
Fany merapikan tasnya dan bersiap untuk pulang. Hari ini ia bersekolah seperti biasanya. Meskipun kejadian 3 hari lalu masih mengganggu pikirannya, tetapi ia sudah lebih tenang sekarang. Ia bisa bersikap ceria di depan teman-temannya seperti tidak terjadi apa-apa.
"Fan," panggil Berly sambil berjalan masuk ke dalam kelas Fany.
Beberapa teman sekelas Fany sudah pulang, jadi Berly bisa masuk ke kelasnya dengan bebas.
"Hai, Ber," Fany menoleh sambil tersenyum, "kok lo malah kesini, bukannya keluar? Belum dijemput?"
Berly menggeleng, "belum, mama tadi masih ada urusan, tapi katanya sekarang udah mau otw sih."
"Yaudah, bareng gue aja yuk ke gerbangnya," ajak Fany.
Berly mengangguk setuju, lalu mereka berdua pergi keluar kelas sambil bercakap-cakap.
"Lo serius gak mau daftar bimbel, Fan?" tanya Berly.
Fany hanya menggelengkan kepalanya.
"Dua bulan lagi ujian kelulusan, lho," imbuh Berly.
"Gue gak ada duit buat bimbel di luar, Ber. Lagian kan bulan depan sekolah udah ngadain bimbel sendiri tiap pulang sekolah," jawab Fany.
"Iya sih," Berly tampak menjeda ucapannya, "tapi emangnya lo gak takut ya kalau gak ikut bimbel? Gue aja tiap hari selalu ambil kelas tambahan sampai tengah malem gara-gara takut nilai gue jelek pas ujian nanti."
"Gue masih bisa belajar sendiri kok. Kalau ada yang gak paham bisa langsung lihat internet, beres," kata Fany dengan santai.
Berly tidak habis pikir dengan temannya yang satu ini. Meskipun ia tahu bahwa Fany itu pintar, tapi masalah ujian bukan hal yang sepele. Buat siswa kelas 12 seperti mereka, bimbel sudah seperti hal yang wajib. Bahkan, siswa dengan peringkat paralel 1 di sekolah mereka mengikuti 3 bimbel berbeda setiap hari untuk persiapan ujian kelulusan dan tes masuk universitas. Tapi Fany, gadis itu bersikap seolah tidak peduli dengan ujian dan tes.
"Gue bukannya bodo amat sama ujian, Ber," kata Fany saat mereka sudah sampai di depan gerbang sekolah.
"Lo ikut bimbel biar proses belajar lo lebih mudah kan, dibantu sama tutor berpengalaman, dengan harapan lo bisa ngerjain ujian dengan lancar," Berly menyimak penjelasan Fany, "sama kok, gue juga berharap kalau gue bisa ngerjain ujian dengan lancar. Tapi bedanya, gue memilih buat belajar sendiri, tanpa dibantu siapapun."
"Kalau lo rajin ikut kelas tambahan sampai tengah malem. Gue juga sama, harus rajin belajar sendiri sampai tengah malem. Bahkan, gue harus belajar lebih keras kalau ada materi yang susah banget," lanjut Fany.
"Sulit banget ya kayak gitu? Gue yang dibimbing sama tutor aja kadang masih gak paham juga," ucap Berly tidak semangat.
"Sulit emang. Tapi untungnya gue udah terbiasa belajar sendiri. Jadi, kalau ada materi yang rumit, gue gak bingung-bingung banget, dan bisa cepet nemu solusinya," balas Fany.
Berly menghela nafas lelah, "semoga aja kita dapet nilai yang bagus nanti."
Fany hanya mengangguk.
"Tinggal sisa 2 bulan lagi, Faaannn~," Berly merengek seperti anak kecil.
__ADS_1
Sepertinya Berly sangat stres karena ia harus belajar lebih keras 2 kali lipat dari biasanya untuk menghadapi ujian kelulusan.
"Tuh mama lo udah datang," ucap Fany saat mobil sedan merah berhenti di depan mereka.
"Eh iya, cepet amat, perasaan tadi masih otw," gumam Berly. "Yaudah, gue pulang dulu ya, Fan," setelah itu Berly segera memasuki mobil.
Sebelum berjalan, kaca mobil pengemudi dibuka menampilkan wajah cantik mama Berly yang tersenyum, "duluan ya, Fany."
"Iya tante, hati-hati di jalan," balas Fany sambil melambaikan tangannya.
Setelah itu, Fany pun berjalan menuju kostnya. Ia sudah berencana untuk menyelesaikan PR dan belajar hingga malam nanti. Selain untuk persiapan ujian, sebenarnya ia juga mencari kesibukan supaya tidak kepikiran lagi dengan ayahnya.
...----------------...
