
Di sebuah hotel mewah, terlihat begitu ramai tamu yang berdatangan. Malam ini adalah malam dimana pesta pernikahan Yudha digelar. Pria itu memang baru menemukan pasangan yang cocok di usia yang sudah tidak muda lagi.
Mobil-mobil mewah datang silih berganti di depan hotel. Tak lama kemudian, mobil bermerek Mercedes-Benz berhenti di area drop point. Dari dalam mobil, turun dua orang pria dengan tubuh tegap berbalut setelan tuxedo dan dua orang wanita dengan gaun panjang yang terlihat elegan. Mereka adalah keluarga David Enggar Permana.
Sang kepala keluarga dan istrinya mulai melangkahkan kaki ke dalam hotel dengan senyuman manis. Sedangkan, kedua kakak beradik itu masih berdiri menunggu orang tua mereka berjalan mendahului mereka.
'Hati mungil gue bergetar, jiwa miskin gue meronta-ronta,' batin Fany takjub dengan semua hal mewah yang ada di hadapannya.
Saat ia akan melangkahkan kaki, tiba-tiba lengannya ditarik oleh sang kakak.
"Apaan?" tanya Fany.
Radit hanya diam, lalu melingkarkan tangan adiknya di lengan kirinya.
"Dih, alay banget sih," gerutu Fany.
Meskipun begitu, ia tidak melepaskan tangannya dari lengan sang kakak.
Saat berada di aula pernikahan, sebagian besar perhatian tertuju kepada keluarga Permana. Tentu saja, tidak ada kaum elit yang tidak mengenal keluarga konglomerat pemilik perusahaan keamanan yang sudah memiliki cabang hingga mancanegara itu. Namun, yang membuat mereka lebih tertarik adalah seorang gadis yang sedang menggandeng lengan pewaris tunggal Permana Group.
Beruntung tadi bundanya menyewa MUA terkenal, jadi semua luka yang ada di wajahnya bisa tertutup dengan sempurna, sehingga kulitnya terlihat sangat mulus tanpa cela. Fany terkekeh dalam hati saat mendengar suara dari orang-orang yang sedang berbisik-bisik membicarakan dirinya. Banyak yang menebak bahwa ia adalah tunangan Radit.
"Bang, kok gue malah dikenal sebagai calon istri lo sih," bisik Fany diiringi dengan kekehannya.
"Biarin aja, lama kelamaan mereka bakal tahu sendiri siapa lo sebenarnya," jawab Radit.
Mereka terus berjalan menuju ke tempat mempelai.
"Om Yudha!"
Pekik Fany saat sudah dekat dengan om kesayangannya itu.
David dan Zara yang sudah lebih dulu mengucapkan selamat kepada Yudha dan istrinya hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat Fany yang hiperaktif.
"Eh Fany," panggil Yudha, "datang juga kamu."
"Ya iya lah, gak mungkin aku gak datang di hari yang paaaaling spesial ini," seru Fany dengan penuh semangat.
Lalu, ia mengalihkan pandangan kepada mempelai perempuan yang tampak anggun dengan gaun pengantin itu.
"Eh, hai, tante Vita," sapa Fany sambil menyalami perempuan itu, "selamat ya tante atas pernikahannya. Eh, atau aku panggil kakak aja ya, soalnya masih kelihatan muda banget."
Semua orang di sana tertawa mendengar ucapan Fany.
"Mulutnya itu loh, ada aja tingkahnya," julid Radit yang ada di sebelahnya.
"Haha, kamu bisa aja deh Fany, panggil 'tante' aja. Ngomong-ngomong, Yudha sering ceritain tentang kamu loh," ucap Vita.
"Oh ya? Om Yudha kok gak pernah ceritain tentang tante Vani sih ke aku," ucap Fany sambil melirik tajam Yudha.
"Ya emang lo siapanya Om Yudha?!" balas Radit dengan nada julid.
__ADS_1
"Eh, apaan sih lo?! Ikut-ikutan aja," sungut Fany, lalu beralih kembali kepada Vita, "Om Yudha cerita apa aja tentang aku, Tan?"
Vita tersenyum lembut sebelum menjawab, "katanya ada bocah perempuan yang gabung di klub namanya Fany. Anaknya nakal, bandel, bawel, suka marah-marah, dan gak mau ngalah."
Fany melongo mendengar ucapan istri dari om kesayangannya itu yang sangat menohok. Sementara semua orang yang mendengarnya langsung tertawa, apalagi melihat ekspresi Fany yang langsung berubah dari ceria menjadi suram.
"Haha, bener banget yang dibilang Yudha, anak ini emang suka ngamuk," timpal David.
"Eh, udah udah, jangan digoda terus anak kamu, nanti marah lagi," balas Zara.
Fany terdiam sambil menatap orang-orang di sekitarnya tidak percaya. Kenapa sekarang mereka menjadi sangat kompak menjahilinya.
