Tentang Fany

Tentang Fany
Part 17 : Ring Tinju


__ADS_3

"Kalian kerjakan dulu soal-soalnya, saya beri waktu 15 menit. Nanti kalau sudah selesai, kita bahas bersama-sama," ucap seorang kakak tutor yang bertugas untuk mengajar bimbel di sekolah.


Fany langsung membuka lembaran soal try out di hadapannya. Matanya langsung berkunang-kunang saat melihat soal mata pelajaran kimia itu. Ia sebenarnya cukup pandai dalam mengerjakan soal-soal itu walaupun di beberapa nomor terasa sulit. Namun, meskipun bisa mengerjakan, hanya dengan melihat soal sekilas saja sudah membuat semua orang ingin muntah.


Setelah menghela napas panjang dan sedikit mendumal, ia pun mengambil pulpen untuk mengerjakan.


"Eh, susah banget ini, gimana sih?" tanya teman sebangkunya.


"Gue juga kesusahan ini, bentar dong," jawab Fany yang memang sedang sibuk menghitung.


Suasana di kelas tidak terlalu hening karena semuanya kesulitan dan sibuk berdiskusi. Kakak tutor yang ada di depan hanya membiarkan karena memang ini hanya soal latihan, jadi tidak ada aturan tidak boleh diskusi.


"Nah, ketemu!" seru Fany.


"Gimana, gimana?" tanya beberapa teman di sekitarnya.


Akhirnya, Fany menjelaskan cara menjawab soal itu kepada teman-temannya. Mereka langsung mengangguk paham dengan penjelasan Fany. Entah mengapa, jika diajari oleh teman sendiri terasa lebih mudah paham.


Kegiatan bimbel itu berlangsung hingga jam 5 sore. Saat ini, mereka sedang membereskan tas bersiap untuk pulang.


"Lo dijemput sama abang lo lagi, Fan?" tanya temannya itu.


Beberapa hari yang lalu saat mereka dihebohkan dengan Fany yang dijemput oleh seorang lelaki tampan dengan mobil mewah, keesokan harinya mereka langsung mencecar Fany dengan berbagai pertanyaan. Fany yang tidak ingin menimbulkan salah paham, mau tidak mau menceritakan yang sebenarnya.


"Nggak deh kayaknya, hari ini sopir gue yang jemput, soalnya abang sama ayah gue lagi sibuk di kantor," jawab Fany.


Kemudian, mereka berjalan keluar dan berpisah di depan gerbang untuk pulang ke rumah masing-masing. Ada beberapa mobil yang berjejer di depan gerbang sekolahnya, tetapi ia sama sekali tidak melihat mobil yang dibawa sopirnya.


"Hei, Fany!"


Suara seorang pria membuat Fany tersentak dan menoleh.



Ia tersenyum miring saat melihat Juna di balik kaca mobil putih yang diturunkan sedikit. Lalu, ia menghampiri mobil itu.


"Eh, Kak Juna~," sapa Fany dengan suara ramah yang dibuat-buat, "Kak Juna kesini mau jemput aku, ya?"


Juna memutar bola matanya malas, "cepetan masuk."


"Ih, judes banget sih," goda Fany.


Ia pun masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi penumpang di sebelah Juna.


"Jangan salah paham, aku jemput kamu karena dipaksa sama papa," kata Juna.


"Tck, iya iya, udah cepetan jalan," ketus Fany.


Juna menggeleng-gelengkan kepalanya, ia cukup lelah menghadapi gadis yang menurutnya sangat menyebalkan itu. Kemudian, mobil pun berjalan meninggalkan area sekolah.


"Eh, turunin gue di Redfox aja," seru Fany.

__ADS_1


"Aku bukan sopir kamu," balas Juna singkat.


"Tck, jalan ke rumah gue tuh ngelewatin Redfox. Daripada nanti lo turunin gue di rumah, terus gue balik sendiri ke Redfox. Gak efektif banget tau gak," jelas Fany panjang lebar.


Juna menghela napas lelah, "lagian ngapain cewek remaja kayak kamu ke tempat seperti itu?"


"Mau ketemu temen."


Dahi Juna mengernyit, "ketemu temen? Di tempat yang isinya om-om itu?"


Fany menjawab dengan kesal "hiih, banyak tanya lo! Udah, berhenti aja di depan situ."


Juna pun menghentikan mobil di depan bangunan besar dengan papan nama 'REDFOX'.


"Kamu udah pamitan sama ayah kamu?" tanya Juna sebelum Fany turun dari mobil.


"Udah," jawab Fany sambil melepas sabuk pengaman, "yang punya tempat ini temennya ayah, jadi aman."


Juna hanya menganggukkan kepala. Ia tidak peduli apa yang akan dilakukan gadis ini di tempat tinju. Ia hanya merasa sedikit aneh karena tempat ini adalah tempat tinju para profesional dan kebanyakan anggotanya adalah pria dewasa.


"Makasih, Kak."


Seru Fany sebelum menutup pintu mobil. Kemudian, gadis itu langsung berlari masuk ke dalam gedung. Juna yang melihat Fany sudah menghilang dari pandangannya langsung melajukan mobil kembali menuju perusahaannya.


...----------------...