"Wih, mobil siapa nih?"
Fany berdecak kagum saat melihat mobil bermerek Mercedes-Benz terparkir di halaman kostnya. Selama ini, tidak ada mobil mewah yang datang ke kost itu. Rata-rata penghuni di sana adalah siswi dan mahasiswi dari kalangan menengah ke bawah.
"Tipe gue banget anjir," Fany masih terus melihat mobil itu sambil berjalan menuju tangga menuju lantai 2 yang berada di luar kost.
Ngomong-ngomong, Fany adalah pecinta mobil mewah, yah... meskipun ia tidak memiliki mobil.
Saat melewati pintu utama lantai bawah, ia bisa melihat ibu kost sedang duduk berbincang dengan tiga orang di ruang tamu. Mungkin si pemilik mobil itu, pikirnya.
Fany yang baru saja ingin menaiki tangga menuju kamarnya, langsung menoleh, "eh, iya bu."
"Sini dulu, nak. Ada yang nyari kamu."
Fany mengernyit bingung, jadi si tamu kaya tadi ada urusan dengannya, tapi siapa. Fany pun langsung berjalan masuk ke dalam ruang tamu. Betapa terkejutnya ia saat tamu tersebut adalah ayahnya sendiri.
Kali ini ayahnya itu tidak sendirian, ada seorang wanita dengan penampilan elegan yang seumuran ayahnya dan seorang lelaki yang tampak masih muda, mungkin hanya beberapa tahun lebih tua darinya.
"Hei duduk sini, kok malah bengong," tegur ibu kost kepada Fany.
"Saya tinggal masuk ke dalam dulu ya," ucap ibu kost kepada David, "kalian santai saja."
David hanya mengangguk, lalu melihat Fany yang duduk di tempat yang tadi diduduki ibu kost. Sekarang hanya tinggal mereka berempat di ruangan itu.
"Ngapain kesini?" ketus Fany kepada David.
David menatap Fany sambil tersenyum, "ayah mau ngunjungin kamu, sekalian ngenalin mereka."
__ADS_1
Fany melirik dua orang yang duduk di sebelah ayahnya.
"Ini istri ayah, namanya Zara," tunjuk David pada wanita di sebelahnya.
"Panggil aja 'bunda'," kata wanita itu sambil tersenyum ramah.
"Dan ini," David menoleh pada lelaki di sebelah Zara, "Radit, anak ayah. Dia kakak tiri kamu, 7 tahun lebih tua dari kamu."
"Hai, Dek. Panggil aja 'abang'," kata Radit.
Fany hanya melongo dengan perkataan David. Apa-apaan ayahnya dan keluarga barunya itu, apakah mereka datang kesini dengan niat mengolok-olok Fany.
"Wow, wow!" Fany berucap kagum melihat 'pertunjukkan' di hadapannya.
"Tuhan memang adil, ya," sindir Fany dengan nada sinis, "mobil mewah, harta melimpah, dan keluarga yang harmonis."
Senyum di wajah ketiga orang tersebut memudar perlahan.
"Sempurna banget hidup ayah," kata Fany dengan nada mencemooh.
Tiga orang dewasa itu memilih untuk diam dan membiarkan Fany meluapkan kekesalannya.
"Aku kira ayah nyari aku karena nyesel udah ninggalin aku dulu," ucap Fany sambil bersedekap dada, "ternyata cuma mau pamer kehidupan sempurnanya, ya."
"Bukan begi-"
Zara mengehentikan ucapannya saat Fany menatap matanya dengan tajam. Tampaknya Fany tidak menyukai keluarga baru ayahnya itu. Tentu saja, dengan ayahnya sendiri saja tidak suka, apalagi dengan keluarga ayahnya.
"Sebenarnya tujuan ayah ketemu sama kamu adalah," David berkata dengan sangat hati-hati, "ayah mau kita tinggal bersama."
Dahi Fany mengernyit kebingungan, tapi sedetik kemudian ia tertawa remeh, "tinggal bersama? Haha, lucu."
"Buat apa kalian yang udah hidup bahagia gini mau ngajakin aku buat tinggal bareng," Fany memutar bola matanya malas, "aneh banget."
"Nak, kamu itu bagian dari keluarga kami, bunda juga pengen kita tinggal serumah," ucap Zara.
Fany memandang Zara dengan tatapan tidak bersahabat, "bagian dari keluarga? Hei! Yang bagian dari keluarga itu cuma aku sama ayah. Harusnya Aku, ibu, dan ayahku bisa hidup bahagia dari dulu."
"Sebelum pelakor seperti Anda datang, menggoda dan merebut suami orang!"
__ADS_1
"Fany!!! Jaga bicaramu!" bentak David membuat semua orang disana terkejut.