Tentang Fany

Tentang Fany
Part 48 : Pengakuan Cinta


__ADS_3

"Aku gak suka kamu deket sama laki-laki lain. Aku.... Cemburu."


"HAH?!"


Rasanya otak Fany berhenti bekerja saat itu juga. Perkataan Juna terngiang-ngiang di pikirannya, tapi ia sama sekali tidak bisa mengerti apa maksud dari suaminya itu.


"C-cemburu?" ucap Fany tergagap untuk memastikan kembali.


Juna hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum kecil. Baiklah, sekarang Fany benar-benar tidak tahu harus merespon seperti apa lagi.


'Aaaaaa!!! Kak Juna beneran cemburu?! Demi apa sih woy?! Mana santai banget ngomongnya, gue harus jawab apa nih?!' jerit Fany dalam hati.


Tanpa mengatakan apa pun lagi, Juna kembali mengarahkan pandangannya ke depan. Ia pun mulai melajukan mobilnya kembali menuju apartemen mereka. Fany yang masih diliputi oleh pertanyaan pun berinisiatif untuk memulai pembicaraan.


"Ekhmm...," Fany berdeham untuk menetralkan rasa gugupnya, "Kak Juna kenapa cemburu?"


Juna hanya mengedikkan bahunya, "yaa... Cemburu aja, gak ada alasan tertentu."


Fany menatap tak percaya suaminya. Jawaban macam apa itu?! Cemburu tanpa alasan? Cih, meskipun tidak pernah pacaran, tapi Fany tahu kalau orang cemburu pasti ada alasannya.


"Gak bisa gitu dong, cemburu tuh pasti ada alasannya," sungut Fany.


Juna hanya diam sambil terus fokus menyetir. Tidak tahan dengan situasi ini, Fany pun kembali berseru kencang.


"Lo suka kan sama gue?!"


Hening...


Juna tidak menjawab, sedangkan Fany juga terdiam menunggu jawaban Juna. Gadis itu sudah kepalang malu. Ia berpikir bahwa Juna tidak menyukainya dan akan menganggapnya aneh karena terlalu percaya diri. Astaga! Tidakkah Fany mengerti kalau sebenarnya Juna saat ini juga sedang gugup?!


"Eum... Jangan tanya kayak gitu, yang jelas aku gak suka kamu deket sama cowok lain, itu aja," ucap Juna tanpa menoleh ke arah Fany.


Alis Fany menukik tajam, ia tidak suka dengan jawaban Juna yang terkesan menggantung seperti itu.


"Yang jelas dong kalo ngomong tuh! Kalau gak suka sama gue ya bilang aja terus terang, tapi gak usah sok ngelarang gue deket sama siapa aja," sungut Fany kesal.


Juna menoleh dan menatap Fany tidak terima, "aku ini suami kamu, Fany. Aku punya hak buat cemburu dan ngelarang kamu dekat sama orang lain."


"Wah, ngajak berantem ini orang," ucap Fany, "kita nikah gak ada rasa cinta. Lo gak cinta sama gue kan?! Jadi, gak usah sok sokan cemburu gak jelas."


Juna hanya mendengus kesal mendengar bentakan dari Fany. Ia sendiri juga bingung harus menjawab apa. Dibilang cinta, tapi ia sendiri masih bingung dengan perasaannya. Dibilang tidak cinta, lalu kenapa ia harus bingung. Akhirnya, mereka berdua pun hanya diam sepanjang perjalanan.

__ADS_1


...----------------...


Juna menghentikan mobilnya setelah sampai di parkiran basement apartemen. Pria itu melirik ke arah kursi penumpang dan mendapati bahwa istrinya yang pemarah itu sudah tertidur dengan lelap.


"Duh, bangunin apa nggak, ya?" gumam Juna.


Ia tidak tega untuk membangunkan Fany. Raut wajah gadis itu terlihat sangat lelah. Tapi, jika tidak dibangunkan, apakah Juna harus menggendong istrinya itu? Ingat bahwa mereka tidak tinggal di rumah pribadi, mereka tinggal di lantai apartemen lantai 11.


Setelah mempertimbangkan segalanya dengan matang, akhirnya Juna pun memutuskan untuk menggendong Fany. Berdoa saja semoga ia diberi kekuatan hingga selamat sampai di kamar gadis itu.


Juna keluar itu dan berlari kecil mengitari mobil untuk membuka pintu penumpang. Setelah itu, ia pun menggendong Fany ala bridal-style. Dalam hati, ia bersyukur karena tubuh Fany terasa sangat ringan. Kemudian ia pun mulai memasuki area apartemen dan masuk ke dalam lift yang mengarah langsung ke lantai apartemen mereka.


