
Farel dan Fany sudah sampai di tempat parkir motor, mereka berhenti di samping sebuah motor sport berwarna hitam milik laki-laki itu.
"Nih, pake helm dulu," kata Farel sambil menyodorkan helm kepada Fany.
Gadis itu hendak menerimanya, tapi tiba-tiba saja Farel sudah bergerak untuk memakaikan helm itu di kepala Fany.
"Eh?" Fany terkejut dan reflek merundukkan tubuhnya.
Farel pun terkekeh pelan, "gue cuma mau masangin helm doang kok."
'Dih, apaan sih? Gak usah deket-deket juga dong,' cibir Fany dalam hati.
"Ayo naik," ajak Farel yang sudah naik motor terlebih dahulu.
Kemudian, Fany pun ikut menaiki motor tersebut. Setelah berada di atas boncengan motor Farel, Fany mengernyitkan dahinya bingung karena laki-laki yang memboncengnya itu hanya diam dan tidak segera melajukan motornya.
"Kenapa diem aja, Kak? Ayo cepet jalan," kata Fany yang sebenarnya sudah tidak sabar ingin segera pulang.
"Gue gak bakal jalan kalau lo gak pegangan," ucap Farel sambil tersenyum licik.
"Lah? Gue gak perlu pegangan. Udah deh, lo fokus nyetir aja," ujar Fany menolak perintah Farel.
"Yakin?"
"Tck! Iya!"
Tiba-tiba, Farel mengegas motornya sekali hingga Fany tersentak dan refleks berpegangan.
"Uwaa!!"
Farel hanya tertawa kecil, tapi kemudian dahinya mengernyit karena tidak merasakan tangan Fany di pinggangnya walaupun gadis itu baru saja terkejut.
"Lo tetep gak mau pegangan?" tanya Farel.
"Udah kok," sahut Fany.
Farel menoleh ke belakang, lalu menatap Fany dengan tatapan datar. Gadis itu tidak berbohong saat bilang sudah pegangan. Iya, pegangan handle belakang jok motor, bukan pegangan pada pinggang orang yang memboncengnya.
"Yang bener dong, Fan," protes Farel.
"Dih, banyak omong lo ya! Tinggal jalan aja kenapa sih?! Gue mau pegangan apa aja ya terserah gue!" seru Fany dengan alis yang menukik tajam.
__ADS_1
Farel menatap Fany dengan tatapan syok karena baru saja dibentak-bentak oleh gadis itu. Akhirnya, ia pun pasrah dan melajukan motornya begitu saja. Rencananya untuk bisa dipeluk Fany saat berboncengan putus begitu saja.
'Duh, susah banget sih dapetin nih cewek.'
...----------------...
Mereka berkendara dalam diam. Farel yang memang tidak banyak bicara, serta Fany yang tidak suka basa-basi yang tidak perlu. Fany mengernyitkan dahinya saat Farel membelokkan laju motornya ke arah yang berlawanan dengan arah apartemennya.
"Loh, Kak? Lo mau bawa gue kemana? Gue tadi kan udah ngasih tau lo jalannya bukan yang ini, lo lupa ya?" tanya Fany.
"Gak kok, gue gak lupa sama jalan ke apartemen lo," jawab Farel.
"Lah terus, ini lo mau bawa gue kemana woy? Jangan bilang lo mau nyulik gue?! Jangan culik gue dong! Weei turunin gue aja lah!" panik Fany.
Farel menghela napas lelah, "astaga, Fan! Bisa gak sih lo gak usah berpikiran buruk tentang gue? Lagian ngapain juga gue mau nyulik lo?"
"Ya terus ini kita mau kemana? Jalan ke apartemen gue kan gak lewat sini," kesal Fany.
"Kita jalan-jalan dulu aja," celetuk Farel.
"Hah?! Ngapain jalan-jalan woy?! Gue pengen cepet-cepet pulang!" protes Fany dengan suara kencang.
"Ssst... Udah, lo duduk manis aja," final Farel, laki-laki itu sudah sakit telinga karena teriakan Fany.
