tck, gue mau ikut turun. Pengen jalan-jalan juga, nih. Bosen gue di sini terus," rengek Fany.
"Astaga, nyusahin amat sih lo. Masa Kak Juna lo tinggal sendirian di sini sih," kata Rangga.
Fany menoleh menatap Juna yang hanya diam melihatnya, "Kak Juna ikut turun juga, ya."
Tanpa menunggu balasan dari Juna, Fany pun langsung menarik tangan pria itu dan berlalu mendahului kedua temannya yang masih terdiam di atas pelaminan.
"Lah, kok malah kita yang ditinggal di sini?! Ini yang nikah siapa sih sebenernya?!" seru Berly.
__ADS_1
"Lah iya, njir. Astaga, emang sinting tuh cewek," balas Rangga.
Kemudian, mereka berdua pun pergi menyusul kedua mempelai yang sudah sampai di stan makanan. Tanpa ada yang menyadari, sejak tadi ada seorang wanita yang menatap interaksi mereka dengan tatapan tidak suka.