
Teettt... Teettt...
"YEAY!!!"
Semua siswa bersorak gembira setelah bel tanda ujian selesai. Hari ini adalah hari terakhir ujian kelulusan, mereka semua sudah lega karena sudah melewati seluruh rangkaian ujian.
"Baik semuanya, terima kasih sudah mengerjakan ujian, semoga mendapatkan hasil yang terbaik," ucap pengawas ujian sembari meninggalkan ruang kelas.
Setelah itu, sebagian siswa berkerumun untuk membahas tentang ujian tadi, sedangkan yang lainnya memutuskan untuk segera pulang. Fany sendiri memilih untuk pergi keluar kelas karena ia sudah memiliki janji dengan Rangga dan Berly.
"Yo! What's up!!"
Seru Fany saat melihat Rangga dan Berly sedang berdiri di depan ruang ujian Berly.
"Yo! What's up bro!!" balas Berly, "Gimana tadi ujian lo? Lancar?"
"Lancar dong," jawab Fany.
"Eh btw, jadi pergi gak nih?" tanya Rangga.
"Ya jadi dong. Yuk, kita ke sana sekarang," balas Fany.
Mereka bertiga pun berjalan beriringan menuju gerbang sekolah. Hari ini rencananya mereka akan hang out ke suatu tempat. Karena peraturan sekolah tidak memperbolehkan siswa untuk membawa mobil ke sekolah, jadi mereka pergi ke tempat itu diantar oleh sopir Rangga.
Setelah menempuh waktu 20 menit perjalanan, kini mereka telah sampai di tempat tujuan, yaitu Hotel Royal Lavender, salah satu hotel bintang 5 yang ada di kota tempat tinggal mereka. Tujuan mereka datang ke sini bukan untuk check-in, melainkan untuk makan di restoran sushi terkenal yang ada di dalam hotel. Baru saja masuk area hotel, mereka sudah terkagum-kagum dengan isi gedung tersebut.
"Gila sih, interiornya mewah banget," ucap Fany saat mereka sudah duduk di dalam restoran.
Berly mengangguk setuju, "apalagi pas di lobi tadi, lo lihat ada patung Aphrodite di sana, kan? Kerasa banget aura mewahnya. Kapan-kapan gue harus ngajak papa sama mama gue nginep di sini sih."
"Sama. Gue jadi kepo sama kamarnya, bakalan sebagus apa, ya?," balas Fany, "btw, lo udah pernah ke sini, Ngga?"
Rangga menggelengkan kepala, "belum sih, gue dapet rekomendasi tempat ini dari temen gue, katanya sushi paling enak tuh di sini."
Berly dan Fany hanya menganggukkan kepala. Beberapa menit kemudian, sushi pesanan mereka pun datang.
"Woww...," mata Fany berbinar melihat sushi yang tampak lezat, lalu menoleh kepada pelayan yang mengantarkan makanannya, "makasih banyak, Kak."
Pelayan itu tersenyum, kemudian pergi setelah meletakkan makanan di meja mereka. Tanpa banyak basa basi lagi, mereka bertiga langsung menyantap makanan tersebut.
"Mmm... Enak banget," kata Berly sesaat setelah memasukkan sushi ke dalam mulutnya.
__ADS_1
"Enak banget sumpah, rasanya pengen nangis terharu gue," balas Fany berlebihan.
Rangga hanya manggut-manggut sambil menikmati makanan dalam diam. Tidak butuh waktu lama, makanan di meja mereka sudah habis tanpa sisa.
"Wahh, kenyang banget gue," kata Rangga sambil menyandarkan tubuh.
"Udah kenyang, sekarang tinggal tidur. Yuk check-in," balas Fany.
"Ngadi-ngadi nih anak," cibir Rangga.
Fany dan Berly hanya tertawa. Mereka juga menyandarkan tubuh di kursi masing-masing karena merasa kekenyangan.
"Hayoo Berly, jangan lupa abis ini ada tes SNBT lhoo," kata Fany tiba-tiba.
*SNBT : Seleksi Nasional Berdasarkan Tes. Dulu SBMPTN.
Wajah Berly berubah menjadi suram, lalu ia memukul lengan Fany pelan, "jahat banget sih lo. Baru aja kita selesai ujian, kenapa udah diingetin tes lagi sih?!"
