Tentang Fany

Tentang Fany
Part 11 : Rumit


__ADS_3

"HAH?!"


Suara keras Rangga dan Berly membuat Fany menutup matanya karena terkejut.


"Lo mau tinggal bareng ayah lo?!" seru Berly.


Saat ini, mereka bertiga sedang bersantai di rooftop sekolah. Tetapi, tidak bisa disebut santai lagi setelah Fany menceritakan kejadian dimana ayahnya mengajaknya untuk tinggal bersama. Kemarin, ketika Fany menyetujui untuk pindah rumah, ayahnya langsung membeli sebuah rumah mewah di kawasan perumahan elit dekat sekolahnya. Rencananya David beserta keluarga, termasuk Fany, akan pindah ke sana tiga hari lagi.


"Iya," jawab Fany, "lumayan lah, daripada gue harus bayar kost sama listrik tiap bulan."


Rangga menatapnya heran, "perasaan waktu itu lo masih uring-uringan pas ketemu ayah lo. Lah, ini belum ada seminggu, lo malah tiba-tiba setuju diajak tinggal serumah. Gampangan banget sih lo."


Fany menggeplak kepala belakang Rangga agak keras, "enak aja lo ngatain gue gampangan."


'Ya gak salah sih kalau disebut gampangan' batin Berly.


Ia tidak berani mengatakannya dengan lantang karena takut kepalanya digeplak juga oleh Fany.


"Gue tinggal sama mereka juga ada syaratnya," lanjut Fany.


Astaga, tidakkah Fany sadar bahwa ia sendiri yang membuat David mengajukan syarat itu. Ia cukup tertarik dengan ajakan ayahnya untuk tinggal bersama dan hidup berkecukupan, tetapi gengsinya terlalu besar untuk menerima ajakan itu begitu saja. Akhirnya, ia pun menekan ayahnya untuk meminta sesuatu juga darinya. David yang benar-benar ingin agar Fany mau tinggal bersamanya terpaksa mengajukan syarat konyol itu.


"Hah? Syarat apaan?" tanya Berly.


"Dijodohin," jawab Fany singkat, padat, tapi tidak jelas.


"HAH?!"


Suara lantang Fany dan Berly membuat Fany kembali terkejut, "tck, apaan sih kalian?! Dari tadi ngagetin aja deh."


"Lo tuh yang apa-apaan?!" sungut Rangga, "mau dijodohin gitu aja."


"Mana santai banget mukanya, kayak gak ada beban," kata Berly yang juga kesal dengan jawaban Fany.


"Emang gak ada beban. Cuma dijodohin doang, kok," balas Fany acuh tak acuh.

__ADS_1


"Cuma?! Lo bilang cuma?!" sungut Berly tidak terima, "gila lo, Fan! Dari dulu lo gak pernah mau kalau ada yang ngajakin pacaran gara-gara mau fokus sama masa depan, tapi sekarang lo malah seenaknya mau disuruh nikah?!"


"Justru itu, Ber. Gue gak mau terlibat hubungan gak jelas kayak pacaran. Dikit-dikit cemburu, terus berantem, nangis, putus, balikan, gituuu aja siklusnya. Kalau nikah kan beda, nikah itu hubungan yang pasti," jelas Fany.


"Pasti dari mananya sih, Faaaannn," kesal Rangga.


"Emang lo cinta sama tuh orang? Emang tuh orang juga cinta sama lo?" imbuhnya.


Fany mengedikkan bahunya, "sekarang sih nggak, gatau kalau nanti. Cinta itu gak penting, yang penting itu komitmen dan saling menghargai."


Rangga mengusap wajahnya dengan kasar dan terus mengumpat tertahan, ia sudah jengkel dengan pemikiran Fany yang menurutnya sangat dangkal.


"Fan.. Fan.. Yang awalnya nikah karena cinta aja bisa kdrt, apalagi lo yang nikah cuma karena dijodohin," cibir Berly.


"Salah sendiri nikah cuma modal cinta, gak kenyang," celetuk Fany.


"Emang lo mau nikah sama siapa, sih?" tanya Rangga yang mulai tenang.


"Gatau," jawab Fany acuh sambil menjilati permen lolipop yang baru saja ia buka.


"Lo gak tau calon suami lo siapa, tapi udah main setuju aja?!" seru Berly.


"Halah, ntar juga tau sendiri. Yang penting orangnya kaya sama good-looking."


