Tentang Fany

Tentang Fany
Part 34 : Mengamuk


__ADS_3

Seperti biasa, di pagi hari, Fany selalu menyiapkan sarapan untuk dirinya dan sang suami. Biasanya, suaminya itu akan turun tepat saat masakan sudah matang, tanpa perlu dipanggil lagi. Namun, pagi ini sedikit berbeda. Fany sudah duduk di meja makan dan menunggu Juna selama 15 menit, tapi suaminya itu belum turun juga.


"Tck, mana sih tuh orang," gerutu Fany.


Ia pun memutuskan untuk pergi ke kamar Juna dan memanggilnya agar segera turun.


Tok tok tok


Tidak ada jawaban.


Tok tok tok


"Woy!!!!"


Jangan lupakan fakta bahwa kesabaran Fany amat sangat tipis.


Kedua alis Fany semakin menukik karena Juna masih tak kunjung membukakan pintu.


"Woy! Makan, anjir!!" teriak Fany di depan pintu kamar Juna.


Brak! Brak! Brak!


Bukan ketukan pintu lagi, sekarang Fany mulai mendobrak pintu itu.


"Jangan kayak anak kecil lo! Ngambek dikit, mogok makan. Woy Arjuna!! Buka pintunya, njing!"


Cklek


"Tck, berisik."


Akhirnya, Juna membuka pintu dengan wajah kesal. Ia masih marah dengan Fany perkara kemarin malam.


"Eh, lo tuh gak usah sok sokan gak mau makan deh. Gue udah capek capek masak, mubazir kalau gak ada yang makan," dumal Fany.


Juna hanya menatapnya sinis.


"Udah, cepetan turun!" perintah Fany mutlak.


Setelah itu, Fany turun menuju ke meja makan. Mau tidak mau, Juna mengikuti istri bawelnya itu daripada gendang telinganya pecah. Mereka pun duduk berhadapan dan mulai memakan makanan masing-masing dalam diam.


Drrrt... Drrrt...


Baru saja Fany menghabiskan sarapannya, ponsel yang berada di saku celananya bergetar menandakan ada panggilan masuk. Ia melihat nama 'Rangga' ada di layarnya, kemudian ia pun mengangkat panggilan telepon tersebut.


"Halo. Kenapa, Ngga?" ucap Fany mengawali pembicaraan.


"Hah? Rumah sakit?!"


Juna melirik ke arah Fany yang baru saja meninggikan suaranya. Terlihat gurat kecemasan di wajah gadis itu.


"Oke, gue ke sana sekarang."


Panggilan ditutup, kemudian Fany beranjak dari meja makan dan berlari ke kamarnya begitu saja. Juna yang melihatnya pun merasa penasaran dengan apa yang terjadi. Tak lama kemudian, Fany pun turun sambil membawa dompet dan kunci mobil.


"Kak, gue pergi dulu ya," kata Fany sambil berlalu menuju pintu apartemen.

__ADS_1


"Mau kemana?" tanya Juna.


Fany menoleh, "ke rumah sakit. Tadi temennya Rangga telpon gue pake hpnya Rangga, katanya Rangga gelut terus babak belur sampai masuk rumah sakit."


Juna hanya menganggukkan kepalanya mengerti. Setelah itu, Fany langsung keluar dari apartemen dan berlari untuk cepat-cepat pergi ke rumah sakit. Ia sangat khawatir dengan kondisi sahabatnya itu.


...----------------...


Bau obat-obatan khas rumah sakit menguar. Fany berlari kecil masuk ke area UGD, ia mencari keberadaan Rangga. Tidak lama kemudian, matanya menangkap ada sosok Berly dan 2 teman Rangga yang lainnya sedang menemani Rangga di salah satu brankar.


"Fany?" kata Berly saat melihat Fany mendekat.


Fany perlahan mendekat. Ia mengembuskan nafas lega saat melihat Rangga yang masih membuka matanya. Yah... Walaupun wajahnya penuh dengan lebam berwarna ungu, serta lengan kirinya cedera, tapi setidaknya ia masih sadar.


"Ngapain aja sih lo? Banyak tingkah deh," omel Fany kepada Rangga.


"Gue lagi kesakitan nih, gak usah ngomel-ngomel dulu," gerutu Rangga.


Fany hanya mendengus kesal. Lalu, ia melirik ke arah 2 teman Rangga yang sangat ia kenal, Jovan dan Kevin. Tentu saja, mereka dulu adalah trio pembuat onar yang sudah tobat sebelum lulus SMA.


"Kalian juga, kenapa babak belur gitu? Emang tadi gelut sama siapa sih? Udah mau kuliah, masih aja bikin masalah," cibir Fany.


Jovan dan Kevin saling berpandangan. Sekedar informasi, sesangar-sangarnya trio itu, mereka masih kalah jika berhadapan dengan Fany. Selain omelannya yang membuat telinga pengang, pukulannya juga tidak main-main.


"Emm... Jadi gini, Fan," ucap Kevin memulai penjelasannya, "tadi kita kan lagi jalan-jalan berempat--"


"Kok gak ngajak gue?!" potong Fany.


"Ya lo kan udah nikah, dongo! Mana bisa kita seenaknya ngajak lo," sahut Rangga.


"Oke, lanjut," kata Kevin, "kita lagi jalan-jalan. Terus pas nyampe di gang kecil dekat pasar, tiba-tiba ada geng yang ngehadang kita. Awalnya sih, kita bodo amat ya, gak mau cari masalah, tapi...."


Fany mengernyitkan dahi, "tapi apa?"


Kevin melirik Berly sebentar, "emm... Tapi mereka ngomong kata-kata gak senonoh ke Berly, terus mereka juga tiba-tiba nyentuh badan Berly."


