
Tok tok tok
Fany mengetuk pintu kamar Juna untuk mengajaknya makan siang bersama. Sebenarnya, lebih pantas disebut makan sore karena jam sudah menunjukkan pukul 3 sore. Hal itu karena sarapan mereka tadi sekitar jam 9 pagi, jadi mereka memilih untuk melewatkan jam makan siang karena masih kenyang.
Ceklek
"Kenapa?" tanya Juna yang baru saja membuka pintunya.
"Gue udah masak, buruan turun, udah laper nih," jawab Fany.
"Hah? Kamu bisa masak?"
Fany berdecih sombong, "ya bisa lah. Asal lo tau ya, gue ini mantan anak kos, jadi jangan meragukan skill memasak gue."
Juna hanya manggut-manggut, lalu berjalan mengikuti Fany ke dapur. Aroma masakan istrinya membuatnya semakin lapar.
"Masak apa aja kamu?" tanya Juna saat sudah sampai di meja makan.
"Ada telur dadar, pepes ikan, sama sayur sop," jawab Fany sambil menujuk makanan yang sudah ia buat, "doyan kan makanan kayak gini?"
Dani Juna mengernyit, "ya doyan lah, masih makanan manusia juga. Kalau makanan kucing, baru aku gak doyan."
"Kali aja lo gak bisa makan kalau gak makanan mewah," cibir Fany.
Kemudian, mereka berdua makan bersama dengan khidmat, tidak ada yang membuka pembicaraan.
Ting!
Juna mengambil ponsel yang ada di kantong celananya, setelah itu ia membaca pesan yang baru saja ia terima. Fany bisa menangkap raut terkejut dari wajah suaminya itu.
Pria itu tiba-tiba berdiri, "aku pergi dulu."
"Loh, mau kemana? Makanan lo belum abis tuh," cegah Fany.
"Aku mau ke tempat Aliesha dulu, dia lagi ada masalah," sahut Juna yang langsung menaiki tangga menuju kamar.
"Woy!! Minimal bantuin cuci piring anjir!!" teriak Fany yang sama sekali tidak dihiraukan oleh Juna.
"Sialan! Gue udah masak banyak gini malah ditinggal. Dasar laki-laki bajingan," gerutu Fany.
...----------------...
Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam. Fany menutup laptopnya setelah mengerjakan kasus kliennya tadi.
"Wah, gila sih, gue nyelidiki perselingkuhan pegawai pajak dong."
__ADS_1
Klien yang tadi menghubunginya adalah istri dari salah satu pegawai pajak yang memiliki jabatan cukup tinggi di pemerintahan. Dan tentu saja mereka adalah orang yang sangat kaya.
"Kira-kira siapa ya selingkuhannya?" gumam Fany, "gue harus siapin rencana buat ngikutin si suami sama selingkuhannya ke hotel itu."
Ia tadi meretas jaringan internet yang ada di ponsel milik suami kliennya dan menemukan adanya transaksi booking hotel untuk besok. Rencananya ia akan pergi ke hotel itu, lalu memata-matai si suami dan selingkuhannya.
Fany melirik ke arah jam dinding.
"Jam segini masih belum pulang juga tuh orang. Jangan-jangan dia nginep lagi di rumah pacarnya," kesal Fany terhadap kelakuan suaminya, "gak mikirin dosa apa?!"
Drrrt... Drrrt...
Ponselnya berdering menandakan ada panggilan masuk. Ternyata itu adalah panggilan dari David, ayahnya.
"Halo, Yah. Ada apa?" tanya Fany.
"Tolong bukain pintunya, Sayang. Ayah ada di luar," jawab David.
Fany langsung beranjak keluar dari kamarnya, "loh, kenapa gak pencet bel aja sih? Kenapa harus telpon segala?"
"Hehe... Biar cepet," balas ayahnya.
"Udah disediain tombol bel di depan pintu biar mudah, malah gak digunain, padahal tinggal pencet aja. Gimana sih, Ayah?" cibir Fany.
"Ayo masuk," ajak Fany.
Grepp!
Tangan Fany dicekal oleh David, "ayo ikut ayah, ada yang mau ayah tunjukin ke kamu."
