
Satu bulan berlalu, hari ini adalah hari pertama ujian kelulusan. Semua siswa peserta ujian sedang berdoa di bangku masing-masing sembari menunggu bel tanda ujian dimulai.
Nasib buruk bagi Fany yang mendapatkan tempat duduk tepat di depan bangku pengawas. Walaupun tidak ada niat untuk mencontek, tetapi jika berhadapan langsung dengan pengawas, tentu siapa saja pasti akan gugup. Ngomong-ngomong, sistem keamanan ujian di sekolah ini sangat ketat, tidak ada celah untuk siswa bisa berbuat curang. Jika ada yang ketahuan melakukan kecurangan, pasti akan mendapatkan sanksi yang berat.
Fany sedang memejamkan mata sambil terus menerus merapalkan doa.
'Ya Allah, berikanlah aku ketenangan dan kelancaran dalam mengerjakan soal ujian. Semoga rasa gugup ini segera hilang dan aku bisa mengerjakan semua soal dengan mudah.'
Triingg... Triingg...
Akhirnya, bel ujian berbunyi. Semua siswa segera mengikuti instruksi dari pengawas untuk mengikuti ujian CBT (Computer-Based Test).
Fany terus mengucap syukur dalam hati karena ia bisa mengerjakan soal ujian dengan lancar. Tentu saja, mata pelajaran untuk ujian hari ini adalah Bahasa Inggris, dan ia sangat ahli dalam bidang itu. Bahkan baru 20 menit waktu ujian berjalan, ia sudah selesai mengerjakan semua soal. Meskipun begitu, ia tidak boleh meninggalkan ruang ujian sebelum semua temannya selesai.
Suasana kelas yang hening membuatnya merasa bosan, lama kelamaan ia mulai mengantuk. Karena tidak kuat menahan kantuk, ia pun meletakkan kepalanya di meja sambil perlahan-lahan menutup mata. Kesadarannya sudah hampir hilang sebelum suara dingin yang cukup keras menyapa indera pendengarannya.
"Yang duduk di pojok belakang!!!"
Fany tersentak dan langsung menegakkan tubuh saat pengawas laki-laki di depannya berseru. Ia langsung mengikuti arah pandang semua orang ke belakang.
"Nomor peserta A-0027 segera meninggalkan ruangan dan menemui BK."
Semua siswa gaduh dan bertanya-tanya apa yang terjadi. Sedangkan, siswa laki-laki yang ditunjuk oleh pengawas itu hanya tertunduk malu.
"Sudah diberi tahu kan, kalau tidak boleh mencontek saat ujian?! Kenapa kamu masih membawa kertas contekan?!"
Suasana kelas semakin sunyi dan mencekam seiring dengan suara bentakan si pengawas yang semakin keras. Apalagi Fany yang berada tepat di depannya, gadis itu sudah menangis di dalam hati merasakan jantungnya yang berdegup kencang. Dan lagi, darimana pengawas itu tahu kalau murid yang duduk di belakang itu membawa kertas contekan, sementara ia hanya duduk di bangku pengawas sambil terus melihat layar laptop.
"Sudah, cepat sana ke BK!" siswa yang ditunjuk itu langsung berlari keluar kelas, "dan untuk yang lain, saya harap tidak ada yang melakukan kecurangan seperti itu lagi, karena ruangan ini sudah diawasi oleh CCTV di belakang."
Semua siswa menoleh dan betapa terkejutnya mereka melihat 2 CCTV yang terpasang di sebelah kanan dan kiri belakang kelas mereka. Fany berani bersumpah bahwa sebelumnya tidak ada satu pun CCTV di dalam kelas.
'Gila, ini sih parah banget ngerinya,' cicit Fany dalam hati.
__ADS_1
...----------------...
Radit menghentikan mobilnya di titik jemput sekolah Fany. Karena di waktu ujian seperti ini, jadwal pulang adiknya itu berubah menjadi lebih awal, yaitu jam 11 siang. Maka dari itu, ia berencana untuk mengajak sang adik makan siang bersama. Beberapa menit kemudian, para siswa berhamburan keluar dari gerbang sekolah, termasuk Fany. Gadis itu langsung masuk ke dalam mobil sang kakak. Ia langsung duduk bersandar di kursi penumpang dan memejamkan matanya.
"Lemes banget abis ujian, soalnya susah banget ya?" tanya Radit.
Fany hanya menggelengkan kepalanya lemah.
"Terus kenapa? Sini cerita sama abang," lanjut Radit dengan nada lembut sembari menjalankan mobil.
