Tentang Fany

Tentang Fany
Part 40 : Move On


__ADS_3

Pukul 8 pagi, Juna dan Fany sedang jogging di taman dekat apartemen. Beberapa perempuan yang ada di sana terpana ketika melihat pria setampan Juna yang sedang jogging dengan tubuh penuh keringat, tapi tetap tegap dan tidak terlihat lelah sama sekali. Tidak ada yang menyadari kalau pria yang sedang mereka kagumi itu ternyata sudah mempunyai istri. Tentu saja, karena istri dari pria itu sudah tertinggal jauh di belakang.


"Huh... Gila! Mau mati aja nih gue," gumam Fany sambil terus memaksakan diri berlari agar bisa menyusul Juna.


"Kak Juna!" panggil Fany, tapi suaminya itu tidak juga menoleh.


"Kak Juna!!"


"WOYY!!"


Suara menggelegar Fany membuat semua orang menoleh, termasuk Juna. Lelaki itu baru menyadari bahwa Fany tidak berlari di sampingnya sejak tadi.


"Fany? Kok kamu masih di situ," ucap Juna dengan nada santai.


Ingin rasanya Fany melempar sepatunya ke muka Juna. Eh, tapi bohong, ia masih terlalu sayang kepada Juna untuk melakukan itu.


"Tungguin gue dong, cepet amat sih larinya," gerutu Fany sambil berlari kecil menghampiri Juna.


"Capek ya?" tanya Juna saat Fany sudah berada di hadapannya.


"Menurut lo!" sungut Fany dengan wajah kesal.


Juna pun terkekeh, "ya udah, istirahat dulu yuk."


Lalu, mereka berdua pun duduk di salah satu bangku taman. Cuaca pagi ini begitu cerah, sehingga banyak orang yang datang ke taman membuat suasana menjadi ceria. Namun, keceriaan itu tidak berlaku bagi Juna. Fany mengamati suaminya yang dari tadi hanya diam.


"Masih mikirin mantan ya?" celetuk Fany.


Juna langsung menoleh, tapi beberapa detik kemudian, ia kembali menatap ke arah depannya lagi sambil menghela napas lelah.


"Udah lah, Kak. Ikhlasin aja, dia bukan yang terbaik buat lo," ucap Fany.


Juna menundukkan kepalanya, "gak semudah itu, Fan. Aku sama Aliesha udah pacaran sejak kuliah. Gak gampang buat lupain kenangan selama 8 tahun."


"Dan selama itu juga dia selingkuh di belakang lo, Kak. Lo harus move on, jangan terus-terusan galau," sahut Fany.


Juna menggelengkan kepalanya lelah, "lo gak bakalan ngerti."


Fany terdiam. Tentu saja ia tidak bisa sepenuhnya mengerti apa yang dirasakan Juna. Selama ini ia tidak pernah merasakan yang namanya pacaran. Tapi paling tidak, ia masih memiliki empati dan ingin berusaha untuk membuat Juna tidak bersedih lagi.


"Huh!" Fany pun berdiri, "mau balap lari sama gue gak?"


"Hah?" Juna mendongak untuk menatap Fany yang berdiri di depannya.


"Berani gak lo?" ucap Fany dengan muka songong.


Juna tersenyum miring, "oh, kamu berani nantangin aku?"


Fany hanya mengedikkan bahunya sambil terus menatap Juna dengan ekspresi menantang.


"Oke, siapa takut," imbuh Juna, lalu bangkit dari duduknya.


"Mulai!"


"Loh?"


Juna baru saja berdiri, tapi istri anehnya itu tiba-tiba saja sudah berlari kencang. Duh, apa-apaan Fany itu, ada saja akal liciknya.


"Dasar cewek aneh," kekeh Juna, kemudian ikut berlari menyusul Fany.


Setidaknya Fany berhasil menghibur Juna dengan tingkah anehnya. Suaminya itu kini sedang fokus berlari mengejarnya sambil sesekali memanggil-manggil namanya.

__ADS_1


"Haha! Gue bakal menang," ucap Fany sambil terus berlari.


"Curang kamu!" geriak Juna.


Sebenarnya, Juna bisa saja berlari menyusul Fany, tapi ia memilih untuk tidak melakukan itu. Ia merasa senang dengan berlari-lari kecil seperti ini, terasa seperti beban pikirannya menguap hilang.


'Gue bakal bikin lo lupa sama mantan lo itu, Kak,' batin Fany.


...----------------...


Siang harinya, Fany pergi mengunjungi perusahaan ayahnya. David dan Radit sedang ada urusan bisnis di luar kota, jadi Fany merasa bebas berkeliaran di perusahaan itu. Seperti sekarang, gadis itu sudah berada di ruang tim hacker sambil melihat-lihat pekerjaan mereka. Para hacker yang ada di sana merasa agak canggung dengan kehadiran Fany.


