
Fany memasukkan semua pakaian dan barang-barangnya ke dalam sebuah koper beserta dua kotak kardus besar. Hari ini adalah hari dimana ia akan pindah ke rumah barunya. Sejak kemarin malam, ia tidak bisa tidur. Ia merasa cemas memikirkan kehidupan sehari-hari di rumah barunya, bagaimana jika semua berjalan tidak sesuai dengan harapannya.
Setelah berpamitan dengan ibu kost dan teman-teman kostnya, ia pun memasukkan barang-barangnya ke bagasi mobil dibantu oleh Radit. Ayah dan bundanya tidak bisa datang menjemput karena harus mengurus sesuatu di perusahaan, sehingga kakak tirinya inilah yang datang untuk menjemputnya.
Tak lama kemudian, mobil pun mulai melaju menuju rumah baru mereka. Sepanjang perjalanan, mereka hanya diam karena memang tidak ada topik yang bisa dibicarakan. Bagaimana tidak, mereka saja baru bertemu satu kali. Lagipula Fany juga masih tidak menyukai ayah dan keluarga barunya itu.
"Dek," panggil Radit memecah keheningan.
Fany langsung menoleh dan menatap sengit, "dih, apaan sih manggil gue 'Dek'?! jijik banget tau gak, panggil nama aja bisa gak, sih?"
"Kan lo emang adek gue," balas Radit sambil menoleh sebentar kepada Fany, lalu kembali fokus pada jalanan di depannya, "wajar dong kalau gue manggil lo kayak gitu."
"Gak wajar lah," Fany memutar bola mata malas, "lo bukan saudara kandung gue."
"Bodo amat, suka gak suka, gue bakalan tetep manggil lo 'Adek'," final Radit.
Fany menghela napas kasar, "terserah."
"Btw, lo udah makan belum?" tanya Radit.
"Udah."
"Gue belum makan, nih."
"Derita lo."
"Mau mampir dulu gak?"
"Gak."
Radit langsung membelokkan mobil ke salah satu restoran ramen. Fany yang melihat kelakuan Radit langsung menatapnya dengan tatapan jengkel. Keras kepala juga kakak tirinya ini, pikirnya.
Radit tidak menghiraukan Fany yang sudah mendumal tidak jelas, ia malah turun dari mobil dan mengajak Fany untuk masuk ke dalam restoran, dengan sedikit paksaan tentunya.
Akhirnya, Fany pun mengikuti Radit ke dalam restoran itu. Mereka berdua memesan dua mangkuk ramen dan menempati salah satu meja yang kosong.
Tidak lama kemudian, dua mangkuk ramen tersaji di meja mereka. Fany hanya bersedekap dada sambil memandangi Radit yang fokus memakan ramen dengan nikmat. Ramennya sendiri belum ia sentuh sama sekali.
"Cih," decih Fany tanpa sebab sambil memutar bola mata malas.
__ADS_1
Radit melirik ke arahnya, "gue tau lo benci sama gue karena gue udah jadi bagian dari keluarga ayah lo," Radit menghentikan acara makannya dan menatap Fany, "tapi gue tulus nganggep lo kayak adek gue sendiri. Dari dulu gue pengen banget punya adek cewek."
Fany tertawa remeh, "lo bahkan belum tahu sifat gue, tapi lo udah nganggep gue sebagai adek cewek lo? Yakin lo sanggup jadi abang gue? Gue sih gak yakin kalau gue sama kayak gambaran adek idaman lo itu."
"Lo sendiri juga gitu, kan?" balas Radit.
Dahi Fany mengernyit, "maksud lo?"
"Lo belum tahu apapun soal ayah, tapi lo mau gitu aja pas diajak tinggal bareng. Yakin lo sanggup?"
Fany menegakkan tubuhnya. Ia tidak membalas perkataan Radit. Jika sebelumnya ia cukup yakin bahwa ayahnya tidak akan berbuat buruk padanya, tetapi sekarang ia menjadi gelisah setelah mendengar ucapan Radit. Lelaki itu sangat mengenal ayahnya, pasti ia tahu seperti apa sifat ayahnya itu.
"Emang ada apa sama ayah?" tanya Fany.
Radit menggeleng, "gak ada apa-apa, sih. Ayah baik, kok. Gue ngomong gitu cuma mau lo sadar kalau lo gak jauh beda sama gue, terlalu percaya sama insting."
"Mungkin sekarang lo aman karena keputusan lo buat tinggal sama kita itu tepat. Gue, ayah, dan bunda beneran nganggep lo sebagai keluarga. Tapi, bisa jadi di masa depan lo ngelakuin hal yang sama, yaitu percaya sama orang sesuai insting lo, bedanya saat itu ternyata dia adalah orang yang salah. Gue saranin, lo harus lebih hati-hati."