Fany membuka matanya dan menatap Radit, "tau gak sih, Bang? Gila banget nih sekolah, tiba-tiba di dalam kelas gue ada CCTV. Tadi kan ada temen gue yang ketahuan nyontek, terus sama pengawas langsung disuruh ke BK, mana kalau ngomong sambil bentak lagi. Gue masih tekanan mental gara-gara tuh pengawas marah-marah pas di depan gue."
Radit tertawa, "kenapa gak lo teriakin balik, pasti pengawasnya lebih tekanan mental denger suara lo kalau lagi teriak-teriak."
Fany berdecak sebal, "tck, ngaco deh. Gue beneran lagi capek tau gak."
"Iya iya, bercanda doang kok," ucap Radit menenangkan adiknya, "makan siang dulu, yuk. Lo mau makan apa?"
"Oke."
Mereka pun menuju restoran seafood terdekat. Setelah sampai di sana, mereka langsung menempati salah satu meja yang kosong. Radit hanya bisa melongo melihat Fany menyebutkan menu kepada pelayan di sana. Adiknya itu dengan tidak tau diri memesan banyak makanan.
Sekarang, di meja mereka sudah ada berbagai macam menu makanan, seperti ikan kakap bakar, halibut sashimi, cumi bakar, kepiting asam manis, udang goreng tempura, kerang dara, lobster bakar madu, dan dua minuman soda.
"Banyak banget anjir," gumam Radit.
Fany melirik ke arah kakaknya itu, lalu menyengir lebar, "abang ganteng kan duitnya banyak, jangan pelit lah, Bang, sama adek sendiri juga."
"Bukan masalah duitnya, Adek cantik," ujar Radit geram, "makanan sebanyak ini siapa yang mau abisin?!"
"Lah, ya kita dong, emang siapa lagi?" balas Fany.
"Serius lo bisa abisin ini semua?" tanya Radit tidak percaya.
__ADS_1
Fany hanya mengangguk, kemudian mulai menyantap makanan di hadapannya. Begitu pula dengan Radit, ia tak ingin ambil pusing tentang siapa yang akan menghabiskan ini nanti. Toh, kalau tidak habis, ya tinggal dibungkus, lalu dibawa pulang.
"Btw, gimana hubungan lo sama Juna?" tanya Radit membuka pembicaraan.
"Gimana apanya?" ucap Fany yang malah bertanya kembali.
"Yaa... Makin deket gak kalian?" balas Juna.
Fany berpikir sebentar, "biasa aja sih."
"Lo yakin mau nikah sama dia?"
Dahi Fany mengernyit, "kenapa tiba-tiba nanya kayak gitu?"
Radit menghela napas panjang, "gue udah tahu yang sebenarnya."
Fany menghentikan acara makannya dan fokus menyimak Radit.
"Dia belum putus sama pacarnya, kan? Dan mereka juga pernah maksa lo buat batalin perjodohan ini."
Fany hanya bisa menggigit bibir bawahnya. Ia tidak menyangka bahwa kakaknya akan tahu hal ini. Fany memang menyembunyikan fakta tersebut dari keluarganya agar mereka tidak cemas dan semuanya bisa berjalan dengan lancar.
"Gue tahu sedikit banyak tentang Juna. Dia cowok yang baik, cerdas, pemikirannya dewasa. Tapi setelah gue tahu kalau dia gak bisa buat keputusan antara mertahanin ceweknya atau nikah sama lo, gue jadi gak yakin kalau dia sosok yang tepat buat lo," ujar Radit.
"Bang, gue gak bisa batalin pernikahan ini sekarang," lirih Fany, "lo tahu sendiri kan, kalau gue sama Kak Juna nikah, bakal ada banyak untungnya buat keluarga kita. Ayah sama papa Alex juga udah tanda tangan kontrak kerja sama. Kalau pernikahan gue batal, pasti hubungan mereka juga bakalan renggang.
"Tapi, Dek-"
"Bang," sela Fany, "lo gak usah khawatir. Gue gak apa-apa, kok. Gue gak selemah itu," ucap Fany dengan senyumannya berusaha meyakinkan Radit.
"Huhh... Gue bakal awasin kalian terus. Lo jangan sembunyiin apa pun dari gue kalau terjadi apa-apa nanti. Gue gak akan biarin Juna nyakitin lo."
Fany hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Ia cukup tersentuh dengan ucapan Radit. Dalam hati, ia merasa bersyukur karena telah diberi sosok kakak laki-laki yang bersedia melindunginya.
__ADS_1