Setelah satu jam di perjalanan, akhirnya motor yang dikendarai oleh Farel dan Fany sampai di gedung apartemen gadis itu. Sebenarnya, waktu tempuh antara apartemen Fany dengan kampus mereka hanya beberapa menit saja. Namun, laki-laki itu malah mengajak Fany berkeliling ibukota terlebih dahulu. Fany mendumal kesal selama berada di perjalanan, tapi Farel tetap saja keras kepala.
"Huh! Makasih!" ketus Fany setelah turun dari motor Farel, lalu memberikan helm itu kepada si pemilik.
Farel menerima helm itu sambil terkekeh pelan, "kok kayak gak ikhlas banget sih bilang 'makasih'nya."
"Ya lo sih, Kak, ngeselin banget. Ngapain ngajak muter-muter gak jelas dulu," dumal Fany.
"Gue kan mau refresh otak dulu, enak kan jalan-jalan makan angin," jawab Farel.
"Cih, angin dimakan, makan nasi aja emang gak cukup?" cibir Fany.
Farel terkekeh pelan, "ya udah, gue pamit dulu ya, cepetan masuk sana."
"Oke, bye Kak, thanks udah nganterin gue," ucap Fany.
Tanpa menunggu jawaban dari Farel, gadis itu sudah melenggang pergi dari sana dan memasuki gedung apartemen. Farel hanya menggeleng-gelengkan kepalanya heran dengan sikap Fany.
__ADS_1
'Semakin lo cuek, semakin gue pengen dapetin lo, Fany.'
...----------------...
Fany berjalan menuju unit apartemennya dengan langkah gontai. Ia membuka kunci apartemennya dan berjalan masuk. Dia sudah tidak sabar ingin segera bermanja-manja dengan sang suami.
"Kak Juna sayang~" panggil Fany kepada suaminya.
Tidak ada jawaban dari suaminya. Fany pikir kalau pria itu sudah tidur. Agak aneh sih kalau Juna tidur, karena ini masih belum terlalu malam. Fany pun berjalan menuju kamar. Tapi, saat akan menaiki tangga ia dikejutkan dengan sosok Juna yang sedang duduk di ruang TV sambil menatap tajam dirinya.
"Astaga!" ucap Fany memegangi dadanya karena terkejut, "kamu ngagetin aja sih, dari tadi aku panggil kok diem aja."
Juna tidak membalas perkataan Fany. Pria itu hanya menatap datar istrinya tanpa mengatakan sepatah kata pun, sepertj orang kerasukan.
"Kak Juna?" panggil Fany, tapi Juna masih tetap diam.
"Kenapa diem aja sih? Kak? Sayang? Ngomong dong," desak Fany.
"Abis jalan dari mana aja kamu sama Farel?" akhirnya Juna berbicara dengan nada datar.
'Anjir! Kok bisa tau sih?!' batin Fany.
"Eum... Tadi tuh mobil aku bannya kempes, terus aku dianterin pulang sama Kak Farel," jelas Fany jujur.
"Kenapa harus bareng Farel? Kamu bisa minta aku buat jemput kamu, kan?" balas Juna.
"Yaa... Aku takut kalau ganggu kamu yang lagi sibuk kerja," cicit Fany.
Juna hanya mendengus kesal. Istrinya ini terdengar hanya beralasan. Padahal biasanya gadis itu selalu melakukan sesuatu sesuka hatinya. Tapi sekarang, ia malah berkata bahwa dirinya sungkan untuk meminta Juna untuk menjemputnya.
"Cih, alasan!"
Setelah itu, Juna langsung pergi menuju kamar mereka. Ia tidak ingin berdebat lagi dengan Fany.
"Eh, Kak Juna!" panggil Fany, tapi Juna tidak menoleh sama sekali.
"Yah... Ngambek deh. Duh! Salah gue sendiri sih, mau aja diajak si Farel nyebelin itu," gerutu Fany.
Setelah ini, Fany harus berusaha keras untuk merayu suaminya agar tidak marah lagi. Semangat ya, Fany!!!
...----------------...
__ADS_1
Minta tolong like, komen, dan vote yaa ♥♥