Fany hanya menatap Radit mencoba mencerna perkataan kakaknya itu. Meskipun wajahnya menunjukkan ketidakpedulian akan kata-kata Radit, tetapi pikirannya tetap menerima nasihat yang menurutnya tidak salah.
Tidak ingin berlarut-larut dalam pikirannya sendiri, Fany pun langsung memakan ramennya. Setelah selesai, mereka pun langsung melanjutkan perjalanan.
Di sisi lain, David dan Zara sedang menunggu kedatangan Radit dan Fany di ruang tamu rumah baru mereka.
"Mas," panggil Zara.
David yang duduk di sampingnya pun menoleh.
"Kamu serius mau jodohin Fany?" tanya Zara.
David menghela napas, "awalnya aku ngomong gitu supaya Fany setuju tinggal sama kita. Tapi, setelah aku pikir-pikir, gak ada salahnya juga kalau aku nyari pasangan yang cocok buat dia."
"Emang kamu udah punya calonnya?"
David mengangguk, "kamu tahu Pak Alex, pemilik perusahaan real estate yang terkenal itu?"
"Ya jelas aku tahu, lah," jawab Zara, "dia teman kamu waktu sma dulu, kan? Kita juga pernah beberapa kali makan malam sama keluarganya. Kayaknya rumahnya juga di lingkungan perumahan ini, iya kan?"
David tersenyum, "kamu benar. Beberapa waktu yang lalu aku ketemu sama dia di tempat golf. Di sana kita ngobrolin banyak hal, terus dia cerita sama aku tentang anak laki-laki tunggalnya."
"Dia sering berantem sama anaknya karena dia dan istrinya gak suka sama pacar anaknya. Akhirnya, aku inisiatif buat kenalin Fany sama anaknya itu. Kalau mereka berhasil nikah, perusahaan kita dan perusahaan Alex akan lebih mudah kerja sama."
__ADS_1
"Hah?! Yang benar kamu, Mas?!" kaget Zara, "kenapa jodohin Fany sama orang yang udah punya pacar sih, Mas?!"
"Aku sama Alex udah bicarain ini, Sayang," ucap David mencoba menenangkan Zara, "Alex akan maksa anaknya itu biar dia mutusin pacarnya, lalu menikahkannya dengan Fany."
"Kamu yakin, Mas?" kata Zara cemas, "aku takut Fany menderita nanti."
David mengangguk mantap, "aku udah tahu anaknya Alex yang mana, dia sekarang juga megang jabatan penting di perusahaannya. Dia pria yang cerdas dan bertanggung jawab. Aku yakin dia orang yang tepat untuk Fany, dan dia gak akan nyakitin Fany."
"Baiklah, semoga pilihan kamu tepat," balas Zara.
Setelah itu, mereka mendengar bunyi mobil Radit yang sudah sampai di halaman rumah. Mereka langsung bergegas keluar untuk menyambut Fany.
"Fany!"
Seru Zara sambil berlari kecil menghampiri Fany. Fany yang baru saja turun dari mobil itu langsung menoleh. Ketika bunda tirinya itu ingin memeluknya, ia langsung beringsut mundur, sehingga suasana menjadi sedikit canggung.
David yang melihat hal itu langsung berusaha mencairkan suasana, "selamat datang di rumah baru kamu, Nak."
David tersenyum dan berjalan mendekat, "kamu pasti capek, ya? Mending kamu langsung masuk aja. Biar ayah sama abangmu yang bawa barang-barangmu ke kamar."
"Ayo, Nak," ajak Zara.
Fany hanya mengangguk, kemudian ia mengikuti Zara masuk ke dalam rumah. Mereka menuju kamar yang akan ditempati oleh Fany di lantai 2.
Cklek
"Nah, ini kamar kamu."
Fany melangkah memasuki kamar bernuansa putih yang sangat luas itu. Perasaan kagum yang berusaha ia sembunyikan sejak pertama kali melangkah memasuki pintu utama, kini tidak bisa ia sembunyikan lagi. Matanya berbinar memandangi seluruh isi kamar yang terlihat indah dan bersih. Zara yang melihatnya diam-diam tersenyum, ia senang melihat Fany menyukai kamarnya.
"Permisi, koper mau lewat~" ucap David yang membawa koper Fany, diikuti oleh Radit yang membawa barang-barang lain.
Zara yang ada di pinggir pintu hanya tertawa kecil. Sedangkan Fany yang berdiri menutupi jalan langsung minggir agar mereka bisa meletakkan barang-barangnya di dalam kamar.
"Sekarang, terserah kamu mau istirahat dulu atau menata barang-barangmu, nanti jam 1 siang kita makan bersama di bawah," kata David.
Fany hanya mengangguk.
"Ya sudah, kita turun dulu ya, Nak," ucap Zara.
Lalu, mereka bertiga meninggalkan Fany di kamarnya sendiri agar gadis itu bisa beristirahat.
__ADS_1