Dahi Fany mengernyit bingung, "apa? Mau kemana emang?"
"Udah, ayo ikut aja," sahut David.
"Oh iya, sekalian ajak suami kamu," celetuk Zara.
Fany bingung menjawabnya, "emm... Kak Juna lagi, emm... Kak Juna gak ada di rumah."
"Loh, kemana?" tanya David.
"Gak tahu, katanya ada urusan mendadak di kantor," balas Fany, ia merasa sangat berdosa karena pintar berbohong.
Zara berdecak sebal, "tck, gimana sih Juna? Baru sehari nikah udah ninggalin istrinya sendirian di rumah."
"Udah lah, Bun, namanya juga urusan pekerjaan. Kalau gak kerja, mau dikasih makan apa aku nanti?" ujar Fany menenangkan bundanya, "jadi kita mau kemana nih?"
__ADS_1
David dan Zara kembali mengajak Fany dengan antusias menuju lift untuk turun ke tempat parkir yang ada di basement. Fany hanya berjalan mengikuti langkah kedua orang tuanya. Di tempat parkir, ia bisa melihat mobil hitam milik ayahnya. Tapi, tunggu dulu... Kenapa ada mobil berwarna hitam di sebelah mobil ayahnya yang dihias menggunakan pita.
'Jangan-jangan...'
Langkah Fany terhenti membuat kedua orang tuanya menoleh.
"Ayah... Bunda... Jangan bilang kalau..."
Zara tersenyum lebar, "surprise!!! Itu hadiah pernikahan kamu."
"Sekaligus hadiah karena kamu berhasil dapat SIM," imbuh David.
Fany menutup mulutnya karena terkejut, "yang bener nih?!"
Kedua orang tuanya mengangguk, lalu ia segera berlari menghampiri mobil itu. Ia sudah ingin berteriak karena sangat senang dengan hadiah itu. Meskipun begitu, ia masih tidak berani untuk menyentuh mobil Porsche Taycan 4S itu.
"Ayah, makasih banyak ya, udah ngasih aku mobil semewah ini. Tapi aku masih takut buat bawa ini mobil. Aku memang udah punya SIM, tapi kan aku belum pro kalau nyetir," ujar Fany.
"Gak apa-apa, santai aja. Kalau bawa mobil pelan-pelan dulu. Toh, kalau nanti lecet bilang aja sama ayah, nanti dibenerin," kata David dengan nada santai tanpa beban.
Fany yang mendengarnya pun merasa terharu. Kemudian, ia langsung menghambur memeluk ayahnya, "makasih, Ayah, udah ngasih aku hadiah sebagus ini."
David membalas pelukan Fany, "iya, sama-sama. Ayah sayang banget sama kamu, Nak."
Fany hampir menangis mendengarnya. Perlakuan David yang seperti ini membuatnya hampir lupa bahwa ayahnya itu adalah lelaki pertama yang telah mematahkan hatinya.
"Cuma ayah aja? Ini bunda gak dipeluk?" sindir Zara.
Fany melepas pelukannya kepada sang ayah, lalu memeluk Zara, "hehe... Makasih, Bunda."
"Sama-sama, Sayang."
"Kamu mau nyobain mobil barumu?" tanya David.
Fany melepas pelukannya dari sang bunda, lalu menatap ayahnya dengan mata berbinar, "boleh, Yah?"
"Ya boleh lah, ini kan emang mobil kamu," jawab David sambil menyerahkan kunci mobil kepada Fany.
Gadis itu menerima kuncil mobil dari ayahnya dengan tangan gemetar.
"Ayo kita jalan-jalan keliling kota!" seru David.
Malam itu menjadi malam yang cukup menyenangkan bagi Fany karena ia bisa memenuhi salah satu keinginannya semenjak lama, yaitu mengendarai mobil mewah miliknya sendiri.
Untuk saat ini, Fany ingin menjalani kehidupan barunya dengan bahagia. Ia menganggap bahwa kebahagiaannya ini adalah balasan dari seluruh penderitaan yang ia alami sejak kecil. Sejenak ia melupakan fakta bahwa roda kehidupan selalu berputar, yang artinya kebahagiaan dan penderitaan pasti akan datang silih berganti.
__ADS_1