"Haha, biar lo gak males-malesan belajar," Fany masih tertawa menggoda Berly, "gue kan gak ikut SNBT, jadi udah tenang."
"Iya iya yang udah diterima di kampus impian," balas Berly dengan nada malas.
Sekedar informasi, satu bulan yang lalu, Fany mencoba untuk mendaftar ke Universitas Garuda Emas lewat jalur prestasi. Sebenarnya, itu hanya coba-coba. Ia tidak berharap banyak akan diterima lewat jalur ini, mengingat banyak pendaftar lain yang berasal dari sekolah elit yang tentunya lebih berprestasi daripadanya.
Fany menyengir lebar, "hehe, jangan cemberut gitu dong. Gue doain deh, semoga lo juga lolos tes. Calon bu dokter harus semangat!"
Berly hanya mendengus kasar kasar, lalu mengamini perkataan Fany.
"Eh, lo jadinya gimana, Ngga?" tanya Berly.
"Gue ikut SNBT," jawab Rangga.
"Oh ya? Ambil jurusan apa?" tanya Fany.
"Kedokteran."
"HAH?!" teriak Fany dan Berly bersamaan.
Rangga berdecih kesal, "tck, apaan sih?!"
"Kesambet apaan lo? Kok tiba-tiba mau masuk kedokteran," seru Berly.
__ADS_1
"Iya nih, bukan Rangga ya lo?! Setan mana lo?" imbuh Fany.
Rangga memutar bola matanya malas, "mulai kumat nih gilanya. Lo berdua tuh bener-bener, ya. Giliran gue mau masuk kedokteran, bukannya didukung malah diledekin."
"Uluh uluh~ ada yang ngambek nih," goda Fany.
"Udah ah, males gue," sungut Rangga.
"Haha, ngambek dia," Berly tertawa melihatnya, "bukannya gitu, Ngga. Kita cuma kaget aja, tiba-tiba lo mau masuk kedokteran. Padahal dulu lo kayak najis banget sama jurusan itu."
"Iya, jangan-jangan lo masuk kedokteran gara-gara terpaksa lagi? Wah, lo udah kalah sama orang tua lo? Udah gak kuat berontak lagi?" balas Fany.
Rangga menghela napas panjang, "terpaksa sih nggak. Minat sendiri juga nggak. Lebih ke jalanin apa yang ada di depan gue sih. Lagian gue juga gak tahu minat bakat gue apa. Ya udah, gak ada salahnya nyobain kemauan orang tua gue."
"Huhu... Bijaksana sekali teman kita ini, Ber," kata Fany sambil berpura-pura menangis.
Berly terkekeh, lalu kembali menatap Rangga, "gue dukung keputusan lo buat masuk kedokteran, Ngga. Gue yakin, lo pasti bakalan jatuh cinta sama dunia medis."
Rangga hanya menganggukkan kepalanya. Sementara Fany diam-diam tersenyum melihat interaksi kedua temannya. Bukan maksud apa-apa, ia hanya senang memiliki teman yang saling mendukung seperti ini.
"Fany?"
Panggil seseorang membuat Fany menoleh.
"Loh, Kak Juna?" Fany melihat Juna berdiri tidak jauh dari tempatnya, "Kak Juna ngapain di sini?"
"Aku tadi ada urusan bisnis di sini," jawab Juna sambil melangkah mendekati Fany, "kamu sendiri ngapain di sini?"
"Gue baru selesai makan siang di sini. Oh iya, kenalin mereka sahabat gue," kata Fany sambil melihat teman-temannya.
Rangga dan Berly yang tidak mengenal siapa pria yang berdiri di hadapan mereka hanya tersenyum canggung. Diam-diam mereka mengagumi paras pria itu yang sangat tampan. Setelah itu, mereka berinisiatif memperkenalkan diri masing-masing.
"Halo Kak, aku Berly, temennya Fany."
"Hai Kak, aku Rangga, sahabat baiknya Fany."
Juna tersenyum manis, "Hai, aku Juna, calon suami teman kamu."
"HAH?!"
__ADS_1
Kini Rangga dan Berly mulai paham mengapa Fany bersikeras untuk menerima perjodohan tidak jelas itu. Tentu saja gadis itu bersedia dijodohkan jika calon suaminya adalah pria yang sangat tampan dan gagah seperti ini. Lagipula, siapa yang bisa menolak pesona seorang Arjuna Dion Bagaskara?