
Fany melangkahkan kaki keluar gerbang sekolah. Ia pulang lebih sore karena hari ini mulai diadakan bimbel menjelang ujian kelulusan. Ia mengira akan dijemput oleh sopir yang ditugaskan oleh David untuk mengantar-jemput dirinya. Namun, yang ia lihat malah kakak tirinya di seberang jalan yang bersandar pada kap mobil. Ia cukup terkesima dengan mobil hitam mengkilat dengan logo empat bulatan itu. Audi R8, oh mobil cantik itu membuat batin Fany menjerit-jerit.
"Adek!"
Suara kencang Radit membuyarkan pikirannya. Tidak terkecuali para siswa yang berada di sekitar mereka menoleh dengan tatapan bertanya-tanya.
'Sialan, bakal jadi bahan gosip, nih,' batin Fany.
Ia langsung berlari menuju mobil dan masuk ke dalamnya, begitu pula dengan Radit.
"Kenapa lo yang jemput sih?! Mana pake keluar mobil segala. Di dalam aja kan bisa!" seru Fany tidak santai.
"Eh eh, kenapa nih, santai dong. Emang kenapa kalau abang yang jemput?"
Radit bingung dengan adiknya yang tiba-tiba marah tanpa alasan yang jelas.
"Temen-temen gue jadi pada liat kan. Ntar dikira lo pacar gue lagi," sungut Fany.
Radit memutar bola matanya jengah, "ya tinggal lo jelasin ke mereka aja, kalau gue abang lo."
Fany berdecih, "cih, males."
'Radit sabar, Radit kuat, Radit ganteng,' batin Radit sambil mengelus dada menghadapi tingkah bengis adiknya.
"Ya udah dong, gausah marah-marah gitu," kata Radit sambil melajukan mobil.
Fany melirik Radit. Laki-laki itu tampak rapi memakai jas hitam, style yang biasanya dipakai oleh orang-orang kantoran.
"Lo kerja?" tanya Fany.
Radit hanya mengangguk.
"Dimana?"
Radit menoleh dengan tatapan tidak percaya, "lo masih tanya 'dimana'? Lo lupa ya, bocah? Kalau ayah lo punya perusahaan gede."
Fany mendengus kesal, "gue kan cuma nanya."
Radit terkekeh melihat wajah adiknya yang tampak kesal dengan ucapannya.
"Emang posisi lo apa?"
"Kepo banget sih sama abangnya," goda Radit.
"YA UDAH GAK USAH DIJAWAB."
Radit langsung tertawa terpingkal-pingkal yang justru membuat Fany semakin jengkel. Mulai sekarang, membuat Fany marah-marah adalah hobi baru Radit.
"Gue sekarang megang posisi direktur keuangan. Ayah pengen gue nyoba jabatan bawah dulu sebelum bener-bener nyerahin posisi CEO ke gue," jawab Radit, kali ini dengan serius.
Fany hanya ber-oh ria. Tak ingin melanjutkan percakapan, mereka pun kembali diam hingga mobil memasuki area pekarangan rumah. Setelah mobil berhenti, Fany langsung turun dan masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Fany, sini dulu, Nak."
Panggil David sesaat setelah melihat anak gadisnya memasuki rumah.
Fany yang merasa terpanggil pun menoleh. Ia melihat ayah dan bundanya sedang duduk di ruang tamu berhadapan dengan seorang pria yang saat ini duduk membelakanginya.
Di saat pria itu menoleh ke belakang dan pandangan mereka bertemu, Fany langsung melebarkan matanya terkejut.
"Om Yudha?!"
"Hai, Fany," sapa Yudha sambil tersenyum.
"Ayo sini, duduk dulu," panggil Zara.
Fany pun melangkah untuk duduk di sofa tunggal yang ada di samping mereka. Diikuti dengan Radit yang baru masuk, lalu menyapa Yudha, seolah mereka sudah kenal lama.
"Kok om bisa ada di sini? Om kenal sama ayah aku?" tanya Fany.
"Iya," jawab Yudha.
"Kok bisa?"
"Jadi, Yudha ini partner perusahaan papa. Kamu tahu kan kalau papa punya usaha keamanan. Nah, Yudha ini yang menyediakan para bodyguard profesional," jawab David.
"Oh gitu."
Fany tersenyum pada Yudha. Ia agak rindu pada sosok yang sejak lama ia anggap sebagai ayahnya itu. Padahal mereka tidak bertemu hanya selama satu minggu.
"Oh iya, om kesini tadi karena mau ngasih undangan," kata Yudha, "itu undangannya udah om kasih ke ayah kamu."