Ia bisa melihat sebuah video seperti rekaman dashcam mobil yang sedang berjalan di layar komputer mereka.


"Kalian ini sebenarnya lagi ngapain sih?" tanya Fany.


Semua orang menoleh ke arahnya, lalu saling melempar pandangan. Tidak ada yang berniat untuk menjawab pertanyaan anak dari bosnya itu. Pernahkah kalian sedang mengerjakan sesuatu, lalu ada orang yang tidak terlalu dekat dengan kalian tiba-tiba datang dan mengawasi pekerjaan kalian? Tidak nyaman, bukan?


"Eum... Nona Fany," ucap Jevo, "kami sedang memantau Tuan David dan Tuan Radit dari jarak jauh. Dan yang sedang anda lihat di monitor adalah kamera pengintai yang dipasang di mobil mereka."


Fany mengernyitkan dahi, "hah? Buat apa?"


"Tuan David dan Tuan Radit sedang menemui seseorang yang merupakan rival perusahaan ini, jadi kami harus selalu memantau demi keamanan mereka," jawab Jevo.


"Ayah sama abang dalam bahaya?!" tanya Fany.


Jevo menggeleng sambil tersenyum, "tidak, Nona. Mereka tidak dalam bahaya, hanya saja kita tidak boleh lengah."


'Apa bedanya?! Sama aja dong, artinya bahaya,' cibir Fany dalam hati.


"Kalau ada sesuatu yang terjadi sama ayah dan abang, apa yang bakal kalian lakuin?" tanya Fany.


"Maksudnya?" bingung Jevo.


"Oh, itu. Untuk keamanan di lapangan, itu sudah menjadi tugas pasukan khusus," jawab Jevo.


Fany mengernyitkan dahinya, "pasukan khusus? Mereka ikut sama ayah ke sana?"


Jevo mengangguk, "tidak secara terang-terangan. Mereka mengikuti Tuan David dan Tuan Radit dari jarak yang cukup jauh secara diam-diam."


Fany hanya menganggukkan kepalanya paham. Lama-lama, ia merasa bosan di tempat itu, lalu Fany pun berpindah ke ruangan ayahnya. Ia duduk di sofa sambil memainkan ponselnya.


"Kak Juna lagi ngapain ya?" gumam Fany.


Kemudian, ia berinisiatif untuk mengirim pesan singkat kepada suaminya.


^^^Fany^^^


^^^Kak Juna~~\^^^


^^^Lagi ngapain?\^^^


Juna


/Lagi kerja


"Dih, jutek amat sih. Tapi bener juga sih jawabannya, kan dia lagi di kantor," gerutu Fany.


^^^Fany^^^


^^^Udah makan?\^^^

__ADS_1


Juna


/Belum


^^^Fany^^^


^^^Ih, makan dulu dong\^^^


^^^Udah waktunya makan siang nih\^^^


Juna


/Iya iya, bawel


Fany terkikik membaca pesan itu. Ia cukup senang dengan fakta bahwa Juna membalas pesannya dengan cepat.


Ting!


Ia buru-buru melihat pesan dari Juna. Oh! Ternyata bukan ponsel di genggamannya yang berbunyi. Melainkan ponselnya yang lain yang ada di dalam tas selempangnya.


08xxxxxxx


/Aphrodite?


"Dih, gak sopan banget sih," cibir Fany.


^^^Aphrodite^^^


^^^Haloo~~ Aphrodite di sini\^^^


08xxxxxxx


/Saya mau kamu menerobos sistem keamanan.


Dahi Fany mengernyit, "sistem keamanan? Bukan main-main pasti ini orang."


^^^Aphrodite^^^


^^^Sistem keamanan apa?\^^^


08xxxxxxx


/Kamu tidak perlu tahu.


/Saya akan kirimkan kamu kode beserta servernya.


/Yang perlu kamu lakukan hanya menemukan celah untuk merusaknya.


Fany merasa bingung, kenapa klien ini bersikap aneh? Memintanya melakukan sesuatu tapi tidak bersedia memberikan detail. Ia merasa cukup tersinggung.


08xxxxxxx


/2 miliar jika berhasil.


Fany membelalakkan matanya melihat pesan itu. Astaga, 2 miliar?!


^^^Aphrodite^^^


^^^Baiklah.\^^^


^^^Akan aku lakukan.\^^^

__ADS_1


Tidak perlu banyak tanya lagi. Entah keamanan apa dan milik siapa yang akan ia bobol. Apapun akan ia lakukan demi uang, itulah prinsip Fany.


__ADS_2