
Keesokan harinya, Fany memulai pagi dengan suasana hati yang suram. Ia merasa sangat kesal karena suaminya itu belum juga pulang.
"Tuh kan bener, udah nikah masih aja nginep di rumah perempuan lain. Beneran gak takut dosa tuh orang," cibir Fany.
Karena suasana hati gadis itu sedang buruk, ia jadi tidak mood memasak, akhirnya ia hanya memakan nasi dan lauk sisa kemarin yang sudah ia hangatkan.
"Muka doang yang ganteng, tapi akhlaknya gak ada," dumal Fany.
Ia menghela napas panjang, "huhh... Bosen banget gue, kayaknya harus refreshing deh."
Ia pun segera membereskan meja makan dan mencuci piring. Kemudian, bergegas menuju kamarnya untuk mengambil ponsel, dompet, dan kunci mobil. Ia memutuskan untuk pergi jalan-jalan mengendarai mobil baru kesayangannya.
"Gue harus shopping nih, sayang banget kartu kredit dari si Juna gak gue pakek," gumam Fany.
Waktu di hotel dulu, Juna memberikan kartu kredit untuk dipakai Fany sehari-hari. Sudah kewajiban suami untuk menafkahi istri, bukan?
"Tapi mau buat beli apa, ya?"
Fany mengendarai mobilnya dengan pelan sambil melihat-lihat sekitar. Tidak lama kemudian, ia memilih untuk berhenti di sebuah toko yang menjual berbagai stationery.
Setelah memarkirkan mobil, ia pun memasuki toko tersebut. Terdengar bisikan dari orang-orang yang ada di sekitar sana.
'Wih, cewek cakep mobilnya gak kaleng-kaleng.'
'Bawa supercar pake kaos oblong sama celana training, damagenya bikin gila.'
'Cewek mahal tuh, gue jadi gak berani godain.'
Fany hanya tersenyum kecil mendengar segala pujian itu. Menjadi pusat perhatian ternyata menyenangkan, batinnya. Ia pun mengambil keranjang belanja dan memilih-milih barang yang ia inginkan.
"Butuh banyak buku nih buat kuliah nanti."
"Ambil pulpen juga kali, ya?"
"Kalau mau beli pulpen harus sama yang lainnya juga dong. Pensil, penghapus, selotip, double tape,..."
Fany memasukkan banyak sekali barang ke dalam keranjang belanjanya. Setelah keranjang yang ia bawa sudah penuh, Fany pun pergi ke kasir untuk membayar belanjaannya.
"Bisa pakai kartu kredit nggak, Kak?" tanya Fany.
"Oh, bisa kak," jawab kasir tersebut dengan ramah.
Saat menunggu kasir yang menghitung belanjaannya, matanya tak sengaja menangkap sosok pria dewasa yang memasuki toko tersebut bersama anak perempuan.
__ADS_1
'Itu kan target gue,' batin Fany.
Pria itu adalah suami dari klien Fany. Fany juga mengetahui bahwa anak perempuan yang bersama pria itu adalah anak bungsu mereka.
'Kalau lagi sama anaknya gini jadi gak kelihatan kalau dia tukang selingkuh,' Fany merasa kasihan dengan anak perempuan itu.
"Totalnya 560.000 ya, Kak."
Suara kasir di hadapan Fany membuyarkan lamunannya. Ia segera menyerahkan kartu kredit itu kepada kasir. Setelah itu, ia langsung keluar dari toko dan masuk ke dalam mobilnya.
"Apa gue ikutin aja ya tuh orang?" gumam Fany, "siapa tahu gue bisa nemuin bukti perselingkuhannya."
Fany menunggu di mobil cukup lama. Setengah jam kemudian, pria itu keluar dari toko bersama anaknya sambil membawa belanjaan yang sangat banyak. Setelah mobil itu berjalan, Fany juga mulai menjalankan mobilnya mengikuti mobil tersebut. Beruntung pria itu tidak ngebut, jadi ia bisa terus mengikutinya tanpa tertinggal.
Ia terus mengikuti mobil itu hingga mereka berhenti di parkiran mall. Fany terus mengikuti ayah dan anak itu hingga masuk ke dalam mall. Mereka terlihat membeli banyak barang, seperti baju dan tas untuk anak itu.