Mata Fany membulat terkejut, lalu ia menoleh ke arah Berly yang menunduk di sampingnya.


"Ber?" panggil Fany meminta konfirmasi dari Berly.


Berly mengangkat kepalanya sambil menatap takut ke arah Fany, lalu ia mengangguk pelan. Rahang Fany mengeras melihatnya. Ia benar-benar tidak terima jika ada orang yang menyakiti sahabatnya ini.


"Makanya tadi gue ngamuk, terus berantem sama mereka," celetuk Rangga.


"Di mana mereka sekarang?" tanya Fany dengan nada dingin.


Berly langsung menggenggam lengan Fany, "Fan, jangan bertindak gegabah, udah biarin aja."


Fany mengabaikan perkataan Berly dan tetap bertanya kepada Jovan, Kevin, dan juga Rangga.


"Di mana mereka? Sebutin ciri-ciri mereka?" imbuh Fany.


Ketiga lelaki itu saling berpandangan, masing-masing dari mereka terlihat enggan menjawab pertanyaan Fany.


"Emm... Fan," akhirnya Rangga membuka suara, "mending jangan deh. Gue tau lo jago berantem, tapi mereka juga brutal, Fan."

__ADS_1


Fany hanya menatap Rangga tajam. Tatapannya menunjukkan bahwa ia tidak puas dengan jawaban tersebut dan ingin agar Rangga menjawabnya dengan tepat.


"Di gang kecil dekat pasar. Mereka ada 4 orang, seusia kita," jawab Jovan tiba-tiba.


"Jo...," lirih Berly.


Ia tidak ingin Fany mengetahui tentang identitas geng tersebut. Karena ia sangat yakin, Fany tidak akan melepaskan mereka.


"Kalau lo mau ke sana, gue bakal temenin lo, Fan," ujar Jovan yakin, "gue masih gak terima mereka ngelecehin Berly dan bikin Rangga babak belur kayak gini."


"Gue juga," balas Kevin.


Fany mengangguk, "Ber, lo di sini aja ya, jagain Rangga. Kalau nanti kita belum balik, dan dokter udah bolehin Rangga pulang, kalian pulang dulu aja."


"Fan, gak usah ke sana, bisa gak? Bahaya, Fan," lirih Berly.


Fany tersenyum lembut, "tenang aja, Berly. Lo tau sendiri kan, sekuat apa gue."


Berly hanya diam, apapun yang ia katakan, tidak akan bisa mencegah tekad Fany. Setelah itu, Fany, Jovan, dan Kevin langsung pergi dari rumah sakit. Mereka bergegas menuju ke tempat di mana geng itu berada. Orang-orang yang menyerang mereka tadi tidak terluka parah, jadi seharusnya masih berada di tempat semula.


...----------------...


Fany, Jovan, dan Kevin sudah sampai di gang kecil yang dimaksud. Gang itu benar-benar sepi. Di kanan kiri gang tidak ada rumah sama sekali, hanya ada lahan kosong.


"Itu mereka," tunjuk Jovan kepada 4 orang laki-laki yang sedang bersandar di tembok pembatas gang sambil merokok.


Salah satu dari anggota geng itu menoleh lalu tersenyum miring, "masih berani lewat sini lagi ya kalian, huh?"


Semua anggota geng itu pun menoleh, lalu berjalan mendekat untuk berhadapan dengan tiga orang yang baru saja datang.


"Siapa nih cewek? Udah beda lagi yang di bawa," celetuk salah satu dari mereka.


"Cantik~~ sini dong, kenalan sama abang," goda lelaki yang berdiri paling depan.


Teman-teman lelaki itu hanya tertawa mendengar ucapan itu. Dan suara tawa mereka terdengar sangat menyebalkan di telinga Fany, ia benar-benar membenci suara tawa itu.


Buagh!!!


Ketiga anggota geng itu terdiam karena terkejut saat melihat ketua geng mereka dipukul oleh seorang perempuan, dan...... Pingsan?!


Fany tertawa remeh, "cih, katanya mau kenalan. Baru diajak 'kenalan' dikit udah tepar. Gimana sih?"


"Dasar cewek kurang ajar!" seru salah satunya.


Kemudian, mereka mulai saling menyerang. Suara pukulan bertubi-tubi terdengar, tidak peduli siapapun lawan di hadapan mereka, semuanya terus saling menyerang. Bahkan, Fany berkali-kali juga kena pukulan. Ketua geng tadi pingsan dalam sekali pukul karena memang ia sedang tidak siap menerima pukulan, tetapi sesungguhnya kemampuan berkelahi geng tersebut tidak main-main. Dan saat ini, kondisi semua pihak tidak baik-baik saja, tubuh mereka sudah penuh dengan luka.


"Arghh!!" Fany memegang pelipis kirinya yang terasa perih.


"Fany!" teriak Jovan.


Melihat lawan mereka lengah, ketiga anggota geng tersebut melarikan diri dari sana.


"Woy, bangsat!! Kalian semua bajingan!" teriak Kevin menyumpahi mereka.


Jovan dan Kevin buru-buru menghampiri Fany yang masih memegangi pelipis kirinya. Mereka semakin panik saat melihat darah merembes dari sela-sela jari Fany yang berada di kepalanya. Sebenarnya, yang baru saja terjadi adalah, Fany sempat menjatuhkan salah satu anggota geng tadi dan berniat untuk memberikan pukulan terakhir. Namun, lelaki itu tiba-tiba mengambil batu yang cukup besar di sebelahnya dan langsung menghantamkan ke kepala Fany.

__ADS_1


"Kita harus ke rumah sakit sekarang."


__ADS_2