Ting!


Pintu lift terbuka. Juna menghela napas lega saat sudah sampai di lantai 11. Meskipun begitu, lengannya sudah mulai terasa pegal karena menahan bobot tubuh Fany dalam waktu yang cukup lama.


Setelah sampai di kamar Fany, Juna pun langsung merebahkan tubuh istrinya itu dengan hati-hati di atas ranjang.


"Huuh~ kamu ini tidur apa pingsan sih?" monolog Juna.


Pria itu mengistirahatkan tubuhnya dengan duduk di sebelah Fany. Ia memperhatikan wajah tenang Fany yang sedang tertidur. Dalam hati, ia terus bertanya kepada dirinya sendiri, apakah ia benar-benar mencintai gadis manis yang berstatus sebagai istrinya ini.


Tidak ingin berlama-lama tenggelam dalam pikirannya, Juna pun ikut merebahkan tubuhnya di sebelah Fany. Sepertinya, pria itu ketagihan untuk tidur di samping Fany.


...----------------...


Mata Fany terbuka dan memandang lekat wajah suaminya yang tertidur pulas. Di satu sisi, ia senang karena bisa melihat wajah tampan Juna setelah ia bangun tidur. Tapi di sisi lain, ia merasa sedih karena kemarin Juna mengatakan secara tersirat kalau pria itu tidak mencintainya.


"Kenapa lo gak bisa cinta sama gue, Kak?" gumam Fany pelan.


Tangannya terulur untuk merapikan anak rambut suaminya itu.


"Kenapa gue harus ngerasain cinta sendirian?" ucap Fany dengan sendu.


Ia masih meratapi cintanya yang bertepuk sebelah tangan, hingga tiba-tiba tubuh Juna bergerak.


Grep!!!


Mata Fany membelalak saat tubuhnya tiba-tiba dipeluk oleh Juna. Bahkan, pria itu tidak repot-repot membuka matanya terlebih dahulu dan langsung menghambur ke arahnya.


"K-Kak Juna? Lo u-udah bangun?" tanya Fany dengan jantung berdegup kencang.

__ADS_1


"Kamu beneran cinta sama aku, Fan?" tanya Juna tanpa menjawab pertanyaan Fany terlebih dahulu.


Fany hanya bisa meringis kecil dan menggigit bibir bawahnya. Malu sekali rasanya saat tertangkap basah sedang mengagumi seseorang.


"Fany?" panggil Juna.


"Gak usah tanya lagi kalau udah tau," sahut Fany cepat sambil menenggelamkan wajahnya di pelukan Juna.


Juna pun membuka matanya dan terkekeh melihat tingkah Fany, "aku kan cuma mau memastikan."


"Malu~" cicit Fany dengan suara teredam.


Juna tertawa kencang mendengar suara kecil Fany. Istrinya ini sangat menggemaskan, pikirnya. Ia pun mengeratkan pelukannya.


"Kalau gitu, aku juga mau cinta sama kamu," celetuk Juna.


Fany buru-buru melepas pelukannya dan menatap nyalang suaminya itu. Apakah pria tampan itu baru saja mengungkapkan cinta kepadanya? Tapi kenapa malah terdengar menyebalkan?


"Mana bisa gitu, hah?! Tiba-tiba ngomong 'cinta', jangan dibuat bercanda deh," sungut Fany.


"Aku serius," ucap Juna.


Fany menatap mata Juna dan benar saja, ia melihat keseriusan di mata suaminya itu.


"Aku cinta sama kamu."


Akhirnya... Kata-kata yang selama ini dinantikan oleh Fany. Gadis itu mengerjapkan matanya untuk memastikan bahwa kejadian di depannya ini adalah realita, bukan mimpi.


"Serius lo, Kak?" tanya Fany dengan mata membulat lucu.


Juna terkekeh, lalu mengusak rambut Fany, "iyaa~ istriku sayang~"


Duaar!! Meledak jantung Fany. Sayang?! Woyy! Fany dipanggil 'sayang' oleh Juna. Astaga! Akal sehat gadis itu pasti sudah lenyap sekarang. Gadis itu kepalang malu, sehingga ia langsung menyembunyikan wajahnya kembali di dada Juna.


"Aaaaa!! Malu banget~" teriak Fany.


Juna hanya tertawa kecil merasakan dadanya yang terasa geli karena Fany berteriak di sana.


...----------------...


Halo para pembaca....

__ADS_1


Gimana?? Dapet gak feel-nya. Haduh... Author sendiri juga gak pernah romantis-romantisan nih xixi


Jadi, kalau kurang greget, maaf yaaa ❤


__ADS_2