Fany adalah gadis yang pemberani dan tidak suka melibatkan perasaan, kecuali perasaan marah dan benci. Namun, keberaniannya itu juga lah yang seringkali membuatnya nekat mengambil keputusan tanpa memikirkan segala risiko yang bisa saja membuatnya terluka.


"Lo tolol banget sumpah," geram Rangga.


"Fan," panggil Berly membuat Fany menoleh, "gimana kalau ternyata yang dijodohin sama lo itu kakek-kakek perut buncit," ucap Berly berusaha menakut-nakuti Fany, agar ia mempertimbangkan lagi keputusannya itu.


Fany berhenti memakan lolipopnya, ia tampak mempertimbangkan ucapan Berly. Sejak awal, ia hanya memikirkan benefit yang akan didapatnya tanpa memikirkan kemungkinan terburuk yang mungkin saja terjadi, yaitu menikah dengan om-om atau bahkan kakek-kakek menyebalkan.


"Jangan ngomong kayak gitu, dong. Gue yakin ayah gue pasti gak sembarangan milih orang. Lo liat sendiri kan, muka ayah gue aja ganteng banget, pasti milih menantu juga yang ganteng," kata Fany mencoba meyakinkan teman-temannya, sekaligus meyakinkan dirinya sendiri.


"Ya... Siapa tahu ayah lo emang berniat jodohin lo sama koleganya yang udah tua demi ngembangin bisnisnya," celetuk Berly.

__ADS_1


Fany hanya mendengus kesal. Dalam hati ia berdoa agar ucapan Berly itu tidak benar.


"Fan," panggil Rangga, kali ini dengan nada yang lebih serius, "gue bukannya mau buka luka lama lo, tapi lo gak boleh lupain fakta kalau lo adalah korban perceraian orang tua. Lo gak mau kan kalau kehidupan pernikahan lo nantinya berakhir buruk, sama kayak ibu lo."


"Gue tahu, Ngga," lirih Fany, "walaupun gue gak terlalu peduli sama siapa gue bakal dijodohin nanti, tapi gue tetep punya komitmen buat ngejaga pernikahan gue. Pernikahan itu sesuatu yang suci, gue percaya itu. Gue juga cuma pengen nikah sekali seumur hidup."


Rangga dan Berly hanya diam menyimak penjelasan sahabatnya itu dengan penuh perhatian, mereka ingin mengerti bagaimana jalan pikiran Fany yang sangat sulit dipahami itu.


"Tapi, gue juga gak mau ambil pusing sama jalan hidup gue. Kalau misalnya nih ya, amit-amit deh, nanti gue harus cerai, yaudah cerai aja. Yang penting gue punya harta yang cukup buat lanjutin hidup gue," lanjut Fany.


"Segitu cintanya lo sama uang ya, Fan," ucap Rangga spontan yang langsung diberi tatapan tajam oleh Berly.


Fany agak sakit hati mendengarnya, tetapi ia paham mengapa Rangga berpikiran seperti itu.


"Sejak kecil gue hidup kekurangan. Gue tahu rasanya menderita karena hidup miskin, dan gue gak mau hidup kayak gitu lagi," kata Fany.


Rangga dan Berly tidak berani membalas jika membahas masalah ini. Mereka berasal dari keluarga yang berada, tentu saja mereka tidak bisa membayangkan penderitaan yang dialami Fany selama ini.


"Lo gak punya trauma sama pernikahan?" tanya Rangga hati-hati.


Fany tertawa kecil, "bodo amat gue sama trauma. Gue emang sedih, anak mana sih yang gak sedih lihat keluarganya hancur. Tapi, gue gak mau membesar-besarkan kesedihan gue dengan label trauma. Cuma nambah beban gue doang."


Berly menghela napas lelah, "gue gak tahu harus ngomong apa lagi, Fan."


"Tapi lo harus inget satu hal. Kalau ada sesuatu yang bikin lo sedih atau sakit hati, kita selalu ada buat lo," lanjutnya.


Rangga mengangguk sambil tersenyum kepada Fany, "kita selalu dukung apapun keputusan lo."


"Makasih banyak ya, " ucap Fany sambil menyunggingkan senyum manisnya.


Ia sangat bersyukur, di saat takdir selalu mempermainkannya, ia memiliki dua orang sahabat yang baik seperti mereka.


...----------------...


...Jangan lupa tinggalin jejak ya...

__ADS_1


...Komen dulu yukk, biar authornya seneng 😊...


__ADS_2