Tentang Fany

Tentang Fany
Part 43 : Kerja Sama


__ADS_3

Sekarang Fany sedang mengutak atik komputer milik Jevo. Bukan apa-apa, ia hanya sedang menghapus virus yang sudah ia pasang di sistem keamanan Permana. Semua orang ikut turun ke ruang hacker untuk melihat pekerjaan Fany yang ditayangkan di monitor besar.


Mereka semua tertegun dengan kelincahan Fany dalam menoperasikan sistem. Mereka juga bisa melihat bagaimana virus yang beberapa waktu terakhir merusak sistem keamanan mereka mulai hancur satu per satu.


David menghela napas panjang, "haah~ sudah pusing berat gara-gara sistem diretas, ternyata pelakunya anak sendiri."


Fany terkekeh pelan, "ya maaf, Yah. Aku kan gak tau kalau sistem ini punya ayah."


"Bisa-bisanya lo nyerang sistem keamanan tapi gak tau punya siapa, Dek," sahut Radit sambil menggelengkan kepalanya, ia tidak habis pikir dengan tingkah ajaib adiknya tersebut.


Fany hanya mengedikkan bahu, "orang yang udah nyuruh gue buat nge-hack gak ngasih tau ini sistem punya siapa, gue mah cuma ngerjain pekerjaan gue aja."


"Siapa yang nyuruh kamu, Fany?" tanya Alex.


Fany menoleh ke arah papa mertuanya, lalu menggeleng pelan, "aku juga gak tau, Pa. Dia ngirim pesan lewat nomor palsu, jadi aku susah buat ngelacak."


"Kok kamu mau-mau aja disuruh orang pakai nomor palsu? Gak takut penipuan?" tanya Zara.


"Gak mungkin penipu sih, Bun. Soalnya dia udah bayar DP ke aku," ucap Fany santai.


"Dibayar berapa kamu?" imbuh Zara.


"500 juta. Nanti kalau berhasil ditambah 1,5 M."


"APA?!!"


Fany tersentak saat tiba-tiba semua orang berteriak. Ia memegangi dadanya karena jantungnya saat ini berdebar tak beraturan.


"Aduh! Bikin kaget aja deh," kesal Fany, "kalian semua jangan berlagak kayak orang susah dong. Uang 2 M kan bukan jumlah yang banyak buat kalian."


"Tapi itu nominal yang terlalu banyak buat kamu, Fany," ujar David.


"Jangan-jangan selama ini, selain uang nafkah dari aku, kamu punya penghasilan sendiri?" tanya Juna dengan tatapan penuh selidik.


Fany menyengir, "hehe... Betul sekali anda. Gue ini sebenarnya kaya, lho. Kak Juna harus bangga punya istri mandiri kayak gue."


Semua orang di sana hanya tertawa gemas melihat sikap narsis Fany.


"Udah selesai, sekarang tinggal kalian perkuat aja keamanannya," ucap Fany kepada seluruh tim hacker, lalu diangguki oleh mereka.


"Terus, sekarang gimana?" tanya Diana.


"Sebaiknya, kita fokus untuk mencari tahu siapa dalang dibalik semua ini," jawab Juna.


Semua orang kembali serius, bahkan Fany juga ikut serius dalam pembicaraan ini. Gadis itu merasa bahwa ini bukan saatnya untuk bermain-main.


"Sepertinya target dari si pelaku utama bukan Permana Group, tapi Bagaskara Group," ucap Jevo membuat semua orang melihatnya, "karena setelah saya cek di sistem keamanan perusahaan lain yang bekerja sama dengan Permana Group, tidak ada masalah sama sekali. Pelaku hanya menyerang keamanan di Perusahaan Bagaskara."

__ADS_1


"Astaga, siapa ya kira-kira bedebah itu?" geram Alex.


"Gimana kalau kita nyusun rencana buat nangkap si pelaku?" ucap Fany.


"Kita kan emang lagi ngomongin itu, Dek," celetuk Radit.


Fany berdecak kesal, "tck, maksud gue, gue udah punya rencana buat nangkap tuh orang."


Radit manggut-manggut, "ooh... Bilang dong, kalau lo udah punya ide."


"Jadi, gimana rencana kamu, Fany?" tanya Juna.


Ia sengaja bertanya kepada Fany untuk melerai kedua saudara yang selalu berdebat itu.


"Jadi gini," ucap Fany bersiap untuk menjelaskan, "aku bakal terus berusaha nge-hack sistem keamanan Permana biar si pelaku tetep ngira kalau aku ada di pihaknya. Nanti pelan-pelan, aku bakal cari tahu identitas dia yang sebenarnya."