David memberikan undangan yang dimaksud kepada Fany. Fany pun langsung membacanya.
"Wah!! Om Yudha mau nikah?! Aaaa, selamat om, akhirnya..." seru Fany.
Semua orang tersenyum melihat Fany yang memekik senang. Mereka belum pernah melihat sosok Fany yang ceria seperti ini.
"Jangan lupa datang, ya, hari Sabtu," ujar Yudha.
Fany mengangguk semangat.
...----------------...
Bunyi dentingan sendok terdengar di ruang makan. Keluarga kecil David sedang makan malam di rumah dengan tenang. Setelah mereka selesai makan, kaki Zara menyenggol pelan kaki suaminya memberi kode untuk memulai pembicaraan.
"Fany," panggil David.
Fany menoleh sambil membersihkan mulutnya menggunakan tisu.
"Ayah mau membicarakan sesuatu," lanjut David.
"Ya udah, ngomong aja," balas Fany.
__ADS_1
"Tentang perjodohan kamu."
Fany terdiam. Ternyata ayahnya ini benar-benar sudah mencarikan calon suami untuknya.
"Ayah mau kenalin kamu sama anak teman ayah, kami udah diskusi tentang ini, dan kami sepakat buat jodohin kalian. Besok mereka mau datang buat makan malam di rumah kita," kata David.
Tiba-tiba sebuah ide jahil melintas di otak Radit, "Hah?! Beneran sama orang itu, Yah?! Si duda pendek botak anak satu itu?!"
"HEH?! Yang bener aja dong?!" Fany melotot tidak terima kepada David.
Ayolah, apakah ayahnya ini tidak bisa memilih pasangan yang lebih baik untuknya.
"Radit! Jangan ngomong sembarangan!"
Kesal David kepada anak laki-lakinya yang suka memancing perkara.
"Minimal pilih-pilih dong kalau mau nyariin jodoh buat anaknya!" cibir Fany.
"Nggak Fany, jangan percaya omongan abangmu," kata David sambil melirik Radit yang sudah terkikik puas, sesekali mengaduh karena perutnya dicubit oleh Zara.
"Orangnya masih muda, belum punya anak. Masih 25 tahun, seumuran abangmu. Orangnya tinggi kok, Nak, ganteng lagi," lanjut David berusaha membuat anaknya percaya.
Mata Fany memicing, "beneran?"
"Iyaaa, Sayang," kata David.
"Kayaknya lo emang pengen nyari jodoh ya, Dek, gara-gara kelamaan jomblo," celetuk Radit.
"Apaan sih lo?!" sungut Fany.
"Ya abis mau dijodohin aja pilih-pilih dulu," balas Radit, "orang tuh kalau mau dijodohin ya harus nerima siapa calonnya, namanya aja di-jodoh-in."
"Ya harus pilih-pilih lah, Monyet!! Minimal yang dilihat tiap bangun pagi gak bikin muntah. Gue tampol mulut lo lama-lama, nih!" kata Fany dengan nada yang masih meninggi.
"Astaga bahasanya," lirih David pusing dengan ucapan anak gadisnya yang makin lama makin toxic.
"Udah udah, kalian kenapa ribut terus sih," ucap Zara berusaha melerai kedua anaknya.
"Fany, kamu lihat dulu aja orangnya. Kalau kamu gak setuju, gak apa-apa kok kalau mau nolak," jelas Zara.
Fany yang luluh dengan ucapan Zara mulai menetralkan emosinya, lalu mengangguk setuju.
"Ya udah, aku mau ke kamar dulu, mau belajar," pamit Fany, lalu beranjak dari tempat duduknya.
Setelah pergi, David langsung menatap tajam Radit, "kamu bisa gak sih jangan buat marah adikmu terus?!"
Radit hanya cengengesan melihat ayahnya. Ia tahu ayahnya tidak marah besar, jadi ia tidak terlalu takut.
"Dia gemesin sih kalau lagi marah-marah," kata Radit.
"Gemesin dari mananya?! Ayah gelagapan kalau mau nyari jawaban biar anak itu tenang," keluh David.
__ADS_1
Zara hanya tertawa melihat mereka. Selain takut istri, suaminya itu ternyata juga takut kepada anak gadisnya. Ia juga senang melihat keinginan anak laki-lakinya sudah tercapai. Memang dari dulu Radit selalu merengek meminta adik perempuan kepada orang tuanya itu, tetapi sayangnya Zara sudah tidak bisa hamil lagi. Jadi, saat mengetahui bahwa ayahnya memiliki anak kandung perempuan yang usianya 7 tahun lebih muda darinya, ia sangat senang dan selalu meminta untuk segera dipertemukan dengan adiknya.