Tentang Fany

Tentang Fany
Part 7 : Tiga bersahabat


__ADS_3

Hari-hari Fany berlalu seperti biasa, tanpa ada yang spesial. Ia pergi ke sekolah dari Senin sampai Jum'at, lalu pulang untuk belajar dan menyelesaikan PR. Jika tidak ada PR, maka ia akan pergi ke klub tinju. Seperti hari Rabu dan Kamis yang lalu, ia berlatih bersama om Yudha dan rekan lainnya.


Dan sekarang, akhir pekan pun tiba, hari ini ia memiliki janji untuk bertemu dengan Rangga dan Berly di taman kota setelah ia selesai bekerja di kafe. Mereka bertiga sekarang sudah menjadi teman dekat, ngomong-ngomong. Mungkin efek pukulan dari Fany saat itu yang membuat Rangga sedikit banyak mengalami perubahan.


Walaupun masih sering bolos pelajaran, tetapi ia tidak pernah mengganggu murid-murid di sekolah lagi. Ia lebih sering menghabiskan waktu di rooftop bersama gengnya atau makan di kantin bersama Fany dan Berly. Awalnya Berly sangat terkejut ketika mengetahui bahwa Fany berteman dengan Rangga, tetapi akhirnya ia semakin terbiasa dengan kehadiran Rangga.


"Gue pulang dulu ya, kak," pamit Fany kepada Sinta setelah ia mengganti seragam kafe dan pakaiannya.


"Oke, makasih ya, Fany," balas pemilik kafe itu, "hati-hati di jalan."


Fany hanya mengangguk dan tersenyum, lalu bergegas menuju taman kota yang terletak tidak jauh dari kafe tempatnya bekerja. Saat hampir sampai di tempat janjian, ia bisa melihat Rangga dan Berly yang sudah sampai terlebih dahulu, mereka menempati bangku taman yang disusun mengelilingi meja bundar. Mereka berdua berbincang sambil memakan es krim.


"Hah.. Hah.. Hai!" sapa Fany kepada kedua temannya itu dengan nafas ngos-ngosan, lalu duduk di hadapan mereka.


"Capek ya?" ucap Berly, lalu menyodorkan air mineral kepada Fany, "nih, minum dulu."


Fany menerima air itu dan langsung meminumnya sampai habis. Ia cukup lelah karena tadi saat menuju ke taman ia memilih untuk berlari.


"Lagian lo kenapa lari-lari sih," omel Rangga, "padahal jalan biasa aja juga tetep nyampe."


"Gue gak mau kalian nunggu terlalu lama," jawab Fany.


"Ih so sweet~," kata Berly manja yang langsung dihadiahi tatapan jijik dari Fany.


"Mau es krim gak?" tanya Berly.


"Ya mau lah," seru Fany.


"Tuh, ambil sendiri," tunjuk Berly pada kantong plastil di meja.


Fany langsung mengambil satu-satunya es krim di situ, "wih, red velvet, tau aja lo es krim kesukaan gue."


Berly hanya tersenyum sambil tetap memakan es krimnya. Cukup lama mereka diam karena fokus menikmati rasa es krim masing-masing.


"Gimana Ngga?" tanya Fany tiba-tiba.


Dahi Rangga mengernyit bingung, "gimana apanya?"


"Katanya lo mau ngobrol masalah kuliah sama ortu lo," jelas Fany.

__ADS_1


"Oh itu," jawab Rangga, lalu menghela nafas lelah sebelum melanjutkan kalimatnya, "tetep aja mereka gak mau kalau gue gak masuk kedokteran."


"Yaudah sih, masuk kedokteran aja, biar samaan sama gue" sahut Berly.


"Tck, gue bilang gamau ya gamau!" sungut Rangga.


"Ya santai aja napa sih!" balas Berly.


"Udah-udah, ngapain jadi berantem sih," kata Fany melerai temannya.


"Emang susah ya kalau beda pendapat sama ortu," sambung Fany, "gue cuma bisa bantu doa aja sih."


Lalu hening. Mereka memilih fokus untuk menghabiskan es krim sambil menikmati langit senja.


"Eh, abis ini kita mau ngapain?" tanya Fany.


"Emm... Ngapain ya enaknya? Bosen juga kalau cuma duduk-duduk doang disini," balas Berly.


Rangga tampak berpikir sejenak, "nonton aja, mau gak? Ada film action baru, kayaknya seru tuh."


"Hmm... Boleh juga," balas Fany.