Semua orang mengangguk paham.


"Kalau begitu, Nona Fany harus sering berkoordinasi dengan kami," kata Jevo, "orang itu pasti bukan orang sembarangan. Kalau dia berani menantang Bagaskara Group dan Permana Group, bisa jadi dia adalah orang yang berbahaya."


Mendengar kata 'bahaya', Zara dan Diana langsung waspada.


"Bahaya? Kalau begitu, Fany jangan ikut campur di masalah ini," kata Zara.


"Iya, mama gak mau kamu kenapa-napa, Nak," sahut Diana.


Fany tersenyum kecil. Hatinya menghangat mengetahui bahwa bunda dan mama mertuanya sangat mencemaskan dirinya.


"Benar, Zara, Diana," kali ini David yang berbicara, "kita semua gak akan membiarkan Fany celaka, kalian tenang saja."


Akhirnya, Zara dan Diana pun hanya mengangguk pasrah. Mereka memilih untuk memercayai Fany. Mereka semua tahu kalau Fany adalah gadis yang cerdas, ia tidak akan mudah terluka.


...----------------...


Brukk


"Huuh~"


Fany menghempaskan tubuhnya di atas ranjang kamarnya. Ia benar-benar lelah hari ini. Bahkan, ia belum mandi dan mengganti pakaiannya. Apalagi besok ia masih harus menjalani hari kedua ospek.


Tok tok tok


"Masuk aja!" ucap Fany dengan suara keras.


Cklek


Juna masuk ke kamar Fany sambil membawa sebuah paper bag berwarna putih.

__ADS_1


"Ada apa, Kak?" tanya Fany.


Juna berhenti di depan Fany dan menyodorkan paper bag itu, "ini buat kamu."


Fany menerimanya dengan ragu, lalu ia membuka paper bag itu untuk melihat apa isinya. Tidak lama kemudian, senyumnya mengembang lebar.


"Woah!! Sepatu limited edition!" seru Fany sambil mengeluarkan sepatu berwarna hitam putih dari dalam paper bag.


"Aku udah beli sepatunya dari kemarin, tapi baru sempat ngasih ke kamu sekarang," ucap Juna.


"Makasih banyak ya, Kak," kata Fany, lalu ia turun dari ranjang untuk mencoba sepatunya.


"Yaa... Meskipun sebenarnya kamu bisa beli sepatu ini pakai uangmu sendiri," ucap Juna sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "aku pengen beliin aja buat kamu, hitung-hitung sebagai hadiah masuk kampus."


Fany memukul pelan lengan Juna, "ih, kok gitu sih ngomongnya. Gini ya, Kak Juna. Gak peduli sebanyak apa pun uang gue, gue tetep seneng kok kalau dapat hadiah dari Kak Juna."


Perkataan Fany membuat Juna tersenyum senang. Gadis itu benar-benar tahu cara menghargai pemberian orang lain.


"Wah! Pas banget di kaki gue!" seru Fany.


Juna ikut tersenyum melihat wajah Fany yang terlihat bersemangat. Gadis itu mendongak untuk melihat Juna, tiba-tiba...


Grepp


Juna sedikit terhuyung saat Fany tiba-tiba memeluknya.


"Makasih banyak hadiahnya, Kak Juna. Gue beneran seneng banget dapat hadiah dari kakak," ucap Fany pelan.


Juna tersenyum dan melingkarkan kedua tangannya di pinggang ramping Fany, membalas pelukan istrinya itu.


"Sama-sama, Fany. Aku juga ikut senang kalau kamu senang."


Hati Fany berbunga-bunga mendengar ucapan dari suaminya itu.


"Ya Tuhan, semoga perasaanku ini segera terbalas."


...----------------...


Buat yang bingung kenapa Fany kadang pakai 'aku', tapi kadang juga pakai 'gue'.


Jadi, Fany kalau lagi ngobrol sama orang yang lebih tua itu pakai 'aku'. Tapi, kalau lagi ngobrol sama Radit, Juna, temen-temennya dan orang yang dia gak suka pakainya 'gue'. Begitu... ❤


...----------------...


Tolong ya teman-teman pembacaku yang baik hati


Tinggalin jejak kalian dong

__ADS_1


Aku sedih banget kalau gak ada yang like dan komen (╥﹏╥)


Tolong kasih komentar yaaa, kalau mau ngasih saran dan kritik juga boleh kok ♥♥


__ADS_2