"Dih, hedon banget sih," gumamnya, "huh... Gue kan jadi pengen."
Lalu, Fany pergi meninggalkan orang yang ia buntuti sejak tadi dan melenggang masuk ke toko pakaian branded. Saat masuk ke dalam toko, ia bisa melihat para staff yang memandangnya dengan tatapan merendahkan.
'Cih, mentang-mentang gue pakai baju kayak gembel gini aja gak dilayani,' cibir Fany dalam hati.
Ia memutuskan untuk tetap masuk dan memilih-milih pakaian sendiri. Bahkan saat ia sudah di dalam toko, tidak ada satu pun staff toko yang berinisiatif melayaninya seperti yang biasa staff toko barang mahal lakukan.
Fany menoleh dan mendapati pria yang ia ikuti tadi masuk ke toko yang sama dengannya. Bedanya, kali ini ia tidak bersama dengan anaknya.
"Saya mau mini-dress yang warna merah," jawab pria itu.
"Baik, untuk mini-dress merah ada di sebelah sini," kata staff wanita.
'Huuu... Giliran orang pake jas elit aja perlakuannya jadi ramah banget,' cibir Fany.
Ia perlahan-lahan bergeser ke arah mereka untuk mendengarkan lebih jelas pembicaraan orang-orang itu.
"Kalau boleh tahu, Tuan Roy mau ukuran yang seberapa?"
"Ukurannya sama seperti perempuan yang kemarin."
'Perempuan yang kemarin katanya? Ini sih jelas bukan istrinya,' batin Fany.
Setelah staff itu memilihkan pakaian yang cocok untuk Roy, mereka pun pergi untuk menyelesaikan di kasir.
__ADS_1
"Jadi beli apa nggak, Kak?!"
Suara agak keras seorang staff dari belakang membuat Fany sangat terkejut.
"Eh, bikin kaget aja sih, Kak," ucap Fany.
"Jadi beli apa enggak nih?!" tanya staff tersebut dengan nada yang lebih ketus dari sebelumnya.
Alis Fany langsung menukik tajam menandakan emosinya sudah membumbung tinggi.
"Gak sopan banget sih sama pelanggan! Gue beli nih semuanya!!"
Suara Fany membuat semua orang di sana menoleh.
Staff itu menoleh ke arah beberapa pelanggan dengan senyum canggungnya, lalu kembali melihat Fany dengan pandangan tajam.
"Jangan bikin ribut di sini ya, Kak. Kalau mau cuci mata aja, mending kakak segera keluar dari tempat ini."
Fany yang mendapatkan perkataan seperti itu langsung berbalik ke arah gantungan baju-baju mahal yang ada di sana.
Srett!!
Semua staff terkejut dengan aksi Fany yang mengambil semua baju di salah satu gantungan itu dengan sekali tarikan pada hanger-nya. Kemudian, ia berjalan menuju kasir membawa sekitar 10 baju itu dengan langkah kesal.
Brukk!!
Fany meletakkan baju-baju itu dengan kasar di atas meja kasir, lalu menatap tajam kepada kasir yang masih memandangnya dengan tatapan kaget.
Fany terkekeh pelan, "selain kasar sama pelanggan, ternyata pelayanan kalian juga sangat lambat, ya."
Kasir itu pun gelagapan, lalu segera menghitung belanjaan Fany. Sedangkan, staff yang tadi mengatainya tidak berani mendekat, sekalipun hanya untuk meminta maaf.
"T-totalnya 110 juta, Kak," ucap staff itu sedikit terbata-bata.
Lalu, Fany menyerahkan kartu kreditnya dengan santai. Setelah menyelesaikan transaksi, ia pun berjalan keluar dari toko itu dengan banyak paperbag di tangannya.
...----------------...
Brukk!
Fany meletakkan semua paperbag itu di jok belakang mobilnya.
"Aarghhh," Fany mengacak rambutnya frustrasi, "boros banget sih gueeee!!!"
__ADS_1
"Huh! gara-gara pelayan toko yang ngeselin itu. Cih, gak bakal lagi gue kesana," gerutu Fany.
Kemudian, ia pun melajukan mobil untuk pulang ke apartemennya.