Bertemu teman? Haha, Fany hanya menjawab asal pertanyaan Juna. Ia ke Redfox bukan untuk bertemu siapapun, bahkan Yudha tidak ada di sini. Ia datang ke sini karena malam ini ada pertandingan. Ia sudah mendaftar sebelumnya sebagai petarung malam ini. Itu pun dengan memohon-mohon kepada orang-orang yang mengatur pertandingan di ring agar tidak melaporkannya kepada Yudha.


Fany yang sedang memakai boxing gloves itu menoleh dan mendapati seorang pria yang merupakan rekannya di klub itu.


"Eh, Bang Rey, udah giliran gue ya?" tanya Fany.


Lelaki yang dipanggil Bang Rey itu menggeleng, "belum, masih ada yang tanding sekarang, tapi abis ini giliran lo."


Fany hanya menganggukkan kepala.


"Lawan lo hari ini cewek," ucap Bang Rey, "tapi badannya jauh lebih gede daripada lo. Dia atlet baru yang bulan lalu menang pertandingan di Bali."


"Oh, yang itu ya, gue juga liat siarannya, keren banget sih," seru Fany.


"Iya. Makanya lo harus hati-hati," balas Bang Rey memperingati.


"Iya iya, ya udah, ayo ke sana, gue harus stand by."


Kemudian, Fany dan Rey pergi menuju tempat pertandingan. Di sana sangat ramai sorakan karena ada pertarungan sengit antara dua orang pria berperawakan besar.


Beberapa menit kemudian, pertandingan berakhir dengan salah satu pria kalah KO, hingga harus dibawa menggunakan tandu menuju ruang kesehatan. Meskipun Fany sudah sering melihatnya, tetapi ia masih bergidik ngeri.


"Pertandingan selanjutnya, Maria vs Fany."


Teriak wasit dari dalam ring. Fany langsung naik dan berdiri di salah satu sudut setelah memasang pelindung gigi. Ia melihat lawannya yang juga berdiri di sudut bersebrangan dengannya. Wanita itu memiliki perawakan tinggi besar dengan rambut dicat merah, sangat kontras dengan Fany yang bertubuh tinggi tapi kurus. Terdengar sorakan keras dari orang-orang di sekeliling ring tinju.

__ADS_1


Setelah cukup melakukan pemanasan dan menerima instruksi dari wasit, bel tanda mulai dibunyikan.


Teengg


Dua petinju wanita yang berada di atas ring itu mulai saling mendekat dan melayangkan pukulan.


Wush... Wush...


Baik Fany, maupun lawannya, Maria, mereka sangat lincah dalam menghindari pukulan lawan.


Buagh!


Pukulan keras sang lawan berhasil mendarat di pipi kiri Fany membuatnya terpelanting ke belakang.


Buak! Buak! Buak!


Fany menutupi area kepalanya menggunakan kedua tangan untuk menghalau pukulan dari wanita berambut merah itu. Riuh suara penonton semakin keras menggema di ruangan itu.


Melihat celah, Fany dengan gesit mendorong lawannya agar ia bisa melakukan serangan. Maria sedikit terhuyung ke belakang mendapat dorongan kuat dari Fany.


Buagh! Buagh!


Dua pukulan kuat sukses mendarat di kedua sisi wajah Maria. Mendapat pukulan tak terduga dari lawan yang sempat ia anggap remeh tadi, Maria menerjang tubuh Fany hingga terpojok di sudut ring.


Buagh! Buagh! Buagh!


Maria memukul Fany membabi buta di pelipis dan perutnya. Wasit yang melihat hal itu segera membunyikan peluit agar Maria menjauh dan memberi ruang untuk Fany.


"Ugh..."


Fany bangkit sambil memegangi perutnya yang masih nyeri akibat pukulan brutal itu.


Kedua petinju itu kembali berhadapan dan bersiap untuk menyerang kembali.


Buagh!


Fany kembali mendapat pukulan dan terpelanting ke belakang, salah satu sudut mulutnya mengeluarkan darah. Tak ingin kalah di pertandingan ini, ia pun berusaha untuk tetap fokus.


Wush... Wush...


Pukulan dari sang lawan berhasil dihindarinya. Kemudian, ia memukul wajah si rambut merah dengan sekuat tenaga hingga tubuhnya terpelanting ke sisi pembatas ring.


Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Fany pun kembali menerjang sang lawan dan memukul wajahnya habis-habisan tanpa sempat dihalau.


Buagh! Buagh! Buagh!


Maria yang kesakitan mendapat pukulan di wajah masih berusaha membalas pukulan Fany, tetapi tenaganya sudah terlalu lemah. Hingga akhirnya satu pukulan uppercut dilayangkan oleh Fany membuat lawannya KO.


Wasit langsung menghampiri Maria untuk memeriksa kondisi. Setelah memastikan bahwa Maria KO, wasit mengumumkan bahwa Fany adalah pemenangnya.


Teng... Teng... Teng...

__ADS_1


Suara sorakan dan tepuk tangan bersahutan. Kemudian, beberapa orang mengangkat tubuh Maria untuk dibawa ke ruang kesehatan, begitu pula dengan Fany yang mendapat banyak luka dan harus segera diobati.


__ADS_2