"Gak kok cantik, tante cuma bercanda," ucap Vita, "kamu anaknya manis banget, lucu lagi."
Setelah itu mereka pun tertawa, kemudian mereka berfoto bersama. Lalu, David dan keluarganya pergi dari pelaminan dan bergabung bersama tamu-tamu yang lain. David tanpa sengaja melihat keluarga Bagaskara, calon besannya, ada di salah satu meja tamu yang berbentuk bundar. Ia pun berinisiatif untuk bergabung dengan mereka.
"Hei, Alex!" sapa David.
"Loh, David!" Alex pun berdiri dan menyalami David.
"Boleh gabung?" tanya David.
"Oh, tentu saja boleh, ayo duduk."
Mereka pun duduk bersama. Total ada 6 orang yang menempati meja itu.
"Loh, calon menantuku mana?" tanya Diana.
"Iya dong, calon menantu kesayangan tante," balas Diana.
Zara menunjuk ke stan makanan, "itu, udah lepas sendiri dia."
Mereka pun menoleh ke arah yang ditunjuk Zara. Di sana ada Fany yang sedang memilih dessert dengan antusias. Bahkan, ia terlihat bercengkerama dengan pelayan yang menjaga stan makanan, sepertinya membicarakan tentang makanan yang ada di sana.
"Lucu sekali anak itu," seru Diana.
"Anak siapa dulu dong," balas David dengan nada sombong.
"Radit, kamu panggil Fany, biar dia gabung sama kita," perintah Zara.
Radit sudah akan berdiri dari tempat duduknya, tiba-tiba Alex berkata, "eh jangan, biar Juna aja yang ke sana."
"Loh, kok jadi aku, Pa?" ucap Juna tidak terima.
"Biar sekalian pendekatan," balas Alex sedikit memaksa.
Akhirnya, dengan tidak ikhlas, Juna pun beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri Fany. Ia berjalan menuju gadis itu dengan langkah malas.
"Iya nih, Kak. Kuenya manis, tapi gak yang manis banget gitu, menurutku ini manisnya pas. Terus, di dalemnya kan ada rasa tiramisu, jadi selera-"
"Ekhmm."
Fany yang sibuk berbincang dengan pelayan pun langsung menoleh saat mendengar suara dehaman tepat di sampingnya.
__ADS_1
"Eh, Kakak Juna~," kata Fany tidak lupa dengan senyum menawannya yang tampak menyebalkan di mata Juna.
"Calon suami aku nih," bisik Fany kepada pelayan itu.
"Oh, kalau begitu, saya permisi dulu, ya," pamit palayan tadi.
Ngomong-ngomong, pelayan itu bisa mengobrol dengan Fany bukan karena ia malas bekerja, tetapi ia memang hanya bertugas menjaga stan makanan. Dan karena Fany yang tidak segera pergi dari tempat itu, akhirnya mereka pun mengobrol ria.
"Mau?" ucap Fany menyodorkan piring kue di tangannya.
Juna hanya menggeleng dan mengalihkan pandangan ke arah yang lain.
"Kok lo sendirian, Kak? Yang lain pada kemana?" tanya Fany.
"Tuh, mereka ada di sana," tunjuk Juna kepada keluarga mereka yang sedang duduk sambil sesekali melirik ke arah mereka.
"Lah, kok gak ngomong dari tadi sih, ayo gabung sama mereka," ajak Fany, kemudian berjalan menuju meja yang ditempati keluarganya.
"Emang tujuan mereka biar kita bisa pendekatan," jawab Juna sambil mengikuti langkah kaki Fany.
"Cih, pendekatan apanya," cibir Fany.
"Hai, Papa, Mama!" sapa Fany yang langsung duduk di antara Zara dan Diana.
'Dasar, sok akrab sekali,' batin Juna.
"Hai, Sayang. Kalian kok udahan sih berduaannya," goda Diana.
"Ih Mama apaan sih, gak boleh tau berduaan sebelum nikah," kata Fany.
"Oh, jadi biar bisa berduaan harus nikah dulu ya, kalau gitu kita cepetin tanggal pernikahannya aja," seru Alex.
"Eh, haha, gak gitu juga dong, Pa," balas Fany dengan tawa canggung.
'Bercandanya ngeri njir,' batin Fany.
"Santai dong, Dek. Om Alex cuma bercanda doang kok," giliran Radit yang berbicara, "pernikahan kalian kan setelah kamu ujian."
"HAH?!"
Teriak Juna dan Fany bersamaan membuat beberapa pasang mata menoleh.
"Eh, jangan teriak teriak, malu dilihat orang," cicit Zara.
"Ya abang sih, bercandanya suka gak ngotak," kesal Fany.
"Loh, siapa yang bercanda?"
Ucapan David membuat Fany dan Juna terdiam dengan mata membulat.
"Maksud Om?" tanya Juna.
"Kalian memang akan menikah setelah Fany selesai ujian kelulusan," jawab David, "sebelum wisuda."
__ADS_1