Ide Rangga tersebut juga disetujui oleh Berly. Lalu, mereka segera pergi menuju bisokop yang ada di mall terdekat. Mereka ke sana naik mobil warna putih milik Rangga. Sesampainya di bioskop mereka langsung memesan tiket.


Fany mencegah teman-temannya yang ingin mengeluarkan uang, "gue yang traktir," lalu langsung menyerahkan uangnya pada kasir.


"Fan?! Nanti duit lo abis," seru Berly.


"Udah tenang aja, gue kaya kok" canda Fany yang hanya dibalas gelengan lelah kedua temannya.


Akhirnya mereka berdua masuk dan duduk nyaman di depan layar bioskop. Sebelumnya Rangga sudah membeli berondong jagung untuk dinikmati di tengah film.


Beberapa saat setelah film mulai, Fany merasa ponsel yang ada di sakunya bergetar. Ia pun langsung mengambilnya dan melihat siapa yang meneleponnya. Ternyata panggilan dari nomor tidak dikenal. Ia pun menggeser tanda 'tolak' dan memasukkan kembali ke dalam saku. Tapi tidak lama kemudian ponselnya berdering lagi, dan itu telepon dari orang yang sama.


"Siapa sih Fan?" bisik Berly yang duduk di sebelah Fany.


"Nomor gak dikenal," jawab Fany pelan.


Ia pun mematikan daya ponselnya agar tidak mengganggu lagi. Kemudian, fokus kembali pada film di depannya.

__ADS_1


...----------------...


"Gila! Keren banget sumpah!" seru Fany saat mereka berjalan keluar dari ruang pemutaran film.


"Iya, apalagi pas heronya hidup lagi," balas Rangga.


"Bener banget, apalagi pas gelut sama monster, keren parah sih," kata Fany, lalu menoleh pada Berly, "lo kenapa nangis anjir?"


"Sedih banget gue," kata Berly yang masih membersihkan sudut matanya menggunakan tisu, "anjing putihnya mati gara-gara nyelametin tuh hero."


Fany memutar bola mata malas, "gue tadi juga sedih sih, tapi kan akhirnya si anjing juga hidup lagi."


"Tetep aja sedih!" sungut Berly.


Rangga dan Fany hanya tertawa melihat temannya menangisi tokoh anjing yang mati, padahal di akhir cerita anjing tersebut hidup kembali.


"Gue laper deh, kalian laper gak?" tanya Rangga.


"Iya nih," jawab Fany.


"Sama, gue juga," balas Berly, "ayo ke food court, kali ini giliran gue yang traktir."


"Yes! Skuy," seru Fany dan Rangga.


Mereka bertiga pun menaiki lift menuju food court yang terletak di lantai paling atas. Sesampainya disana, mereka langsung memesan nasi ayam bakar dan es susu coklat, serta beberapa camilan. Tentu saja yang membayar semua pesanan adalah Berly. Setelah itu, mereka menempati salah satu meja yang ada di sana.


Fany yang baru sadar bahwa ponselnya masih dalam keadaan mati, langsung menghidupkannya. Ia terkejut melihat ada 9 panggilan tidak terjawab dari nomor yang tidak dikenal.


"Eh, ini orang siapa sih?" monolog Fany.


"Siapa apanya?" Berly yang penasaran langsung melihat layar ponsel Fany, begitu juga dengan Rangga.


"Coba telepon balik," ucap Rangga, "kali aja penting."


"Gak mau ah, nanti jangan-jangan penipu lagi," curiga Fany, "biar gue lacak dulu nih kontak."


Sebelum Fany memulai aksi pelacakannya, tiba-tiba ia melihat sepasang kaki seseorang yang berhenti di sampingnya. Fany yang masih menunduk bisa melihat bahwa sepatu dan celana yang orang tersebut kenakan berasal dari merek yang terkenal dan sangat mahal. Ia penasaran apa mungkin orang tersebut adalah papanya Rangga atau Berly.


"Fany."

__ADS_1


Suara seseorang membuat mereka bertiga menoleh ke arah orang tersebut. Lalu, Rangga dan Berly melihat Fany ingin bertanya siapa pria yang memanggilnya itu. Namun, dahi mereka mengernyit bingung saat melihat wajah Fany yang terlihat syok dengan mata membulat sempurna. Mereka menyimpulkan bahwa Fany jelas tahu siapa orang itu.


Bagaimana mungkin Fany tidak syok jika pria yang dilihatnya sekarang adalah pria yang fotonya Selalu ia simpan di dalam dompetnya.


__ADS_2